Menjelang tengah malam, Maureen tidak bisa memejamkan matanya. Sedari tadi ia memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna putih tapi rasa kantuk itu semakin menjauh. Entah mengapa malam ini ia merasa begitu gelisah. Entah karena kedatangan keluarga Anggoro ke rumah ini atau karena hal lain yang tidak bisa ia urai.
Kesendirian itu membuat Maureen jadi melamun. Ia teringat bagaimana teman-teman sekolahnya dulu mengejeknya karena ia dibesarkan di panti.
“Maureen anak buangan, Maureen anak haram, hahahaha….” Ejekan itu yang masih berbekas dipikirannya hingga saat ini.
Saat sendirian, suara-suara menyebalkan itu terasa begitu mengganggunya. Ia selalu kesulitan melupakan hal itu hingga terkadang ia melakukan hal gila untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Seperti saat ini, Maureen tiba-tiba terbangun dan beranjak dari sofanya yang empuk. Sudah hampir jam sepuluh malam dan ia memutuskan untuk berganti pakaian. Ia juga memakai make up tipis dan lipstick merah menyala kebanggannya dengan sedikit ombre membuat bibirnya terlihat berisi.
Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi lalu memakai jaket. Wedges menjadi pelengkap penampilannya. Ia mengambil ponselnya dan menulis pesan untuk seseorang. Sebuah alamat ia kirimkan beserta tulisan,
“Temenin gue.” Begitu isi pesannya.
“Jam berapa ini Mo?” pesan balasan itu ia terima dari teman kuliahnya dulu. Teman yang selalu menyenangkan untuk ia ajak nongkrong.
“Lo mau ini?” balas Maureen dengan gambar jam tangan mewah yang ia sertakan.
Terkadang untuk memiliki teman itu perlu bermodalkan uang.
“Gue otewe.” Mudah bukan, yang di sebrang sana langsung mengiyakan ajakan Maureen.
Tanpa berpikir panjang, Maureen segera mengambil kunci mobilnya. Ia keluar dari kamar saat sebagian lampu sudah dimatikan. Menuruni anak tangga dengan sandal hak tingginya, membuat suara gaduh sedikit terdengar.
Byan yang malam itu juga belum tertidur, sedikit mengintip dari celah pintu. Ia melihat seorang wanita dengan pakaian feminine dan sedikit terbuka menuruni tangga, siapa lagi kalau bukan Maureen.
Byan melihat jam, sudah jam sepuluh malam. “Gila, itu emak tiri mau kemana?” gumam Byan yang penasaran.
Mencium wangi parfumnya yang memanjakan penciuman, tentu saja membuat Byan curiga. Ia segera mengambil jaketnya dan kunci mobil. Ia mengendap-endap menuruni anak tangga. Saat Maureen menoleh, ia segera bersembunyi.
“Akh, ****!” dengus Byan saat tanpa sengaja ia menyenggol vas bunga dan hampir menjatuhkannya.
Kalau saja gerakan tangannya terlambat, sudah pasti vas itu akan hancur berantakan di lantai.
Tidak melihat apapun di belakangnya, Maureen pun melanjutkan langkahnya. Ia masuk ke dalam mobil dan tidak lama, mobilpun melaju keluar gerbang dan berbaur dengan kendaraan lain.
Setelah beberapa saat dan merasa Maureen sudah cukup jauh, Byan pun menyusul. Ia membuntuti Maureen dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Ia tidak mau Maureen mengenali mobilnya dan usahanya untuk melakukan pengintaianpun, gagal.
Di depan sebuah club besar, mobil Maureen terparkir. Byan sudah tidak melihat tanda-tanda keberadaan Maureen. Mungkin wanita itu sudah masuk. Byan menyusul masuk ke dalam, berbaur di antara orang-orang demi menyamar dan tidak terlihat oleh Maureen.
Dasarnya ia seorang amatir dalam pengintaian, ia kebingungan sendiri mencari object yang sedang ia buntuti. Mulai dari mencari di sekitaran lantai satu club, tidak ada wanita yang memakai baju hitam dengan tampilan yang sedikit terbuka khas Maureen.
“Kemana sih tuh emak tiri?” gumam Byan. Ia berjalan menuju lantai dua, mungkin dari sana ia bisa melihat Maureen yang sedang dicarinya.
Byan berdiri di dekat pagar pembatas. Matanya berpedar melihat sekitaran lantai satu.
“Butuh partner?” tawar seorang wanita yang berbisik di telinganya.
