UKS

Pagi-pagi sekali. Jauh lebih pagi dari pagi sebelum-sebelumnya. Gara sudah tiba di sekolah. Ia hanya bisa melihat atensi segelintir siswa yang bahkan bisa ia hitung dengan dengan jari tangan saja. Ya, tidam heran. Gara datang lebih cepat dari biasanya. Ia sengaja melewatkan lagi sarapannya di rumah yang tentunya saja dengan makanan yang terbuat dari tangan ibunya. Namun, dari tangan tua Mbok Fiah atau bisa juga tangan kurus si biang kerok—Chan. Ia juga sengaja melakukan itu karena tidak ingin bertemu apalagi sampai saling menatap dengan pemilik tangan yang semalam memukulnya tanpa ampun. Juga tak ingin bertemu dengan seorang wanita yang seharusnya memberikan kebahagiaan padanya.

Perihal Chan. Gara juga memikirkan kakaknya itu. Pasti sekarang Chan sudah mengetuk pintu kamar seraya membawa nampan berisi sarapan untuknya. Memang kakaknya yang penyakitan itu tidak pernah menyerah untuk menarik perhatian Gara dan membuat Gara memaafkannya. Padahal, sejauh ini perlakuan Gara benar-benar buruk pada Chan. Itulah perlakuan yang disebabkan rasa sakit di hati Gara. Juga dengan mindset Gara yang selalu mengatakan bahwa apa yang terjadi padanya karena Chan. Chan yang sudah merenggut kebahagiaannya. Chan yang sudah menyita sepenuhnya kasih sayang dan perhatian Edward dan Olivia. Sebab itu, Gara tak mendapatkan apa-apa lagi selain caci maki dan kekerasan yang membuat Gara enggan berada di rumah itu. Namun, Gara sadar ia tak memiliki tempat lain untuk pulang.

Gara membawa langkah kakinya menuju ruang kelas. Di sana ia tak menemukan siapapun. Dan situasi seperti ini bisa ia manfaatkan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa remuk sampai bel masuk berbunyi nanti. Memar yang semakin tampak membiru di sekujur tubuhnya itu menimbulkan rasa sakit yang tiada tara. Namun, sebagai seorang laki-laki, Gara harus menahannya dan tak boleh kalah. Meski suatu saat nanti, ia yakin akan bertemu pada satu titik terlelah yang menyajikan dua pilihan. Lanjut atau mati.

Ransel yang tersampir di pundak Gara dihempas di atas meja oleh tuannya. Lalu, ia sendiri mendaratkan bokong di kursi yang berdekatan dengan jendela. Jika orang-orang berpikir Gara memilih duduk di kursi paling belakangan. Tidak! Itu salah besar. Gara justru memilih duduk di bangku paling depan. Sebab itulah, terlalu kentara dan cepat terbaca jika Gara membolos.

Ia melipat tangan di atas meja dan dijadikan tumpuan untuk menidurkan kepalanya. Lalu, sedetik kemudian Gara sudah tenggelam di dalam lelapnya.

Entah pada menit ke berapa setelah sepasang almond eyes milik Gara terkatup, kepingan peristiwa menyakitkan yang membuat luka fisik dan hati itu tiba-tiba datang menjadi sambutan pertama di alam mimpi Gara. Tubuh dalam balutan seragam putih abu-abu itu bergerak gelisah. Ia meracau tak tentu arah. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh dan menjejak di seragam sekolahnya.

"Jangan, Pa. Sakit. Jangan pukul Gara."

Begitu terus racauan Gara. Sampai sebuah tangan mengguncang pelan tubuh Gara untuk berusaha membangunkan anak itu dari tidurnya. "Gar, bangun, woi! Bangun!"

Gara tersentak. Tubuhnya langsung terduduk dengan tegak, tetapi tatapan kosong lurus ke depan. Napasnya masih tersengal dan tersendat, seperti ada benda berat yang membebani dadanya saat ini. Mimpi itu benar-benar terasa sangat nyata. Bahkan sakitnya sampai dengan sangat jelas. Ah, Gara lupa, baru semalam kejadian itu terjadi padanya. Pantas saja rasa sakit itu begitu menyiksa tubuhnya.

“Gar, badan lo panas banget, btw.”

Gara mengangkat kepalanya dan menemukan Hansiel sudah berdiri dengan kening mengkerut dalam. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan memijat pangkal hidungnya. “Gue sudah berapa lama tertidur?” tanya Gara dengan suara serak. Benar apa yang dikatakan Hansiel, suhu tubuhnya meningkat. Gara juga merasakan tenggorokannya sedikit sakit. Sepertinya, ia memang butuh istirahat.

