Bali, menjadi kota yang di tuju Byan pagi ini. Dengan sebuah pesawat ia sampai di bandara menjelang siang. Orang kepercayaan Anggoro sudah menyambutnya di bandara dan membawakan barang-barang milik Byan.
“Silakan tuan muda, sebelah ini.” Dengan raut wajah yang mirip dengan Anggoro, membuat Byan begitu mudah dikenali.
Ia masuk ke dalam mobil sedan mewah dengan atap yang dibiarkan terbuka agar ia bisa menikmati pemandangan Bali yang sudah bertahun-tahun tidak pernah di lihatnya.
Langit Bali yang cerah dan berawan, menjadi payung yang cukup teduh bagi Byan. Ia duduk di kursi penumpang, menikmati pemandangan pantai yang indah dengan pasirnya yang putih kecoklatan.
Ia memakai kacamata yang sedari tadi tergantung di sakunya. Udara yang cerah ini membuat matanya silau.
Banyak pengunjung yang sedang menikmati waktunya di tepi pantai. Ada yang berenang, berjemur, bermain seluncur, volley pantai atau sekedar minum air kepala di tepi pantai dan kegiatan lainnya.
“Sudah berapa lama tuan muda tidak ke sini?” tanya laki-laki paruh baya yang memperhatikan Byan. Ia melihat ketertarikan Byan melihat aktivitas para turis dalam dan luar negeri di tepi pantai.
“Mungkin sekitar delapan atau sembilan tahun.” Ucap Byan, seingatnya. Terakhir ke sini adalah saat ia dan teman-temannya merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh dua.
“Wah, cukup lama ya… bagaimana, apa tuan melihat perbedaan Bali sekarang dan delapan tahun lalu?”
“Hem, sangat jauh berbeda. Sudah terlalu banyak resort di sini dan yang akan aku sambangipun sebuah resort. Benarkah hanya sekitar dua puluh persen lagi saja pengerjaannya?” tanya Byan penasaran.
“Benar tuan. Project resort ini sudah berjalan hampir setahun. Letaknya sangat strategis dan indah. Vila utama menghadap langsung ke pantai sementara vila lainnya menghadap pesawahan dengan view terbaik di banding tempat lainnya.”
“Saya bersyukur karena nyonya Maureen bersikeras agar project ini tetap dijalankan. Karena peluang bisnisnya akan sangat bagus.”
“Anda mengenal ibu tiri saya?” Byan penasaran karena laki-laki ini menyebut nama ibu tirinya dengan cukup akrab.
“Iya, saya cukup mengenalnya.” Laki-laki itu sejenak menoleh dan tersenyum pada Byan.
“Sebelum tuan besar meninggal, beliau biasa datang ke sini dua sampai tiga kali dalam satu bulan. Tuan besar sengaja mengutus nyonya Maureen setelah mengambil alih project resort ini dari tangan tuan Edwin. Menurut tuan besar, di tangan tuan Edwin pembangunan resort ini terlalu lambat dan banyak penyimpangan.”
“Tapi setelah di pegang nyonya Maureen, perkembangan pembangunan resort ini begitu pesat. Nyonya Maureen juga rajin memonitor pembangunan. Ilmu hitungnya sangat hebat padahal beliau seorang wanita.”
Byan bisa melihat dengan jelas kekaguman yang ditunjukkan oleh laki-laki ini terhadap Maureen. Byan jadi berpikir, sehebat itu kah ibu tirinya? Dan seburuk itukah seorang Edwin?
Perjalanan tidak sampai satu jam dari Bandara dan saat ini mobil sudah berbelok ke sebuah resort yang sedang di bangun.
“Beberapa kamar di resort ini sudah berfungsi dengan baik dan dapat digunakan. Tapi kalau tuan mau menginap di tempat lain, saya akan menyiapkannya.” Ucap laki-laki itu sebelum menghentikan mobil di area parkir.
Byan tidak lantas menimpali. Ia lebih memilih segera turun untuk melihat-lihat dulu kondisi resort. Ternyata sudah ada front office yang menyambut di depan. Taman masih dalam proses pembangunan dan beberapa unit vila masih di bangun.
