Keluarga Anggoro

Malam yang biasanya sepi, kali ini terdengar ramai. Deru mesin sebuah mobil sedan mewah yang masuk ke pelataran rumah megah Anggoro menjadi pemecah keheningan malam itu. Penumpangnya turun dengan tatapan waspada menyapu sekeliling rumah mewah nan megah milik Anggoro.

Siapa lagi kalau bukan Ruwina yang terduduk di kursi roda dan Edwin yang berjalan, mendorong wanita itu dari belakang.

Maureen yang baru selesai makan malam, cukup terkejut mendapat kungjungan tidak terduga dari Ruwina dan Edwin. Padahal mereka sudah mengatakan kalau mereka tidak ingin menginjakan kaki lagi di rumah ini tapi sekarang mereka datang dengan langkahnya yang angkuh dan penuh percaya diri.

"Apa mereka salah makan?" Maureen tersenyum kecil sambil meneguk minumannya dengan elegan. Sepertinya ia harus bersiap untuk menghadapi dua orang keras kepala itu.

Ruwina sengaja datang untuk melihat-lihat rumah yang dulu menjadi rumah kebanggan keluarga Anggoro. Rumah yang ia tinggalkan dua tahun lalu karena perdebatan hebat antara ia dengan Anggoro hingga Anggoro terkena serangan jantung.

Mereka terpaksa keluar dari rumah itu karena Anggoro yang memintanya keluar dari rumah tersebut. Anggoro merasa tidak nyaman hidup satu atap dengan ibu dan adiknya.

Dua tahun lalu, rumah ini menjadi tempat perawatan khusus untuk Anggoro saat putranya itu mendapat serangan jantung dan harus menjalani operasi. Hanya ada petugas medis dan Maureen beserta para pelayanan yang tinggal di rumah ini.

“Selamat malam mah, apa kabar?” sapa Maureen dengan ramah, pada ibu mertuanya.

Ruwina hanya mengerlingkan matanya kesal, tidak suka dengan kepura-puraan Maureen yang bersikap baik padanya.

“Panggil Byan turun, kita perlu bicara.” Ruwina tidak menimpali, ia lebih memilih memberi perintah pada Edwin.

“Panggilkan tuan muda!” titah Edwin pada salah satu pelayan.

Pelayan itu melirik Maureen seperti tengah meminta izin dan Maureen hanya mengangguk kecil, mengiyakan.

Setelah mendapat persetujuan, pelayan itupun naik ke lantai dua untuk memanggil Byan yang masih berada di dalam kamarnya.

“Silakan duduk, aku akan menjamu mamah dan mas Edwin dengan makanan dan minuman kesukaan kalian.” Ucap Maureen seraya memberi perintah pada pelayannya dengan lirikan mata saja.

Sehebat itu menantu Ruwina, hingga bisa membuat semua orang patuh padanya.

Pelayan itupun segera pergi, meninggalkan nyonya rumahnya dengan para tamu.

“Kami hanya ingin berbicara sebentar dan tidak akan lama.” Cetus Ruwina. Dengan tuas di kursi rodanya, ia menepi untuk berpindah ke samping Edwin yang sudah lebih dulu duduk.

“Biar aku bantu mah.” Maureen menyentuh pegangan kursi roda dan mendorongnya.

“Saya tidak butuh bantuan kamu.” Decik Ruwina sambil menatap sinis menantu yang tidak pernah ia harapkan.

“Baiklah, aku juga tidak suka memaksa orang. Terlebih orang tua yang keras kepala.” Maureen sedikit mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Ruwina.

“Jangan kurang ajar kamu!” seru wanita berkulit kisut itu.

Maureen tidak menimpali, ia hanya tersenyum kecil dan duduk lebih dulu di sofa. Ia tetap dengan senyumnya yang terkembang dan anggun penuh ketenanga, seolah memberi isyarat kalau ia tidak pernah teritimidasi dengan semua perlakuan Ruwina dan Edwin.

