Maureen, nama wanita yang menjadi target incaran Wisnu saat ini. Ia menempelkan foto Maureen di cerminnya agar bisa melihat wajah wantik wanita itu setiap kali ia bercermin.
Sudah satu minggu ini Wisnu mengikuti Maureen dan mencari tahu kebiasaan wanita ini. Jam berapa dia berangkat kerja, apa yang dilakukan saat istirahat, tempat mana saja yang sering Maureen kunjungi dan banyak hal lain yang ternyata menarik untuk diperhatikan.
Wisnu selalu mengenakan pakaian terbaiknya setiap hari. Ia menyisir rambutnya dengan rapi dan klimis juga mengenakan parfum mahal untuk menarik perhatian wanita itu. Ia selalu berpikir jika suatu waktu ia ditakdirkan bertemu, tentu harus dalam keadaan sangat baik dan menarik. Betul apa betul?
“Satu bulan, ya hanya dalam satu bulan kamu akan memposting fotoku di berbagai sosial media milikmu. Kamu akan mengakuiku sebagai kekasihmu. Ingat itu, Jill.” Ucap Wisnu seraya menatap wajah Maureen dan menyebut nama depannya. Kalimat ini layaknya mantra yang ia ucap penuh keyakinan di setiap pagi.
Bagi Wisnu, lebih menggemaskan memanggil wanita cantik ini dengan panggilan Jill di banding memanggil targetnya dengan nama Maureen.
Kali ini, senyumannya pun terbit, saat ia mengambil foto itu dan menatap wajah Maureen dengan lekat.
“Pesona gue harusnya lebih kuat di banding bos Anggoro. Bukan begitu cantik?” gumamnya lagi sambil tersenyum gemas.
“Hah!” ia juga menguapkan hawa mulutnya yang ditahan dengan tangan tertangkup untuk mengecek apa nafasnya cukup segar atau tidak. Mengecek giginya khawatir ada karang gigi yang mengganggu estetika penampilannya dan tentu saja jangan sampai ada sisa makanan yang tertinggal.
“Kayaknya gue harus scalling, gigi gue agak item gara-gara sering ngerokok. Apa gue berhenti aja ya? Siapa tau dia gak suka cowok perokok.”
Tanpa sadar, Wisnu terus mencoba memantaskan dirinya sebelum bertemu Maureen. Terlalu banyak persiapan yang Wisnu lakukan hanya sekedar untuk mengejar mangsa. Hal ini seolah membuktikan bertapa berharganya seorang mangsa seperti Maureen. Janda mahal, pikir Wisnu.
“Okey, sekarang abang berangkat dulu ya neng. Kamu pasti udah jalan kan?” Ucap Wisnu. Ia mengambil tas kerjanya dan menaruh kembali foto Maureen di pojok cerminnya setelah ia kecup basah.
Tidak lupa ia mematikan lampu kamarnya sebelum menutup pintu apartemen dengan rapat.
Sambil bersiul-siul Wisnu melajukan mobilnya membelah jalanan beraspal yang sedikit bergelombang. Ia melihat jam di tangannya dan seharusnya jam segini Maureen sudah melewati tempat ini.
Wisnu melihat ke sekitarnya, sesekali menambah laju mobilnya khawatir Maureen sudah lebih dulu di depannya dan sesekali pelan khawatir ia yang terlalu cepat. Mungkin saja Maureen terlambat dan kesiangan.
“Mana ya, kok gak ada. Harusnya jam segini dia lewat sini.” Gumam Wisnu sambil tetap memperhatikan jalanan.
Sesekali ia melihat spion tengahnya, khawatir Maureen ada di belakangnya. Nomor polisinya sudah ia hapal di luar kepala, “X 123 NN” ya itulah plat nomor mobil Maureen. Kalau di baca akan terdengar “Renn.” Wisnu gemas sendiri dengan pikirannya. Keren menurutnya karena ia bisa membaca pikiran Maureen.
“Ehh... kok itu kayak dia.” Wisnu melambatkan laju mobilnya saat melihat seorang wanita berdiri di pinggir jalan dengan kap mobil yang terbuka.
Ia memperhatikan benar-benar wanita cantik berambut panjang yang mengenakan kacamata hitam itu sedang bertelepon.
“Iya bener, itu Maureen.” Ucapnya semangat.
