Pulang ke Jakarta membuat Maureen dan Byan sadar pada realita yang harus mereka hadapi.
Dari sebuah pesawat, dua orang itu turun dan membawa tas ransel masing-masing. Layaknya orang asing, mereka berjalan masing-masing seolah tidak mengenal satu sama lain.
Maureen di jemput oleh Riswan sementara Byan memilih pulang dengan taksi. Ia sangat enggan satu mobil dengan ibu tirinya.
“Bagaimana Bali, nyonya?” tanya Riswan pada Maureen yang duduk di belakang dan sibuk dengan ponselnya.
“Panas. Udaranya sedang kering.” Sahut Maureen apa adanya.
Riswan mengangguk paham. Sepertinya Maureen tidak begitu menikmati perjalanannya karena yang ia bicarakan hanya tentang cuaca.
“Nyonya mau makan siang di rumah atau di luar? Biar saya siapkan.”
“Di rumah aja. Aku mau makan mie instan.” Melihat gambar iklan makanan di ponselnya membuat Maureen begitu tertarik untuk mencicipin makanan siap saji itu.
“Tapi nyonya, dokter sudah melarang nyonya untuk makan makanan seperti itu.”
Maureen tidak lantas menjawab. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Riswan. Terpaksa ia memilih mencari referensi makanan lainnya. Ia sadar kalau perutnya memang sering bermasalah dengan makanan instan. Tapi makan makanan rumah pun ia sudah sangat bosan.
Di pinggir jalan, ia melihat anak-anak kecil yang sedang jajan khas jajanan pinggir jalan. Mereka tampak menikmati makan di piring kertas sambil tertawa-tawa dengan temannya. Entah mengapa air liur Maureen jadi menetes.
“Berhenti!” serunya tiba-tiba.
“Ada apa nyonya?” Riswan nyaris menginjak rem nya tiba-tiba. Beruntung ia bisa mengontrol kecepatan kendaraannya sehingga tidak terjadi sentakan tiba-tiba.
“Menepilah, aku mau makan makanan itu.” Pintanya.
“Makanan apa yang nyonya maksud?” cepat-cepat Riswan menepikan mobilnya.
Maureen tidak lantas menjawab, ia lebih memilih turun dari mobil.
“Biar saya pesankan nyonya.” Riswan segera menyusul dan mendahului langkah Maureen.
“Nyonya silakan duduk di sini.” Ia melap bangku di samping gerobak dorong yang menjual siomay.
Maureen menurut untuk duduk. Ia memandangi jalanan yang berdebu dan hawa panas terlihat ikut serta beterbangan saat kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi.
Duduk di bawah pohon seperti ini membuatnya mengingat kembali saat-saat ia tinggal di panti. Ia masih mengingat bagaimana cerianya teman-temannya saat ada makanan datang. Mereka tidak pernah saling berrebut. Mereka akan membaginya adil agar semua penghuni panti mendapat bagian yang sama. Dulu, hidupnya memang sangat sulit tapi paling tidak, ia punya teman berbagi.
Tapi sekarang, ia bisa membeli apapun dengan uang yang ia punya. Dalam satu hari, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya karena besarnya saham yang ia miliki dibeberapa tempat usaha. Apapun yang ia inginkan bisa ia beli tapi entah mengapa sekarang ia malah tidak menginginkan apa-apa. Ada kekosongan yang selalu terasa di sudut hatinya.
Maureen berpikir, mungkin ia memang sedang tidak menginginkan apapun.
“Silakan nyonya.” Riswan memberikan sepiring siomay pada Maureen. Siomay dengan saus kacang itu cukup menggoda selera Maureen.
“Kamu makanlah. Kita istirahat sebentar di sini.” Ajak Maureen.
“Baik nyonya.” Riswan ikut duduk di samping Maureen. Mereka sama-sama menikmati siomay yang ada di tangan masing-masing.
Beberapa saat keduanya terdiam, hanya suara obrolan anak kecil yang masih bermain-main di belakang mereka seolah menjadi backsound makan siang kali ini.
“Pensilku biasa di serut pake serutan ini. Cepet banget runcingnya.” Ucap salah satu anak.
“Rautanku gak tajem soalnya sering di tiup. Akh, menyebalkan.” Timpal anak lainnya.
Maureen tersenyum kecil mendengar obrolan dua anak itu. Obrolan tidak penting itu cukup menggelitik untuk Maureen karena ia mengalami hal yang sama saat sekolah dulu.
Saat ini, Maureen merindukan masa itu. Masa dimana masalah mereka hanya dengan rautan pensil.
“Nanti bungkuskan untuk para pelayan.” Ucap Maureen tiba-tiba. Ia sudah selesai makan walaupun tidak habis.