Tidak lama berselang, Byan turun dengan pakaian santai yang melekat di tubuhnya.

“Byan, cucu nenek.” Sapa wanita tua itu sambil merentangkan tangannya.

Byan menghampirinya dan memeluk wanita renta itu.

“Apa wanita itu memberimu makan? Kenapa nenek merasa kamu kurusan.” Ujar Ruwina sesaat setelah pelukannya terlerai. Ia menatap wajah cucunya dengan lekat.

Maureen tersenyum sinis mendengar pertanyaan tidak penting ibu mertuanya. Ia memanglingkan wajahnya dari Byan yang menatapnya beberapa saat.

“Ya, aku makan cukup banyak di sini. Mana mungkin aku membiarkan makanan yang dibeli dengan uang Anggoro di buang begitu saja. Sangat sayang bukan?” sinis Byan yang sesekali melirik Maureen.

“Waahh, darah memang lebih kental dari air, semua hal yang ada di diri keluarga suamiku memang sangat mirip. Termasuk cara bicara kalian yang sangat suka saling menyindir dan sinis.” Timpal Maureen dengan senyum mengembang seolah kagum pada keluarga ini.

“Kalau merasa tidak ada kecocokan dengan keluarga kami, seharusnya kamu cukup tau diri dan menyingkir. Kenapa masih bertahan di rumah ini?!” benar bukan, kalimat Ruwina memang selalu sinis.

“Maaf mamah, tapi aku istri yang patuh. Selama tiga bulan ke depan aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku takut mas Anggoro mencemaskanku di alam sana.” Timpal Maureen dengan santai. Ia mengangguk santun pada wanita yang selalu mengeram kesal padanya.

“Hemh! Tidak tahu malu!” decik Ruwina seraya mendelik.

“Terkadang kita perlu tidak tahu malu untuk mempertahankan apa yang menjadi hak kita.”

Maureen menimpali dengan santai dan tidak ambil pusing dengan ucapan ibu mertuanya yang sudah biasa. Ia bahkan pernah menerima perlakuan yang lebih kasar dari ini dan itu tidak akan pernah bisa ia lupakan.

Mungkin hal itulah yang membuat Maureen berusaha terlihat berani demi tidak diinjak. Tidak boleh lagi ada sikap ataupun kata-kata Ruwina yang merendahkannya.

Para pelayan datang membawakan makanan dan minuman lalu menghidangkannya di atas meja. Cukup banyak hingga meja penuh.

“Silakan dinikmati. Perjalanan ke rumah ini cukup jauh, kalian pasti capek dan haus.” Tawar Maureen dengan santai.

“Tentu saja. Semua ini dibeli dengan uang putraku, tentu saja aku punya hak untuk menikmatinya.” Timpal Ruwina seraya meneguk secangkir teh.

“Mamah tidak mengeceknya dulu? Padahal aku suka iseng masukin ramuan ke dalam minuman seseorang. Mungkin saja setelah ini mamah malah sangat menyukaiku.” Ucap Maureen mencadai dan menakut-nakuti ibu mertuanya.

"Gila kamu!"

Ruwina segera menaruh gelasnya dengan kasar. Air dalam mulutnya bahkan nyaris ia tumpahkan kembali.

“Ahahahhahaha… aku hanya becanda mah. Sepertinya mamah masih tidak bisa di ajak becanda. Padahal tertawa itu sangat bagus untuk mengurangi kerutan di wajah.” Ucap santai Maureen sambil meneguk minumannya.

Ia sedikit memperhatikan ekspresi ibu mertuanya yang kesal. Sudut bibirnya sampai berkedut menahan marah dan makian. Tapi Maureen santai saja.

“Ada apa om dan nenek berkunjung ke sini?” Byan yang paling waras mencoba memulai perbincangan dengan normal.

“Kami ingin bernegosiasi dengan perempuan ini.” Sahut Edwin yang menunjuk Maureen dengan sudut matanya.