“Minggir!” seru Byan sambil mendorong wanita itu menjauh.
“Awh! Kasar banget sih.” Decik wanita itu dengan kesal. Tapi Byan tidak menanggapi. Ia tetap mencari keberadaan Maureen.
Berjalan di sekitaran lantai dua, di sini ia melihat banyak pasangan yang sedang menikmati waktunya. Mereka saling bercumbu dan saling merangkul, bersulang minuman beralkohol dan hal lainnya yang mereka anggap menyenangkan.
Untungnya, Byan sudah terbiasa melihat hal-hal semacam itu.
Di satu titik, langkah Byan terhenti. Ia melihat Maureen sedang berada di lantai dansa. Rambut ikalnya yang semulai terikat tinggi sekarang jatuh tergerai. Gelombang rambutnya yang cantik terlihat bergerak berenergi seirama dentuman musik disko. Gerakannya yang gemulai memang sangat menarik perhatian.
Beberapa orang laki-laki menghampiri Maureen, hendak menyentuh atau menjamahnya. Tapi Maureen memang pandai menjaga diri. Ia tahu persis cara menghindar dari jamahan kaum adam yang menginginkannya.
“Gila, ini perempuan bener-bener pro.” Gumam Byan.
Tanpa sadar, ia mengambil segelas minuman yang disodorkan seorang pelayan lalu meneguknya. Ia cukup menikmati tarian Maureen hingga musik terhenti. Gayanya yang misterius dan seksi memang menjadi ciri khas dari ibu tirinya ini.
“Mau nambah bos?” tawar pelayan.
“Cukup.” Sahut Byan seraya menaruh gelas di atas baki pelayan. Ia menoleh sejenak laki-laki di sampingnya dan saat kembali melihat ke lantai dansa, ternyata Maureen sudah tidak ada di sana.
“Kemana tuh orang? Ngilangnya kok cepet banget.” Gumam Byan. Matanya kembali berkeliling, menyapu pandangan setiap sudut yang ada di hadapannya.
“Kok gak ada?” Byan kembali turun, mungkin saja Maureen duduk di bar dan sedang menikmati minumannya.
Tapi hingga sampai di bar, tidak terlihat bayangan Maureen yang dicarinya.
“Ngilang kemana sih tuh orang?” gumam Byan yang mulai putus asa. Ia melihat ke sekitarnya dan juga berbalik ke belakang. Tidak ada yang ia lihat selain kesesakan club oleh orang-orang.
“ASTAGA!” serunya saat ternyata Maureen tiba-tiba ada di belakangnya. Jantung Byan berdebar kencang saking kagetnya. Bagaimana bisa Maureen menghilang dan muncul tiba-tiba begini?
Sambil bersidekap, Maureen menatapnya penuh selidik.
“Lagi ngapain kamu di sini?” tanya Maureen. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar, membuat Byan bisa melihat lehernya yang jenjang dan putih tampak seksi saat tersinari lampu disko.
“WOY!” Maureen menjentikkan jarinya karena Byan hanya terdiam.
“Apaan sih?!” seru Byan seraya menepis tangan Maureen.
“Emang kamu doang yang bisa datang ke sini? Tanpa kekayaan Anggoro, aku masih bisa membeli semua minuman di sini.” Tantang Byan dengan jumawa.
Maureen hanya terkekeh meledek ucapan Byan.
“Gak usah pamer! Kamu cuma anak ayam yang gak layak terbang menyaingi elang.” Sinis Maureen.
“Elang? Siapa? Kamu?” tanya Byan beruntun sambil menunjuk Maureen.
“Yak.” Maureen bersidekap dengan jumawa. Matanya mengerling angkuh. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa di setiap tempat ia harus bertemu dengan anak tirinya. Dunia yang luas dan bebas mendadak sempit dan tidak menyenangkan.
“Ibu tiri, anda bukan burung elang. Tapi burung gagak. Atau burung flamingo yang hobynya angkat satu kaki.”
“Ak ak ak ak!” ledek Byan mencontohkan suara burung gagak dan flamingo bersamaan dengan mengepakkan tangannya.
“HAHA! Lucu!” sinis Maureen seraya mengerlingkan mata.
Tidak mau berurusan panjang, ia memilih pergi dari tempat ini.
“Silakan lanjutkan atraksinya, burung gagak. AK!!” seru Maureen seraya mengangkat kedua tangannya dengan kesal.
Byan benar-benar mengganggunya.
Ia pergi begitu saja dari hadapan Byan yang menganga kaget melihat tingkah Maureen. Saat tiba di mulut pintu, ia menghubungi seseorang.
