Ikut terjebak

“Waahh vilanya bagus bangeetttt. Padahal belum selesai serratus persen.” Ucap Tifani yang menatap kagum pada bangunan resort milik Byan.

Kondisi resort ini sama persisi dengan foto yang dikirimkan Maureen saat ia sampai bandara pagi tadi.

Tidak sia-sia ia berpura-pura seperti gelandangan seharian ini di daerah pantai dengan membawa koper besar berisi barang-barangnya. Karena akhirnya ia bisa menginap di resot exclusive milik Maureen ini. Apalagi hanya ia dan Byan yang menjadi penghuni resort ini. Susah ia susun apa saja yang akan ia lakukan untuk menggoda Byan nanti malam.

“Malam ini saja aku memperbolehkan kamu tinggal di sini. Besok pagi, kamu cari penginapan sendiri.” Ujar Byan setengah mengancam.

Ekspresi mengancamnya saja sangat tampan menurut Tifani apalagi ekspresi yang lainnya.

“Waahh terima kasih banyak. Sepertinya dikehidupan dulu aku adalah seseorang yang suka menolong orang lain, sampai-sampai sekarang saja ada orang yang begitu baik mau menolongku.” Celoteh Tifani dengan rasa bahagia yang menyeruak

Byan tidak menimpali, ai lebih memilih menemui resepsionist dan meminta satu kunci untuk Tifani.

“Vila nomor tiga.” Ujar Byan saat memberikan kunci.

“Terima kasih Byan.” Tifani menyenggol lengan Byan dengan sengaja. Ia memang berniat menggoda Byan. Dikecupnya kunci vila dengan bangga.

Byan tidak menimpali, ia memilih berjalan lebih dulu menuju vilanya dan membiarkan Tifani kerepotan dengan semua barang-barang bawaannya. Menurutnya pertolongannya sudah cukup pada perempuan asing ini.

Byan masuk lebih dulu sementara Tifani baru sampai di vilanya. Melihat Byan yang begitu acuh, membuat Tifani menggerutu kesal.

“Kalau bukan permintaan Maureen dan bakalan dapet apartemen, males gue ngikuti cowok gak peka model begitu. Untung cakep, masih ada yang bisa diliat.” Gerutu Tifani dari tempatnya. Ia masih melihat bahu Byan yang berada di pintu lalu masuk vilanya begitu saja. Terhalang satu vila antara vila tempatnya dengan tempat Byan.

"Adduhhh tangan gue pegel banget bawa koper seberat ini." Tifani memijat lengannya yang pegal. Cepat-cepat ia membuka pintu vila agar bisa segera beristirahat.

Saat pintu vila terbuka, senyum Tifani langsung mengembang sempurna. Lagi, kondisi di dalam vila benar-benar sesuai dengan foto yang dikirimkan Maureen. Sebelum membereskan barang-barangnya, ia sempatkan untuk mengambil beberapa foto. Bergaya di banyak sudut dan mengirimkannya pada Maureen.

“Mo, asli ini tempat cantik banget. Betah gue di sini.” Tulis Tifani pada foto yang dikirimnya.

Pesannya langsung di baca. “Wih, lagi online dia.” Gumam Tifani.

Tidak perlu menunggu lama, sampai kemudian Maureen membalas, “Lo ke sana buat kerja bukan liburan.” Balas Maureen.

“Dih! Nih janda barbar, galak bener.” Gerutu Tifani kesal.

Untungnya ia sudah mengenal Maureen cukup lama sehingga sudah tidak aneh dengan cara bicaranya yang seperti ini.

“Iyaak malem ini lo dapet tanda tangan mas Byan. Gue kasih bonus cucu yaa Mo, wkwkwkwk... See you Maureen, gue kerja dulu.”