Layaknya film romantis, Wisnu langsung menepikan mobilnya hendak menemui Maureen. Setelah menepi, ia mengecek terlebih dahulu penampilannya sebelum kemudian turun.
“Kenapa, mobilnya mogok?” tanya Wisnu saat sudah berada di hadapan Maureen.
Di balik kaca mata hitamnya, Maureen menatap laki-laki berkemeja abu itu dengan waspada.
“Anda dari bengkel?” tanyanya.
Maureen memang sedang menunggu orang bengkel yang katanya sudah dihubungi Riswan. Tapi sudah sepuluh menit menunggu, masih belum datang juga. Waktunya tidak cukup banyak hanya untuk menunggu seseorang yang lamban melakukan pekerjaannya.
“Bukan, saya bukan orang bengkel. Tapi saya mengerti sedikit tentang mobil. Mobil anda sepertinya overheat.” Ucap Wisnu yang terdengar sok tahu.
Ia segera mengambil tempat di samping Maureen yang meliriknya sinis.
“BERHENTI!” seru Maureen saat Wisnu baru akan mengecek mobilnya.
“Kenapa?” Wisnu sampai kaget.
“Saya lebih percaya bengkel profesional.” Aku Maureen yang tidak percaya pada Wisnu.
“Ohh ya, saya memang bukan orang bengkel. Tapi saya tau banyak tentang mobil merci tipe ini. Bisa anda lihat, mobil kita satu brand. Hanya beda tipe saja.” Wisnu sedikit menyombongkan mobilnya, membuat Maureen sedikit mengintip mobil yang terparkir di belakang mobilnya.
“Udah liat?” Wisnu kembali bertanya.
Maureen mengangguk, ia memperhatikan Wisnu dari atas hingga ke bawah. Ia merasa laki-laki ini cukup aman kalau membantunya. Merasa tidak terancam, Maureen pun menaikkan kacamatanya ke atas kepala, membuat sepasang mata bulat itu terlihat berbinar begitu cantik.
Wisnu sampai tercengang. Ternyata Maureen asli jauh lebih cantik di banding yang ada di foto. Ia bahkan tidak ingin mengedipkan matanya karena takut rugi melewatkan sosok Maureen yang secantik ini.
“Kenapa gak dilanjut?” tanya Maureen.
“Oh iya!” sahut Wisnu yang salah tingkah. Jantungnya sampai berdebar kencang karena mendapat tiga kejutan bertubi-tubi.
“Ada air mineral gak di mobil?” tanya Wisnu yang sudah tahu masalah mobilnya.
“Ada.” Sahut Maureen. Ia beranjak tapi Wisnu menahannya lebih dulu.
“Aku yang ambil. Kamu duduklah.” Ucapnya sambil memegangi lengan Maureen.
Maureen melihat tangannya yang digenggam Wisnu, laki-laki ini terlalu berani menurutnya.
“Oh sorry.” Wisnu segera melepaskan genggamannya saat melihat mata Maureen yang sinis memperhatikan tangannya.
“Maksudku, duduk aja, biar aku yang mengambil air mineralnya. Kalau udah selesai, nanti aku kasih tau.” Ia mengulang kalimatnya.
Maureen tidak menimpali, ia menuruti Wisnu tidak mengambil air di dalam mobil dan duduk di bangku yang ada di depan sebuah toko yang masih tutup.
“Wuf!! Gila, cakep banget!” ucap Wisnu sambil membuang nafasnya kasar. Sepasang mata Maureen benar-benar menghipnotisnya.
Ia masuk ke dalam mobil Maureen, mencari air mineral kemasan dan tanpa sengaja ia melihat wajah Maureen yang sedang melongo memandangi mobilnya.
“Dia melongo aja cantik banget anjir.” Gumam Wisnu yang tersenyum kecil. Ia pura-pura berlama-lama mencari botol minuman di dalam mobil demi melihat wajah Maureen lebih lama lagi.
Rasanya bukan Maureen yang akan ia buat jatuh cinta tapi dirinyalah yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Maureen. Berdo’a saja semoga Maureen akan membalas perasaannya.
Sesuai janji, Wisnu benar-benar memperbaiki mobil Maureen. Ia menambah air untuk mendinginkan mesin mobil setelah selesai ia menutup kembali kap mesinnya.
“Mobilnya udah selesai, tapi sebaiknya di diemin dulu beberapa lama, supaya suhu mesin kembali normal.” Ucap Wisnu yang sudah belepotan dengan noda dari mesin mobil.
