“Bodoh kamu, bodoh!!” seru Edwin pada seorang wanita yang menjadi sekretarisnya. Wanita itu baru kembali setelah mencopy materi presentasi sebanyak seratus eksemplar. Tangannya masih kebas karena mengcopy materi yang begitu banyak, padahal tidak terpakai.
Maureen hanya mengerjainya saja..
“Buat apa semua copyan project ini hah, buat apa?!!” Edwin melempar dokumen yang dicetak itu ke wajah Melda.
“Mohon maaf tuan, tadi bu Maureen yang meminta saya mengcopy semua materi karena katanya perlu untuk dibagikan kepada peserta rapat.” Sahut wanita itu dengan takut-takut. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Edwin.
“Terus kenapa kamu ngasih hak akses database projet saya ke perempuan itu? Kenapa?!” Edwin masih tidak habis pikir.
“Maaf tuan, bu Maureen bilang kalau beliau harus melihat dulu materi presentasinya karena dia akan memberikan masukkan.” Jawabnya lagi.
Edwin hanya menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa ia memiliki sekretaris sebodoh ini.
"Terus kamu percaya?!"
Melda hanya terdiam.
“Kamu benar-benar bodoh Melda. Kamu tidak mengenali Maureen padahal kamu tau persis seperti apa Maureen."
"Keluar kamu, KELUAR!!!” dengan telujuknya yang lurus, Edwin menunjuk pintu keluar. Ia sudah enggan melihat wajah sekretarisnya yang panik dan ketakutan.
Wanita itu pergi dengan segera sambil menahan tangisnya. Ia tidak menyangka, karena menuruti perintah Maureen kali ini ia malah dimarahi bosnya. Padahal biasanya Maureen sangat membantu banyak pekerjaannya yang terkadang tidak terhandle.
“Brengsek! Wanita itu benar-benar brengsek!” seru Edwin yang tidak terima dirinya dipermalukan Maureen di hadapan banyak orang.
“Berani sekali Wanita itu mengacaukan usaha kita untuk menarik simpati manajemen. Ular itu memang sudah tidak bisa dibiarkan lagi! Mau di taruh dimana muka kita sekarang.” ucap Edwin seraya mengusap wajahnya kasar lalu berkacak pinggang.
Matanya melotot marah mengingat apa yang terjadi di ruang rapat tadi.
“Gimana bisa om gagal mengatur sekretaris om sendiri dan malah lebih menurut pada wanita itu?” tanya Byan yang duduk di sofa tunggu ruangan Edwin sambil mencengkram erat bola tenis yang ada di tangannya.
Ia sedang berusaha mengalihkan kemarahannya pada bola itu. Harus ia akui kalau taktik Maureen cukup cerdas untuk menjatuhkan ia dan Edwin.
“Dia pasti mengancam sekretaris om. Gak mungkin dia nurut gitu aja sama si Maureen itu kalau nggak di ancam.”
“Brengsek! Emang dasar sekretaris gak berguna!” seru Edwin yang masih kesal.
“ARGH!!!” ia juga menedang meja kerjanya karena kemarahan yang memuncak.
Byan membiarkan saja Edwin dengan kemarahan yang menggunung di dadanya. Biar marahnya reda dengan sendirinya sementara ia memikirkan apa yang dilakukan Maureen tadi.
Ia masih mengingat senyuman tipis yang ditunjukkan ibu tirinya sesaat sebelum wanita itu keluar dari ruangan rapat sambil melambaikan tangan.
“Semangat.” Ujarnya dengan senyum meledek pada Byan. Bibirnya yang berlipstick merah itu terlihat begitu manis tapi nyatanya beracun.
Kalau saja ruangan ini bukan terbuat dari kaca rasanya ia ingin melempar bola ini untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi sayangnya, ia hanya bisa memegang bola tenis ini dengan erat.
“Bagaimana bisa wanita itu masuk ke perusahaan ini dan menempati posisi yang penting?” tanya Byan di sela kekesalannya.
Edwin yang sedang marahpun menoleh pada keponakannya. Ia jadi mengingat bagaimana asal mula Maureen begitu dekat dengan Anggoro.
“Jangan pernah terpesona dengan penampilannya dan kecerdasannya.” Edwin sudah mengultimatum lebih dulu.
