Pengintaian

Hari ini terlalu melelahkan untuk Maureen. Berhadapan dengan keluarga Anggoro memang selalu cukup menguras tenaganya. Dulu, setiap kali Edwin atau Ruwina merendahkannya, maka Anggoro akan membantunya menghadapi dua orang itu. Tapi sekarang, ia harus melakukannya seorang diri. Ya, seorang diri saja.

Setelah pulang dari kantor, Maureen merasa perlu merelaksasi dirinya. Ia berniat berendam di bathtub-nya. Mengisi bak mandi itu dengan sabun yang lembut hingga berbusa banyak, musik instrumental milik Kenny G menjadi temannya menghabiskan waktu bersama segelas anggur merah.

Ini sangat menenangkan. Bahunya yang seharian ini berusaha tegak akhirnya bisa rileks sebentar. Sambil memainkan busa sabun di tangannya, pikirannya kembali tertaut pada kejadian siang tadi di perusahaan.

“Akh menyebalkan. Padahal aku sudah sangat ingin menyingkirkan mereka. Kenapa kamu nyuruh aku nunggu tiga bulan lagi mas?” gumam Maureen seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran bathtub. Lalu menurunkan tubuhnya sedikit demi sedikit hingga tubuhnya terrendam seluruhnya.

Hanya ada gelembung-gelembung kecil yang bergerak saat Maureen membuang nafasnya. Beberapa saat ia berada di dalam air, sambil menenangkan isi kepalanya yang bergejolak. Banyak bayangan yang berkelebat di pikirannya dan ia coba redam.

Setelah cukup segar, Maureen mengangkat kembali tubuhnya ke permukaan. Ia meraih selembar handuk untuk menutupi tubuhnya. Sisa busa sabun masih berbekas di tubuhnya. Ia beranjak menuju shower dan menyiram sekujur tubuhnya hingga bersih sempurna. Rasanya menyenangkan mandi malam seperti ini.

Setelah ritual mandinya selesai, ia segera berpakaian santai. Hanya mengenakan celana tidur dan kaos atasan bermodel croptoop. Sebuah cardigan ia gunakan untuk menutupi tubuhnya secara utuh. Sementara rambut basahnya masih ia gerai dan dibiarkan kering dengan sendirinya.

Jam tujuh malam, Maureen baru keluar kamar. Seorang pelayan sudah bersiap di depan kamarnya.

“Makan malam sudah siap nyonya.” Ujarnya.

Maureen tidak menimpali, ia berjalan dengan Anggun menuruni anak tangga walaupun hanya memakai pakaian tidurnya.

“Kamu sudah mengambil anggur yang aku minta?” Langkah Maureen terhenti beberapa saat.

“Sudah nyonya.” Sahutnya lagi, membuat Maureen melanjutkan langkahnya.

Menu makan malam sudah tersaji di meja makan. Ada beragam menu yang di masak oleh koki khusus keluarga Anggoro.

Maureen tersenyum kecil karena ternyata menu makan malam kali ini adalah menu favoritnya. Ada Broiled Lobster Tails with Garlic and Chili Butter yang menjadi primadona makan malamnya. Bisa ia perkirakan kalau kalori yang akan ia konsumsi sesuai dengan kebutuhannya dan tidak berlebih.

“Tuangkan anggurku.” Titah Maureen pada pelayannya.

“Baik nyonya.” Layaknya ratu, Maureen di layani dengan sangat baik di rumah ini.

Ia mulai menyantap makanannya dan rasanya sangat gurih. Sesekali ia menyelinginya dengan meminum anggur mahal yang sengaja ia pesan dari luar negeri.

Aahh, citarasa penuh kemewahan benar-benar berpadu sempurna di mulutnya. Mulutnya yang kecil sampai menggembung karena tidak sabar menikmati seluruh daging lobster yang lembut.

“Besok minta koki membuatkanku bebek panggang untuk makan malam.” Titah Maureen di sela makan malamnya.

