Kesepakatan

Seorang wanita cantik berjalan melenggang menyusuri lorong menuju ruangan direktur. Ini adalah hari keempat setelah meninggalnya Anggoro dan Maureen memutuskan untuk datang ke kantor. Ia tidak bisa membiarkan perusahaan milik mendiang suaminya tidak terurus. Banyak project yang harus ia perhatikan keberlanjutannya.

“Selamat pagi nyonya.” Sapa seorang laki-laki yang tidak lain adalah Riswan, orang kepercayaan Anggoro.

“Pagi.” Maureen melepas mantelnya dan dengan sigap Riswa mengambil alih.

“Bagaimana kondisi perusahaan tiga hari ini? Apa masih ada anggota direksi yang berisik?” Maureen masuk ke ruangan besar yang dibukakan pintunya oleh Riswan.

Meninggalnya Anggoro membuat banyak sekali spekulasi tentang perusahaan yang sangat mengganggu bagi Maureen. Entah itu bangkrut lah, tidak ada peneruslah, akan di jual lah dan dugaan lain yang sebenarnya tidak perlu. Hal ini berpengaruh pada harga saham perusahaan yang terus turun dalam empat hari ini.

“Mohon maaf nyonya, jajaran direksi sebagian besar masih bersikeras meminta tuan Edwin yang menjabat posisi direktur utama sementara di perusahaan ini.” Ucap Riswan yang tertunduk patuh.

“Hah, mereka memang sangat sulit di buka matanya. Apa mereka lupa kalau mas Edwin pernah beberapa kali melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan penggelapan?”

“Masih untung suami saya tidak mempolisikannya karena melihat adiknya yang memohon agar diberi kesempatan. Sekarang mereka malah mau memberikan perusahaan ini ke tangan mas Edwin. Tidak masuk akal.”

Maureen beranjak menuju meja kerja Anggoro. Nama suaminya masih terpasang di sana. Meja kerjanya penuh dengan dokumen yang bertumpuk. Anggoro memang pergi di saat kondisi perusahaan sedang sangat membutuhkannya.

Maureen membereskan meja sebisanya, lalu duduk di kursi ke besaran itu.

“Minta direksi berkumpul di ruang rapat dalam waktu sepuluh menit ke depan. Aku harus membahas sesuatu.” Titah Maureen seraya menatap tajam pada assistant suaminya. Kalau sudah begini, tentu saja Riswan tidak dapat menolaknya.

“Baik nyonya.” Riswan mengangguk patuh. Ia mundur beberapa langkah sebelum kemudian keluar dari ruangan besar ini hendak mengabari jajaran orang penting di perusahaan.

Sambil menunggu orang-orang berkumpul, Maureen berkeliling ruangan. Ia beranjak dari tempatnya, mengusap lembut meja kerja suaminya.

“Gimana aku ngehadapin para direksi yang terkadang semaunya, mas?” tanya Maureen pada kursi kerja Anggoro.

Ia menatap lekat kursi itu dan berharap laki-laki itu masih berada di tempatnya dan memberikan jawaban.

Meninggalnya Anggoro sudah pasti meninggalkan gejolak manajemen yang tidak biasa. Harga saham sudah mulai turun karena perusahaan besar ini belum memiliki pimpinan yang bisa mereka banggakan. Beberapa pihak ada yang mulai ancang-ancang akan menarik investasinya dari perusahaan ini dan hal itu tentu akan mengguncang kestabilan perusahaan. Jika belum ada pimpinan baru yang di anggap capable, tentu gejolak akan semakin besar.

Jabatan sementara memang dipegang oleh direktur umum namun ia hanya boneka di perusahaan ini dan tidak memiliki kemampuan memimpin seperti halnya suaminya.

“Huh, merepotkan. Padahal saat ini harusnya aku menikmati posisiku sendiri.” Gumam Maureen seraya bersidekap dan memandangi kursi Angoro yang entah akan terisi siapa.

****

Suasana ruang rapat sudah terisi penuh oleh jajaran direksi perusahaan. Mereka saling berbisik membicarakan lancangnya Maureen yang berani memerintah mereka untuk berkumpul.

Di tengah kegaduhan itu, Maureen masuk dan membuat suasana hening seketika. Pandangannya menyapu semua pasang mata yang memperhatikan kedatangannya. Ia duduk di depan, di samping kursi Anggoro. Tempat yang selalu ia tempati saat ia menjadi personal assistant suaminya.

“Bagaimana kabar kalian, apa kalian bisa tidur nyenyak?” tanya Maureen memulai kalimatnya.