“Mana gue tahu. Orang gue baru nyampe kelas dan lo sudah gue temuin jerit-jerit kayak dikejar anjing tetangga,” balas Hansiel. “Tapi, lo demam tuh, Gar. Mending pulang saja deh. Istirahat. Nanti gue yang izinin lo,” ujar Hansiel memberi saran. Ia takut jika Gara kenapa-napa nantinya. Apalagi dengan melihat wajah Gara yang memarnya sangat terlihat jelas. Mungkin karena kemarin Gara sempat baku hantam dengan Zeiden, pikirnya. Namun, jika memang demikian, tentu memarnya tak akan selebar itu. Ia masih ingat betul bagian mana yang kena tinjuan Zeiden. Lalu, dari mana luka yang lain itu timbul?

“Lo mau lihat gue dikubur hidup-hidup sama bokap gue?”

Hansiel menghela napas panjang. Pulang bukanlah pilihan yang tepat untuk Gara sekarang. Namun, istirahat adalah sebuah keharusan. “Ke UKS saja, Gar, kalau begitu,” saran Hansiel lagi. Semoga kali ini Gara tidak menolak.

“Tapi, lo bisa jamin, nggak, kalau nanti kabarnya nggak bakalan sampai di telinga bokap nyokap gue? Gue nggak mau, ya, Hans, sampai kena pukul lagi. Tubuh gue sudah remuk banget nih.”

Hansiel menatap kasihan sahabatnya itu. Ia tahu Gara seringkali kena pukul ayahnya. Namun, Gara tidak akan mengeluh seperti ini jika anak itu masih bisa menahannya. Namun, jika sudah seperti ini, itu artinya Gara memang sudah lelah sekali. “Iya. Gue yang jamin,” balas Hansiel dengan pasti. Meski setelah ini ia harus memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya agar guru tak mengadu tentang Gara pada orang tuanya. Ah, bodo amat! Yang penting sekarang Gara istirahat dulu dengan nyaman.

Hansiel kemudian membantu Gara menuju ruang UKS. Di koridor sayup-sayup terdengar bisikan para siswi tentang kondisi Gara. Namun, Hansiel dan Gara tak mempedulikan hal itu sama sekali. Lalu, langkah keduany terpaksa terhenti ketika Angel tiba-tiba mencegat mereka. Gadis itu tampak menunjukkan wajah khawatirnya.

“Gara, lo kenapa? Lo sakit, ya?” Angel meraba tubuh Gara untuk memeriksa kondisi laki-laki itu.

Gara dengan cepat menepis tangan Angel. “Lo apa-apaan sih megang-megang gue?”

“Gue kan khawatir sama lo, Gar.”

“Gue nggak perlu lo khawatirin. Gue nggak butuh,” balas Gara dan melanjutkan langkahnya.

“Gar, tunggu dong!” Angel masih berusaha mencegat langkah Gara.

“Lo pergi dari hadapan gue atau gue bikin malu lo di hadapan semua siswa di sini?”

Seketika Angel melepaskan lengan Gara. Ia mendengus kesal dan membiarkan Gara pergi bersama Hansiel. Lalu, Angel mendengar bisik-bisik mereka yang ada di sekitar sana yang menyaksikan adegan drama pagi di koridor sekolah. “Apa lo lihat-lihat?” Angel kesal dan marah diperhatikan dengan tatapan yang mengejek. Bahkan, tak ayal juga ada yang menertawakan gadis itu.

“Ngel, mending lo sudahan deh ngejar-ngejar si Gara. Dia nggak doyan sama lo. Mending sama gue saja,” celetuk seorang siswa seraya memainkan alisnya menggoda Angel.

“Bacot lo!” Angel kemudian berlalu.

¶¶¶

Gara kini benar-benar sendiri di UKS. Ia sendiri yang meminta Hansiel untuk kembali ke kelas. Ia tidak ingin Hansiel melewatkan pelajaran hanya untuk menemaninya. Lagi pula, ia merasa sudah cukup nyaman beristirahat di ruangan itu.

“Terus gue harus bagaimana, Ra? Iya kali gue harus turutin semua keinginan si Gara itu?” Embusan napas kasar terdengar. “Lihat dia kelahi sama Zeiden saja gue takut. Apalagi dekat-dekat dia.”

“Lo kira Gara hantu dan bakalan gigit lo?”

