Perdebatan

Byan masih terduduk di kursi meja makan sambil memandangi kursi yang beberapa saat lalu di tinggalkan ibu tirinya, Maureen.

Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya saat melihat kursi itu. Masih segar dalam ingatan kalau kursi itu yang dulu selalu ditempati ibunya setiap mereka makan bersama. Bayangan interaksi penuh kehangatan mulai mengisi pikiran Byan.

Tawa ibunya, candaan Anggoro yang menggoda Andini hingga kecupan lembut Andini di pucuk kepala Byan, masih begitu terasa.

“Ini buat abang, omelete special buatan mamih.” Ucap mendiang Andini yang saat ini hanya bisa membuat Byan tersenyum pedih.

Bayangan-bayangan itu malah membuat Byan merasakan sesak dan kecewa di waktu yang bersamaan. Memang benar, manusia tidak bisa selalu bersama. Tapi kenapa harus seperti ini ujung perpisahan ia dengan kedua orang tuanya?

Ia bisa memaklumi kekesalan Ruwina dan Edwin karena ia pun merasakan perasaan berjogol saat melihat wanita itu duduk di singgasana yang tidak seharusnya dia tempati. Ia merasa kalau ia tidak bisa membiarkan posisi ibunya itu terus ditempati oleh orang asing yang tidak seharusnya masuk ke dalam keluarganya.

Menjeda makan siangnya yang tidak terlalu nikmat dan seperti berada di tepat asing, dilakukan Byan dengan mencari info tentang siapa ibu tirinya sebenarnya.

Jill Maureen Emrys, usia dua puluh empat tahun adalah informasi pertama yang ia dapat. Itupun dari akun media sosialnya.

Byan tersenyum sinis, ternyata usia ibu tirinya jauh lebih muda di bawah usianya. Benar adanya kalau daun muda selalu lebih memikat bagi banyak mata pejantan.

Ia jadi penasaran, identitas lengkap wanita yang telah menjadi pelabuhan terakhir Anggoro sang Casanova yang biasa bermain-main dan berganti-ganti pasangan wanita layaknya berganti baju. Ia ingin tahu, apa yang dimiliki wanita itu hingga Anggoro memutuskan untuk menikahinya.

Byan mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.

“Lo lagi sibuk?” tanyanya, saat panggilan tersambung.

“Gue mau minta tolong, cariin identitas lengkap seseorang. Datanya nanti gue kirim.” Hanya itu permintaan singkat Byan.

Dalam beberapa saat ia mengirimkan dua identitas utama Maureen, yaitu nama dan usia. Biarkan saja orang kepercayaannya mencari tahu tentang wanita itu.

Sambil menunggu, Byan melanjutkan makan siangnya. Walau tidak begitu nikmat tapi ia perlu mengisi perutnya yang keroncongan. Setelah beberapa tahun, akhirnya ia bertemu lagi dengan butiran nasi. Kerinduan yang cukup besar pada butiran putih yang mengenyangkan ini.

“Tring!” sebuah pesan masuk ke ponsel Byan.

“Cakepp wooyy… Ini nyokap tiri lo kan? Hahahaha….” Begitu isi pesan yang dikirim sahabat sekaligus orang kepercayaannya, Wisnu.

Byan berdecik sebal saat ternyata kemampuan Wisnu hanya sebatas mencari foto Maureen.

“Gue gak nyuruh lo nyariin fotonya. Cari data lengkapnya.” Balas Byan dengan kesal.

“Traktir gue minuman, nanti gue kasih info lengkap.” Nego Wisnu.

Byan hanya bisa menggelengkan kepala, terkadang sahabatnya ini memang tidak bisa di andalkan.

“Kirim gue lokasinya. Gue kasih lo minuman sampe perut lo sekeras jidat!” balas Byan yang tersenyum kesal.

Sepertinya ia memang perlu teman untuk berbicara dan membuat rencana untuk menghancurkan ibu tirinya.

“Okey, gue tunggu. Gue sediain juga para pere, mana tau lo butuh belaian. Hah!” balas Wisnu dengan tawa khasnya.

Byan tidak lagi membalas. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku sembari meneguk minuman.

“Huwek!” tiba-tiba saja Byan memuntahkan minumannya.

“Gila ini perempuan. Jam segini minum anggur.” Gerutunya sambil menaruh gelasnya dengan kasar. Ia pikir itu air mineral biasa ternyata minuman beralkohol.