Orang-orang itu tidak menimpali, hanya saling berbisik dan membuat Maureen tersenyum sinis.

“Kenapa kalian kukuh memilih seseorang yang sudah diturunkan jabatannya untuk menjabat direktur utama perusahaan ini? Kenapa kalian bertindak begitu sembarangan?” tanya Maureen pada orang-orang yang menatapnya dingin dan penuh selidik.

“Tentu saja karena tuan Edwin adalah adik kandung dari tuan Anggoro, jadi kami pasti memilih beliau.” Ucap salah satu orang yang tersenyum kecut pada Maureen, merendahkan wanita itu.

“Berani sekali seorang personal assistant mempertanyakan keputusan kita.” Bisik laki-laki itu pada kawannya. Kawannya hanya mengangguk setuju sambil ikut tersenyum sinis pada Maureen.

“Wah, anda sangat sembarangan. Apa anda lupa apa yang sudah menjadi kesepakatan hukum di perusahaan ini? Siapa yang seharusnya menjabat direktur sementara saat direktur utama tidak bisa menjalankan fungsinya?” timpal Maureen, menatap laki-laki itu sekilas lalu balas tersenyum sinis.

“Kalian bahkan menunjuk seseorang berdasarkan suka saja tanpa melakukan rapat manajemen terlebih dahulu. Apa kalian mulai merasa kalau perusahaan ini adalah milik kalian pribadi?” lagi Maureen bertanya dengan penuh penekanan.

Mereka kembali saling berbisik. Maureen bisa mendengar beberapa orang setuju dengan ucapannya dan beberapa lainnya tetap mengingkari.

“Anda hanya personal assistant nyonya, kenapa banyak komentar soal pemilihan orang yang memimpin perusahaan? Anda bahkan bukan bagian dari direksi perusahaan ini.” Tantang seorang laki-laki tua berkacamata yang berdiri dan berkacak pinggang juga menunjuk Maureen.

Maureen tersenyum kecil dengan segala ketenangannya.

“Waahhh… rupanya anda lupa kalau saya adalah istri dari mendiang tuan Anggoro. Anda bahkan berfoto dengan kami di hari pernikahan kami. Apa anda lupa, kalau senyum anda hari itu sangat ceria dan meminta bantuan saya untuk mendekatkan anda dengan suami saya?” timpal Maureen yang tertawa kecil di ujung kalimatnya.

Ular yang di tolong memang terkadang malah menggigit orang yang menolongnya.

“Sial!” hanya dengusan kecil yang terdengar oleh Maureen dan membuatnya tertawa.

“Hahahahha… anda jangan lupa, dengan pernikahan empat hari lalu, telah memberi saya hak untuk mengatur perusahaan ini. Termasuk mengatur keputusan anda. Jadi sebaiknya, anda tidak melakukan apapun tanpa dasar yang jelas.” Tegas Maureen, tidak kalah siap dengan jawabannya.

Laki-laki itu hanya berdecik tanpa menimpali. Ia duduk kembali walau perasaannya masih tidak terima karena merasa direndahkan oleh Maureen.

“Jadi bapak dan ibu sekalian, saya berharap, agar bapak ibu sekalian tidak salah membuat keputusan. Ikuti ketentuan yang ada, jangan asal memilih orang.” Ucap Maureen lagi, membalas tatapan setiap pasang mata yang menatapnya tajam.

“Sayangnya saya tidak setuju.” Tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita tua yang menimpali ucapan Maureen.

Adalah Ruwina yang datang bersama Edwin putranya dan tentu saja cucunya yang baru pulang dari luar negeri, Byan.

“Oh mamah, aku pikir mamah gak bisa hadir.” Ucap Maureen yang tersenyum kecil pada ibu mertuanya.

Ia beranjak menghampiri Ruwina tapi wanita tua itu begitu enggan melihat wajah istri muda mendiang anaknya.

“Apa kabar mah?” sapa Maureen saat sudah berada di hadapan Ruwina.

“Bubarkan rapat ini, kita perlu bicara terlebih dahulu.” Ucap wanita yang duduk di kursi roda itu.

“Kenapa? Kalau mamah mau bicara, mamah bisa sampaikan di sini. Lagi pula, mamah kan salah satu pemegang saham di perusahaan ini juga.”

“Saya bilang bubarkan!!!!” seru wanita tua itu dengan mata menyalak.

Edwin yang berdiri di belakang Ruwina hanya tersenyum dalam hati melihat ekspresi Maureen saat Ruwina membentaknya.

