Pagi itu, sudah sekitar sepuluh menit Maureen berdiri di depan pintu kamarnya. Ia memandangi pintu kamar Byan yang masih tertutup rapat dengan perasaan yang gelisah. Di tangannya ia memegang sebuah tiket yang akan ia berikan pada Byan.
Kaki Maureen sudah mulai pegal. Ia berjalan ke sana kemari, mengukur jarak langkahnya lalu kembali ke posisinya yang semula. Sungguh, ia bukan seseorang yang suka menunggu seperti ini. Tapi demi bisa langsung bertemu Byan, ia terpaksa mematung beberapa saat di sana.
Langkahnya langsung terhenti dan segera sikap sempurna saat mendengar suara handle pintu yang berputar. Dengan berbinar-binar, Ia bersiap menyambut Byan keluar dari kamarnya.
Benar saja, tidak sampai satu menit, bayangan Byan yang sudah berpakaian rapi muncul dari balik pintu kamarnya. Maureen segera menyambutnya dengan senyuman. Senyuman yang tidak pernah ia berikan sebelumnya pada siapapun. Deretan giginya yang putih seperti Mutiara, seolah kontras dengan lipstick yang sedikit kemerahan.
“Kenapa?” tanya Byan yang curiga dengan keberadaan Maureen di depan kamarnya. Ibu tirinya seperti tengah benar-benar menunggunya keluar.
Maureen tidak lantas menjawab, ia lebih dulu menyodorkan tiket itu pada Byan.
“Apa ini?” Byan masih merapikan jasnya sebbelum kemudian mengambil tiket itu dari tangan Maureen dan membacanya beberapa saat.
“Tiket ke bali?” Byan menatap Maureen tidak paham.
“Yap, betul!” sahut Maureen dengan penuh semangat.
“Kamu mimpi apa sampai memberiku tiket ke Bali?” Byan tersenyum miring, ia memperhatikan wajah Maureen untuk melihat intrik apa yang sedang disiapkan ibu tirinya.
“Jangan salah sangka dulu, ada yang harus aku jelaskan.” Ucap Maureen, mencoba menghentikan pikiran Byan yang tidak-tidak.
Byan tidak menimpali, ia hanya bersidekap menunggu Maureen menjelaskan maksudnya. Byan ingin melihat, setelah kemarin menghancurkan presentasinya, kali ini trick apa lagi yang akan ibu tirinya lakukan terhadapnya.
“Jadi gini, perusahaan kita sedang mengembangkan sebuah resort di Bali. Kebetulan, setelah meninggalnya papahmu, resort itu gak ada yang megang. Pembangunanya mungkin terbengkalai padahal hanya sekitar dua puluh persen lagi semuanya akan selesai.”
“Nah, maksud aku, aku mau kamu melanjutkan project itu. Sayang kalau gak diselesaikan karena biaya yang dikeluarkan sudah sangat besar. Letaknya juga strategis dan kemungkinan besar akan sangat menarik minat wisatawan.”
“Jadi, kamu ke Bali dan tolong pimpin pembangunan resort itu. Hitung-hitung liburan juga.” Urai Maureen dengan penuh keyakinan.
Byan tidak lantas menimpali. Ia berjalan mendekat pada Maureen, membuat wanita itu langsung waspada dengan mata bulatnya yang membola. Ia sedikit menarik tubuhnya menjauh terutama saat tiba-tiba Byan menyentuh dahinya dengan telapak tangannya secara penuh.
“Pikirmu aku sakit?!” decik Maureen seraya menepuk tangan Byan.
“Dan pikirmu aku akan percaya?” tanya Byan seraya mencondongkan tubuhnya Maureen. Menatap mata yang membola itu dengan lekat sambil tersenyum miring. Jarak keduanya cukup dekat hingga Byan bisa melihat keberadaan tahi lalat di bawah mata kanan Maureen.
“Kenapa harus nggak percaya? Aku benar-benar sedang baik dan menawarkan project ini sepenuh hati. Daripada kamu ngerjain project Edwin yang konsepnya seperti menara pisa kemarin?” Timpal Maureen sambil memalingkan wajahnya. Ia mundur satu langkah ke belakang dan bersidekap dengan menunjukkan ekspresinya yang serius.
“Sejak kapan kamu mempercayaiku? Bukannya kamu sangat yakin kalau aku tidak bisa menjalankan bisnis ini?” Byan tidak percaya secepat itu.