“Ada bekas bibirnya lagi.” Byan mengusap bibirnya sendiri dengan kasar saat sadar ada jejak lipstick di gelas yang ia pakai.

“Rumah ini emang udah gak nerima gue. Liat aja, gue pasti rebut lagi rumah ini dan semua akan kembali seperti semula.” Gumamnya, seraya berlalu pergi meninggalkan rumah mewah dan megah yang menjadi tempat tinggalnya sejak kecil.

****

Di kamarnya, Maureen sedang menikmati pijatan lembut dari seorang terapis. Wajahnya dilumuri masker organic sementara matanya terpejam menikmati sensasi pijatan yang menenangkan. Ia memang sengaja merelaksasi dirinya karena menurutnya, tidak ada gunanya ia terus terlarut dalam kesedihan atas kematian suaminya.

Ia perlu melanjutkan hidupnya. Menata kembali mimpi-mimpi yang harus ia raih yang terhenti dan lebih sulit digapai setelah Anggoro wafat. Ia harus menguatkan hatinya dari sindiran-sindiran pedas Ruwina juga decikan kasar orang-orang kepercayaan Edwin yang memusuhinya.

Setelah ini, bukankah ia harus bersiap untuk perang yang lebih besar? Musuhnya bertambah seiring kepulangan Byan ke rumah ini.

Saat ini, di samping Maureen ada seorang pelayan yang sedang ia introgasi. Ia sudah menyumpah pelayan itu agar berkata jujur. Ada banyak hal yang harus ia ketahui.

“Kapan dia berangkat ke luar negeri?” Maureen bertanya pada pelayan yang katanya sudah bekerja untuk keluarga ini selama lima belas tahun.

“Delapan tahun lalu nyonya. Tepatnya, satu bulan setelah meninggalnya mendiang nyonya besar.” Tanpa ragu pelayan itu menjawab.

“Kenapa dia pergi ke luar negeri?” Maureen dengan rasa penasarannya yang sangat besar pada sosok menyebalkan yang beberapa saat lalu merendahkannya.

“Setelah nyonya besar meninggal, tuan muda selalu menyalahkan tuan besar dan menganggap kematian nyonya besar gara-gara tuan besar. Mereka sering berselisih, ribut setiap hari hingga tuan besar sempat menampar tuan muda dan menghajarnya sampai babak belur.”

“Tuan muda pergi ke luar negeri tanpa modal sepeserpun dari tuan besar. Ia merintis usahanya sendiri dari nol.”

“Kata siapa mas Anggoro gak ngasih dia modal? Bukannya dia tumbuh sampai usia dua puluh dua tahun itu dengan uang dari mas Anggoro? Kamu terlalu melebih-lebihkan usaha kecil anak nakal itu.” Timpal Maureen tidak suka. Ia tersenyum sinis pada pelayan itu walau matanya tetap terpejam.

“I-iya, maksud saya beliau tidak membawa uang modal untuk memulai usahanya.” Pelayan itu meralat kalimatnya.

“Lalu, dari mana dia makan saat awal tinggal di luar negeri? Dia juga perlu ongkos untuk ke sana.” Usut Maureen yang belum puas dengan jawaban pelayannya.

“Tuan muda seorang pelukis nona. Beliau menjual semua lukisannya untuk biaya hidup di luar negeri. Beliau bahkan menolak uang pemberian nyonya Ruwina. Beliau,”

“Apa dia sudah menikah?” Maureen langsung bertanya pada hal penting saja.

“Dulu beliau memiliki seorang kekasih. Dia seorang penyanyi terkenal. Dia juga,”

“Pertanyaanku, apa dia sudah menikah?” Maureen mengulang pertanyaannya. Tidak suka jawaban yang tidak penting.

“Oh, belum nyonya.” Jawab pelayan tersebut.

“Kamu boleh pergi. Jangan mengganggu waktuku.” Titah Maureen seraya mengibaskan tangannya, memberi isyarat pelayan itu untuk pergi. Baginya, info yang ia butuhkan tentang Byan sudah lengkap.

Setelah pelayan itu pergi Maureen mengambil ponselnya lalu mencari info tentang Byan di kolom pencarian.

“Byantara Ethan Anggoro,” gumam Maureen sambil mengetikkan nama laki-laki itu.

Namanya cukup unik sehingga pencariannya langsung spesifik pada sosok Byan yang ia maksud.

“Wah, medsosnya update juga.” Puji Maureen. Banyak foto Byan yang terpajang di dunia maya.

Tapi baru akan mengklik profilnya, jemarinya langsung terhenti.