“Baik nyonya.”

Maureen melanjutkan makannya satu suapan terakhir hingga cangkang lobster itu bersih tanpa sisa. Ia sampai ingin sendawa karena kekenyangan.

“Kalian makanlah menu makanan lainnya dan ingat jangan berisik.” Titah Maureen sebelum ia pergi.

"Terima kasih banyak nyonya."

Maureen memang selalu peduli pada pelayannya sekalipun banyak kalimat titahan yang ia berikan dan tidak bisa di tolak.

Setelah kenyang ia memang hanya akan membawa gelas dan sebotol anggur yang akan ia habiskan sepanjang malam. Seperti itulah malam-malam yang dilewati Maureen dengan penuh kesepian.

Menapaki anak tangga menuju kamarnya, Maureen berhenti melangkah saat ia merasa kalau suara langkahnya terlalu keras.

Tunggu apa ia mulai mabuk?

Tidak, karena saat berhenti melangkah ternyata tetap ada suara langkah yang masuk ke dalam rumah. Maureen menoleh, ia memincingkan matanya saat melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya lengkap dengan sebuah koper besar di sampingnya.

“Selamat malam ibu tiri, apa aku melewatkan makan malam?” tanya Byan dengan senyum sinis yang mengembang.

Maureen balas tersenyum sinis. “Apa kamu tidak punya uang sampai harus meminta makan ke rumah ini?” ujarnya sambil bersandar pada pinggiran tangga berwarna keemasan. Ia meneguk minumannya langsung dari botol dan menaruh gelas di salah satu anak tangga.

“Tidak, aku bukan hanya mau makan malam tapi juga mencari kamar yang bisa aku tempati. Kira-kira kamar mana yang paling nyaman untukku?” tanya Byan dengan santai.

“Kamar? Maksud kamu, kamu mau tinggal di rumah ini?” Maureen sampai melongo.

“Iyaa. Ada masalah?” Byan menghampiri Maureen dan hendak naik ke lantai atas. Ia tahu benar kalau di lantai atas ada dua kamar yang berukuran besar.

“Berhenti! Kamu gak di terima di rumah ini!” Maureen segera merentangkan satu tangannya untuk menghadang langkah Byan sementara satu tangan lainnya tetap memegangi botol anggur miliknya.

“Ibu tiri, rumah ini adalah rumahku. Kamulah yang seharusnya menyingkir.” Ucap Byan.

Tidak hanya itu, “CTAK!” dengan berani Byan menyentil dahi Maureen.

“Awwhh….” Maureen sampai mengaduh karena sakit. Ia mengusap dahinya dan Byan dengan bebas melenggang melewati tangan Maureen yang sudah tidak lagi menjadi portal.

Tunggu, ia sempatkan untuk mengambil anggur di genggaman tangan Maureen lalu meneguknya.

“Hey! Kamu kurang ajar ya! Kamu gak tau siapa saya?!” seru Maureen tidak terima. Ia segera berbalik dan mengejar Byan menaiki anak tangga.

Tapi baru akan tersusul, tiba-tiba saja langkah Byan terhenti hingga Maureen menubruknya dan hampir jatuh terjengkang. Cepat-cepat Byan menarik tangan Maureen yang terulur panjang.

Mereka terdiam bersamaan, saling bertatapan dengan wajah kaget masing-masing. Tapi raut wajah Byan lebih cepat berubah di banding Maureen.

“Jangan mempersulitku, atau aku akan melepaskan tanganmu.” Ancam Byan.

“Kamu berani mengancamku?” tantang Maureen yang gemetar saat sadar anak tangga ini cukup tinggi dan kalau jatuh pasti sangat sakit. Ia tidak bisa membayangkan kalau tulang punggungnya remuk karena terbentur ke lantai.

Tidak langsung menjawab, Byan malah melonggarkan genggaman tangannya hingga Maureen terhenyak karena takut jatuh.