“Perempuan itu sebelumnya hanya mahasiswi magang. Dia memang pintar dan belajar dengan cepat di perusahaan ini. Sebelum lulus, HRD kita udah nawarin dia pekerjaan di perusahaan kita dan tentu saja wanita itu mau karena peluangnya sangat besar.”
Edwin menghembuskan nafasnya kasar mengingat bagaimana gemilangnya prestasi Maureen saat magang. Ia bahkan dengan cerdas membuat strategi pemasaran yang menarik bagi manajemen dan membanggakan bagi Anggoro.
“Beberapa bulan bekerja di sini, dia udah ditawarin sebagai personal assistant papah kamu. Anggoro sangat menyukai wanita itu karena bisa sangat mudah diajari. Banyak hal yang om bahkan gak tau tapi wanita itu tau.”
“Coba kamu bayangkan, kalau papah kamu perjalanan dinas keluar kota, perempuan itu yang dikasih mandat untuk memberikan perintah. Gila memang Anggoro. Dia lebih percaya sama seorang personal assistant di banding om atau jajaran manajemen lainnya.”
“Dia takut banget om ngambil sedikit keuntungan dari perusahaannya yang besar ini.” Edwin masih mengingat bagaimana dulu ia di turunkan posisinya dari wakil direktur karena Maureen melaporkan adanya kecurangan yang dilakukannya.
Ia benar-benar dipermalukan oleh seorang personal assistant dihadapan Anggoro dan jajaran manajemen dengan data akurat dan rinci tentang penyimpangan yang ia lakukan.
“Dan kamu tau, saat papah kamu sakit, dia sok-sokan ngurusin papah kamu. Dia bikin ruang perawatan di rumah. Dia mengisolir papah kamu dari orang-orang yang papah kamu kenal dengan alasan papah kamu perlu pemulihan.”
“Hampir sekitar enam bulan dia yang mengatur perusahaan. Membuat project ini dan itu sesuai kehendaknya dia. Tentu saja perempuan itu semakin besar kepala saat beberapa project nya berhasil, makanya sampai sekarang dia sangat berani melakukan banyak hal di perusahaan ini.”
Edwin masih dengan dendam kesumatnya pada Maureen.
“Dua bulan sebelum papah kamu meninggal, tiba-tiba om dan nenek kamu mendengar kabar kalau papah kamu melamar wanita itu. Dia sok-sokan nolak papah kamu sampai papah kamu memohon dan berjanji akan memberikan sepuluh persen saham kalau wanita itu mau nerima pinangannya.”
“Jelaslah om dan nenek kamu gak setuju. Tapi Anggoro terlalu keras kepala. Dia tetap menikahi wanita itu dan memberikan mahar berupa sebuah project pembangunan pulau. Dia juga memasukkan wanita itu dalam daftar waris yang menjadi wasiatnya.”
“Gila, om yakin perempuan itu menghasut papah kamu sampai memberikan semuanya.” Tandas Edwin dengan nafas yang terengah karena terus berbicara dengan nada tinggi.
“Apa kamu tau, rumah utama pun rencananya akan diberikan sama perempuan itu. Papah kamu benar-benar sudah tidak waras.” Tutup Edwin seraya duduk di samping Byan.
Tenaganya terkuras habis hanya karena menceritakan siapa Maureen dan bagaimana Maureen mencapai semua yang ia inginkan hingga menguasai Anggoro dan perusahaannya.
“Apa rencana kamu sekarang? Kamu gak akan diam aja kan?” Edwin menatap Byan dengan tajam. Ia perlu dukungan dari keponakannya.
Byan tidak lantas menjawab, ia menaruh bola tenis di atas meja, dengan hati-hati agar tidak jatuh. Ia beranjak dari tempatnya dan memandangi kota Jakarta yang terik dari jendela ruangan yang besar.
Semua tentang Maureen sudah dia ketahui termasuk masalah latar belakangnya. Ia juga sudah mulai melakukan pengintaian apa kebiasaan yang dilakukan wanita itu sejak hingga malam hari. Tentu saja ia hanya perlu memikirkan rencana agar wanita itu segera pergi dari keluarganya. Ia tidak bisa membiarkan tahta keluarga Anggoro jatuh ke tangan Maureen yang licik dan penuh siasat.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Ririn
edwin bodoh dan licik pantes gak pernah berhasill
2023-06-07
2
Ririn
karna itu edwin dendam sm maureen.. hehwew
2023-06-07
1
Ririn
mantaappp
2023-06-07
1