“Hey, kamu punya akun medsos?” tanya Maureen pada sang terapis yang masih muda.

"A-ada nyonya.” Sahut terapis tersebut.

“Aku pinjam sebentar. Nanti aku bayar per menit lima puluh ribu.” Pinta Maureen.

Gadis itu hanya terdiam, ragu untuk mengiyakan atau menolak permintaan Maureen.

“Aku tidak akan melakukan hal aneh. Aku hanya perlu melihat profil seseorang.” Tentu saja, ia tidak mau ada notifikasi di medsos Byan kalau Maureen mengujungi profilnya.

“Boleh?” tegasnya.

“Oh, silakan nyonya.” Dengan senang hati terapis itu memberikan ponselnya.

Maureen telungkup dengan nyaman. Ia menggunakan bantal bulu burung angsa untuk menopang dadanya. Dengan tenang Ia mulai berselancar di dunia maya, mencari tahu akun media sosial Byan dan melihat-likat apa saja yang ada di sana.

“Hahahaha… dia pernah sealay ini.” Belum apa-apa Maureen sudah tertawa melihat foto Byan yang bergaya punk, baju serba hitam, celana melorot, jaket kulit, rambut gondrong, tubuh kurus tidak terurus dan berfoto sambil menjulurkan lidahnya.

“Wah, ini aksesoris apa rantai bulldog?” Gumam Maureen yang terkekeh saat melihat rantai besar yang menjadi aksesoris celana Byan.

“Lain kali, pilih-pilih lah foto yang akan kamu posting ya nak supaya tidak menjadi bahan tertawaan di masa depan.” Nasihat Maureen pada foto remaja Byan yang membuatnya geli sendiri.

Banyak foto masa lalu Byan yang membuatnya tertawa. Tapi ada satu foto yang membuat tawanya langsung terhenti yaitu foto Byan dengan Anggoro dan Andini. Mungkin saat itu usia Byan masih belasan. Dimana yang ia pikirkan hanya tentang peer sekolah dan cara meminta uang jajan lebih, bukan tentang masalah rumit yang ia hadapi sekarang.

“Mas, kenapa kamu menitipkan seorang anak tiri yang nakal? Apa sesekali aku boleh menyentilnya?” Maureen berbicara sendiri pada layar ponsel sang terapis.

Bisa ia bayangkan bagaimana hidup Byan yang dulu sangat bebas. Dan sekarang, anak kecil itu sudah tumbuh dewasa. Ia menabuh genderang perang dan secara nyata menjadikan Maureen sebagai musuhnya. Ia yakin kepulangan Byan dari luar negeri bukan tanpa alasan.

Lalu tentang kekasihnya, tidak ada satu pun foto wanita yang di posting Byan.

“Akh, dia sama dengan laki-laki lainnya. Tidak suka mempublikasi sosok wanita yang dia kencani. Pengecut!” decik Maureen. Bagi Maureen, hanya orang yang menghormati komitmennya dan pemberani yang bisa mempublikasikan hubungannya dengan lawan jenis.

Alasan takut pasangannya di puja orang lain, hanya alasan bodoh yang menunjukkan kalau sebenarnya ia ingin menyembunyikan hubungannya. Pengecut bukan?

Tapi sesuatu kemudian melintas di pikirannya.

“Dia bujang lapuk, akan sangat mudah menyingkirkannya.” Gumam Maureen sambil terkekeh sendiri.

Beragam cara sudah langsung tersusun di kepalanya. Satu per satu siasat akan ia lakukan demi melindungi apa yang seharusnya menjadi miliknya.

“Maaf nak, kali ini kita gak bisa harmonis sebagai anak dan ibu tiri pada umumnya. Sekarang kita saingan yaa… hem?” gumam Maureen sambil mengusap foto Byan di masa sekarang yang sedang berfoto dengan lukisannya.

Lukisan seorang wanita dengan banyak wajah. Mungkin saja ini salah satu firasat kalau Byan akan bertemu dengan seorang Maureen yang memiliki banyak wajah.

Beberapa saat ia tersenyum sampai kemudian ia wajahnya berubah dingin. Ia memandangi foto lain di ponselnya. Foto sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan.

"Bersabarlah, kepergian kalian tidak akan lagi sia-sia." Ucapnya dengan penuh kemarahan.

****

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

makin seruuu

2024-01-09

0

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

suka...pemeran wanitanya TANGGUH💪💪

2023-09-17

2

Adeeva

Adeeva

keren namanya 😍

2023-05-05

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!