Apalah daya, akhirnya Tifani mengiyakan perintah Maureen. Tujuan kedatangannya memang untuk itu, maka lebih cepat diselesaikan akan semakin lebih baik. Ia tidak sabar menyelesaikan pekerjaannya karena setelah pekerjaannya selesai maka ia juga tidak perlu lagi tinggal di rumah tantenya yang sempit.

Di sebrang sana, Maureen hanya tersenyum kecil. Ia sudah sangat yakin kalau rencananya akan berjalan lancar.

Malam semakin larut membawa Tifani mengetuk pintu vila Byan. Di tangannya ia membawa anggur kualitas terbaik yang tadi siang dibelinya juga cemilan untuk ia nikmati bersama Byan. Ia juga sengaja berpakaian sedikit minim untuk menarik perhatian Byan.

Satu ketukan, pintu tidak dibukakan. Tifani mencoba ketukan kedua, ketiga dan keempat, barulah pintu terbuka. Ia langsung memasang senyum saat melihat Byan yang sepertinya baru bangun tidur. Rambutnya sedikit berantakan.

“Kenapa?” suara laki-laki itu terdengar besar dan serak. Ia mengusap wajahnya kasar untuk mengumpulkan kesadaran.

Tifani langsung menunjukkan botol anggurnya sambil tersenyum menggoda.

“Temenin aku minum. Aku gak bisa tidur.” Ajaknya penuh percaya diri.

“Nggak!” Byan langsung menutup pintu.

“Eh tunggu!” Tifani dengan cepat menahannya dengan memasukkan kakinya ke sela pintu.

“Gue gak lagi pengen minum, jadi mending lo pergi.” Byan berbicara di belakang pintu yang setengah tertutup.

“Ya udah, aku nebeng aja. Aku takut sendirian di vila kosong gini. Tolong yaa, please....” Tifani memohon dengan sungguh.

“Nggak. Ajak aja tuh resepsionis depan.” Byan bersikeras menolak.

“Ya udah terserah. Pokoknya aku gak akan pergi, tetap berdiri di sini sampe kamu bolehin masuk. Hatchu!” Tifani tetap dengan keras kepalanya meski kakinya terjepit.

Byan menggaruk kasar kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Terpaksa ia membuka pintunya karena wanita keras kepala ini pasti tetap berada di depan kamarnya sampai ia memperbolehkan masuk.

“Makasih!” seru Tifani dengan senang hati menerobos masuk. Ia pun melenggang masuk ke vila Byan lalu duduk di sofa.

“Kok pemandangan di sini lebih indah ya?” Tifani pergi ke balkon sementara botol minumannya ia taruh di atas meja.

Byan tidak menimpali. Ia lebih memilih mengambil minum air mineral karena tenggorokannya sangat kering efek AC.

Merasa tidak mendapat timpalan dari Byan, Tifani pun kembali masuk. “Ihhh dingin bangeeett....” ia memeluk tubuhnya sendiri yang bergidik dingin.

“Pinjem gelas ya.” Dengan berani ia mengambil gelas dari tempatnya.

Byan tetap tidak menimpali. Ia duduk di sofa sambil mengecek ponselnya. Sementara Tifani memilih menuangkan minumannya. Dua gelas, satu untuk Byan dan satu untuk dirinya. Dengan sudut matanya ia masih memandangi Byan yang tetap terlihat tampan bahkan saat sedang mengantuk dan menahan menguap hingga hidungnya kempis kembung.

“Gak minum? Ini enak loh. Di kirim temen dari amerika.” Tawar Tifani sambil memainkan gelasnya untuk mengaduk anggur.

“Gak.” Hanya itu sahutan Byan.

“Cobain dikit lah. Masa udah dibawain dan gratis masih gak mau nyicip dikit juga.” Desak Tifani. Kali ini ia menyodorkan gelasnya setengah memaksa ke depan wajah Byan.

Malas menimpali, akhirnya Byan menerima gelas itu. Ia mencium wangi anggur yang memang sangat enak lalu meneguknya sedikit. Ia mulai menikmati minuman itu, meneguknya lagi hingga habis.

