Membuka Ruang

“Hansiel!”

Langkah kaki Hansiel terhenti begitu suara cempreng itu menyerukan namanya. Tak hanya Hansiel, langkah Evano dan Mazeen juga ikut terhenti. Ketiga laki-laki dalam balutan seragam putih abu-abu itu sontak menoleh bersamaan ke belakang. Mereka mendapati Flora yang berjalan mendekat. Lalu, ketiganya saling melempar tatapan satu sama lain. Bingung saja karena tiba-tiba memanggil Hansiel. Padahal, sebelumnya mereka tidak pernah saling bertegur sapa. Selain karena berbeda kelas, mereka juga belum mengenal betul Flora. Sebab, Flora hanya siswa baru yang tidak begitu dipopulerkan oleh banyak siswa. Ya, mungkin banyak yang memuja. Hanya saja Flora yang memang tidak begitu sering menjalin komunikasi dengan siswa lainnya.

“Kenapa, ya?” tanya Hansiel ketika Flora sudah berdiri di hadapannya.

“Hm, gue mau tanya. Gara di mana, ya?” Flora berucap ragu-ragu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.

Sekali lagi ketiga lelaki itu saling melempar tatapan. Aneh saja mendengar Flora mencari keberadaan Gara.

“Kayaknya masih di ruang kepala sekolah deh. Tadi sebelum bel istirahat, Gara diminta menemui kepala sekolah,” terang Hansiel.

Sejenak Flora terdiam. Kepala sekolah? Bukannya tadi Flora sempat berpapasan dengan pria yang menjabat sebagai kepala sekolahnya itu? Tidak mungkin, bukan, jika Gara hanya tinggal sendiri di ruangan pria itu?

“Tadi gue ketemu sama kepala sekolah. Beliau mau pergi tuh,” ujar Flora.

Hansiel, Evano, dan Mazeen menunjukkan ekspresi bingung dan saling bertanya satu sama lain. “Nggak mungkin ‘kan kalau Gara diam di sana?” celetuk Mazeen dan dibalas anggukan oleh kedua temannya.

“Tapi, kalau bukan di sana. Gara di mana dong?” tanya Evano.

Mereka kemudian terdiam sejenak sebelum mereka berseru. “Rooftop.”

“Ya. Biasanya Gara ngabisin waktu di rooftop,” terang Hansiel.

Flora mengangguk paham. Kemudian, ia tersenyum. “Ok. Thank you, ya, Hans, Van, Zeen. Gue pergi dulu,” ucap Flora dan pergi begitu saja dari hadapan ketiga teman Gara itu. Tentu dengan menyisakan tanda tanya besar di dalam benak mereka.

“Gue nggak mimpi, ‘kan?” Evano menepuk pipinya dengan kuat hingga meringis.

“Apaan deh lo lebay banget. Biasa saja kali kalau Gara dicariin cewek. Lo perlu heran kalau lo yang dicari,” ujar Mazeen dan mendorong pelan pundak Evano. “Soalnya kalau lo yang dicari bakalan ada perang dunia ke empat, Van,” sambung Mazeen diiringi gelak tawanya yang menggelegar. Meledek Evano adalah satu kebahagiaan tersendiri bagi Mazeen. Pun sebaliknya.

Hansiel hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua sahabatnya itu. “Tapi, aneh juga sih kalau Flora yang nyariin Gara. Secara gitu Gara sudah bikin tuh cewek harus ngikutin kemauannya ‘kan?” ujar Hansiel yang membuat otak kedua sahabatnya berputar. Lalu, detik berikutanya Evano dan Mazeen mengiyakan.

“Jangan-jangan Gara sama Flora sudah jadian,” celetuk Evano yang berhasil membuat tangan Mazeen dan Hansiel mendarat di kepalanya. “Sakit, Anj**ng!”

“Lo sih ngadi-ngadi. Sudah tahu teman lo yang satu itu nggak pernah serius sama cewek. Ya kali Flora bakalan diembat juga sama Gara.”

“Sudah ah. Gue lapar. Ke kantin saja, yuk!” ujar Hansiel dan melangkah lebih dulu dari kedua sahabatnya itu.

“Tungguin, Hans!” seru Evano dan Mazeen secara bersamaan. Berat untuk tidak mengikuti Hansiel atau Gara ke kantin. Sebab, dua manusia itu adalah sumber rezeki untuk mereka. Kedua temannya itu selalu menyisihkan uang untuk membayar makanan mereka.

Kalau ada yang gratis, kenapa harus ditolak. Begitulah prinsip Evano dan Mazeen.

