Pagi yang berbeda dirasakan oleh Maureen karena hari ini ia memiliki seorang partner sarapan. Byan, laki-laki menyebalkan yang membuatnya mengaduk-aduk oatnya dengan kesal. Menyebalkan, bisa-bisanya laki-laki itu sarapan tenang dengan avocado toast sementara Maureen tidak bisa tidur semalaman.
Jujur, ia merasa terancam dengan keberadaan anak tirinya yang jauh lebih tua darinya. Ia seperti berhadapan dengan lawan yang bisa melakukan apa saja demi bisa menghancurkan dirinya.
Akh sial, bagaimana bisa dia duduk setenang itu, membuat Maureen semakin kesal saja. Sesekali bibirnya tersenyum saat sadar Maureen sedang memperhatikannya dan risih dengan keberadaannya. Tidak apa, semakin Maureen risih maka semakin baik menurut Byan.
“Aku tau aku sangat tampan tapi tidak perlu memandangiku seperti itu.” Ucap Byan yang sadar kalau ia sedang dipandangi oleh Maureen.
Ia menatap Maureen dan tersenyum jumawa.
“Hah, percaya diri sekali.” Maureen tersenyum kesal sambil memalingkan wajahnya. Semakin sebal saja ia pada sosok pria tegap dengan alisnya yang tebal dan sorot matanya yang mengintimidasi.
“Jangan terlalu percaya diri, terkadang sesuatu di pandangi bukan karena kita tertarik tapi bisa saja karena jijik.” Timpal Maureen tidak mau kalah.
“Oh ya? Apa kamu tidak mau mengakui kalau anak tirimu ini sangat tampan, ibu?” Byan mencondongkan tubuhnya ke arah Maureen membuat wanita itu segera menarik tubuhnya menjauh.
“Dih! Apa gunanya ganteng kalau gak laku.” Maureen berdecik sebal.
“Terima kasih atas pengakuannya.” Timpal Byan, jawaban Maureen sudah mengukuhkan kalau dirinya memang tampan.
“Gila!” dengus Maureen pelan namun masih bisa di dengar Byan dan membuatnya terkekeh dalam hati.
“Ngomong-ngomong ibu tiri, apa yang kamu pikirkan saat kamu mau menerima lamaran Anggoro? Apa karena dia tampan? Baik, tidak, dia tidak baik. Kaya? Atau apa ada alasan lain?” tanya Byan penasaran.
“Pertanyaan bodoh.” Decik Maureen, tidak suka.
“Kenapa? Apa kamu takut ketauan kalau kamu wanita licik yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau?” selidik Byan.
Maureen tersenyum kecil, ia meneguk minumannya. Nafsu makannya sudah hilang sejak melihat Byan di hadapannya.
“Anak kecil tidak akan paham dengan pemikiran orang dewasa.” Ledek Maureen seraya menaruh gelasnya dengan kasar.
“Oh ya? Coba ibu tiri ajari aku cara menjadi dewasa. Aku penasaran rasanya seperti apa.” Byan balas meledek.
Maureen berdecik sebal.
“Tentu. Kamu tidak akan paham sebuah hubungan sebelum kamu menjalaninya atau pernah menjalani hubungan tapi kamu hanya pengecut dan pecundang.” Balas Maureen telak.
“Hah, pikiran wanita itu memang rumit, mencari alasan tidak rasional, menyalahkan orang lain hanya demi terlihat dia lebih baik dan lebih menderita. Kenapa tidak katakan saja kalau kamu memang sangat serakah?” Byan melempar sisa makananya ke piring. Selera makannya ikut hilang.
“Kalau iya, memang apa pedulimu?” tantang Maureen tanpa rasa ragu.
“Lucu, dulu kamu pergi meninggalkan papahmu dan membiarkannya hidup seorang diri. Sampai dia mencari kehangatan di banyak tempat hiburan karena hidupnya terlalu sepi. Dan sekarang kamu kembali dengan alasan kalau kamu tidak bisa memberikan apa yang tidak seharusnya menjadi milikku. Memangnya semua ini pantas menjadi milikmu?”
“Apa peranmu saat papahmu memerlukan pertolongan keluarga terdekatnya? Tidak ada kan?”
“DIAM! Tutup mulutmu!” tiba-tiba saja Byan meradang sambil menggebrak meja.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku jadi jangan pernah menghakimiku.” Imbuh Byan dengan mata melotot karena kesal.
