“Wiihhh bos pulang kampung nih. Apa kabar bro?” tanya Wisnu saat melihat kedatangan Byan di pintu club, tempat mereka bertemu.
Wisnu merangkul sahabatnya. Lama tidak bertemu, sosok Byan ternyata jauh berubah di banding Byan delapan tahun silam.
“Seperti yang lo liat, gue masih nafas, bisa ngedip, dan bisa berantem sama lo!” sahut Byan yang meninju perut Wisnu.
“Hahahaha… sialan lo. Gue kirain lo udah ganti identitas di luar negeri.” Ledek Wisnu karena sangat lama tidak mendengar kabar sahabatnya.
Terakhir bertukar kabar adalah setahun lalu saat Byan mengirimkan undangan pameran lukisannya yang kedua. Tidak di sangkan laki-laki ini telah tumbuh menjadi pelukis sukses di negeri orang. Ia tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk melanjutkan kerajaan bisnis ayahnya, tapi hari ini tiba-tiba saja Byan pulang. Entah apa yang merubah pemikirannya selama delapan tahun ini.
“Gak lah! Mana bisa gue mati cepet-cepet, masih banyak yang harus gue urusin.” Sahut Byan.
Ia duduk di salah satu kursi yang sudah dipesankan oleh Wisnu.
“Minum apa nih? Kayak biasa atau selera lo udah berubah?” tawar wisnu dengan gayanya yang perlente.
“Masih sama. Selera gue gak gampang berubah.”
“Baguslah! Kita party malam ini, sampe mabok. Udah lama gue gak denger lo teriak-teriak di jalan." Wisnu mengenang kebiasaan Byan zaman dulu yang hobi membuat onar dan mabuk-mabukkan.
"Gimana, udah berhasil naklukin scuffle cewek bule?” Wisnu terkekeh geli. Belum pernah ia mendengar Byan menghabiskan malam dengan seorang perempuan.
“Kalau lo mau scuffle sama perempuan, lo gak usah mabok. Gak ada nyali anjir. Lo samperin langsung perempuannya dalam keadaan sadar dan ajak check in langsung. Jangan pura-pura mabok terus nidurin perempuan. Pengecut.” Deciknya dengan senyum tipis.
“Woohooo, brodi gue udah dewasa. Si piton rupanya udah ketemu sarang yang nyaman dong?” sambil terkekeh Wisnu menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
“Piton gue gak sembarangan nyari sarang. Jangan ngaco loh!”
“Hahahahahaa….” Nikmatnya tawa Wisnu yang terbahak-bahak.
“Minuman lo.” Wisnu menyodorkan segelas minuman yang sudah di pesannya untuk Byan. Ia mengajak Byan bersulang lalu kedua sahabat itupun sama-sama meneguk minumannya.
“Ikhhh….” Wisnu meringis saat merasakan sensasi pahit di lidahnya.
“Mana yang gue minta?” tanya Byan tidak sabar.
Wisnu tersenyum miring, lantas menaruh sebuah amplop coklat di hadapan mereka.
“Ngomong-ngomong, kenapa lo minta gue nyari info soal nyokap tiri lo?” tanya Wisnu penasaran.
Ia memperhatikan Byan yang sedang melihat-lihat print out data tentang Maureen.
“Gue harus tau siapa musuh gue.” Jawab Byan. Kesan pertamanya bertemu Maureen, ia melihat wanita muda itu tidak mengenal rasa takut. Sementara untuk menjatuhkan lawan, ia harus tahu kelemahan Maureen agar bisa menang telak.
Ia menyalakan sebatang rokok karena perlu ketenangan untuk melihat lembaran kertas yang ada di hadapannya.
“Lo saingan sama dia? Dalam hal apa?” Wisnu semakin penasaran.
“Gak usah penasaran berlebihan, nanti lo bisa mati muda.” Hanya itu timpalan Byan.
“Sialan.” Dengus Wisnu sambil tersenyum miring.
