Bantuan sahabat

Kelemahan Maureen yang sudah diketahui oleh Byan, menjadi senjata baru untuk ia agar bisa menjebak ibu tirinya. Mata untuk mata dan tangan untuk tangan. Itu istilah yang saat ini ia gunakan untuk membalas Maureen. Ia sengaja menghampiri Wisnu ke tempat kerjanya untuk mengajaknya membuat rencana dalam penjebakan Maureen.

Di depan sebuah kantor, Byan memarkir mobilnya. Hari sudah cukup sore dan pergerakan orang-orang mulai ramai diluaran. Byan menunggu Wisnu di area reseptionist, dekat sebuah banner yang berdiri dan mempromosikan destinasi wisata yang di kelola oleh perusahaan Wisnu.

Ya, Wisnu memang bekerja di bidang Traveling.

“Bro!” laki-laki itu mengacungkan tangannya dari kejauhan, untuk memanggil Byan.

Byan yang sedang sibuk dengan game-nya pun segera menoleh. Ia berdiri menyambut sahabatnya yang menghampiri.

“Apa kabar lo? Kemana aja gak ada nongkrong?” Wisnu merangkul sahabatnya akrab.

“Gue baru pulang dari Bali, ngecek project pembuatan resort.” Sahut Byan setelah melerai rangkulan sahabatnya.

“Wah, lo beneran nerusin usaha bokap lo? Lo udah gak alergi lagi sama duit tuan Anggoro? Hahaha....” Wisnu meledek sahabatnya.

Ia tahu persis, selama Byan di luar negeri, sahabatnya ini memang selalu menolak pemberian Anggoro. Mungkin karena Byan sangat membenci ayahnya.

“Ngobrol di luar lah, lo udah free kan?” Byan tidak nyaman berbicara di tempat terbuka seperti ini.

“Ayok!” dengan senang hati Wisnu mengikuti. Mereka sama-sama menuju tempat parkir dan masuk ke dalam mobil Byan.

“Masih terawat aja ini mobil antik.” Komentar Wisnu saat sudah terduduk di kursi penumpang.

Byan yang hoby mengoleksi mobil antik ternyata masih menyimpan satu mobilnya yang tidak ia jual saat memutuskan untuk tinggal di luar negeri.

“Masih lah. Mobil ini dibeliin sama nyokap, katanya hadiah ulang tahun gue.” Byan mengusap setirnya yang sedang ia kendalikan untuk keluar dari area parkir dan menuju jalanan yang ramai.

“Lo masih tetep sama, suka barang yang punya nilai sentimentil.” Timpal Wisnu seraya menoleh sahabatnya.

Byan balas menoleh tanpa menimpali kalimat tersebut. Hanya senyuman kecil yang ia tunjukkan.

“Mau ke cafe mana kita?” Wisnu mengalihkan pembicaraan dan melihat sekitarannya untuk mencari cafe.

“Kita gak ke cafe, ke galeri aja.” Timpal Byan dengan santai.

“Galeri? Lo punya galeri?” Wisnu menatap Byan dengan penasaran.

“Kepala gue pusing mikirin perusahaan Anggoro. Galeri itu bisa gue pake sebagai tempat semedi.” Terang Byan. Ia mengambil jalur kiri yang di kenal oleh Wisnu sebagai arah menuju perumahan minimalis.

“Hahahah... kayaknya buat lo mending main warna di banding mainin angka.” Ledek Wisnu.

Byan hanya tersenyum kecut, perkataan Wisnu memang benar, sesungguhnya kepalanya selalu pusing setiap kali melihat barisan angka yang berderet. Apalagi kalau harus mencari selisih. Akh sudahlah, itu membuat ia mual saja.

“Ngomong-ngomong, gue boleh bawa cewek gak ke sana?” tiba-tiba saja pikiran itu muncul di benak Wisnu. Sudah lama ia tidak mendengar desa han perempuan yang ia buat mengejang di atas ranjang.

“Udah gue siapin.” Timpal Byan, yang tersenyum miring.

“Serius?” Wisnu sampai terlonjak. Pengertian sekali sahabatnya. Padahal dulu Byan selalu mengingatkan Wisnu agar tidak bermain-main dengan banyak perempuan karena khawatir ia terkena penyakit aneh-aneh.

Byan hanya tersenyum kecil sambil membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah yang tidak terlalu besar.

“Wuuhuuu!!! Lo emang sahabat terbaik gue. Tau aja gue lama gak olahraga. Ceweknya udah di dalem?” Wisnu begitu exciting. Ia menggosok-gosok kedua tangannya tidak sabar.

“Lo bisa liat sendiri.” Byan turun lebih dulu dan Wisnu segera menyusul. Ia meloncat-loncat kecil seperti anak kecil yang akan pergi ke taman bermain. Bedanya ia berpegangan pada bahu Byan, bukan tangan kokohnya.

“Waaahhh... gokiiilll keren banget bro!” Wisnu dibuat terpesona saat ia masuk ke dalam galeri dan melihat beberapa lukisan yang sudah terpasang di dinding.

Beberapa bagian dinding sengaja di lukis langsung dengan teknik mural art. Mata Wisnu langsung berbinar merasa dimanjakan melihat banyaknya warna yang menghiasi rumah yang di khususkan untuk dijadikan galeri ini.

"Sesekali, bisa lah badan cewek yang lo warnain. Pasti menyenangkan, apalagi kalau udah bercampur dengan keringat. Hahahy!!" Otak Wisnu memang selallu tentang perempuan.

"Sedeng!" komentar Byan sambil terkekeh mendengar ocehan sahabatnya.

“Ceweknya mana? Yang jadi model ini?” eh dia masih ingat.