Tifani tersenyum puas, senang sekali usahanya berhasil. Tanpa Byan tahu, minuman itu sudah Tifani campur dengan obat tidur. Ia berencana akan meminta Byan menandatangani dokumen yang ia simpan di sela dadanya saat Byan setengah mengantuk.

“Kamu kenapa?” tanya Tifani saat melihat Byan tampak tidak nyaman.

Ia memegangi perutnya dan sesekali seperti ingin sendawa.

“Nih anggur rusak gak sih? Kok gue mual?” tanya Byan yang berusaha menahan mualnya.

“Hah, nggak kok.” Timpal Tifani. Ia memang belum mencobanya karena takut ia juga mengantuk.

“Huwwekk!!” tiba-tiba saja Byan berlari ke kamar mandi dan muntah. Beberapa kali Tifani mendengar Byan berusaha mengeluarkan isi perutnya.

“Byan, kamu muntah?” Tifani segera menyusul Byan ke kamar mandi.

“BRUG!!” tiba-tiba saja Byan menutup pintu kamar mandi di depan wajah Tifani.

“Anjrot, kaget gue.” Dengus Tifani yang terhenyak kaget.

“Kok dia muntah ya?” Tifani penasaran sendiri. Ia segera mengecek obat di dalam sakunya. Obat yang sama yang ia campurkan ke dalam botol minuman.

“Alamaaakkk, gue salah obat. Ini obat bulimia gue. Haduuhhh gimana ini?” Tifani panik sendiri. Ia segera menaruh gelasnya, berjalan mondar-mandir sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menggatal.

“Byaann, kamu gak apa-apa kan?” Tifani segera mengetuk pintu kamar mandi. Tapi tetap saja yang terdengar adalah suara Byan yang muntah-muntah.

“Aduuhhh bahaya inii... mana gue masukinnya banyak lagi.” Tifani benar-benar panik.

“Maureen, ya gue harus ngehubungin Maureen.” Ujarnya dengan gemetar.

"Aduuhhh jangan sampe cowok seganteng itu meninggal gara-gara obat gue." Ia segera menyalakan ponselnya dan berusaha menghubungi Maureen. Tangannya sampai gemetaran.

“Apa lagi?” tanya Maureen di sebrang sana.

Gadis itu baru akan pergi tidur dan telepon Tifani benar-benar mengganggunya.

“Mo, gue salah obat Mo.” Tifani berbicara dengan buru-buru.

“Salah obat apaan?” Maureen mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

“Ini, gue kan mau ngasih obat tidur ke anggur yang lo kasih, tapi gue malah masukin obat bulimia. Nah sekarang Byan yang muntah-muntah. Aduuhh gue mesti gimana, mana obat yang gue masukin banyak lagi. Bisa kekuras isi perut dia.” cerocos Tifani dengan panik.

“Astaga Faaan... lo kok gak hati-hati sih?! Gue kan cuma minta lo supaya Byan tanda tangan surat pernyataan, bukan mau bunuh dia!” seru Tifani dengan kesal. Kantuk Maureen hilang seluruhnya.

“Iyaaakk, gue taauu... makanya gue panikkk. Gimana kalau si bujang lapuk ini meninggoy? Nanti gue di sebut pembunuh lagi. Mooooo, bantuin gue, gue harus gimana?” Tifani sampai menangis karena ketakutan.

“Bego lo emang! Tanggung jawab lo rawat dia.” Seru Maureen yang tidak kalah panik. Berjalan mondar mandir di depan tempat tidurnya sambil menggigiti jarinya sendiri.

“Iyaaa, gue rawat. Tapi lo ke sini yaa... gue kan gak punya duit kalau sampai harus bawa dia ke rumah sakit. Please Mo... ke sini yaaa....” Tifani benar-benar merajuk.