Byan memang tidak bisa di korek masalah pribadinya meski banyak hal dari keluarganya yang sudah menjadi rahasia umum. Tapi hal paling pribadi tidak pernah terungkap sedikitpun.
“Bro, lo mau ngejatuhin dia atau mau apa?” tanya Wisnu yang sangat penasaran.
“Bikin dia nyerah dan pergi dari hidup keluarga gue.” Sahut Byan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya.
“Sayang banget cewek semulus itu mau lo suruh pergi dari hidup lo. Kalau gue sih bakal gue bikin tuh cewek gak bisa jauh dari gue. Kayaknya menyenangkan mengendalikan dia dengan topeng atas nama cinta.” Hasut Wisnu yang tersenyum meledek.
“Jangan gila lo, dia janda bokap gue.” Byan memukulkan beberapa lembar kertas di tangannya pada Wisnu.
“Hahahaha posesif juga lo.” Timpal Wisnu masih meledek sahabatnya. Tidak menyenangkan kalau sahabatnya serius seperti ini.
“Gue harus menyusun strategi biar dia hancur. Lo gak usah mikir yang aneh-aneh, tujuan gue cuma itu.” Kalau sudah fokus Byan memang tidak bisa dialihkan.
“Hah, gak asyik lo!” decik Wisnu seraya meneguk minuman beralkohol di gelasnya.
“Malem kak, mau gabung gak sama kita?” dua orang wanita berpakaian setengah jadi menghampiri Wisnu dan Byan. Salah satunya mengusap punggung Wisnu dengan sensual.
“Wow, merah, berani!” seru wisnu pada salah satu gadis yang berbaju merah dan menyentuh bahunya dengan sensual. Ia pandangi sosok mulus dihadapannya dengan mata berbinar.
“Berani dong. Tinggal kakak sendiri, berani atau nggak?” gadis itu balik menantang dengan gaya menggoda. Ia berbisik di telinga Wisnu dan Wisnu membalasnya dengan kecupan ringan di bahu wanita itu.
“Lo mau turun?” tawar Wisnu pada Byan. Biasanya sahabatnya sangat suka menggerakkan tubuhnya di lantai dansa.
“Lo duluan. Gue masih ada urusan.” Byan mengibaskan tangannya pada seorang wanita yang mendekatinya.
“Okey ladies, kita tinggalin kakak kece satu ini. Kita party!!!” seru Wisnu sambil menggerakkan tubuhnya menikmati dentuman musik yang memacu adrenalin. Mereka pergi menuju lantai dansa. Kedua tangannya melingkar di pinggang kedua wanita di sisi kiri dan kanannya.
Sementara Byan, masih dengan dokumen di tangannya. Usahanya untuk mencari tahu siapa Maureen ia lakukan dengan serius.
“Oh, dia yatim piatu. Orang tuanya meninggal saat dia SMP dan tinggal di panti. Cukup berprestasi juga.” Puji Byan saat melihat riwayat hidup dan pendidikan yang sempat dijalani ibu tirinya sejak ia kuliah.
Sejak kuliah Maureen sudah bekerja di beberapa tempat. Walau ia mengambil pekerjaan part time tapi bisa terlihat kalau wanita ini seorang yang bersungguh-sungguh dan tekun termasuk saat magang di perusahaan Anggoro. Baru dua tahun lalu ia menjadi personal assistant ayahnya. Itu mengapa mereka bisa dekat hingga memutuskan untuk menikah.
“Harusnya lo cukup jadi PA aja, gak usah mimpi jadi nyokap tiri gue.” Ucap Byan yang mengeram kesal. Ia tidak menyangka kalau saingannya saat ini cukup cerdas sehingga ia tidak bisa sembarangan mencari cara untuk menyingkirkan Maureen.
****
Di kamarnya, Maureen masih bertelepon dengan mantan assistant Anggoro yaitu Riswan. Ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan laki-laki itu.
“Saya ingin memastikan kapan wasiat suami saya akan dibacakan. Apa anda sudah mendapat kabar dari kuasa hukumnya?” tanya Maureen yang bertelepon di balkon kamarnya.