“Byan! Jangan macam-macam! Di rumah ini ada CCTV, aku bisa menuntutmu dengan percobaan tindakan kejahatan.” Maureen balas mengancam.

“Oh ya?” Byan tersenyum kecil, sambil menambah longgar genggaman tangannya.

“Byaaaaann!!!! Iyaaa, kamu boleh tinggal di sini!” seru Maureen yang ketakutan dan putus asa.

“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Byan yang kemudian menarik tangan Maureen mendekat hingga jarak mereka nyaris rapat.

Maureen segera menahan nafasnya agar dadanya tidak bersentuhan dengan perut atletis Byan. Kontrol gerakannya memang bagus tapi ekpresi takutnya tidak bisa ia sembunyikan. Tanpa sengaja mata tajam Byan ikut melihat ke bawah.

“Plak!”

“Jaga matamu!” seru Maureen setelah menampar Byan cukup keras.

“Akh, sial! Apa tanganmu dari terbuat dari cor beton?!” keluh Byan yang kesakitan. Ia mengusap pipinya yang sakit, seperti gigi-giginya akan rontok begitu saja.

Maureen hanya melotot sebal dan berdecik, ia segera pergi dan merebut kembali botol anggurnya dari tangan Byan dan menginjak jempol kaki Byan.

“Akh, Brengsek!” dengus Byan yang kesakitan.

Maureen tidak memperdulikannya. Ia berjalan cepat menuju kamarnya dan “BRAK!!!” pintu kamarnya itu tutup dengan kasar.

Beberapa saat ia bersandar di daun pintu sambil menenangkan dirinya. Ia meneguk anggurnya dengan serakah sambil berusaha membuang bayangan wajah Byan yang seperti melekat dengan wajahnya.

“Anak tiri sialan. Lihat saja, kamu tidak akan bertahan lama di rumah ini.” Gumam Maureen dengan kesal.

Sementara itu Byan hanya terkekeh sambil mengusap pipi dan meringis menahan sakit di jempol kakinya. Kali ini saja ia membiarkan Maureen menyentuh tubuhnya apalagi menamparnya. Kelak, ia akan membalasnya lebih kejam dari ini.

“Tenang-tenanglah di rumah ini, sebelum nanti kamu harus pergi karena terpaksa.” Ancam Byan seraya tersenyum sinis menatap pintu kamar Maureen.

Apapun yang terjadi, akhirnya ia berhasil masuk ke rumah ini dan menempati kamar yang persis berhadapan dengan kamar Maureen.

“Ini kemenangan pertama dan bukan apa-apa di banding kemenangan selanjutnya.” Gumam Byan.

Dengan penuh keyakinan, Byan membuka pintu kamarnya. Aroma lavender langsung menyeruak menyegarkan penciumannya. Ia menaruh kopernya di dekat pintu lantas membaringkan tubuhnya terlentang di atas Kasur. Ia menoleh ke arah jendela yang hanya tertutupi oleh tirai tipis. Kemudian ia termenung.

“Delapan tahun, tapi tidak ada yang berubah dari rumah ini termasuk kesedihan yang ada di setiap sudutnya. Dan wanita itu, berani sekali dia masuk ke rumah ini. Jangan khawatir ibu tiri, mulai hari ini kamu tidak akan tidur dengan nyenyak.” Sumpah Byan di penguhujung tatapnya yang kemudian terpejam.

Ada kesedihan yang tertahan dan coba ia lupakan. Tapi mengingat sosok Maureen, kesedihan itu malah berubah menjadi kemarahan. Maka tidak ada pilihan lain selain membuat wanita itu keluar dari rumah ini. Ia akan membuat Maureen paham kalau tempatnya bukan di sini.

****

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

marah dan jadi mendamba nanti bry😃😉

2024-01-09

0

Riendu

Riendu

liat pemandangan yg indah ya Byan yaaa 😂😂😂

2023-05-13

2

Riendu

Riendu

bossy banget ya si Mauren ini

2023-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!