Rosa yang bosan mengatakan kalau dia ingin ke dapur dan membuat sesuatu, keempat pelayan yang ditempatkan di sisinya berpikir sejenak sebelum mengiyakan permintaan tamu raja mereka itu. Sesampainya di dapur, Rosa meminta maaf telah mengganggu waktu orang-orang yang ada di sana. Dia juga mengatakan untuk tidak mempedulikan dirinya dan terus melanjutkan apa yang mereka kerjakan sebelumnya.
Dua orang remaja mendekati Rosa, berkata kalau mereka akan membantu gadis itu. Rosa memperhatikan gigi mereka, dia tak melihat kalau keduanya memiliki taring yang panjang dan tajam. Lalu kedua anak itu pun mengaku kalau mereka adalah manusia, sama seperti rosa.
Terkejut dengan hal itu, Rosa bertanya apa Richard menculik keduanya juga. Lalu jawaban yang didapatkannya malah membuatnya tertawa canggung, apa dia harus bangga dengan fakta bahwa dia manusia pertama yang diculik oleh raja gila nan tampan tersebut.
Asik memasak makanan yang diinginkannya, Rosa tak sadar kalau sepasang mata berwarna emas sedang mengamatinya dari ambang pintu. "Apa yang kamu lakukan di sini?" suara itu menginterupsi kegiatan Rosa.
Rosa mendengus melihat tampang Richard yang angkuh seperti biasa. "Manusia kalau di dapur, ya tentu saja untuk memasak, bodoh!"
Mereka semua yang ada di sana mulai ketakutan, pasti raja mereka akan memarahi dan menghukum mereka semua karena mulut lancang gadis manusia di depan mereka ini. Hanya keempat pelayan yang selalu bersama dengan Rosa yang terlihat tenang.
"Kalau itu aku juga tahu," ucap Richard sembari melangkah mendekati Rosa.
"Terus kenapa nanya kalau udah tahu?"
Richard mengangkat bahunya acuh sebagai balasan. "Apa yang kamu masak?" tanyanya kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku pengen makan cemilan, jadi aku buat aja kue kering. Untungnya banyak bahan di sini," jelas gadis itu seraya tersenyum senang.
Ini yang Richard suka, sedetik lalu gadis itu merengut kesal dan di detik berikutnya dia sudah bisa tersenyum bahagia. Ekspresi wajah yang dimiliki gadis di depannya ini terlalu menarik untuk dilewatkan.
"Kamu mau nyoba?" tangan Rosa terulur berniat menyuapkan makanan kepada Richard.
"Ah, aku lupa kamu bukan manusia," katanya kemudian seraya menarik kembali uluran tangannya.
Richard menahan pergelangan tangan Rosa, menggigit sedikit kue yang diberikan gadis itu. "Tak buruk," tukasnya merespon. "Apa?" tanyanya saat melihat Rosa menatapnya dengan tatapan polos tanpa berkedip.
Rosa menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. "Bagus kalau kamu suka, kita bisa makan bersama sambil minum teh kalau kamu mau!" melihat semangat dan keceriaan gadis itu, Richard hanya bisa mengangguk mengiyakan. Yah, dia tak perlu meminum yang namanya teh kan, dia bisa minum minuman yang dia sukai sebagai pendamping.
"Aku kira bangsa kalian gak bisa makan makanan manusia," gumam Rosa pada dirinya sendiri.
"Kami belajar, itu berguna untuk berbaur di dunia manusia," balas Richard pelan.
"Oh, apa kamu gak sibuk?" tanya gadis itu menatap Richard. "Menurut mereka, kamu sangat si– eh, kemana semuanya?" Rosa memasang tampang bingung setelah menyadari kalau hanya ada mereka berdua di sini.
"Mereka pergi, tak usah dipedulikan," ucap Richard santai.
"Aku pasti mengganggu, kan?" tukas Rosa menundukkan wajahnya.
"Mereka yang tak ingin menjadi pengganggu,"
Benar apa yang Richard katakan, Julien mengajak mereka semua pergi karena merasa raja mereka dan Rosa asyik berdua. Jadi lebih baik mereka meninggalkan keduanya,.itu juga hal baik bagi pelayan dapur yang syok berkali-kali karena baru pertama kali melihat tuan mereka bertingkah seperti itu.
"Tapi mereka tak mengganggu sama sekali, kok," ucap Rosa menimpali dengan cepat.