Bukannya takut, Maureen malah tersenyum kecil. Ia seperti menemukan hal baru di diri Byan. Hal kecil yang mudah memantik kemarahannya. Ini menarik, karena ternyata ia malah menemukan celah untuk menjatuhkan anak tirinya.
Akh sarapannya sudah tidak enak. Maureen beranjak dari tempatnya, menghampiri Byan sebentar dan berdiri disamping anak tirinya.
“Kalau belum bisa berdebat tenang denganku, sebaiknya mulutmu yang diam. Paham nak?” timpal Maureen seraya mencondongkan tubuhnya untuk sekedar mengusap kepala Byan.
Setelah itu ia berlalu dengan senyum penuh kemenangan. Tidak lupa, ia mengacungkan dua telunjuknya ke udara sebagai tanda kalau kemenangannya imbang dengan Byan.
“Brengsek!” Byan hanya bisa mendengus seraya memalingkan wajahnya dari sosok wanita yang melenggang pergi meninggalkannya lebih dulu. Kesal rasanya karena Maureen menemukan kelemahannya dengan cepat.
****
“Selamat pagi nyonya.”
“Selamat pagi nyonya.”
“Selamat pagi nyonya.”
“Selamat pagi nyonya.”
Puluhan sapaan di angguki Maureen dengan anggun. Sapaan itu berasal dari karyawan perusahaan Anggoro yang loyal dan begitu menghormatinya.
Sebagian dari mereka memang menghormatinya dan sebagian lagi memusuhinya. Ada juga yang bersikap nertal, tidak memihak siapapun yang penting masih bisa bekerja di perusahaan yang menggajinya dengan nominal fantastis di banding perusahaan lain.
Pagi ini Maureen kembali masuk kantor untuk mengecek sisa pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sebelum Anggoro meninggal. Yaitu project pembangunan pemukiman aesthetic di sebuah pulau terpencil. Ia tidak mau project kebanggannya ini jatuh ke tangan Byan atau Edwin apalagi terbengkalai begitu saja.
Di depan lift, ia sudah menghubungi Riswan, “Siap kan materi tentang pembangunan pulau. Saya ingin melihat progresnya.” Ucap Maureen melalui sambungan telepon.
Setelah Riswan menyanggupinya, ia pun segera masuk ke dalam lift yang di khususkan untuk direktur perusahaan.
Di dalam lift ia merapikan penampilannya. Rambut yang tergerai panjang ia posisikan di belakang, tidak ada helaian rambut yang berada di dadanya. Poni pendek di atas alis ia rapikan agar terkesan segar.
Baju berwarna hitam yang menjadi warna favoritnya berhasil membentuk tubuh Maureen menjadi paripurna. Lekukannya indah seperti gitar spanyol. Tentu saja tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Maureen, hingga akhirnya Anggoro jatuh cinta sedalam-dalamnya pada wanita muda ini.
Diperusahaan ini, banyak laki-laki yang memuja Maureen. Tapi karena ia pernah menjadi wanitanya direktur sekaligus pemilik perusahaan ini, tidak ada yang berani menggodanya. Jangankan menggoda, menatapnya saja tidak berani. Mereka hanya berani memandanginya diam-diam tanpa di ketahui oleh Maureen.
“Ding!” Maureen sudah tiba di lantai 16, ruang kerjanya bersama Anggoro dulu. Ia masuk ke dalam ruangan dengan di temani Riswan yang menyambutnya di pintu.
"Materi sudah saya siapkan di atas meja nyonya.” Ucap Riswan yang selalu menunduk pada Maureen.
“Carikan aku seorang sekretaris perempuan. Dia harus cekatan, pintar dan bisa memahami keinginanku. Suruh dia menghadap dalam waktu sepuluh menit.” Titah Maureen seraya berjalan menuju meja kerjanya.
Ia memang tidak duduk di kursi kebesaran Anggoro, ia lebih nyaman duduk di tempatnya yang sudah ia tata sedemikian rupa.
“Baik nyonya.” Sahut Riswan yang segera mencari orang yang tepat untuk menjadi sekretaris Maureen.
Seleksi singkat dilakukan Riswan. Ia juga meminta pertimbangan bagian HRD untuk memilih orang yang tepat untuk mendampingi Maureen.
Di ruangannya, Maureen sedang memeriksa pekerjaannya. Progress pembangunan pulau baru sekitar empat puluh persen. Masih butuh waktu dan biaya yang besar untuk melanjutkan projectnya. Maureen melihat sisa biaya yang masih ada, ternyata masih jauh di bawah yang ia butuhkan.