“Astaga....” dengus Maureen sambil mengguyar rambutnya kasar. Bagaimana bisa ia begitu percaya kalau ia bisa mempekerjaan Tifani yang ia kenal ceroboh.

“Mo, lo ke sini kan?” suara Tifani nyaris tidak terdengar karena gemetar ketakutan.

“Bawa dulu dia ke rumah sakit, nanti gue ke sana.” Putus Maureen pada akhirnya.

“Iya Mo... tapi udah ini gue boleh kabur kan? Gue gak mau ditahan gara-gara percobaan pembunuhan.”

“Udah lo diem dulu. Tunggu gue sampe sana, baru lo minggat.”

“I-Iya Mo. Cepetan ya Mo....” ucap Tifani dengan lirih.

Panggilan pun terputus menyisakan perasaan tidak karuan di dada Maureen. Ia berpikir beberapa saat, sampai kemudian ia memutuskan untuk benar-benar menyusul Byan ke Bali.

"Akh, sial lo Tifani!" umpat Maureen.

****

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

wkwkkwkkw

2024-01-09

0

Ririn

Ririn

ahshaaa tifany gemblung

2023-06-07

1

Riendu

Riendu

tuuhhh kan gak berhasil

2023-05-15

1

lihat semua
Episodes
1 Pemakaman
2 Pewaris
3 Perdebatan
4 Ranjang yang dingin
5 Kesepakatan
6 Pengintaian
7 Trick Pertama
8 Gossip Maureen
9 Keluarga Anggoro
10 Perempuan Sewaan
11 Liburan Singkat
12 Jebakan Untuk Byan
13 Ikut terjebak
14 Mengenali musuh
15 Kesan Singkat
16 Kembali pada realita
17 Bantuan sahabat
18 Kejaran kumbang
19 Perhatian pada musuh
20 Dua orang asing
21 Pernyataan Cinta
22 Apa harus berbalik arah?
23 Pemandangan Pagi
24 Keresahan dua laki-laki
25 Pucuk pimpinan
26 Kewaspadaan oma
27 Pencarian
28 Bincang malam
29 Persiapan
30 Anak tiri lucknut
31 Ibu tiri dan anak tiri
32 Tingkah toddler
33 Bujuk Rayu
34 Kegelisahan dua orang
35 Usaha di pagi hari
36 Kecelakaan
37 Kesepahaman
38 Sorotan Ruwina
39 Tantrum di pagi hari
40 Perbincangan dengan teman
41 Mie ayam
42 Brangkas apa group?
43 Kemarahan Maureen
44 Saling memikirkan
45 Panggilan dari sahabat
46 Mengenang
47 Pulau baru
48 Uring-uringan
49 Ketenangan
50 Seperti pesan terakhir
51 Perasaan yang berbeda
52 Kepanikan
53 Berkeliling
54 Video call
55 Night cap
56 Tidak terduga
57 Harusnya tidak terjadi
58 Memilih diam
59 Penegasan
60 Frekuensi yang sama
61 Ke gap!
62 Bertingkah
63 Masalah tidak menyenangkan
64 BIM
65 Saran Om
66 Hari yang kosong
67 Pulang
68 Kecurigaan
69 Jalan toll
70 Mengungkap rahasia
71 Tekad Maureen
72 Rengekan di pagi hari
73 Menemui duka
74 Sakit yang berulang
75 Sakit yang berulang 2
76 Ronda
77 Byan....
78 Tawaran kepada teman
79 Bujukan Oma
80 Pesan dari sahabat
81 Pesan beruntun
82 Pengakuan di masa lalu
83 Pertemuan terakhir
84 Janji Riswan
85 Mengenang sudut pandang
86 Pandai membuat cemas
87 Kebingungan Riswan
88 Kejujuran
89 Menemui yang harus di jaga
90 Menemani di titik terrendah
91 Tali pengikat yang terputus
92 Keisengan pagi hari