Ini tidak berarti apa-apa untuknya di banding kesempatan langka untuk berdekatan dengan Maureen yang tidak boleh ia lewatkan. Bersyukurlah ia tidak perlu lagi membuat rencana pertemuan awal yang mendebarkan, karena ini sudah lebih dari cukup.
“Berapa lama kira-kira?” Maureen melihat jam di tangannya. Ia ada janji meeting sebentar lagi.
“Mungkin dua atau tiga jam.” Wisnu sengaja mengulur waktu agar waktunya lebih lama bersama Maureen.
“Apa harus selama itu?” Mata Maureen sampai membulat. Lucu sekali menurut Wisnu.
“Ya, memang harus selama itu. Kalau kamu memang sedang terburu-buru, aku bisa mengantarmu.” Wisnu sedang membuat kesempatan berduaan dengan Maureen.
“Kamu mau pergi ke arah mana?” tanya Maureen kemudian. Ia sebenarnya tidak nyaman kalau harus merepotkan laki-laki ini lagi.
“Luruuuusss sampai lampu merah nanti belok ke jalan Melati, lurus lagi sepanjang dua kilo meter lalu belok ke jalan Bangau. Di situ aku kerja.” Terang Wisnu dengan sejujurnya.
“Orchard travel?” tebak Maureen.
“Wah, kamu tau?” Wisnu terlonjak senang.
Maureen hanya tersenyum kecil, senyum yang membuat kaki Wisnu lemas.
“Aku berkantor di Anggoro corp.” Aku Maureen.
“Okey, kita satu arah. Mau pergi sama-sama?” tawar Wisnu dengan semangat.
“Jika tidak merepotkan.” Timpal Maureen.
Wisnu tersenyum kecil, rasanya semesta mulai mendukung ia untuk mendekati Maureen.
“Silakan sebelah sini.” Ia berjalan lebih dulu di depan Maureen dan membukakan pintu untuk gadis cantik ini.
Saat Maureen mendekat padanya dan melewatinya hendak masuk ke mobil, wangi parfumnya tercium sangat enak hingga terrekam kuat di ingatan Wisnu.
“Okey,” ucapnya setelah menutup pintu Maureen. Pipinya langsung merona.
Ia segera berlari kecil menuju pintu pengemudi dan duduk dengan tenang di balik kemudi. Beberapa kali ia menghembuskan nafasnya kasar untuk menetralisir perasaannya yang bergejolak.
“Sudah pake seatbelt?” tanya Wisnu sebelum melajukan mobilnya.
“Sudah.” Maureen duduk dengan tegak di tempatnya.
“Okey, kita berangkat.” Wisnu pun memulai perjalanan.
Selama perjalanan, tidak ada perbincangan yang berarti. Maureen tampak sibuk dengan ponselnya dan sesekali ia menelpon seseorang dan memberinya perintah. Entah itu tentang rapat atau tentang mobilnya yang harus di ambil oleh driver kantor.
Pembawaannya yang tegas dan tenang membuat Wisnu terus senyum-senyum di tempatnya. Maureen memang sangat menarik dan membuatnya kagum di waktu yang bersamaan. Ia tidak peduli baju kerjanya kotor dan tangannya masih menyisakan oli, yang penting ia bisa duduk bersisian dengan Maureen.
Tiba di depan Anggoro Corp, Wisnu memarkirkan mobilnya dengan hati-hati.
“Sudah sampai.” Ucapnya.
Maureen melepas sabuk pengamannya. Tapi saat akan turun, ia menoleh Wisnu beberapa saat.
“Sorry, aku main turun aja. Aku belum bilang terima kasih. Terima kasih atas bantuannya.” Maureen mengangguk sopan pada Wisnu.
“Akh iya sama-sama. Tidak perlu seformal itu.” Wisnu mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang. Ia sampai lupa kalau tangannya masih kotor dengan oli.
“Berapa aku harus membayarmu?” tanya Maureen sambil mengeluarkan dompetnya. Sial, tidak ada uang cash didalamnya.
“Oh, tidak perlu. Aku bukan bengkel profesional jadi tidak ada tarif yang berlaku. Aku cukup senang bisa membantumu.” Wisnu gelagapan menolak.