“Lo nggak sadar sih kalau si Gara itu lebih seram dari hantu?”

Suara-suara itu terdengar jelas di telinga Gara. Namun, ia tak langsung menegur. Ia masih setia mendengar perbincangan dua gadis yang belum menyadari keberadaannya di balik tirai di dalam ruangan.

“Gila lo, ya, ganteng-ganteng gitu lo bilang kayak hantu. Nanti lo kesambet setan terus jatuh cinta sama si Gara, baru tahu rasa lo.”

“Amit-amit jabang bayi deh. Jangan sampai gue jatuh cinta sama cowok kayak Gara. Bisa-bisa hidup gue kena sial mulu.”

“Kalian kalau mau bicarain orang, pastikan dulu kalau orangnya tidak ada.”

Flora dan Sora langsung terdiam. Keduanya lantas menoleh ke arah tirai yang tak lama langsung tersibak dengan kasar. Mata dua gadis itu membulat sempurna ketika melihat orang yang mereka bicarakan ada di sana.

“Bagaimana nih?” bisik Sora takut-takut. Ia tidak mau setelah ini harus berhadapan dengan Gara. Ia ingin hidup tenang di sekolah.

Gara menatap dua gadis itu bergantian. Kemudian, tersenyum sinis. “Kalian nggak tahu ini ruangan untuk apa? Bukan untuk membicarakan orang lain. Jadi, kalau kalian tidak bisa memfungsikan ruangan ini sebagai mestinya. Mending ke luar deh daripada ganggu orang istirahat.”

Sora terdiam. Begitu juga dengan Flora. Ia menatap laki-laki itu dengan lekat. “Lo sendiri ngapain di sini? Bolos, ya?”

“Bukan urusan lo,” balas Gara dan kembali memejamkan matanya. Menutupnya dengan lengan kiri.

Sora yang takut-takut meminta undur diri. “Flo, bukannya gue nggak setia kawan nih. Tapi, gue nggak mau bermasalah sama dia. Gue tinggal, ya, Flo.” Tanpa persetujuan Flora, Sora meninggalkan Flora begitu saja berdua dengan Gara. Hal itu sukses membuat Flora mengumpat sahabatnya itu.

Hening.

“Lo kenapa nggak ikut pergi?”

“Gue kalau nggak sakit juga nggak bakalan ada di sini,” balas Flora dengan ketus. “Harusnya lo tuh yang pergi. Nggak usah jadiin UKS jadi tempat bolos lo.”

Gara menghela napas kasar. Ia kemudian bangkit. “Gue bisa saja pergi. Tapi, lo harus tanggung jawab kalau gue pingsan nanti.”

Pupil mata Flora melebar mendengar ucapan Gara. “Kenapa harus gue?”

“Lo lupa, ya, perjanjian kita? Lo harus ikutin mau gue selama satu bulan. Dan hari ini lo mulai.” Gara menurunkan kakinya dan beranjak. Namun, baru saja ia berdiri, tubuhnya kembali limbung.

“Eh. Eh, Gar.” Flora lantas bergerak cepat mendekati Gara. Ia sampai lupa dengan perutnya yang terasa nyeri, karena datang bulan. “Lo mending tidur lagi deh.”

Gara yang merasa kepalanya sangat pening mau tidak mau mengikuti Flora. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan dibantu oleh Flora. Namun, tiba-tiba erangannya terdengar ketika tangan Flora tak sengaja mengenai perutnya yang semalam kena tendangan keras Edward. Gara refleks meringkuk.

Entah dari mana datang rasa khawatir dan kasihan Flora melihat Gara. “Gar, gue bilangin guru, ya. Biar dibawa ke rumah sakit.”

Gara mendengar suara Flora yang sangat lembut. Berbeda dari nada yang beberapa kali ia dengar. “Nggak.”

“Gue nggak mau, ya, Gar, nanti disalahin atau disangka bunuh lo di sini.”

“Nggak akan. Gue nggak akan mati sekarang. Gue belum bisa bikin bangga orang tua gue.”

Flora terdiam. Ada yang mencubit ulu hati Flora mendengar ucapan Gara. Kini, ia semakin yakin bahwa sebenarnya di balik Gara yang ia tahu nakal dan terkenal sebagai badboy-nya SMA Rajawali, ada sosok Gara lain yang tak pernah orang ketahui. Dan Flora mulai penasaran akan hal itu.

“Nanti lo harus temanin gue ke toko buku.”

“Tap ….”

“Jangan lupa perjanjian kita.”

Flora terdiam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!