“Apa aku harus menghubungi direktur keuangan? Tidak mungkin kan pembangunan ini terbengkalai begitu saja.” Gumam Maureen. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar, pusing juga dengan project ini karena dukungan Anggoro sudah pasti lepas.
“Permisi nyonya,” suara Riswan tiba-tiba terdengar.
“Ada apa?” tanya Maureen tanpa menoleh pada Riswan.
“Nyonya, saat ini tuan muda Byantara sedang mengadakan rapat dengan departemen humas.” Lapor Riswan.
Maureen segera menoleh laki-laki setengah baya itu.
“Rapat apa? Bagaimana bisa dia mengadakan rapat tanpa sepengetahuanku?” Maureen menatap Riswan tidak mengerti.
“Tuan Edwin yang memintanya. Beliau bertanggung jawab atas promosi cluster elite baru dan beliau meminta tuan muda yang menyampaikannya. Beliau juga menyatakan kalau sudah merekrut langsung tuan muda sebagai ketua timnya.” Terang Riswan.
“Apa?!” Maureen langsung berdiri.
“Apa saja yang sebenarnya mereka lakukan di perusahaan ini? Kenapa kamu tidak melaporkan apapun kepadaku?” Maureen menutup berkasnya dengan kasar.
“Saya mohon maaf nyonya.” Hanya itu jawaban Riswan.
Maureen segera mendorong kursinya menjauh dan melenggang pergi meninggalkan mejanya. Ia hendak pergi ke ruang rapat. Ia tidak bisa membiarkan Edwin melakukan hal yang seenaknya di perusahaan ini. Ia tidak mau tindakan Edwin kembali merugikan perusahaan.
Tapi beberapa saat kemudian langkah Maureen terhenti.
“Apa rapatnya sudah berlangsung lama?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum nyonya.”
Maureen tidak melanjutkan langkahnya. Ia lebih memilih menghubungi seseorang untuk mengirimkan beberapa file padanya.
Sambil mematung ia mengecek file itu. Merubahnya beberapa saat lalu meminta orang tersebut untuk mencetaknya dalam jumlah banyak. Tentu saja orang tersebut tidak dapat menolak permintaan seorang nyonya Anggoro sekaligus pemilik saham besar di perusahaan ini.
Setelah urusannya selesai, Maureen melanjutkan langkahnya.
“Ikutlah denganku, kita lihat atraksi sirkus.” Maureen memberi perintah pada Riswan. Tidak lupa ia tersenyum simpul atas keberhasilannya.
“Baik nyonya.” Sahut Riswan yang mengekori Maureen dari belakang.
Maureen berjalan tegak menuju ruang rapat. Seorang wanita langsung mengangguk sopan saat melihat kedatangan Maureen. Ia membukakan pintu untuk Maureen.
Semua pasang mata menoleh ke arah pintu saat melihat kedatangan Maureen. Maureen tersenyum kecil, menyapu pandangan yang tertuju padanya.
“Silakan di lanjutkan.” Ucapnya pada Edwin yang terkejut di tengah pidatonya membuka acara.
Ia duduk dengan tenang di salah satu sudut sambil memainkan kursi yang didudukinya dengan memutar-mutarnya santai.
“Project ini akan dilanjutkan oleh putra dari mendiang pemilik perusahaan ini. Jadi saya pastikan, proses pembangunan akan berlangsung lancar tanpa kendala.”
“Byantara Ethan Anggoro, silakan dilanjutkan.” Ucap Edwin dengan penuh kebanggan.
Peserta rapatpun bertepuk tangan menyambut Byan yang sudah berpakaian rapi. Penampilannya memang sangat berbeda di banding saat pertama ia datang.
Maureen ikut bertepuk tangan dengan senyum tipis yang seolah mendukung anak tirinya.
Byan maju ke depan, ia memperkenalkan dirinya dengan formal.
“Perkenalkan, saya Byantara Ethan Anggoro. Saya satu-satunya putra dari mendiang Anggoro.” Ucap Byan dengan penuh kebanggan.
“Saya di sini akan mencoba melanjutkan project pembangunan cluster elite yang hanya memiliki sepuluh unit bangunan mewah dan exclusive di area yang strategis.” Byan berbicara dengan penuh percaya diri.
Semua mata memandang pada sosok tampan itu. Kepulangan Byan dan masuknya pria itu ke perusahaan milik ayahnya, membuat sebagian orang berbisik-bisik lirih karena dia anggap sosok yang pas untuk menggantikan Anggoro.
