Kesibukan kembali dijalani oleh Maureen dan Byan. Saat ini Maureen masih menghadiri rapat penting pembangunan resort yang akan dilanjutkan pada tahap finishing. Adalah Byan yang saat ini sedang menjelaskan progress pembangunan resort di Bali yang minggu lalu ia datangi.
Foto-foto progress pembangunan resort di beberapa sudut ditampilkan oleh Byan tanpa proses editing sedikitpun.
“Deretan vila yang ini, memang viewnya jauh lebih indah di banding vila yang menghadap sawah. Walau fasilitasnya sama dan memiliki kolam renang, nilai aestetic tetap berbeda dengan yang menghadap langsung ke pantai. Kami merencanakan, untuk melakukan perubahan harga yang kita pasarkan agar tidak di pukul rata walau ukuran unitnya dan fasilitasnya sama.” Urai Byan dengan penuh percaya diri.
Ia menunjukkan slide lainnya dan kali ini view dari vila yang menghadap laut.
“Bisa kita lihat, pemandangan dari sudut ini sangat bagus. Jadi orang-orang cenderung akan memilih vila yang ini di banding unit lainnya. Saya khawatir, vila yang menghadap pesawahan itu tidak cukup menarik minat konsumen sehingga akan lebih jarang di pesan dan ditinggali.”
“Sementara biaya maintenance kita tetap sama. Itu akan membuat kita merugi.” Lanjut Byan.
Beberapa orang mengangguk setuju dengan argumen Byan yang menurut mereka masuk akal. Byan tersenyum dalam hati melihat respon peserta rapat yang positif terhadap masukkannya.
“Selain itu,”
“Tring.” Di tengah kalimat Byan, ponsel Maureen berbunyi. Menunjukkan ada pesan yang masuk.
Maureen segera menyembunyikan ponselnya dan mengangguk sopan pada orang-orang yang menatapnya, sebagai bentuk permohonan maaf.
Byan menggaruk pelipisnya karena konsentrasinya sedikit terpecah.
Di bawah meja, Maureen mengecek ponselnya. Ternyata memang ada pesan masuk dari nomor baru. Maureen pun penasaran dan memutuskan untuk memeriksanya.
“Hay, masih meeting? Ini nomorku, Wisnu.” Begitu isi pesan yang diterima Maureen.
Maureen segera menyetel mode hening untuk ponselnya dan kemudian membalas pesan Wisnu.
“Ya, aku masih meeting. Mana nomor rekeningmu?” balasnya. Ia tidak suka berlama-lama memiliki hutang.
Beberapa saat menunggu, pesannya langsung di balas Wisnu.
“Tergesa-gesa sekali. Apa zodiakmu aries?” Wisnu memang pandai mengalihkan pembicaraan.
Andai saja Maureen tahu kalau Wisnu sedang berguling-guling di sofa tempat ia beristirahat karena Maureen membalas pesannya.
“Kamu seorang cenanyang?” balas Maureen yang tersenyum kecil.
“Hahahaha... rupanya tebakanku benar. Boleh aku tebak bulan lahirmu?” lagi Wisnu membalasnya.
Kali ini disertai emoticon di ujung kalimatnya. Sebenarnya ada beberapa emoticon dan untuk Maureen itu tidak terlalu familiar. Tidak tahu juga apa fungsi emiticon ini selain terlihat lucu.
Sebelum membalas pesan Wisnu, Maureen melakukan pencarian terlebih dahulu arti dari emoticon yang dikirim Wisnu. Ia mencoba menghapal setiap arti emoticon yang di kirim Wisnu dan yang normal digunakan.
“Oh, ini maksudnya tertawa sampai menangis. Akh, berlebihan sekali.” Gumam Maureen saat bisa memahami maksud satu emoticon yang digunakan Wisnu.
Ia mencari-cari stiker yang cocok untuk membalas pesan Wisnu. Wisnu yang memandangi layar ponselnya, segera bangkit saat melihat notifikasi typing yang cukup lama dilakukan oleh Muareen. Ia pikir Maureen sedang mengetik sangat panjang, padahal kalimatnya hanya dua kata dan ia sedang mencari stiker yang cocok.
“Dia mau ngetik apa sih? Kok lama banget. Mau pidato apa ya?” Wisnu gelisah sendiri.
“Tring!” pesan balasan Maureen masuk dan Wisnu langsung bersiap.
“Kamu berlebihan!” balasnya dengan emoticon tertawa.
“Astagaaa, aku pikir ngetik naskah pidato ternyata gini doang. Jill oh Jill, kamu emang bikin deg-deg an.” Gerutu Wisnu yang terkekeh gemas.
“Bulan lahirmu pasti bulan Maret.” Wisnu tetap melanjutkan tebakannya.
“Kamu benar-benar cenayang?” lagi Maureen membalas. Kali ini dengan emoticon kaget.
“Hhahaahha... dia lagi belajar pake emoticon rupanya.” Wisnu sampai tergelak.
Sementara Maureen panas dingin, bagaimana bisa Wisnu menebak bulan lahirnya? Banyak rahasia tersembunyi di bulan, tanggal dan tahun lahirnya.
“Aku bisa meramalmu lebih jauh lagi. Ayo kita ketemu.” Dengan berani Wisnu mengajak Maureen bertemu.
Maureen tidak lantas menjawab melainkan mengingit jarinya sambil menahan senyum. Baru kali ini ia bertemu dengan orang yang eksentrik begini.
Andai Maureen tahu kalau ada yang pudar konsentrasi karena ia senyum-senyum sendiri.
