Byantara Ethan Anggoro, tulisan yang terpampang pada papan nama yang berada di atas meja kerjanya. Sesui keputusan direksi, saat ini ia menjabat sebagai direktur pengembangan. Tapi sayangnya, pekerjaannya bukan mengecek berkas atau memeriksa progress project, melainkan melamun sambil memainkan bandul pendulum bola newton.
Dagunya yang ditumbuhi rambut halus, bertopang pada lengan kirinya sementara tangan kanannya asyik memainkan pendulum di hadapannya. Jangan tanyakan tentang pikirannya, tentu saja tidak berada di tempat ini.
“Permisi tuan,” ucap seorang wanita yang entah kapan masuk ke dalam ruangannya. Mungkin dia sudah mengetuk pintu hanya saja Byan tidak mendengarnya.
Ia menaruh sebuah dokumen yang cukup tebal di dekat Byan.
“Direktur pemasaran meminta anda mengecek dokumen ini. Beliau ingin mendapat jawaban segera terkait progress pengembangan perumahan elite agar bisa segera menyusun rencana promosi.” Terang wanita yang saat ini menjabat sebagai sekretaris Byan.
“Apa dia juga sudah memeriksanya?” tanya Byan dengan lemah. Suaranya nyaris tidak terdengar karena hanya berupa gumaman kecil.
“Mohon maaf, siapa yang tuan maksudkan?” sekretaris baru itu dibuat bingung oleh Byan.
“Direktur perencanaan. Apa dia sudah memeriksanya?” lagi Byan bertanya.
“Maksud anda, nyonya Maureen?”
Byan mengangguk lemah. Sudah beberapa hari ini Byan dan Maureen jarang terlibat. Maureen lebih sering pergi keluar kantor entah itu memang masalah pekerjaan atau hanya alasan untuk bertemu Wisnu.
Di rumah pun Maureen dan Byan menjalani hidupnya masing-masing. Walau tinggal di bawah atap yang sama, tapi mereka tetap mengurus urusan masing-masing. Jarang sekali mereka saling berbicara, kecuali saat di jam sarapan dan makan malam.
Seperti ada yang hilang, Byan merasa mulai kesepian karena tidak ada yang bisa ia ajak berdebat.
“Oh, mohon maaf tuan, nyonya Maureen sudah tidak memeriksa dokumen ini. Saat project berjalan, maka tanggung jawabnya beralih kepada tuan. Nyonya Maureen sudah tidak ikut campur lagi. Fungsi monitoring sepenuhnya ada pada kewenangan tuan.” Urai sekretaris bernama Lusi.
“Apa dia tidak ingin tahu project yang dia rencanakan sudah sejauh mana? Mungkin saja aku melakukan kesalahan dan memerlukan koreksi.” Byan bersikukuh ingin di koreksi oleh Maureen.
“Tidak tuan. Nyonya Maureen tidak akan mau mengganggu kewenangan direktur lain, sekalipun ada kesalahan. Kecuali, rapat manajemen mengajukan untuk peninjauan ulang project.” Dengan sabar Lusi menjelaskan.
Byan tercenung beberapa saat. Ia berpikir, apa mungkin ia harus membuat masalah dengan projectnya agar dilakukan peninjauan ulang oleh Maureen?
Akh tidak. Byan langsung menegakkan tubuhnya dan menggeleng saat sadar kalau hal itu sampai terjadi maka yang ada adalah manajemen akan meragukan kemampuannya. Kesempatan ia untuk mengambil alih perusahaanpun akan lepas dari tangannya.
Tidak, Byan tidak bisa merelakan hal itu terjadi. Ia meneguhkan kembali tekadnya dalam hati kalau Maureen adalah saingannya. Ia harus segera mengalahkan wanta itu agar tidak semakin berkembang saja perencanaan bisnisnya dan membuat ia terlihat unggul di mata manajemen.
“Bawakan aku dokumen pembangunan jembatan gantung. Aku ingin melihat progressnya.” Pinta Byan tiba-tiba. Semangatnya mendadak bertambah berkali lipat.
“Baik tuan, mohon di tunggu.” Sahut Lusi sambil membungkukkan tubuhnya sebelum berlalu pergi meninggalkan Byan yang mulai mengambil penanya dan bersiap mencoret temuan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Mungkin dengan terlihat cerdas dan gemilang ia akan menemukan cara lain untuk menarik perhatian Maureen yang belakangan sering sibuk dengan ponselnya.
****
Rasa lelah dirasakan betul oleh Maureen yang baru pulang kerja. Ia baru pulang sekitar pukul delapan malam. Saat melewati ruang makan, ia menghentikan sejenak langkahnya hanya untuk melihat tudung saji besar masih terpasang dan menutupi makannya.