Kesal, tapi tidak bisa melakukan apapun.

Dengen isyarat mata, Maureen memberi perintah pada Riswan agar membubarkan rapat ini. Sepertinya rapat yang ia harapkan tidak akan kondusif setelah kedatangan Ruwina.

Di ruang rapat yang besar ini, hanya tersisa Ruwina, Edwin dan Byan juga Maureen. Mereka duduk berhadapan dengan tatapan waspada satu sama lain.

“Kamu mulai lancang Maureen, padahal kamu hanya istri pajangan mendiang putraku.” Ucap bibir kisut bergincu merah yang tersenyum sinis pada Maureen.

“Kamu tidak berhak mengatur apapun karena kamu tidak punya hak. Kamu hanya mantan istri yang seharusnya segera pergi dari rumah besar kami. Tau dirilah sedikit.” Ucapan Ruwina memang selalu menyebalkan dan menyakitkan.

“Wow, aku pikir kita masih dalam suasana berkabung tapi sepertinya mamah sudah baik-baik saja sampai bisa mengatakan kalimat yang mungkin akan menyakiti hati mas Anggoro jika beliau mendengarnya.”

“Apa mamah tidak merasa kehilangan mas Anggoro? Putra mamah biasanya duduk di sebelah sana dan memimpin rapat manajemen.” Maureen menatap sepasang mata bulat yang kelopaknya mulai kendur dengan kantung mata yang terlihat jelas walau di tutupi make up tebal.

“Oh, pasti tidak. Karena saat mas Anggoro sakit saja, mamah gak peduli. Mamah lebih memilih melakukan perjalanan mewah ke luar negeri padahal suamiku sedang terbaring di ruang operasi untuk pemasangan ring jantungnya.”

“DIAM!!!” Ruwina menggebrak meja di hadapannya.

Maureen tidak terhenyak sedikitpun. Ia hanya tersenyum kecil melihat wajah tidak terima Ruwina.

“Ups! Maaf, sepertinya putra tiriku tidak mengetahui hal itu.” Cetus Maureen seraya tersenyum kecil dan melirik Byan yang berdiri tegak di samping Ruwina.

Byan memang tidak tahu perihal masalah itu. Tapi pandangannya terhadap Maureen jauh lebih buruk di banding terhadap paman dan neneknya. Tentu saja ia tidak percaya sepenuhnya pada Maureen.

“Dia terlalu lama di luar negeri sampai tidak tahu bagaimana keadaan ayahnya. Hah, kalian sama saja. Hanya datang di saat kalian menginginkan peninggalan mas Anggoro. Siapa sebenarnya yang tidak tahu diri?” imbuh Maureen seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Ia bersandar santai pada meja rapat.

“Brengsek kamu Maureen. Jangan karena kamu merasa pernah menjadi istri kakakku, kamu berpikir kalau kamu akan mendapatkan semuanya. Mimpi kamu ketinggian!” seru Edwin membungkam mulut Maureen.

“Panggil pengacara Anggoro, kita buat wanita ini pergi sambil mengigit jari.” Imbuhnya memberi perintah pada Riswan.

Riswan hanya mengangguk patuh pada perintah Edwin.

“Iya, panggillah. Aku ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya.” Tantang Maureen dengan tenang.

Melihat Maureen yang bersikap begitu tenang, membuat Byan memperhatikan wanita ini diam-diam. Sosoknya yang cerdas dan frontal memang sangat cocok menjadi wanita yang di pilih Anggoro. Ia bisa membayangkan, banyaknya tipu muslihat yang dilakukan wanita ini pada ayahnya hingga memutuskan menikahi wanita yang usianya kurang dari setengah umurnya.

Gila, mengingat hal ini kebencian Byan semakin besar pada wanita bernama Maureen ini. Sepertinya ia harus berhati-hati menghadapi wanita yang tidak memiliki rasa takut ini.

“Pengacara sudah ada di sini, tuan dan nyonya.” Ucap Riswan yang datang bersama seorang pengacara.

“Masuklah. Kita harus mengakhiri perdebatan bodoh ini.” Timpal Edwin yang duduk di samping Ruwina.

“Selamat pagi, tuan dan nyonya.” Sapa pengacara itu.

“Tidak perlu basa basi. Aku ingin melihat wasiat terakhir kakakku. Segera bacakan.” Ucap Edwin tidak sabar menunggu.

“Tenang lah, jangan bersikap bodoh.” Ruwina berusaha menenangkan putranya.