“Baik nyonya.” Sahut Riswan yang segera menyelesaikan makannya.
Ia memesan dulu dua belas porsi siomay untuk para pekerja di rumah mewah itu sambil matanya tidak berhenti memperhatikan langkah Maureen yang berjalan menuju mobil mereka. Riswan menekan tombol kunci saat nyonya mudanya akan masuk ke dalam mobil.
“Majikannya itu pak?” tanya penjual siomay.
“Iya. Memang kenapa?” Riswan balik bertanya.
“Cantik ya, baik lagi.” Sambil memasukkan siomay ke dalam plastik, penjual itu memperhatikan Maureen.
Riswan tidak merespon. Tapi ia mengakui kalau ucapan penjual siomay ini memang benar. Di balik sikapnya yang keras, Maureen adalah sosok yang cerdas, pekerja keras, baik dan tentu saja, dia wanita yang cantik. Saat mendiang Anggoro masih ada saja, ia sering kerepotan untuk menertibkan kaum adam yang ada di perusahaan agar tidak menggoda nyonya mudanya. Hingga sekarang, ia masih berusaha melindungi nyonya mudanya sesuai pesan Anggoro.
****
Di tempat berbeda Byan di sambut oleh Edwin. Laki-laki itu masuk ke kamar Byan yang sedang mencari beberapa berkas.
“Gimana, apa perempuan itu benar-benar memberikan project resort di Bali sama kamu?” tanya Edwin yang terduduk di kursi kerja Byan.
“Iya. Dia bilang, dulu project itu dikerjain sama om. Kenapa bisa diambil alih?” Byan pura-pura tidak tahu alasannya. Ia ingin tahu seperti apa alasan Edwin.
“Ya, itu karena om di jebak. Dia membuat laporan palsu ke papahmu dan mengatakan kalau om melakukan tindakan korupsi dalam project pembangunan itu. Padahal om cuma berusaha bernegosiasi dengan pemilik lahan agar dia memberikan harga yang pantas. Tapi sepertinya mulut perempuan itu memang racun. Dia memutar balikkan fakta seolah om yang salah.” Ucap Edwin dengan menggebu-gebu.
“Dan kamu tau, kenapa sekarang dengan mudah dia menyerahkan project itu sama kamu?” Edwin mendekat pada Byan, demi bisa melihat ekspresi wajah keponakannya secara langsung.
Ia ingin meyakinkan Byan dengan segala ucapannya.
“Kenapa?” Byan memilih duduk di atas ranjangnya dan merapikan beberapa berkas yang akan ia bawa ke rumah Anggoro.
“Karena dia berusaha mengelabui kamu!” sahut Edwin dengan cepat.
“Dia gak mau project pembangunan di pulau yang sedang dia pegang, di ganggu sama kamu. Makanya di ngasih mainan kecil buat kamu supaya kamu gak berpikir kalau dia serakah. Dia mau terlihat baik di depan kamu.”
“Kamu bayangin aja, berapa jumlah uang yang dia pegang untuk pengembangan sebuah pulau sebagai tempat wisata? Banyak Byan! Dan om gak percaya kalau itu benar-benar bertujuan untuk mengembangkan perusahaan. Sudah pasti buat keuntungan pribadi dia.” mulut Edwin sampai berbusa memberikan pengaruhnya pada Byan.
Byan terdiam beberapa saat, memandangi salah satu dokumen kontrak yang diberikan Edwin padanya.
“Lalu dimana aku bisa melihat uraian project pengembangan pulau itu?” Byan mulai penasaran. Ia bisa memperkirakan kalau nominal yang dipegang Maureen memang sangat besar.
“Minta sama Riswan. Dia yang memegang semuanya. Sebisa mungkin kamu rebut project itu dari tangan perempuan tidak tahu malu itu dan kamu yang kembangkan. Buat manajemen dan direksi percaya kalau kamu lebih mampu memimpin perusahaan ini di banding dia. Dengan begitu, dia akan tersingkir dengan sendirinya.” Hasut Edwin dengan meyakinkan.
Byan tidak menimpali, namun ia tampak berpikir. Ia sedang mempertimbangkan ucapan Edwin yang terkadang seperti nyala api yang siap menghanguskan sekam di dadanya.
Benarkah ia halus bertindak sejauh itu?
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
YK
om nya ini mencurigakan. jangan2 dia sengaja bunuh si anggoro...
2023-06-12
1
N⃟ʲᵃᵃB⃟cQueenSyaⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈
hati2 byan.... jangan pernah percaya sama kata2 si edwin...
2023-05-02
1
N⃟ʲᵃᵃB⃟cQueenSyaⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈
uler banget si edwin ini... dan byan terlalu bego kalo sampai mau dengerin kata2 om nya itu...
2023-05-02
1