Namun ia tidak ambil pusing. Ia tetap meneruskan rencananya untuk mengambil hati jajaran manajemen agar lebih mempercayakan kepemimpinan perusahaan ini padanya.
“Baik, kita akan mulai melihat seperti apa cluster itu akan kami bangun.” Remote pointer di tangan Byan mulai menunjukkan slide awal dari persentasi yang sudah disiapkannya.
“Kami menamainya sebagai Cluster Afrókrema. Ini adalah Bahasa Yunani dimana kalau dalam bahasa kita berarti Elite.”
“Mengapa kami mengambil istilah Yunani, karena rumah-rumah di sini akan mengusung tema bangunan di zaman romawi kuno yang megah, dengan banyak ukiran indah dan kami hanya membuat sepuluh unit saja dengan pengembangan model yang berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya.”
Peserta rapat mengangguk-angguk saja mendengar ide brilliant Byan, membuat laki-laki muda itu semakin percaya diri.
“Anda semua tentu penasaran, seperti apa sih konsep bangunannya?” Byan lanjut menekan tombol di pointernya dengan penuh percaya diri.
Orang-orang langsung berbisik-bisik melihat gambar yang ditampilkan dilayar. Sementara Maureen hanya terkekeh di tempatnya. Ia mengangkat tangannya untuk bertanya.
“Maaf, apa ini konsepnya seperti Leaning Tower of Pisa (Menara Pisa), miring-miring begitu?” tanya Maureen yang pura-pura tidak paham.
Byan yang sedang tersenyum bangga pun segera menoleh pada slidenya. Begitu juga dengan Edwin.
“Kenapa bisa begini?” tanya Edwin tidak percaya.
“Ini bukan slide yang seharusnya di tampilkan.” Protesnya pada Byan dengan isyarat menyilang-nyilangkan tangannya pada Byan.
“Aku gak ngelakuin apa-apa! Mana sekretaris om?” gerak bibir Byan menunjukkan ia tidak terima.
Orang-orang semakin berisik saling berbisik mengomentari konsep bangunan Byan yang lebih cenderung aneh di banding indah seperti bangunan khas romasi kuno.
“Melda mana Melda?!” tanya Edwin pada salah satu stafnya.
“Ta-tadi, bukannya tuan menyuruh dia mengcopy materi sebanyak serratus salinan?” staf itu balik bertanya.
Maureen menahan senyum di tempatnya, sepertinya usahanya untuk mengerjain Byan sudah berhasil.
“Maaf, sepertinya saya tidak tertarik dengan presentasi ini. Kenapa anda selalu membuat materi yang membuatku hanya ingin tertawa? Saya permisi lebih dulu, saya tidak tertarik. Kalian yang masih tertarik dengan bangunan aneh dan terkesan bodoh ini, silakan dilanjutkan.” Ejek Maureen seraya beranjak dari tempatnya.
Orang-orang mulai terpengaruh dengan ucapan Maureen dan merekapun saling berbisik untuk menyepakati lanjut mengikuti presentasi ini atau tidak.
“Hey tunggu, ini hanya salah gambar saja. Konsep aslinya tidak seperti ini.” Ujar Edwin saat melihat peserta rapat lainnya pun ikut rusuh dan satu per satu mengekor keluar meninggalkan ruangan.
“Harusnya kita gak percaya sama konsepnya tuan Edwin, yang sudah-sudahpun dia membuat konsep asal dan mentah.” Gumam seseorang yang masih bisa didengar oleh Maureen.
“Iya, harusnya kita gak buang-buang waktu dengan datang ke sini. Pekerjaan kita masih banyak di banding melihat hal tidak berguna seperti ini.” Timpal seseorang lainnya.
Maureen tertawa dalam hati. Sebelum meninggalkan ruangan, ia mengepalkan tangannya pada Byan yang mematung bingung di podium seolah tengah memberi smangat pada anak tirinya. Bagaimana bisa ia mempermalukan dirinya seperti ini?
Tentu saja karena ia seorang Jill Maureen Emrys.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Ririn
etdehhhh ahhahaha
2023-06-07
1
Ririn
hahhahh seru banget sih kak Nay...
2023-06-07
1
Riendu
wahh sepertinya tokoh wanita kali ini adalah wanita tangguh yg gk suka menye" .... lain dari tokoh wanita di novel" Naya yg dulu
2023-05-13
1