˚˚˚˚˚

Flora menyusuri satu per satu anak tangga untuk kemudian sampai di rooftop. Napas gadis itu naik turun tidak beraturan. Sungguh melelahkan. Hanya untuk sekadar ingin menemui Gara dan mengembalikan buku yang laki-laki itu pinjamkan padanya. Flora sampai rela tenaganya habis untuk menyusuri tangga yang jumlahnya nyaris ratusan. Lalu, apakah memang sebenarnya hanya sekadar perkara mengembalikan buku saja? Atau bahkan lebih dari itu? Flora ingin melakukan apa yang disarankan Gloria padanya. Ingin mengenal lebih jauh sosok laki-laki yang memintanya untuk mengikuti semua keinginannya itu.

“Huft!” Flora mencoba untuk menetralkan kembali napasnya yang terputus-putus. Ia membungkukkan badan dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya. Keringat yang mengucur di pelipis ia seka dengan punggung tangan. Melelahkan. Ia kemudian mengedarkan pandangan. Panas sekali. Bagaimana bisa Gara menikmati waktu di tempat seperti ini? Apa laki-laki itu tidak takut kulitnya terbakar?

Flora bergerak maju untuk mencari keberadaan Gara. Hingga sepasang bola matanya menangkap seseorang yang mengenakan seragam yang sama dengannya tengah duduk di pojok seraya menatap medali yang ia angkat di depan wajah. Flora tak langsung mendekat. Ia memerhatikan Gara yang memainkan medali tersebut dengan lekat. Lalu, tanpa sadar Flora tersenyum tipis. Dalam hati ia memuja ketampanan laki-laki itu. Namun, detik selanjutnya Flora sadar akan pikirannya yang terbilang ngawur.

“Lo nggak takut kesambet setan ngelamun sendirian di situ?”

Gara langsung menaikkan pandangannya dan menatap Flora yang kini berjalan mendekat. Ia mengerutkan kening. Bagaimana bisa gadis itu datang ke sini? Pikir Gara.

Tanpa dosa Flora mendaratkan bokongnya di samping Gara. Tak peduli dengan rasa panas yang menyengat dan membuat kulitnya terasa terbakar. “Di sini panas banget lagi,” ujar Flora dan mengibaskan tangan di depan wajahnya.

“Lo ngapain ke sini?”

“Nyariin lo,” balas Flora tanpa dosa.

“Mau ngapain? Gue lagi nggak mau ketemu siapa-siapa. Gue mau sendiri.”

Flora tak peduli. Ia justru meraih medali yang ada di tangan Gara tanpa takut. “Medali siapa? Punya lo?”

Gara membuang pandang. Tak berniat untuk meladeni Flora.

“Lo ikut olimpiade dan juara satu?” Flora menatap Gara tidak percaya. “Benaran, Gar?”

“Lo bis abaca, ‘kan?”

“Wah! Lo keren banget sih, Gar. Apalagi dapat medali kayak gini,” tukas Flora tanpa mengada-ada ekpresinya. Sekarang ia percaya bahwa apa yang ia dengar dari orang lain tentang Gara bukanlah sebuah kebohongan. Gara memang anak yang pintar dan cerdas. Namun, hal itu tertutupi oleh kenakalan dan sikap laki-laki itu yang kerapkali membuat masalah di sekolah.

Gara menatap Flora yang masih memandangi medali miliknya dengan tatapan berbinar. “Lo mau? Ambil saja.”

Flora menggelengkan kepala dengan cepat. “Nggak. Ini kan punya lo.”

“Gue nggak butuh sih,” sahut Gara dengan santai seraya membuang pandang lurus ke depan. Ia menekuk kaki dan memeluknya. “Di rumah gue juga banyak. Mau gue buang.”

“Kenapa?”

“Percuma banyak medali kalau nggak ada yang bisa melihat hasil jerih payah lo. Ya mending dibuang saja, ‘kan?”

Flora terdiam. “Lo kan punya orang tua, Gar. Orang tua lo pasti bangga kalau lo kasih lihat medali ini,” ucap Flora dengan santai. Ia tidak tahu tentang kisah pelik hidup Gara. Ia bicara seakan posisi Gara ada pada posisinya. Flora tentu langsung membayangkan bagaimana jika ia yang mendapatkan medali itu. Tentu saja kedua orang tuanya akan sangat bangga padanya.

Gara tertawa kecil. “Gampang lo bicara kayak gitu. Karena, lo nggak tahu ‘kan bagaimana hidup gue.”

Flora langsung terdiam. Ia menatap Gara dengan intens. Dan apa yang ia lihat kini bukanlah Gara yang ia lihat seperti biasanya. Wajah petakilan dan terkesan nakal itu berubah menjadi wajah yang lebih lembut, tetapi luka tersirat di sana. Lalu, apakah yang dikatakan Gloria itu memang benar bahwa yang terlihat dalam diri Gara hanyalah sebuah kepura-puraan?

“Memangnya hidup lo kenapa?”

