Mengenali musuh

Langkah Maureen begitu tergesa-gesa menyusuri lorong salah satu rumah sakit di Bali. Sejak tiba di Bandara, ia langsung menuju lokasi rumah sakit yang dikirmkan Tifani. Perasaannya tidak karuan membayangkan Byan yang katanya muntah-muntah hingga sangat lemah dan tidak sadarkan diri.

Aaarrgghhh, Tifani bukannya membantunya tapi malah menyulitkannya.

Ia memang meminta Tifani untuk menjebak Byan agar mau menandatangani dokumen persetujuan warisan Anggoro tapi tidak pernah meminta Tifani untuk menghabisi nyawanya. Dan saat ini, Maureen merasa sangat bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat Tifani. Gadis berisik itu memang ceroboh walau tidak disangka kesalahannya akan sebesar ini.

“Ruang UGD sebelah mana?” tanya Maureen saat tiba di resepsionis.

“Silakan sebelah sini.” Jawab resepsionis yang bertugas.

“Pasien atas nama Byan, maksudnya Byantara Ethan Anggoro, apa masih di sana?”

“Sebentar kami cek terlebih dahulu.”

Maureen menunggu dengan gelisah. Mengetuk-ngetukan jarinya di meja, lama sekali rasanya menunggu hasil pengecekan.

“Masih bu, pasien atas nama Byantara Ethan Anggoro di UGD bed empat.”

“Baik, terima kasih.” Dengan cepat Maureen berlari menuju ruang UGD. Ia mencari bed nomor empat yang dimaksud petugas untuk mengecek keberadaan Byan.

“Mo!” seru Tifani saat melihat Maureen yang membuka tirai. Wajahnya sangat tegang dengan sisa air mata yang belum kering.

“Gimana kondisinya?” tanya Maureen. Ia segera mendekat pada Byan yang terbaring lemah di atas ranjang perawatan.

“Dokter tadi udah ngelakuin tindakan buat nguras lambungnya. Dia kehilangan banyak cairan gara-gara muntah-muntah. Sekarang lagi observasi dulu, rencana satu jam lagi masuk ruang perawatan.” Terang Tifani dengan penuh rasa bersalah.

Rasa bersalah itu juga dirasakan Maureen. Ia memandangi Byan yang belum sadarkan diri. Di tangannya terpasang infus serta selang oksigen yang menutup lubang hidungnya. Wajahnya pun pucat pasi.

Maureen menyentuh dahinya yang dipenuhi titik-titik keringat. Tidak demam tapi sungguh ia menyesalkan kejadian ini.

“Mo, gue boleh pulang kan? Gue takut rumah sakit. Gue juga gak suka baunya.” Rengek Tifani yang sedari tadi mengenakan masker.

“Iya, lo balik aja ke vila. Besok kita bicara.”

“Iyaa... ini surat pernyataannya belum sempet di tanda tangan. Lo aja yang bujukin yaa, mumpung dia lemah jadi pasti nurut aja sama lo. Bye Mo.... ” Tifani pun pergi meninggalkan Byan dan Maureen setelah menjejalkan surat pernyataan yang sudah tidak berbentuk itu di tangan Maureen.

“Fan... Fan... harusnya gue gak berharap lebih sama lo.” Gumam Maureen setelah melihat Tifani pergi begitu saja. Cantik, tapi tidak ada otaknya, kelakuannya juga minus, ya itulah Tifani.

Setengah jam menunggu, akhirnya Byan di pindahkan ke ruang perawatan. Maureen sengaja memilih ruang VVIP agar nyaman saat menunggui Byan.

Sambil menunggu Byan, Maureen membaringkan tubuhnya di sofa yang menghadap ranjang Byan. Ia memandangi sosok tinggi besar yang lemah dan tertidur. Menurut dokter, Byan dibiarkan untuk beristirahat dan obat-obatan dimasukkan melalui selang infus.