“Ya, aku memang gak percaya kalau memberikan project yang harus dirintis dari nol kayak perumahan elite kemaren. Yang kemaren tuh, izin pembangunan gorong-gorongnya aja belum turun, prosesnya akan sangat panjang dan akan sulit untuk pemula seperti kamu."
"Tapi, kalau project ini tinggal finishing. Lagi pula, project ini dulu dipegang sama mas Edwin sebelum di ambil alih sama papahmu gara-gara mas Edwin menggelapkan dana pengembangan dan perizinan resort.”
“Lagian, masa sih kamu mau berada di bawah telunjuk mas Edwin terus? Berkembang dong! Coba lakukan sesuatu seorang diri, jangan cuma ngedompleng. Kamu bilang kan kamu punya hak di kerajaan bisnis papah kamu, berarti ambil juga kewajiban kamu sebagai penerus. Jangan cuma menuntut hak aja.” Terang Maureen dengan penuh semangat. Ledekan, motivasi dan sindiran, terangkum semua dalam kalimat Maureen saat ini.
“Waw! Orasi yang sangat menarik.” Byan bertepuk tangan kecil.
“Apa sebelumnya kamu pernah menjadi motivator? Sepertinya lidahmu sangat mudah mengatakan hal-hal yang positif dan terdengar manis.” Lagi, Byan berusaha menguji wanita itu. Ia ingin membalasa beberapa ejekan Maureen.
“Hah, susah yaa bicara dengan orang yang tidak mau berkembang. Mau di sebut sebagai pewaris tapi tidak mau melakukan apapun. Lampu aja harus ditekan stop kontaknya biar mau menyala dan kamu, hanya mau menerima hasilnya? Hahaaha… lucu sekali.” Berganti Maureen yang balas meledek Byan.
“Sini tiketnya, mau aku kasih ke pengembang dari luar. Gak ada gunanya mengandalkan seorang pewaris yang hanya mau tahta tanpa usaha.” Maureen mengulurkan tangannya hendak meminta tiket.
“Kamu serius?” Byan masih belum mempercayai Maureen sepenuhnya.
“Sudah aku bilang, sini kembalikan kalau kamu memang tidak percaya.” Maureen bersikukuh meminta tiket itu.
Tapi Byan tidak memberikannya. “Apa yang harus aku siapkan?” tanya Byan kemudian.
“Nah, begitu dong!” sahut Maureen.
“Tunggu di sini.” Titahnya sebelum ia masuk ke dalam kamar dan mengambil sesuatu.
“Pelajari ini.” Maureen memberikan satu bundle dokumen pada Byan.
Tanpa banyak pertimbangan Byan menerimanya. Ia membuka-buka dokumennya sebentar.
“Aku pelajari dulu.” Byan mengangkat dokumen itu pada Maureen.
Maureen hanya mengendikkan bahunya kecil. Ia pura-pura tidak peduli. Setelah Byan menyanggupi, ia turun lebih dulu untuk sarapan.
Tanpa Byan tahu, Maureen tersenyum kecil. Tidak, itu senyuman yang cukup lebar.
“Dia masuk ke perangkap.” Maureen mengirim pesan pada Tifani.
“Maksud lo, gue beneran liburan di bali sama anak tiri lo?” cepat sekali Tifani membalasnya. Wanita itu memang sedang menunggu kabar dari Maureen dan ternyata benar-benar kabar baik yang ia terima.
“Emang kapan gue pernah gagal bujuk seseorang?” tanya Maureen pada Tifani.
“Hahahaha… Mo, lo emang yang terbaik. Janda yahud abad dua puluh dua. Gak ada yang bisa ngalahin liciknya janda miliarder kayak lo.” Entah pujian atau ejekan yang di tulis Tifani, tapi ini cukup membuatnya tersenyum penuh kemenangan.
Setelah ini, Byan harus bersiap masuk ke perangkap yang sudah disiapkan Tifani dan kemenangan bagi Maureen sudah terlihat di depan mata.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Riendu
pake cara yg nggak fair kaya gini kalo kata aku ya licik
dan licik itu jahat
2023-05-15
3
elvi yusfijar
ati2 mo jgn terlalu bersemangat, takutnya mala kamu yg terjebak dalam pesona anak tiri kamu
2023-04-27
1
Bunda dinna
Maureen banyak rencana licik ternyata,,hati2 ntar Maureen yg masuk perangkap Byan dan g bisa lepas
2023-04-27
2