“Lo orang baru. Nggak perlu tahu.”

“Memangnya kenapa kalau gue orang baru? Bagaimana kalau pada akhirnya gue lebih bisa mengerti lo daripada orang-orang yang sudah mengenal lo sejak lama?”

Hening.

“Lo nggak bisa lho, Gar, melihat sesuatu hanya dari seberapa lama orang itu ada di dekat lo. Yang kenal lo banyak. Tapi, apa akhirnya mereka juga paham bagaimana lo? Nggak juga, ‘kan?”

Dalam diam Gara membenarkan ucapan Flora. Bahkan, orang tuanya sekalipun tak mampu memahami keinginannya yang cukup sederhana. Hanya butuh perhatian dan kasih sayang seperti dulu.

“Gar, kalau lo nggak keberatan, gue juga mau kok jadi teman lo.” Entah dorongan dari mana yang membuat Flora melontarkan kalimat itu. Namun, ia tak menyesali ucapannya. Ia justru merasa lega sudah mengucapkan kalimat itu.

Gara langsung menoleh ke samping. Mendapati gadis berambut sebahu itu tengah tersenyum padanya.

“Kalau lo keberatan, ya, gue nggak maksa juga sih. Mungkin lo sudah cukup punya teman yang bisa lo jadikan tempat cerita.”

“Kenapa lo mau berteman sama gue?”

“Kenapa gue harus nggak mau?”

Hening. Gara melihat ada kesungguhan di wajah gadis itu. Padahal, mereka dipertemukan karena sebuah insiden konyol yang kemudian membuat Gara memaksa Flora untuk mengikuti kemauannya. Namun, gadis itu kini menawarkan diri dengan cuma-cuma sebagai temannya. Apa gadis ini tidak berpikir jika nanti hidupnya akan bermasalah?

“Lo nggak takut bakalan kejebak masalah jika berteman sama gue?”

“Gue rasa lo nggak bakalan juga ngejebak gue dalam masalah,” balas Flora. Ia lagi-lagi memainkan medali milik Gara. Menatap benda itu penuh bangga.

“Kenapa lo percaya itu?”

“Kenapa gue harus nggak percaya?”

Pertanyaan dijawab pertanyaan. Itulah yang Gara dapatkan dari gadis itu. Unik. Berbeda dari gadis-gadis yang ia temui sejauh ini yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja. Namun, hal itu tak terlihat dari sosok Flora. Ya, Flora berbeda dan unik di mata Gara.

“Kakak gue pernah bilang, seburuk apa pun orang lain. Percayalah bahwa ada satu fase orang tersebut akan menemukan titik perubahan. Dan gue selalu percaya itu.”

Gara terdiam. Haruskah ia percaya? Haruskah ia meyakini bahwa sikap buruk kedua orang tuanya akan berubah nantinya?

“Dan gue mau balik lagi ke topik tentang medali ini.” Flora menunjukkan benda itu di depan wajah Gara. “Terlepas dari masalah apa yang membuat lo nggak butuh ini. Saran gue, lo tunjukkan pada orang tua lo.”

“Orang tua nggak butuh itu. Orang tua gue nggak bakalan bangga dengan jerih payah gue. Gue capek.”

Akhirnya, kalimat itu bisa menguar dari bibir Gara.

“Lo sudah mau menyerah?”

Gara terdiam.

“Jangan, Gar. Tuhan cuma sedang nguji dan ingin melihat sejauh mana usaha lo.”

“Lo nggak bakalan paham bagaimana gue.”

“Tentu saja. Karena, lo nggak cerita tentang diri lo sama gue.”

Hening.

“Jadi, bagaimana?”

Gara menatap Flora. Gadis itu mengulum senyum manisnya.

“Mau cerita?”

“Tenang. Gue bisa jaga rahasia kok,” sambung Flora dengan cepat sebelum Gara angkat suara.

Embusan napas Gara beradu dengan deru angin. Untuk pertama kali, Gara bisa membuka ruang bagi orang lain untuk mendengar ceritanya. Ia membuka mulut dan mengeluarkan semua cerita-cerita pahit yang ia alami. Hanya pada Flora. Seorang gadis bermata bulat yang manis.

Untuk pertama kali Flora melihat Gara yang rapuh. Ia melihat laki-laki itu mengangkat kepalanya. “Nggak apa-apa kalau mau nangis. Nangis nggak bakalan bikin harga diri lo jatuh kok.”

Tanpa menunggu lama air mata Gara terjatuh begitu deras. Laki-laki itu tersedu.

“Jadi, ini sosok yang lo sembunyiin di balik topeng Gara yang nakal. Serapuh ini lo sebenarnya, Gar,” lirih Flora dalam hati. Ia kemudian mengelus punggung Gara untuk menenangkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!