“Anda mau mandi dulu atau makan malam dulu nyonya?” tanya seorang pelayan yang menerima tas kerja yang disodorkan Maureen.
“Buatkan aku steak ayam tanpa sauce saja. Aku akan makan setelah mandi.” Pinta Maureen yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
Ia melihat beberapa saat pintu kamar Byan dan tertutup rapat. Sepertinya laki-laki itu sudah mengurung dirinya di kamar. Seharian ini mereka memang tidak bertemu hanya mendengar kabar saja kalau Byan mulai melakukan pekerjaannya dengan benar.
Bagi Maureen sebenarnya tidak masalah jika kemudian Byan yang menjadi direktur utama Anggoro Corp, asalkan semua haknya tetap bisa ia dapatkan.
Masuk ke dalam kamar dan Maureen langsung melucuti satu per satu baju yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya menjadi lebih ringan setelah ia tidak mengenakan satu helai kain pun di tubuhnya. Ia segera masuk ke kamar mandi, berdiri di bawah shower dan mulai mengguyur tubuhnya.
Aahh, air hangat ini sangat nikmat saat menghujani permukaan kulitnya. Cukup lama Maureen menghabiskan waktunya untuk mandi. Ia baru keluar setelah merasa tubuhnya benar-benar bersih.
Hanya mengenakan pijama, Maureen turun ke ruang makan untuk sekedar mengisi perutnya yang keroncongan.
Sore tadi ia memang menolak ajakan makan malam dari salah satu rekanan bisnisnya karena sikapnya yang kurang sopan. Laki-laki berambut botak itu terus menggodanya dan membuat Maureen muak. Makanya ia memilih pulang dalam kondisi lapar di banding makan malam berdua dengan seseorang yang tidak ia sukai.
Sambil menikmati makan malamnya, Maureen memandang keluar rumah melalui jendela. Ia melihat lampu taman menyala lebih terang dari biasanya. Ada bayangan seseorang yang sedang berdiam diri di taman.
“Apa ada orang di taman?” Maureen mulai waspada. Ia khawatir kalau ada penyusup masuk ke rumah mewahnya.
“Iya nyonya, tuan muda sedang melukis di taman.” Sahut seorang pelayan.
“Kamu yakin? Malam-malam begini?” Maureen menatap tidak percaya pada pelayannya.
“Iya nyonya.” Pelayan itu tidak berani mengangkat wajahnya.
“Dinding mana yang dia coret-coret?” Maureen menaruh garpu yang sedang ia pakai. Selera makannya mendadak hilang membayangkan dinding yang harus selalu bersih dan rapi malah di gambari oleh Byan.
“Saat ini tuan muda sedang menggambari dinding selatan nyonya.”
Maureen beranjak dari tempatnya sambil berpikir. Dinding selatan berarti dinding ujung kolam renang. Byan apakan dinding itu? Membuat penasaran saja.
“Buatkan saya teh.” Titah Maureen yang kemudian memilih pergi ke taman belakang. Ada yang harus ia periksa demi menenangkan pikirannya sendiri.
Terlihat dari jendela, Byan memang sedang menggambari dinding selatan. Belum terlihat jelas apa yang di gambar oleh Byan. Pikirnya, awas saja kalau gambar Byan malah merusak pemandangan taman belakang.
“Teh anda nyonya.”
Teh sudah di sodorkan dan Maureen segera mengambilnya. Ia keluar rumah dan menghampiri Byan yang tampak asyik membuat muralnya. Bajunya yang berwarna abu sudah dipenuhi cat dan beberapa kaleng cat tampak sudah habis digunakan laki-laki bertangan kokoh itu.
Maureen memperhatikan dari tempatnya. Harus ia akui kalau lukisan dinding yang di buat oleh Byan cukup menarik. Gambar-gambar yang di buatnya seolah hidup dan berdimensi. Bunga-bunga yang seolah terapung di permukaan air, angin yang seolah berhembus dan gambar beberapa ekor ikan yang sangat imajinatif dan cantik.
Di banding memimpin perusahaan, Byan memang lebih piaway melukis. Harusnya anak tiri Maureen menyadari itu.
“Kamu sudah pulang, ibu tiri?” sapa Byan yang tersenyum kecut melihat kedatangan Maureen yang sedang memandangi lukisannya.
Maureen bisa melihat sebagian wajah Byan yang terkena cat berwarna warni.
“Memangnya siapa yang kamu lihat ini?” decik Maureen yang kesal. Pertanyaan Byan sungguh basa-basi.
