Kesan Singkat

Tidak sampai satu hari penuh, Byan sudah diperbolehkan pulang. Kondisinya memang sudah pulih dan status hidrasinya membaik. Ia hanya disarankan agar tidak memakan makanan yang terlalu asam atau basa agar tidak mengundang rasa mual dan muntah.

Dengan sebuah mobil mewah, mereka kembali ke vila, tempat beristirahat yang mereka pilih.

“Silakan nyonya.” Penjaga vila membukakan pintu untuk Maureen.

Maureen turun lebih di susul Byan. Maureen memperhatikan benar kondisi resort yang dua bulan ini tidak ia datangi dan rupanya proses pengerjaan memang terhenti. Ia sadar belakangan resort ini lepas dari perhatiannya.

Sementara Byan, ia langsung masuk dan melihat-lihat ke dalam resort. Ada yang sedang ia cari.

“Kemana perginya wanita semalam?” tanya Byan pada penjaga resort.

“Mohon maaf tuan, dia sudah kabur. Subuh tadi, dia mengendap-endap pergi meninggalkan resort. Dia bahkan tidak mengembalikan kunci.” Terang penjaga resort dengan kesal.

“Brengsek, wanita itu ternyata hanya memanfaatkanku. Dia mengerjaiku sampai aku masuk rumah sakit dan sekarang malah pergi tanpa pamit. Benar-benar tidak tahu diri.” Gerutu Byan.

“Dia juga bodoh.” Gumam Maureen yang masih di dengar oleh Byan. Wanita itu tampak asyik saja melihat-lihat sekeliling resort yang akan ia alih tugaskan pembangunannya pada Byan.

“Kamu mengenalnya?” Byan sedikit penasaran.

“Apa harus mengenalnya untuk sekedar menilainya? Bukannya kamu juga bisa langsung menilaiku tanpa pernah mengenalku?” Maureen balik bertanya.

Byan tersenyum miring seraya mengusap dagunya yang berbulu halus.

“Kamu sangat suka berdebat dan berkilah, memang cocok dengan Anggoro.” Timpal Byan dengan kesal.

Laki-laki itu berjalan menuju kamarnya diikuti oleh penjaga vila yang akan membukakan pintu. Sementara Maureen lebih memilih berdiam diri di dekat kolam yang belum terisi air. Ia duduk di ayunan dan menikmati udara yang masih segar.

Sebelum menutup pintu, Byan memperhatikan Maureen yang tampak melamun. Entah apa yang ada dipikirannya.

“Perempuan aneh.” Deciknya sebal.

Ia menutup pintu dengan rapat karena baginya tidak menarik memperhatikan Maureen.

“Mooo....” rengek Tifani saat Maureen menghubunginya. Ia sepertinya sadar kalau ia sedang di cari Maureen.

“Lo dimana?” tanya Maureen kesal.

“Gue di bandaraaa ... tapi pesawatnya delay. Bantuin gue dong Mo....” lagi Tifani merengek. Kalau sudah seperti ini, Tifani memang hanya bisa merengek pada Maureen.

“Kenapa lo pulang? Tugas lo kan belum selesai.” Maureen mulai kesal walau sikapnya tetap terlihat tenang.

Tifani langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara Maureen yang bercampur kemarahan, terlalu menakutkan untuknya.

“Gue bingung, nanti gue jawab apa kalau Byan nanya kenapa gue ngeracun dia?” Tifani beralasan.

“Ya lo bilang aja lo nggak ngelakuin itu. Lo bisa beralasan kalau anggurnya yang udah gak bagus atau gimana kek. Pake dikit dong otak lo.” Maureen mengomeli Tifani di sebrang sana.

“Lo kok ngomelin gue sih?! Kan gue udah coba bantu lo. Bukannya makasih malah ngomel.” Decik Tifani kesal.

“Lo bilang lo bantu gue?” Maureen mengulang sepenggal kalimat Tifani.

“Iya! Gue ngebantuin lo Mo. Tapi lo malah galak sama gue.” Mental Tifani yang tempe memang tidak bisa menerima gertakan Maureen.

Maureen tersenyum kecil mendengar jawaban wanita di sebrang sana.

“Fan, biar gue ingetin. Lo ngerjain apa yang gue minta, bukan gratisan. Ada apartemen loh yang jadi timbal baliknya. Lo juga gak ngeluarin duit sendiri, lo pake debit gue. Itu berarti, lo bukan ngebantuin gue tapi lo kerja sama gue. Yang artinya, lo haru ngelakuin apapun yang gue minta. Paham?” tegas Maureen.

“Iyaa iyaaa, gue emang kerja sama lo. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya sama gue. Kalau menurut lo itu gampang, lo kerjain aja sendiri. Gak usah nyewa gue. Gak apa-apa dah gue tinggal di rumah tante gue lagi.”