Maureen hanya tersenyum kecil. Ketara sekali kalau dua orang ini tidak ada bedanya dengan dirinya. Masing-masing sedang memperjuangkan bagiannya.

“Baik tuan dan nyonya, ini adalah surat wasiat tuan Anggoro. Izin saya bacakan.” Ucap laki-laki itu.

“Lanjutkan.” Byan mempersilakan.

Laki-laki itu membacakan semua kata-kata awal dalam wasiat yang di buat Anggoro. Semuanya begitu detail hingga pada bagian pembahasan hartanya.

“Saat tuan Anggoro melamar nyonya Maureen, beliau sudah berjanji akan memberikan sepuluh persen saham perusahaan. Dan sepuluh persen lainnya jika nyonya Maureen bersedia menikah dengan beliau.” Itu butir pertama yang di bacakan pengacara dan membuat Maureen berada di atas angin.

“Kenapa sebesar itu?” protes Edwin tidak terima.

“Mungkin anda bisa bertanya langsung ke pusaranya. Perlu saya antar?” ledek Maureen yang tersenyum kecil.

“Diam!” seru Ruwina tidak terima.

Maureen hanya terkekeh kecil.

“Diamlah, kamu bukan pemenangnya saat ini. Jangan terlalu percaya diri.” Imbuh Byan yang tidak suka mendengar tawa Maureen.

“Baiklah, silakan lanjutkan.” Timpal Maureen seraya menahan senyum.

“Untuk nyonya besar dan tuan Edwin juga tuan muda, tuan besar memberikan masing-masing lima persen saham. Tuan muda dan nyonya muda, memiliki hak pilihan untuk menjadi salah satu anggota direksi namun nyonya besar dan tuan Edwin tidak memiliki hak pengelolaan perusahaan secara pribadi.” Lanjut sang pengacara.

“Apa?! Kamu gila?! Saya ibunya dan ini adik serta anaknya. Bagaimana bisa bagian perempuan itu mendapatkan bagian yang lebih besar dari bagian kami?” kali ini Ruwina yang tidak terima.

“Mohon maaf nyonya, saya hanya membacakan wasiat tuan Anggoro.” Timpal pengacara itu dengan tenang.

Maureen hanya tersenyum di tempatnya. Benar adanya kalau Ruwina dan Edwin hanya menginginkan harta suaminya. Ternyata dua orang ini lebih gila harta dari dirinya.

“Lalu bagaimana dengan pemilihan pucuk pimpinan perusahaan ini?” kali ini Byan yang bersuara.

“Di wasiatnya, tuan Anggoro mempersilakan tuan Byan, tuan Edwin dan nyonya Maureen untuk menunjukkan kemampuannya memimpin perusahaan dan mencari dukungan dari direksi. Sisa saham yang ada tetap milik para pemegang saham sebelumnya.”

“Selain itu, tuan Anggoro menyampaikan bahwa hak saham nyonya Maureen bisa didapatkan sepenuhnya apabila nyonya Maureen tidak menjalin kedekatan dengan laki-laki lain dalam waktu tiga bulan ke depan. Jika nyonya Maureen tidak dapat memenuhinya, maka setengah dari hak istri akan hilang dan akan didonasikan pada kaum yang membutuhkan.”

“Hahahahha… rupanya Anggoro tau kalau kamu hanya wanita penggoda yang tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh. Wanita gatal sepertimu, mana bisa bertahan selama tiga bulan tanpa belaian laki-laki. Hahahaha, benar kan Maureen?” sinis Ruwina dengan tawanya yang menyebalkan.

“Tidak perlu khawatir mah, aku bisa memenuhi permintaan kecil mas Anggoro itu. Jadi, tenanglah. Dan terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku.” Timpal Maureen dengan tenang.

Ia tersenyum simpul pada Ruwina yang menatapnya tajam.

Tiga bulan, tentu bukan waktu yang lama di banding lamanya ia menahan rasa sakit untuk mencapai titik ini.

Dan di benak Byan, tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk bisa menghancurkan ibu tirinya. Ia sudah berjanji dalam hati kalau dalam waktu tiga bulan itu, semua akan berbalik menjadi miliknya dan perempuan di hadapannya akan pergi dengan tangan kosong.

Tiga bulan ke depan, kira-kira apa yang akan terjadi?

*****

Terpopuler

Comments

Tia rabbani

Tia rabbani

perang pun dimulai

2024-07-20

0

Bzaa

Bzaa

buktikan bry kl bisa

2024-01-09

0

Ririn

Ririn

wkjkk

2023-06-07

2

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!