93 Waspadanya tuan bucin
94 Muah Muah
95 Apartemen Greenleaves
96 Menunjukkan tekad
97 Kabar tidak menyenangkan
98 Bar -Maureen- Bar
99 Percakapan hati
100 Patahnya kutukan ranjang dingin
101 Demam Finlandia
102 Di tempat masing-masing
103 Bahagianya Maureen
104 Secarik kertas
105 Pamer
106 Menerima
107 Kebersamaan terakhir kalinya
108 Titik balik
109 Melodi di panti
110 Kejutan terbesar
111 Mengikat janji
112 Clossing statement
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pemakaman
2
Pewaris
3
Perdebatan
4
Ranjang yang dingin
5
Kesepakatan
6
Pengintaian
7
Trick Pertama
8
Gossip Maureen
9
Keluarga Anggoro
10
Perempuan Sewaan
11
Liburan Singkat
12
Jebakan Untuk Byan
13
Ikut terjebak
14
Mengenali musuh
15
Kesan Singkat
16
Kembali pada realita
17
Bantuan sahabat
18
Kejaran kumbang
19
Perhatian pada musuh
20
Dua orang asing
21
Pernyataan Cinta
22
Apa harus berbalik arah?
23
Pemandangan Pagi
24
Keresahan dua laki-laki
25
Pucuk pimpinan
26
Kewaspadaan oma
27
Pencarian
28
Bincang malam
29
Persiapan
30
Anak tiri lucknut
31
Ibu tiri dan anak tiri
32
Tingkah toddler
33
Bujuk Rayu
34
Kegelisahan dua orang
35
Usaha di pagi hari
36
Kecelakaan
37
Kesepahaman
38
Sorotan Ruwina
39
Tantrum di pagi hari
40
Perbincangan dengan teman
41
Mie ayam
42
Brangkas apa group?
43
Kemarahan Maureen
44
Saling memikirkan
45
Panggilan dari sahabat
46
Mengenang
47
Pulau baru
48
Uring-uringan
49
Ketenangan
50
Seperti pesan terakhir
51
Perasaan yang berbeda
52
Kepanikan
53
Berkeliling
54
Video call
55
Night cap
56
Tidak terduga
57
Harusnya tidak terjadi
58
Memilih diam
59
Penegasan
60
Frekuensi yang sama
61
Ke gap!
62
Bertingkah
63
Masalah tidak menyenangkan
64
BIM
65
Saran Om
66
Hari yang kosong
67
Pulang
68
Kecurigaan
69
Jalan toll
70
Mengungkap rahasia
71
Tekad Maureen
72
Rengekan di pagi hari
73
Menemui duka
74
Sakit yang berulang
75
Sakit yang berulang 2
76
Ronda
77
Byan....
78
Tawaran kepada teman
79
Bujukan Oma
80
Pesan dari sahabat
81
Pesan beruntun
82
Pengakuan di masa lalu
83
Pertemuan terakhir
84
Janji Riswan
85
Mengenang sudut pandang
86
Pandai membuat cemas
87
Kebingungan Riswan
88
Kejujuran
89
Menemui yang harus di jaga
90
Menemani di titik terrendah
91
Tali pengikat yang terputus
92
Keisengan pagi hari
93
Waspadanya tuan bucin
94
Muah Muah
95
Apartemen Greenleaves
96
Menunjukkan tekad
97
Kabar tidak menyenangkan
98
Bar -Maureen- Bar
99
Percakapan hati
100
Patahnya kutukan ranjang dingin
101
Demam Finlandia
102
Di tempat masing-masing
103
Bahagianya Maureen
104
Secarik kertas
105
Pamer
106
Menerima
107
Kebersamaan terakhir kalinya
108
Titik balik
109
Melodi di panti
110
Kejutan terbesar
111
Mengikat janji
112
Clossing statement

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!