Wisnu menunjuk sebuah lukisan wanita yang mengenakan pakaian putih dan transparan dengan wajahnya yang sendu dan air mata yang menetes di sudut matanya. Wanita itu memalingkan wajahnya ke kanan tapi kecantikannya masih jelas terlihat.

“Bukan.” Sahut Byan enteng.

Ia duduk di sofa, mengeluarkan amplop yang semula ia terima dari Wisnu.

“Gue pikir itu ceweknya. Mana boobsnya gede banget anjaayy. Kenyal pasti.” Wisnu terkekeh geli sambil berjalan menghampiri Byan.

“Jadi, mana nih?” sudah di depan Byan dan ia masih tidak sabar. Melihat sekeliling galeri tapi tidak ada siapapun selain mereka berdua.

“Duduk.” Dengan isyarat mata, Byan meminta sahabatnya duduk.

“Beuh anak Anggoro, kalau udah nyuruh emang kagak bisa di tolak. Mata lo pengen banget gue totok.” Gerutu Wisnu yang sama terdengar oleh Byan. Tapi Byan tidak ambil peduli, ia sudah biasa mendengar gerutuan orang lan untuknya.

“Perempuannya di sini.” Tunjuk Byan pada amplop yang ada dihadapannya.

“Hah, tu cewek lo geprek sampe bisa masuk ke amplop?” Wisnu mengambil amplop tersebut dan membolak-baliknya. Ia juga melihat ke dalam.

“BAH! Anjay, ini kan amplop dari gue!” matanya langsung melotot saat mengenali isi amplopnya.

“Bagus kalau lo inget.” Byan tersenyum senang.

Ia membuka botol minuman dan menuangkan minuman untuk dirinya dan Wisnu.

“Perempuan itu yang gue sediain buat lo.” Imbuhnya sambil menatap Wisnu dengan meyakinkan.

“Hah, maksud lo gue ajak tidur nyokap tiri lo? Lo sakit anjir!” Wisnu langsung melempar amplop itu ke atas meja.

“Otak lo yang sakit. Liat betina mikirnya langsung maen tidurin aja.” Sahut Byan kesal.

“Ya terus apalagi? Kedekatan laki sama perempuan kan ujung-ujungnya emang tidur bareng.” Wisnu di realistis.

“Itu sih lo doang!”

“Gak gue doang! Semua laki begitu, lo aja yang belum pernah. Rugi lo, batang lo nanti isinya lem semua. Kagak bisa di pake gara-gara kekentelan.” Ledek Wisnu sambil terkekeh.

Byan tidak menimpali, hanya menggelengkan kepalanya dan meneguk minuman di tangannya. Tidak ada gunanya menimpali ucapan jorok Wisnu.

“Cukup bikin dia seolah punya hubungan spesial sama lo dan bikin dia mengakuinya di depan pengacara keluarga gue. Waktu lo tiga bulan.” Tawar Byan, acuh. Ia meneguk minumannya untuk kedua kali.

“Gitu doang?” Wisnu melongo tidak percaya.

“Hem.” Byan mengendikkan bahunya acuh.

“Akh itu sih cetek. Sebulan juga gue bisa bikin dia bucin sama gue dan ngakuin gue gak cuma dengan pengacara lo, tapi depan seluruh dunia. Lo pikir ada perempuan yang bisa nolak pesona gue?” Wisnu mengusap dagunya dengan jumawa.

“Bagus! Gue dukung lo.”

Byan mengacungkan jempolnya semangat. Ia tertawa dalam hati. Ia penasaran melihat bagaimana cara Wisnu membuat ibu tirinya mengakui kalau ia memiliki pasangan. Kalau sudah begitu, ia tinggal membuat menyerahkan hal lainnya pada pamannya, sang pembuat gosip handal untuk menyebarkan kabar bahwa Maureen selingkuh dan akhirnya ibu tirinya akan di coret dari daftar ahli waris.

Byan sudah tersenyum-senyum sendiri membayangkan waktu itu tiba tidak lama lagi.

“Cengar cengir aja lo! Bayaran gue apa kalau berhasil bikin nyokap lo bucin sama gue?” Wisnu menepuk bahu Byan dengan keras.

“Akh anjriitt sakit nyet!” Byan mengaduh kesakitan.

“Hah, cengeng! Badan atletis tapi segitu aja sakit. Buruan, bayaran gue apa?” Wisnu benar-benar tidak sabar.

Byan masih mengusap-usap bahunya yang sakit pegal karena pukulan Wisnu.

“Kalau perempuan itu berhasil lo bikin jatuh cinta sama lo, otomatis semua harta kekayaan Anggoro bakal jatuh ke tangan gue. Setelah itu, lo mau apa aja gue jabanin.” Ungkap Byan dengan penuh percaya diri.

“Bener? Gue pegang nih omongan lo.” Wisnu menunjuk Byan dengan puas.

“Iya! Kapan sih gue pernah bohong?!” ia menepis telunjuk Wisnu yang terarah padanya.

“Okey kalau gitu. Gue bakal ngasih tau lo permintaan gue nanti. Lo siap-siap aja gue bikin bangkrut. Hahahaha....” Wisnu tertawa puas.

Tapi Byan hanya tersenyum kecil sekali lalu meneguk minumannya hingga tandas. Dalam pikirnya, mana mungkin harta kekayaan Anggoro habis hanya karena memenuhi permintaan Wisnu.

*****

Terpopuler

Comments

Ririn

Ririn

yg ada byan bakal jealous liat wisnu mepetin mauren

2023-06-07

2

Ririn

Ririn

wkwkkwk

2023-06-07

1

Riendu

Riendu

astaga obrolannya.... punya temen gesrek gitu untung gak ketularan 😅

2023-05-18

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!