19

Dua hari setelah tetua yang mendatangi Richard pergi, diadakan rapat dadakan tanpa sepengetahuan Richard sebagai raja. Pria itu menghadiri rapat tanpa mengetahui sama sekali agenda untuk rapat kali ini. Bahkan tangan kanannya pun, tak tahu menahu soal ini. Richard menebak kalau ini ada kaitannya dengan ancaman terakhir yang diberikan oleh bedeb*h tua itu sebelum dia pergi.

"Terima kasih sudah berkenan hadir, yang mulia!" kata seorang tetua berdiri dari duduknya. "Maaf Karana kami terpaksa membuka rapat darurat tanpa sepengetahuan anda," katanya lagi sembari membungkuk singkat.

"Lakukan saja semau kalian," kata Richard membalas acuh. "Apa perlu aku turun dari sini agar kalian bisa mengambil keputusan tanpa persetujuanku?"

"Kami tak mungkin meminta hal yang melewati batas seperti itu, yang mulia!" ucap mereka semua terlihat sedikit panik.

"Santai ..., aku hanya bercanda," balas Richard seraya tersenyum tipis, tapi tetap dengan ekspresi dingin yang terlihat siap menerkam siapa saja yang memulai keributan nantinya.

"Ekhem, kami akan mulai rapat kali ini, yang mulia." tetua itu pun mengangguk agar kawannya yang lain yang menyampaikan ucapan selanjutnya.

"Kami meminta dua hal pada anda, tuanku!" kata tetua yang kedua.

"Tolong pulangkan gadis manusia yang berkeliaran di kastil anda dengan segera," ucap tetua yang lain meneruskan.

"Lalu, pilihlah satu gadis untuk menempati posisi ratu dan mengurus pekerjaannya, agar anda tak terlalu sibuk mengerjakan semuanya, yang mulia!" pungkas tetua terakhir seraya tersenyum lebar. Dan yakin kalau cucu perempuannya lah yang akan terpilih, karena hanya Joanne yang bisa dengan bebas memanggil raja mereka tanpa peduli gelar atau apa pun.

Richard memukul pegangan kursi kebesarannya, tentu saja timbul kerusakan yang tak sedikit di sana. "Gadis yang kalian maksudkan itu adalah penolongku! Dia tamu yang aku undang sendiri dan kalian tak perlu mengurus tentangnya sama sekali?!" mata berwarna keemasan milik Richard berkilat karena marah. Kenapa semua tetua ini selalu ikut campur apa yang menjadi urusannya. Apa mereka tak bisa duduk tenang dan hanya mengerjakan apa yang memang merupakan tugas mereka.

"Tapi, yang mulia–"

Richard mengangkat tangannya, menghentikan tetua yang hendak protes barusan untuk bicara. "Kalian hanya ingin ratu, bukan?" potong pria itu dengan wajah serius. Para tetua yang hadir mengiyakan dengan wajah bahagia. Mereka berpikir kalau permohonan mereka pasti akan segera dipenuhi. Kalau memang dikabulkan, mereka tak akan lagi peduli pada gadis manusia yang tinggal tepat di sebelah kamar raja mereka itu.

"Baiklah, tunggu sebentar." Richard menghilang setelah mengatakan hal tersebut.

Para tetua mulai ribut. Mereka bergegas memberi selamat pada tetua yang paling tinggi pangkatnya dari mereka. Sudah jelas kalau cucu dari tetua itulah yang akan dipilih oleh raja mereka sebagai ratu, dia merupakan kandidat yang memiliki persentase besar untuk duduk di posisi itu.

"Maaf membuat kalian menunggu, inilah ratu kalian! Kalian harus menyapanya dengan ramah karena kesayanganku ini mudah terkejut?!" hening sesaat, mereka menatap gadis yang masih memakai piyama dan salam keadaan setengah sadar karena masih tertidur. Mereka tahu siapa orang yang saja mereka bawa, itu adalah gadis manusia yang seharusnya disingkirkan dari dunia mereka. Kenapa malah anak itu yang dipilih sebagai satu.

"Kalau ingin menyapa lakukan lain kali saja, sepertinya cintaku masih mengantuk," ucap pria itu sinting.

Rosa yang setengah sadar dan mungkin ngelindur, malah mengeratkan pegangannya di leher Richard. Gadis itu menggosok-gosokkan kepalanya ke dada Richard, dia lalu tersenyum hingga deretan giginya terlihat. "Biarkan aku tidur lebih lama, yank," gumam Rosa yang masih setia memejamkan mata.

Richard mendengus geli, dalam tidur pun gadis ini masih menolong dirinya untuk keluar dari situasi membosankan yang selalu dia alami. Entah mimpi apa yang sedang Rosa alami hingga dia melindur dan berbicara dalam tidurnya, tapi yang jelas itu memberikan Richard keuntungan.

"Rapat diundur, kita akan bicara di lain waktu. Aku harus menidurkan kembali ratuku yang cantik ini!" Richard kembali menghilang. Hening sesaat sebelum ruangan tersebut diisi dengan pekikan tak percaya dari mereka semua.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!