“Biarin aja gue malu udah bilang gue gak butuh rumah sempit begitu bahkan gue udah ngeludahin itu rumah saking sebelnya.”

“Eh sekarang gue malah gagal dan gak jadi dapet apartemen. Mana pesawat gue juga delay lagi. Lo aja dah yang atur Mo, lo atur sendiri.” Cerocos Tifani yang kesal.

Maureen tidak menimpali Tifani, ia memilih menutup teleponnya. Berbicara dengan Tifani memang hanya menguras emosinya.

“Udah tau salah, malah gak mau disalahin. Dasar ceroboh!” decik Maureen.

“Siapa yang bodoh?!”

“ASTAGA!” Maureen terhenyak kaget saat tiba-tiba mendengar suara Byan di belakangnya.

Takut-takut ia menoleh dan benar saja, Byan sedang berjalan mendekat ke arahnya.

Maureen langsung merapikan dirinya. “Siapa yang bilang bodoh?”

Kali ini Maureen yang pura-pura bodoh. Ia masih menduga-duga apa Byan mendengar pembicaraannya dengan Tifani atau tidak.

“Itu, yang ditelepon.” Sindir Byan.

“Jangan suka nguping! Nanti kuping kamu budeg!” timpal Maureen sambil menunjuk telinga Byan. Matanya membulat karena kesal

“Kutukan ibu tiri ngaruh gak sih ke hidup aku? Nggak kan?” Byan tersenyum meledek pada Maureen yang terlihat tegang.

“Ngaruh lah. Mau itu ibu tiri atau bukan, tetep aja judulnya kamu gak hormat.” Timpal Maureen.

Byan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu duduk di samping Maureen, di atas ayunan.

“Kamu kenapa gak nyerah aja sih? Saham sepuluh persen kan udah banyak. Apa masih belum cukup buat hidup dalam kemewahan? Kenapa masih mengejar sesuatu yang belum tentu kamu dapat?” tanya Byan tiba-tiba. Ia menoleh Maureen yang duduk di sampingnya dan sedikit menarik tubuhnya menjauh.

Maureen sadar, sepertinya Byan tahu apa yang sudah ia lakukan dengan menggunakan jasa Tifani.

“Nyerah? Lucu!”

“Mana mungkin aku menyerah mempertahankan hak ku.” Tapi mengalah bukanlah sikap Maureen. Mana mungkin ia membiarkan ikan lepas dari genggamannya.

Byan mengambil kerikil di dekat kakinya, lantas melemparnya ke dalam kolam kering.

“Hak? Apa itu tidak terdengar terlalu serakah? Kalian baru menikah 2 hari.” Ucap Byan yang tersenyum sinis.

“Kenapa harus dibilang serakah? Dua hari itu tetap saja usia pernikahan kami yang sah di mata hukum dan membuatku memiliki hak itu.” Urai Maureen. Baginya tidak ada tawar menawar antara ia dengan Byan.

“Ya, yaa memang benar. Tapi apa yang sudah kamu berikan pada Anggoro sampai kamu merasa layak mendapatkan hartanya?” kali ini Byan bertanya dengan serius.

Maureen terdiam beberapa saat lantas tersenyum sinis. Ia menoleh Byan sambil berkata,

“Paling tidak, aku tidak pernah meninggalkan dia saat dia sekarat dan membutuhkan orang disampingnya. Aku bisa saja meninggalkannya karena aku hanya seorang personal assistant. Tapi aku memilih tinggal karena aku peduli dan dia membutuhkanku.”

“Sementara kalian, apa yang kalian banggakan? Ikatan darah saja kah? Naif!” sindirnya dengan senyum tersungging di bibir merahnya.

Byan hanya memalingkan wajahnya, lantas beranjak dari tempatnya.

“Apapun alasanmu, yang jelas hukum waris itu lebih kuat dengan ikatan darah, bukan pernikahan.” Tegas Byan.

Ia memilih pergi meninggalkan Maureen yang terdiam di tempatnya sambil memandangi sosok Byan yang semakin lama semakin menjauh.

Maureen mulai memahami kalau laki-laki itu sangat membenci ayahnya. Rasanya ia bisa menggunakan ini sebagai kelemahan Byan.

Dan Byan, ia pun menangkap kelemahan Maureen. Walaupun wanita itu keras kepala, tapi tidak tegaan. Ia rasa, ia bisa menggunakan kelemahan Maureen ini sebagai salah satu senjata untuk membuatnya menyerah.

Kita lihat, trick siapa yang kemudian berhasil lebih dulu?

****

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

trik n trik ntar ujungnya PD bucin 😉😁

2024-01-09

0

Kisti

Kisti

gabungkn trik kalian biyan,maureen.agar kuat tuk melawan biang2 yg sesungguhnya

2023-05-01

0

Bunda dinna

Bunda dinna

Sama sama tau kelemahan lawan,,ntar sama sama menyerah

2023-05-01

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!