“Berapa vila yang sudah siap?” tanya Byan.
Mereka masuk ke dalam resort yang di tata sedemikian rupa. Sentuhan seorang wanita memang jelas terlihat di tempat ini.
“Sudah tujuh vila yang layak huni dari total sembilan vila. Lima vila lainnya masih dalam proses dipercantik.” Terang laki-laki tersebut.
“Apa sudah menerima tamu?”
“Tamu dari luar, belum tuan. Namun kalau dari Jakarta ada acara, beberapa staf biasanya menggunakan resort ini. Karena untuk resto dan staf, kami sudah siap.” Terang laki-laki tersebut.
Byan terdiam beberapa saat. Sisa dua puluh persen yang dimaksud Maureen memang hanya sedikit lagi. Finishingnya saja. Mungkin karena tahap ini biasanya memerlukan biaya yang besar maka Maureen memutuskan Byan yang melanjutkan.
Dengan sentuhan seni yang tinggi, tentu saja ia bisa meneruskan pembuatan resort ini menjadi sesuatu yang lebih bernilai seni dan bisa dinikmati keindahannya.
“Saya menginap di sini saja.” Ucap Byan pada akhirnya.
“O, baik tuan. Mari saya antar ke kamar tuan.”
Byan berjalan menyusuri lorong resort. Di tengah-tengah area, ada sebuah kolam renang besar dengan kedalaman yang berbeda di beberapa bagian. Kolam renangnya memang belum terisi air namun beberapa lampu taman yang terpasang sudah cukup menerangi tempat ini.
Beberapa tunas pohon palm, masih terikat tali dan sedang di tanam oleh pekerja kebun. Byan bisa memperkirakan kalau area ini nantinya akan cukup rindang.
“Vila sebelah sana, view-nya menghadap laut tuan. Dan sisi kiri dan kanan menghadap pesawahan yang kami tata dengan kolam renang di masing-masing vila.”
Laki-laki itu, menjelaskan informasi apa yang mungkin Byan butuhkan.
Byan hanya mengangguk, ia melepas kacamata hitam karena area resort yang mulai teduh.
“Silakan tuan, ini unit vila anda.” Pintu vila dibukakan oleh laki-laki tersebut.
“Makan malam akan siap jam setengah tujuh malam. Kalau tuan memerlukan apa pun, tuan bisa langsung memanggil saya. Saya tinggal di seberang resort ini.” Urai penjaga resort.
“Tentu.” Sahut Byan pendek.
Setelah perbincangan panjang itu akhirnya penjaga resort pun pergi. Tinggalah seorang Byan berada di vilanya.
Sebuah vila yang cukup luas dengan sebuah kamar tidur yang luas, menjadi tempat Byan beristirahat. Ia melihat-lihat isi vila dengan kamar mandi yang bersih, dapur mini, ruang berkumpul dan tentu saja beranda yang nyaman untuk bersantai dengan view yang langsung menghadap ke laut. Ada sebuah kolam cukup besar untuk berendam dan berenang. Vila ini memang cocok untuk pasangan yang ingin quality time hanya berdua saja.
Byan membuka pintu menuju beranda, tirai-tirai tipis sengaja ia geserkan agar bisa melihat langsung pemandangan pantai yang cukup terik.
Ia terduduk di sofa dan mengenakan kembali kacamatanya. Melamun beberapa saat sambil menikmati pemandangan yang lenggang.
Dimalam hari, pantai itu pasti terlihat indah karena banyak lampu tergantung.
Mengisi waktunya, Byan menghampiri sebuah kulkas kecil di bawah meja. Ia mengambil minuman bersoda dan meneguknya sambil menikmati pemandangan.
Benar kata Maureen, sayang sekali kalau project ini tidak dilanjutkan. Baru kali ini rasanya ia sepakat dengan perkataan ibu tirinya.