“Denganku? Apa yang mau kita negosiasikan mas?” Maureen pura-pura antusias. Ia menaruh cangkirnya dan menyimak pertanyaan Edwin.

“Kami menawarkan dua kesepakatan, pertama, kamu bisa mendapatkan rumah ini tapi, kamu bersedia di coret hak warisnya dari wasiat mas Anggoro. Atau, kita akan berhadapan di pengadilan untuk memperebutkan warisan dan kita lihat, siapa yang akhirnya harus angkat kaki dari perusahaan dan rumah ini. Gimana?” tanya Edwin langsung pada maksudnya.

“Waaahh, mas Edwin sepertinya sangat ingin membuatku rugi. Bagaimana kalau aku menolak semua tawaran mas Edwin?” tantang Maureen.

Edwin tidak lantas menjawab, ia tersenyum sinis pada Maureen. Tentu saja ia sudah menduga kalau wanita ini akan menolak tawarannya.

“Tentu saja hidup kamu tidak akan tenang karena selamanya kita akan bersaing. Saling menjatuhkan satu sama lain sampai kamu menyerah dengan sendirinya. Pikirkan baik-baik Maureen, kami bertiga, kami memiliki lebih banyak cara di banding kamu. Sementara kamu, tidak ada seorang pun yang ada dipihakmu.” Edwin tersenyum merendahkan Maureen.

“Heemm… pemikiran mas sangat menakutkan. Sayangnya pemikiranku tidak seputus asa itu.” Maureen duduk dengan tenang di tempatnya.

“Ada tiga orang yang berpikir belum tentu bisa menang dari yang hanya sendirian loh. Karena mungkin saja, dengan tiga kepala itu ada tiga ego juga. Aku yakin, kalian punya tujuan masing-masing dan belum tentu sama.”

“Jadi… aku gak takut. Aku sudah tau tujuanku dan akupun sudah tau jalan untuk menuju ke sana. Jadi kalau kalian mau bekerja sama, ya silakan. Tolong yang kompak ya….” Pesan Maureen tanpa rasa takut sedikitpun.

"Kejadian hari ini di ruang rapat, hanya welcome party untuk putra tiriku tersayang. Aku berharap kalian menyukainya dan tidak akan pernah melupakan kesan mendalamnya."

Maureen bisa melihat tangan Edwin yang mengepal menahan geram. Juga sorot matanya yang berusaha menampar Maureen. Sayangnya, tidak ada kegetiran sedikitpun di benak Maureen, menghadapi laki-laki ini.

“Kalau kalian masih mau berbincang, silakan. Aku pamit istirahat lebih dulu. Selamat malam.” Ujarnya seraya berlalu pergi. Ia tidak mau berlama-lama duduk di sana.

Ia berjalan dengan santai tapi setelah agak jauh, barulah ia menghembuskan nafasnya lega. Sungguh menggunakan banyak topeng itu tidak mudah. Namun ia terpaksa harus melakukannya. Demi membalaskan dendam pada keluarga ini.

“Perempuan gila! Serakah! Tidak tau diri!” umpat Ruwina dengan kesal.

Entah dibentuk dari apa sebenarnya wanita itu hingga tidak memiliki rasa takut sedikitpun.

Sementara Ruwina mengumpati, Byan hanya tersenyum kecil melihat dan mendengar semua sikap Maureen. Harus ia akui kalau mental wanita ini sangat kuat. Ia jadi penasaran untuk terus melanjutkan permainan. Ia sangat ingin tahu, apa sebenarnya yang membuat Maureen begitu keras kepala bertahan untuk melawan keluarga Anggoro.

Karena uang saja kah? Rasanya bukan.

"Perempuan unik." Batin Byan yang tersenyum kecil dalam hati.

****

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

semoga saja si Bryan tau kebenaran tth Edwin yg korup

2024-01-09

0

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

mulai tuhh...hati2 Byan ntar yg ada malah kmu kepincut🤣

2023-09-17

1

Ririn

Ririn

huwaaaaa

2023-06-07

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!