Laki-laki ini bisa tertolong karena Tifani langsung menurutinya agar segera membawa Byan ke rumah sakit. Entahlah jika kemudian mereka terlambat. Bisa saja Byan mengalami syok karena kehilangan banyak cairan. Untuk itu, kali ini ia sangat menyesal.

Sambil menunggui Byan, Maureen membaca kembali surat pernyataan yang ada di tangannya. Isinya tidak lain menyatakan kalau Byan setuju dengan pembagian waris yang ada di surat wasiat Anggoro dan tidak akan menuntut apapun di luar itu.

Tapi sepertinya, keinginan Maureen tidak bisa diwujudkan secepat itu. Bagaimanapun Maureen tidak setega itu, menggunakan kesempatan ini untuk memaksa Byan menandatangani surat pernyataan.

Maureen memutuskan untuk melipat kembali surat pernyataan itu dan memasukkannya ke dalam tas. Sambil menunggu kantuk ia mengecek ponselnya dan memeriksa beberapa email yang masuk.

Ia ingat kalau tadi ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.

Hingga dini hari Maureen mengecek pekerjaannya dan matanya terpejam dengan sendirinya saat rasa kantuk tidak bisa ditahannya. Maureen tertidur sambil memegangi ponselnya.

****

“Tuk!”

Sebuah lemparan kecil dirasakan Maureen berulang kali saat ia tengah tertidur. Tidurnya yang lelappun terusik saat lemparan kecil itu mengenai dahinya.

“Eeemhhh apaan sih iniiiiii!!! Masih ngantuk tau!!!” gumam Maureen tanpa membuka matanya. Ia membalik tubuhnya terlentang demi menghindari lemparan.

Byan sang pelaku pelemparan, hanya tersenyum kecil melihat Maureen yang masih mengantuk berhasil ia ganggu.

Hal yang mengejutkan bagi Byan, saat ia membuka mata, ia berada di ruangan yang sangat asing. Cahaya lampu yang terang di atas kepalanya, selang infus yang menancap di lengan kirinya dan tentu saja oksigen yang berhembus melewati lubang hidungnya membuat ia ingin bersin.

Lebih kaget lagi ketika ia melihat seseorang yang tertidur di sofa dan orang itu tidak lain adalah Maureen, ibu tirinya.

“Hatchu!!” Byan benar-benar bersin.

Ia segera melepaskan selang oksigennya. Rasanya hembusan oksigen itu sudah tidak ia butuhkan lagi.

Maureen yang tidur di sofa pun segera bangun karena kaget. Ia segera duduk dengan rambut yang terburai berantakan. Matanya masih setengah terbuka. Dengan penampilan seperti ini, entah mengapa Maureen malah terlihat lucu dan manis.

“Pagi!” sapa Byan dengan wajah tanpa rasa bersalahnya.

Maureen segera merapikan penampilannya saat sadar kalau ia sedang berada di rumah sakit dan menunggui Byan.

“Pagi ibu tiri.” Sapa Byan lagi saat Maureen hanya tercenung, belum lengkap kesadarannya. Wajahnya yang polos dan matanya yang berkedip pelan, memang sangat lucu.

“Pagi.” Suara Maureen masih terdengar serak.

Ia segera beranjak menuju wastafel dan mencuci mukanya.

“Waah aku seneng banget, pas bangun tidur tiba-tiba ada ibu tiri di hadapanku. Apa kamu sengaja ke sini karena mencemaskanku?” celoteh Byan dengan gaya tengilnya.

Ia duduk di atas ranjang sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Kalau sudah tengil begini, sudah pasti dia sudah sembuh.

Maureen tidak lantas menjawab. Ia hanya melirik sinis Byan dari cermin wastafel.

“Kapan kamu datang? Kok tau aku sakit? Peduli banget ya sama aku sampe nyusul ke sini? Ibu tiri yang baik.” Rentetan kalimat Byan itu terdengar menyebalkan di telinga Maureen. Lihat saja senyumannya yang sinis.