“Silakan dilanjutkan.” Ujar Maureen saat Byan menatapnya dingin. Santai saja ia berbicara sambil menahan senyum. Sementara konsentrasi Byan sudah bubar jalan.
****
Hingga sampai di rumah, Maureen tetap sibuk dengan ponselnya. Saat makan malampun benda pipih itu di bawa Maureen dan menjadi saingan sendok di tangan kanannya.
Jujur, ini sangat mengganggu bagi Byan yang duduk berhadapan dengan Maureen. Wanita itu bahkan sesekali tersenyum samar tapi saat sadar Byan memperhatikannya, raut wajahnya segera berubah dingin. Apa semengasyikan itu saling bertukar pesan? Dengan siapa?
Akh, ini sangat menyebalkan. Tingkah Maureen begitu mengganggu pikirannya sejak siang tadi. Sejak presentasi ia bahkan tidak fokus karena memperhatikan Maureen yang sibuk dengan dengan benda pipih di tangannya.
Apalagi sekarang?
“Kamu baru isi kuota?” sindir Byan yang menatap Maureen dengan dingin.
“Nggak. Emang kenapa?” gadis itu menyuapkan kembali macaroni favoritnya dengan acuh. Membalik ponselnya dan hanya menampilkan logo apel tergigit.
“Apa teman berkirim pesanmu tidak bosan kalian terus berkirim pesan?”
“Sepertinya nggak. Dia merespon pesanku dengan cepat. Kenapa, kamu iri?" timpal Maureen terlihat meledek.
"Carilah partner berkirim pesan sendiri. Ada delapan pelayan di sini, coba saja minta nomor mereka.” Lanjut Maureen dengan acuh. Ia tetap melanjutkan makannya hingga habis.
Byan menatap tidak percaya pada jawaban ibu tirinya. Mana mungkin ia minta nomor para pelayan, nomor Maureen saja ia tidak punya.
Tunggu, apa Wisnu berhasil mendapatkan nomor Maureen? Bagaimana bisa?
Mata Byan langsung membulat karena kaget sendiri dengan pikirannya. Ia tidak menyangka kalau Wisnu bisa secepat itu mendapatkan nomor Maureen. Apa ia pun harus bersiap-siap memenuhi permintaan Wisnu yang entah apa?
Sial, Byan mulai ketar ketir sendiri. Terlebih saat melihat Maureen beranjak dari kursi makannya dan pergi tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.
“Tunggu!” tiba-tiba Byan menjeda langkah Maureen.
“Astaga!” Maureen terhenyak kaget karena hampir menabrak Byan.
“Kamu jin atau apa, main muncul aja?” dengus Maureen kesal. Ia mendelik pada Byan dan memilih pergi.
“Eh tunggu! Aku belum selesai bicara.” Kali ini Byan menarik tangan Maureen.
“Akh!” hampir saja ponsel Maureen jatuh. Keduanya sama-sama kaget dan memegangi ponsel Maureen dengan erat saling menggenggam.
“Lepas!” seru Maureen sambil menunjuk tangannya dengan sorot matanya yang tajam. Entah ada apa dengan hari ini, kenapa sampai ada dua laki-laki yang memegang tangannya?
“Okey sorry.” Byan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Aku cuma mau nanya, kamu berkirim pesan dengan siapa?” ia masih kukuh dengan rasa penasarannya.
Maureen menghembuskan nafasnya kasar sambil tersenyum kecil. Rupanya anak tirinya sangat penasaran.
Ia berjalan mendekat pada Byan, menempatkan kepala mereka sejajar dan mendekat pada telinga Byan.
“Kamu nanyeeaaakk?!!!” serunya dengan senyum meledek.
Byan sampai terhenyak dan tidak bisa berkata-kata karena kaget dan gemas diwaktu bersamaan. Laki-laki itu menoleh dan Maureen segera menarik tubuhnya menjauh dari Byan. Lihat senyumnya yang mengejek.
"Tidak semua urusanku harus kamu tau. Ingat, kamu hanya anak tiriku." Tegas Maureen penuh penekanan.
Byan menatap tidak percaya pada ucapan Maureen. Ia hanya mematung, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Maureen pun pergi dengan senyum tersungging di bibirnya.
“Astaga, berani sekali perempuan itu bersuara tinggi di depanku.” Gumam Byan tanpa bisa protes. Hanya diam saja, sambil mengingat ekspresi Maureen yang malah terlihat cantik dengan berseru seperti itu. Juga hembusan nafasnya yang hangat di telinganya.
Decikan bibirnyapun terngiang di telinga Byan, hingga Byan menggeleng dan mengucek telinganya sendiri. Bulu kuduknya bahkan meremang. Sekuat itu tarikan magnet dari seorang Maureen.
Setelah cukup lama mematung, akhirnya Byan tersadar. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
“Lo udah dapet nomor nyokap tiri gue?” tulisnya pada Wisnu.
Ia melihat Wisnu sedang online tapi tidak juga membalas pesannya. Lima menit, sepuluh menit dan menit-menit berikutnya tetap tidak ada balasan.
“Gila, gue dicuekin.” Gumam Byan syok. Ia sudah kehilangan teman bercerita dalam waktu yang singkat. Gawat, ini tidak bisa dibiarkan.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
ikhaa
aku terkesima ama penulisannya jadi ikut senyum kadang mngkerut nih jidat😄.. lanjut thor........
2023-08-29
1
dyandra frona
wkwkwk,,, aq malah bacanya pake nada 🤣🤣
2023-08-24
1
Ririn
wkkkk alif nanyeeeakkk
2023-06-08
1