Lelah yang dirasakan Byan, tanpa sadar membuat ia terlelap. Ia tidur di sofa dan masih mengenakan kacamatanya. Biarkan saja ia seperti ini, menikmati waktunya tanpa tekanan dari manapun.
****
Dentuman suara musik di tepi pantai seolah memanggil Byan untuk datang. Setelah tadi tidur cukup lama, tubuhnya terasa begitu ringan dan segar. Byan memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai yang bisa ia tempuh dengan berjalan kaki.
“Selamat datang….” Sapa seorang wanita pemilik tempat hiburan di tepi pantai.
“Mau gabung?” tawarnya seraya melirik orang-orang yang sedang asyik menari.
“No. Nanti aja.” Tolak Byan.
“Okey, kalau perlu sesuatu, just call me, Isabel.” Ucap wanita itu dengan jarak yang sangat dekat.
Mengenakan kemeja santai berbahan tipis dengan kancing yang sengaja di buka pada bagian atasnya, membuat laki-laki ini terlihat begitu menggoda. Dari kerlingan matanya, jelas Isabel coba merayu Byan yang tampan dan bugar.
Byan tidak menimpali. Ia memilih pergi untuk berjalan-jalan di pantai, menikmati udara malam yang dingin. Mematung di tepi pantai dan membiarkan ombak menyentuh ujung kakinya yang tanpa alas.
“Akh!” seorang wanita tiba-tiba menabraknya. Menyiram lengan kokoh Byan dengan minuman yang ada di tangannya.
“Astaga, sorry….” Ucap wanita itu dengan penuh sesal. Byan menoleh dengan kesal, mengganggu saja pikirnya.
“Biar aku bersihkan.” Ucapnya sambil melepas syal yang melingkar di lehernya. Mempertontonkan lehernya yang jenjang dan putih.
“Tidak perlu, saya hanya perlu mencuci tangan.” Tolak Byan seraya menarik jarak dari wanita berpakaian seksi itu.
“Aduh, maaf yaaa. Tadi aku buru-buru karena ada laki-laki iseng yang mengejarku.” Wanita itu melihat kembali ke belakang bersamaan Byan yang ikut menoleh. Tapi tidak ada siapapun di belakang sana.
“Akh syukurlah dia sudah pergi. Ngomong-ngomong kenalin, aku Tifani.” Wanita itu langsung mengulurkan tangannya pada Byan.
Byan menatap beberapa saat wanita aneh ini. Mudah sekali wanita ini berkenalan dengan orang asing padahal tadi dia bilang dia dikejar oleh seseorang yang tidak di kenal.
“Byan.” Pada akhirnya Byan tetap membalas uluran tangan Tifani.
“Oh, Byan. Nama yang bagus.” Puji Tifani yang enggan melepaskan jabatan tangannya.
Cepat-cepat Byan melepaskan genggaman tangan Tifani, ini tidak terlalu nyaman untuknya.
“Sebagai permohonan maaf, apa aku bisa menebusnya dengan sebuah makan malam?” tawar Tifani dengan wajah memelas.
“Oh gak perlu. Ini bukan masalah besar.” Tolak Byan.
“Ayolaaahh, jangan membuatku merasa bersalah. Pleaaseee….” Tifani dengan gaya merajuknya yang menggemaskan.
Tentu saja ia sangat berusaha untuk membujuk Byan karena laki-laki ini adalah target yang ditentukan Maureen.
“Ya, aku mohon.” Tifani sampai menangkupkan kedua tangannya di depan Byan.
Byan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Perempuan bernama Tifani ini ternyata memang pandai membuat laki-laki merasa iba.
“Hem, baiklah.” Pada akhirnya Byan setuju.
“Baiklah! Ayo, kamu boleh memesan makanan apapun. Aku yang akan teraktir.” Seru Tifani dengan ceria.
Tanpa sungkan ia melingkarkan tangannya di lengan Byan, membuat Byan menggeleng tidak mengerti dengan wanita yang terlalu cepat akrab ini.
Ia menarik Byan menuju resto tepi pantai yang tadi ia tolak.