“Ya walaupun kamu bukan bengkel profesional, tapi aku menghargai usahamu. Kamu sudah sangat menolongku sampai bajumu kotor begitu. Katakan saja berapa biayanya supaya aku tidak merasa punya hutang.” Desak Maureen. Ia menatap Wisnu dengan lekat, membuat jantung Wisnu berdebar sanagt kencang.
“Tolong jangan terlalu lama, aku ada meeting penting sebentar lagi.” Maureen merajuk dengan caranya yang elegan.
“Ya kalau kamu sedang sibuk, silakan dilanjutkan saja. Tidak perlu membayarku.” Wisnu bersikukuh.
“Hey, ayolah.” Maureen mulai kesal. Kesabarannya memang hanya setipis tisue di bagi dua.
“Ya okey, nanti aku kirimkan saja nomor rekeningku. Beri aku nomor hpmu.” Siasat kedua di jalankan Wisnu.
“Nomormu saja, nanti assistantku akan menghubungimu.” Maureen tidak mau menyerah.
“Kamu tidak percaya padaku?” desak Wisnu.
“Astaga, baiklah.” Akhirnya Maureen menyerah. Benar kata Byan, Maureen mudah luluh pada orang yang bersikap baik padanya.
Wisnu memberikan ponselnya pada Maureen dan Maureen menuliskan nomor kontaknya di sana.
"Ini." Setelah selesai, ponsel itu ia kembalikan.
“Okey, aku Wisnu. Nanti aku akan menghubungimu.” Wisnu tersenyum kecil saat melihat Maureen menambahkan sendiri nomor kontaknya di daftar kontak Wisnu. Rasanya ia ingin berseru karena senang.
“Baiklah. Saya permisi. Sekali lagi, terima kasih.” Maureen segera turun dari mobil.
“Pastikan kamu menjawab saat aku menghubungimu.” Teriak Wisnu sebelum Maureen menutup pintu.
Dari kaca jendela Wisnu melihat wanita itu hanya tersenyum tipis dan mengenakan kembali kacamata hitamnya. Lalu ia berlalu pergi meninggalkan Wisnu yang masih mematung di tempatnya.
“Gillaaaa badas bangeett nih cewek! Kalau bukan emak tirinya Byan, gue pacarin beneran dah!” seru Wisnu yang masih enggan untuk pergi.
Wangi parfum Maureen yang tertinggal di kabin mobil Wisnu, membuat ia begitu menikmati musim semi yang melanda hatinya.
"Jill, kamu sangat menggoda." Gumam Wisnu dengan perasaan menggebu di dalam dadanya. Ia semakin semangat untuk mendekati Maureen.
Mendapat progress baik, tidak tahan rasanya kalau tidak pamer. Lewat sambungan telepon ia menghubungi Byan.
“Apaan?” tanya Byan dingin.
“Bro! Gue udah ketemu sama Jill!” seru Wisnu dengan semangat.
“Jill siapa?” Byan mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Maksud gue Maureen, nyokap tiri lo. Gilaaa, cakep banget anjirr. Semangat gue buat naklukin dia.” Urai Wisnu dengan penuh percaya diri.
Byan tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya.
“Ya udah lo lanjut. Inget waktu lo gak lama.” Byan mengingatkan.
“Santaaaiii… seperti yang gue bilang, dalam waktu satu bulan, lo akan liat hasilnya. Gue gak cuma bakal jadi selingkuhannya tapi jadi hidup dan matinya dia. Sial, rasanya pengen gue kawinin besok itu perempuan. Hahahay!!!!” Wisnu sangat antusias sampai memukul-mukul stirnya.
“Terserah lo dah mau lo apain. Gue cuma nunggu hasilnya aja.”
“Okey, lo tunggu aja tanggal mainnya.” Janji Wisnu.
Panggilan itupun berakhir dan menyisakan suasana hati yang bahagia di dada Wisnu.
“Hah, Jill… andai aja kita bisa nikah besok. Sempurna banget hidup abang. Kita tinggal di rumah yang mewah, bikin banyak anak. Perfecto!” serunya yang terkekeh gemas.
“Yaa, halu aja dulu, selagi gratis. Iya kan?”
“Segala sesuatu kan berawal dari mimpi.” Quote Wisnu di siang bolong.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Bzaa
Abang Wisnu.... selamat menghaluuu
2024-01-09
0
Anonymous
belum apa" ud di pikir ke lain arah
2023-05-22
1
Gloria Stevany
--/------
2023-05-16
0