“Gue tunggu di café biasa. Lo kelamaan!” ujar Maureen kesal. Setelah itu ia segera naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan tempat ini.
“Sial, mau kemana lagi itu emak tiri?” batin Byan saat melihat Maureen pergi begitu saja. Lagi ia kehilangan jejak.
****
“Kenapa ganti tempat?” tanya seorang wanita yang menghampiri Maureen di sebuah café.
Maureen tidak menjawab. Ia lebih memilih meneguk minumannya hingga tandas. Pertanyaan gadis itu malah membuatnya kesal, karena mengingatkannya pada Byan.
Gadis itupun duduk di samping Maureen. “Lo kok suntuk banget sih Mo?” tanya gadis berpakaian seksi yang bernama Tifani.
“Pusing gue!” dengus Maureen. Ia mengambil sebatang rokok dari dalam tasnya. Tapi saat mencari korek, ternyata tidak ada.
“Brengsek!” ia kesal sendiri dan urung menyalakan rokoknya.
“Dih! Lo kenapa sih? Marah-marah gak jelas gini?” Tifani jadi memandangi Maureen yang sudah ia kenal sejak kuliah semester satu.
Maureen tidak lantas menjawab. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Tifani.
“Wiihhhh siapa ini? Kok cakep bener.” Mata Tifani langsung membulat saat melihat sebuah foto yang di tunjukkan Maureen.
“Anak tiri gue.” Sahut Maureen sekenanya.
“Hah?!” Tifani sampai melempar foto itu karena kaget.
“Beneran anak tiri lo?” ia mengulang pertanyaannya.
Maureen menggangguk pelan dengan wajah serius.
“Bantu gue buat bikin dia ngelakuin kesalahan. Nanti gue kasih apartemen yang waktu itu lo mau.” Tawar Maureen. Ia juga menyodorkan sebuah kotak yang berisi jam tangan mewah koleksinya.
“Waahh lo serius Mo?” mata Tifani langsung berbinar.
“Emang gue pernah bohong?” Maureen balik bertanya. Mata sayunya yang terlihat lelah malah justru terkesan seksi. Di tambah rambut ikalnya yang sedikit berantakan.
“Ya enggak. Cuma gimana cara nyingkirinnya? Gue gak bisa nyingkirin cowok seganteng ini.” Cicit Tifani yang senyum-senyum tidak jelas.
Sejak pertama melihat wajah Byan, jantungnya langsung berdesir. Bukannya ingin menyingkirkannya, Tifani malah justru ingin mendapatkannya.
Melihat minat temannya, Maureen mengeluarkan selembar kertas.
“Cukup buat dia tanda tangan perjanjian ini.” Ujarnya ringan. Ia menyuapkan kentang goreng ke mulutnya dan mengunyahnya dengan santai.
Tifani segera mengambil kertas di hadapannya. Membacanya beberapa saat lalu ia tersenyum.
“Pantesan lo mau ngasih gue apartemen, gilaaaa lo bisa jadi janda miliarder kalau gini caranya.” Seru Tifani yang menatap kagum pada Maureen.
Maureen hanya tersenyum kecil, ia dan Tifani memang sama-sama matre karena ini adalah kebutuhan.
“Bisa gak lo?” tanya Maureen kemudian.
“Akh ini sih gampang. Tapi, gue boleh tidur kan sama dia?” pinta Tifani.
“Terserah lo. Gue gak peduli. Cukup bikin dia tanda tangan di situ, sisanya buat lo.”
“Waaaakkk gampang bangeeett bestie!! Kasih gue waktu sebulan, lo bisa dapetin semuanya. Tapi, kalau gue perlu modal, lo jangan pelit yak.” Tifani begitu antusias.
Maureen tidak menjawab, ia hanya menyodorkan sebuat kartu debit untuk Tifani.
“Passwordnya tanggal lahir lo. Lo pake sepuasnya.” Ucapnya ringan.
“Wow! Dengan senang hati Mo!!!!” Tifani segera mengambil kartu debit itu lalu memeluk Maureen dengan erat.
Maureen hanya tersenyum kecil, ia memang membutuhkan Tifani untuk ini.
Dalam benaknya, setelah Byan tersingkir, tentu ia bisa membalaskan dendamnya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Tia rabbani
dendam apa ya?
2024-07-22
0
Bzaa
makin seru ....
semangat otor 💪😘
2024-01-09
0
Riendu
licik juga ya Maureen...
2023-05-13
1