Maureen hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal hingga beberapa butir air tertiup dari mulutnya. Padahal ia sudah berjanji kalau ia harus pergi sebelum Byan bangun, agar anak tirinya ini tidak merasa diperhatikan. Tapi sepertinya tubuhnya benar-benar lelah, hingga tertidur dengan nyenyak.

“Aku ke sini karena masih memenuhi kewajibanku sebagai ibu tiri. Jadi jangan besar kepala.” Sinis Maureen. Ia mengelap wajahnya dengan handuk yang lembut.

“Yaa, kamu ibu tiri yang cukup baik. Apa dulu kamu juga seperhatian ini pada Anggoro hingga dia mengajakmu menikah?” tanya Byan dengan penasaran.

Maureen menoleh dan menatap beberapa saat anak tirinya yang sedang memandanginya.

“Kenapa kamu selalu memanggil papahmu dengan namanya? Tidak bisakah kamu lebih menghormatinya?” Maureen balik bertanya.

Byan tidak lantas menjawab, ia memalingkan wajahnya dari Maureen. Lantas menatap televisi yang ada di hadapannya. Walau pun tidak menyala.

“Karena dia hanya cocok di panggil dengan panggilan itu.” Sahut Byan.

Maureen bisa melihat perubahan raut wajah Byan dengan cepat. Berubah sendu namun penuh kemarahan. Terlihat sekali kalau hubungan ayah dan anak itu tidak baik-baik saja.

“Bagaimana denganmu, panggilan apa yang kamu berikan pada suamimu?” Byan mengalihkan perasaannya dengan bertanya hal lain pada Maureen. Jawaban Maureen yang selalu random, pasti akan lebih menyenangkan dibanding jawaban atas perasaannya pada laki-laki itu.

“Tidak perlu bertanya, nanti kamu makin kesal. Panggilanku pada mas Anggoro cukup romantis.” Maureen menjawab sambil menuangkan air untuknya dan untuk Byan.

Satu gelas ia teguk sementara gelas lainnya ia taruh di meja kecil samping tempat tidur Byan.

Byan jadi memandangi gelas yang di taruh Maureen lalu mengambilnya. Ia belum meneguknya melainkan kembali bertanya,

“Apa tidak ada laki-laki muda yang menurutmu menarik hingga kamu memilih menikahi seorang laki-laki tua?” kali ini Byan benar-benar penasaran dengan jawaban ibu tirinya.

“Tidak ada. Tidak ada laki-laki yang menarik bagiku selain laki-laki yang memiliki kekayaan melimpah.” Sahut Maureen dengan yakin. Ia tidak menoleh Byan, tetapi berdiri di dekat jendela dan merasakan udara pagi yang segar membelai wajahnya.

“Wah, ternyata kamu memang sangat matre. Jadi, uang memang satu-satunya hal yang kamu kejar.” Byan menyimpulkan.

“Sama denganmu, nenekmu dan pamanmu. Kenapa kamu masih bertanya?” jawaban Maureen terdengar telak.

“Dengan uang, kita bisa mengendalikan banyak hal. Termasuk mengendalikan sikap orang-orang yang menentang dan membenci kita, jadi berbalik memuja kita. Bukankah begitu cara kerja dunia ini?”

Maureen mengangkat gelasnya seolah mengajak Byan bersulang. Byan tidak menimpali, ia hanya tersenyum miring sebelum kemudian menghabiskan air di tangannya.

Ia semakin yakin kalau tujuan Maureen adalah harta milik ayahnya.

Tapi tunggu, kenapa helaan nafasnya terlihat berat? Apa yang dipikirkan wanita itu?

****

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

buka hari dulu bry.... jgn langsung menyimpulkan

2024-01-09

0

Ririn

Ririn

wkkk mauren begitu cerdas
sohibnya malah oon

2023-06-07

2

ary rachmawati

ary rachmawati

menarik....😍

2023-04-30

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!