Byan terduduk di salah satu kursi dan menunggu Tifani yang memesankan makanan. Saat wanita itu kembali, ia sudah mengajak dua orang pelayan yang membawakan makanan untuknya dan Byan.
“Suka lobster?” tawar Tifani.
“Nggak, saya alergi makanan laut.” Aku Byan.
“Yaaahhh sayang sekali padahal lobsternya sangat enak. Manis dan gurih.” Bibir Tifani mengerucut kecewa.
“Keliatannya kamu sangat mengenal tempat ini? Makanan pesananmu bahkan sudah jadi dalam waktu kurang dari lima menit.” Selidik Byan yang sedikit curiga.
“Oh, soal itu.” Tifani mulai ketar-ketir. Mana mungkin ia menjawab kalau Maureen lah yang sudah menyiapkan semuanya.
“Aku sering ke bali dan resto ini langgananku. Jadi mereka sudah tahu apa yang aku suka. Tinggal telepon ke pemiliknya dan semuanya siap. Sangat mudah, asalkan ada cuan.” Terang Tifani, sambil menjentikkan jari.
Byan tidak banyak protes dengan alasan Tifani. Ia menerima begitu saja jawaban Tifani. Toh ia juga tidak terlalu peduli.
Makan malam begitu dinikmati Tifani dengan hidangan lautnya yang menggugah selera. Sementara Byan cukup dengan ayam goreng, menu yang tidak asing. Tidak banyak perbincangan yang terjalin karena Byan cukup tertutup pada orang baru.
“Kamu nginep dimana?” Tifani memulai kembali perbincangan.
“Di sekitar sini.” Sahut Byan apa adanya.
“Wah, enak sekali kamu udah punya tempat menginap. Lah aku, aku masih harus keliling nyari penginapan yang sesuai. Barang-barangku malah masih bertumpuk di sana.” Dengan bibir yang mengerucut Tifani menunjuk kopernya.
“Kenapa tidak dari siang mencari penginapan? Kamu bilang, kamu sudah sering ke sini dan tahu benar tempat ini.” Sindir Byan, tidak masuk akal menurutnya.
“Ya justru karena aku sudah sering ke sini, aku pikir penginapan favoritku akan dengan mudah menerimaku. Ternyata hari ini mereka fullbook. Alhasil, aku harus mencari penginapan lain. Mana jauh lagi. Gara-gara sering ke sini, aku malah lengah.” Terang Tifani dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
“Boleh gak aku ikut menginap di tempatmu?” tiba-tiba saja ide itu melintas di benaknya.
“Tidak!” sahut Byan tegas.
“Hah, kenapa tidak? Ayolah, aku tidak akan mengganggumu. Atau paling tidak biarin aku ikut dulu. Siapa tau ada kamar yang kosong di sana. Aku takut berkeliaran sendirian di tempat asing begini.”
“Boleh ya boleh….” Tifani sengaja mengeraskan suaranya agar didengar orang lain. Ia juga pura-pura menyusut air mata yang sebenarnya tidak pernah ada.
Orang-orang pun menoleh dan memperhatikan mereka.
“Akh sial!” Byan mulai merasa risih dengan tatapan mengejek dari orang-orang.
“Boleh kan? Emang kamu tega aku nyari-nyari penginapan malam-malam begini?” Tifani menambahkan bumbu dramanya.
Byan menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa juga ia harus bertemu dengan wanita ceroboh seperti ini. Membayangkan wanita ini mencari-cari penginapan yang cukup jauh memang cukup mengkhawatirkan. Terlebih di sekitar sini hanya ada dua penginapan, itupun dengan resort miliknya.
Byan tidak menjawab, sepertinya ia memang harus merelakan satu vilanya untuk menampung pada wanita ini.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Bzaa
semoga Bryan gak tergoda
2024-01-09
0
Shyfa Andira Rahmi
KELAPA x ahh....🤣🤣
2023-09-17
1
Ririn
aneh gak sih.. bisa pesan lobster tapi gak sempat pesan villa.. aq mah jd byan curiga
2023-06-07
2