Bukannya menjawab, Byan malah terkekeh. Ia mencuci tangannya yang belepotan cat dan menaruh alat lukisnya. Imajinasinya sudah hilang sejak melihat kedatangan Maureen.
“Bagaimana lukisanku? Bagus bukan?” setelah tangannya bersih, Byan menghampiri Maureen dan mengambil alih teh di tangan Maureen lalu meneguknya.
“Hey, sopan sedikit!” seru Maureen dengan kesal.
Enteng saja anak tirinya itu mengambil minumannya kemudian ia teguk.
“Seorang ibu akan memberikan apa saja untuk anaknya, maka lakukanlah apa yang seharusnya kamu lakukan.” Timpal Byan dengan senyuman meledek pada Maureen.
Ia mengembalikan cangkir itu pada Maureen setelah isinya ia teguk habis.
“Sepertinya ibumu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun pada orang tua.” Decik Maureen kesal.
“Hey!” tiba-tiba saja Byan berseru memanggil Maureen.
Gadis itu langsung terhenyak kaget.
“Jangan pernah membawa ibuku dalam pembicaraan kita, mulutmu tidak pantas menyebutnya. Kalau ada yang buruk padaku, itu adalah trah dari Anggoro.” Lanjut Byan tidak terima.
Maureen tidak menimpali, ia lebih memilih memalingkan wajahnya dari Byan. Tatapan Byan terlalu menakutkan. Ia bisa melihat bahwa pembahasan tentang Andini adalah hal yang tabu untuk ia lakukan sebagai seorang ibu tiri yang dianggap merebut perhatian Anggoro.
Ia berjalan mendekat ke tepian kolam dan memandangi mural buatan Byan sambil menenangkan dirinya. Ia baru tahu kalau reaksi Byan bisa seekstrim itu saat disinggung masalah ibunya.
Maureen sadar, rupanya anak itu sangat mencintai ibunya dan membenci ayahnya.
“Ucapanmu selalu memposisikan seseorang lebih rendah posisinya darimu. Dan kali ini aku setuju kalau itu adalah trah mas Anggoro.” Timpal Maureen. Andai Byan tahu, yang kehilangan orang tua yang ia sayangi bukan hanya dialami olehnya melainkan juga Maureen.
Byan hanya tersenyum sinis mendengar timpalan Maureen. Tumben sekali wanita ini menyetujui ucapannya, apa ia pun sering direndahkan oleh Anggoro? Lalu kenapa mau menikahinya?
Akh iya, tentu saja karena Anggoro laki-laki berduit. Semua wanita memang seperti itu, akan diam saat berhadapan dengan laki-laki berduit. Dan Maureen tidak ada bedanya, pikir Byan.
Tanpa Byan sadar, berdebat seperti ini dengan Maureen menjadi hal yang selalu ia nantikan. Ia merasa kalau perdebatan mereka membuat hidupnya lebih berwarna tidak hanya hitam dan putih seperti canvas. Ia juga jadi tahu sudut pandang Maureen yang terkadang di luar pemikiran wanita pada umumnya.
"Aku memang memiliki trah Anggoro tapi kamu tidak akan bisa menyingkirkan dan memanipulasiku seperti yang kamu lakukan terhadap Anggoro." Byan sangat ingin menimpali kalimat terakhir Maureen.
Maureen tidak ambil pusing dengan ucapan Byan, toh ia tidak berniat terlihat baik dipikiran anak tirinya.
“Bersihkan dirimu sebelum masuk. Jangan sampai ada noda cat yang mengotori lantai rumahku.” Pesan Maureen sebelum memutuskan pergi. Ia sudah malas berdebat dengan Byan, tubuhnya sudah terlalu lelah dan ingin bersitirahat.
Byan tidak menimpali. Ia hanya memandangi mural yang di buatnya. Pemandangan alam yang pernah ia lihat dengan ibunya untuk terakhir kali tepat satu hari sebelum kecelakaan naas yang merenggut nyawa ibunya.
Akh, rasanya baru kemarin, nyatanya sudah nyaris sembilan tahun. Ia masih tidak rela perempuan muda itu menggantikan posisi ibunya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Ririn
ibu tiri? lucu amat dengernya..
gak ada panggilan lain gituh
2023-06-08
1
Kisti
tuuu kan.gak debat aja sewot,gmn kalau kecantol wisnu bneran??? nyesel ada dbuntut biyan 😀😅.jka kalian brjodoh pasti bucin nya level dewa dech
2023-05-03
1
Bunda dinna
Heran sama Byan,,kerja g semangat gara2 g ketemu di ibu tiri,,wkwkwk resiko punya ibu tiri yg cantik bikin linglung
2023-05-03
1