Ia sudah mengenakan pakaian tidurnya, dari bahan satin tipis yang membuatnya terlihat seksi dan elegan. Angin malam menerbangkan kain berkilauan itu dan membentuk siluete tubuhnya dengan jelas.
“Saya mendapatkan kabar kalau tim kuasa hukum akan membacakan dan mengesahkan wasiat dalam waktu tiga bulan ke depan, nyonya.” Terang riswan dari sebrang sana.
“Apa, tiga bulan? Kenapa lama sekali? Kita kan sudah menyerahkan surat hasil autopsy dan tidak perlu ada kecurigaan lain. Suami saya memang meninggal secara wajar. Dan kalau tim kuasa hukum atau keluarga lainnya ingin mengusut, harusnya usut lah rekanan suami saya yang mengundang beliau ke acara golf dan mengajaknya minum minuman beralkohol.” Tentang Maureen tidak terima.
Baginya waktu tiga bulan terlalu lama. Ia harus segera mengambil alih semuanya sebelum banyak hal yang berubah terutama setelah kepulangan Byan.
“Mohon maaf nyonya, tapi itu kesepakatan tuan besar dengan para pengacara. Hal itu pun menjadi salah satu wasiat beliau.”
“Kamu tidak bisa di andalkan Riswan. Apa kamu lupa kalau kamu pernah berjanji pada suami saya kalau kamu akan membantu saya mengelola perusahaan? Kamu juga berjanji akan menemani saya mengembangkan perusahaan. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?” Maureen mulai meradang.
“Saya mohon maaf nyonya. Saya sudah melakukan apa yang bisa saya lakukan. Tapi kepulangan tuan muda, membuat tim pengacara harus melihat ulang isi wasiat dan hukum waris yang harus mereka patuhi. Saya harap nyonya bisa memahaminya.” Urai Riswan.
“Sial!” tanpa menimpali ucapan Riswan, Maureen lebih memilih menutup teleponnya. Kesabarannya bisa habis kalau terus berbicara dengan laki-laki di sebrang sana.
Udara malam yang dingin, membuat Maureen mendekat pada ayunanya. Ia mengambil syal yang tadi dilepasnya dan memakainya kembali. Memang tidak baik malam-malam begini berada di luar, maka ia memutuskan untuk masuk dan beristirahat.
Saat menutup pintu balkon, Maureen langsung melihat pada tempat tidurnya yang masih dipenuhi kelopak bunga mawar. Ranjang pengantin yang seharusnya hangat di hari ketiga pernikahannya, berubah menjadi ranjang yang dingin bagi seorang janda seperti Maureen.
Ia mungkin harus bersyukur karena Anggoro belum pernah menyentuhnya. Walau Anggoro terkenal sebagai seorang Casanova terlebih setelah pubernya yang kedua, tapi laki-laki itu tidak pernah menyentuhnya sembarangan. Anggoro menghormatinya dan tidak pernah melecehkannya. Mungkin itu salah satu alasan Maureen menerima pinangan laki-laki yang ia harapkan akan mengubah hidupnya.
Terduduk di sofa dan ia masih memandangi kasurnya yang bersprei putih. Sejak kembali ke kamar ini, Maureen tidak pernah meniduri kasur itu. Seperti biasa, ia lebih memilih mengambil bantal dan selimut baru dari dalam lemari lalu tertidur di sofa.
Ia tidak mau, ranjang dingin itu membuatnya semakin merasa kesepian.
Saat ini, suara detakan jam seperti melodi yang paling indah untuk memecah kesunyian. Perlahan ia memejamkan matanya walau belum sepenuhnya mengantuk.
Hitung domba saja agar ia bisa tidur sehingga besok ia bisa bangun dengan segar dan kecantikannya tidak berkurang.
Selamat malam…
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Tia rabbani
baru baca 😁
2024-07-20
0
Bzaa
selamat malam juga moorent dan otor 🫰
2024-01-09
0
Adeeva
hati2 menjilat air liur sendiri Byan
2023-05-05
1