"Jangan dipikirkan, buat saja yang kamu mau," tukas Richard tak peduli pada bawahannya.
Rosa kembali membuat berbagai makanan ringan yang dia bisa. Dia memasukkan semuanya ke dalam wadah yang diberikan oleh Richard padanya. Entah dari mana asalnya semua benda itu, Rosa tak menanyakan lebih lanjut tentang hal tersebut.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keseharian Rosa disibukkan dengan berbagai hal, meski ada kalanya dia bertanya kapan dirinya diperbolehkan pulang kembali ke dunianya, tapi gadis itu sudah sangat jarang bertanya akhir-akhir ini. Mungkin dia mulai lelah bertanya dan mendapatkan jawaban yang sama setiap waktunya atau dirinya susah terbiasa tinggal di sini bersama dengan keempat dayang yang selalu menemani aktivitas yang dia lakukan.
"Bagaimana Richard menurut kalian?" tanya Rosa memulai pembicaraan di kala dirinya sedikit bosan.
"Raja yang baik tapi menyeramkan kalau sedang marah," tukas Monika membalas.
"Wajah yang tampan tapi sulit didekati karena raja sangat dingin," timpal Rita yang sepertinya terpesona pada wajah tuannya. Yah, banyak juga wanita yang mengalami hal yang sama seperti dirinya.
"Beliau tak pernah mengubah keputusannya yang sudah beliau buat," ucap Julien membuat wajah serius.
"Beliau melindungi kami yang lemah ini dari para bangsawan yang semena-mena," ucap Mai seraya tersenyum tipis.
"Intinya si gila itu baik, tampan, perhatian pada orang-orangnya, dan keras kepala akan apa yang dia putuskan!" Rosa berpikir sesaat dengan serius, sebelum dia melanjutkan ucapannya. "Apa aku melamar jadi pelayan saja, ya di sini?" gumam gadis itu.
"Selamat mencoba, nona!" tukas Mai memberi semangat.
"Saya berharap, saya bisa melihat bagaimana ekspresi tuan kami saat anda menyampaikan niat anda barusan, nona!" bisik Julien lirih.
"Berapa kalian dibayar?" tanya Rosa ingin tahu.
"Kami bekerja di sini sebagai bentuk terima kasih. Jadi kami tak mengharapkan imbalan berupa materi," balas Monika jujur.
"Tapi tuan mengurus keluarga kami dengan baik. Memberikan pendidikan pada adik-adik kami dan menjaga agar mereka tak ditindas oleh pihak lain yang memiliki kekuasaan," lanjut Rita.
"Heh, andai pemimpin di tempatku sedikit saja meniru penculik gila itu, pasti duniaku akan damai tanpa ada kejahatan," dengus Rosa mengingat para pemimpin di tempatnya malah sibuk mengenyangkan kepuasan mereka masing-masing tanpa peduli pada rakyat kecil sama sekali.
"Haruskah aku melakukan apa yang kamu inginkan?" tanya sebuah suara yang amat dikenali Rosa menyela.
"Sejak kapan kamu di sana?" wajah Rosa berkerut masam, dia kesal karena Richard menguping apa yang mereka bicarakan barusan.
"Baru saja," balas Richard sembari memberi isyarat agar Mai dan yang lainnya segera pergi dari sana.
Rosa menatap tak percaya, kata-kata pria ini sedikit banyak tak bisa dipercaya. Terlebih tentang konsep waktu mereka yang berbeda. "Sejak kamu bertanya aku raja yang seperti apa?!"
Nah, kan. Firasat gadis itu benar, baru saja yang Richard maksudkan adalah dari awal percakapan mereka dimulai.
"Ngapain nguping? Seneng, ya dipuji sama mereka?!" dengus gadis itu membuang muka.
"Aku ke sini untuk melihat kamu!" tatapan mata hangat jelas tergambar, tapi Rosa menepis semua karena dia sadar kalau dia hanyalah seorang tahanan yang berstatus penyelamat untuk Richard.
"Candaannya gak lucu!"
"Aku serius!" Richard mengelus ujung rambut Rosa dengan hati-hati, menatap lekat mata gadis di depannya, mengatakan kalau apa yang dia katakan bukanlah suatu kebohongan.
Rosa terdiam, dia sedikit lemah di bawah tatapan hangat serta curahan kasih yang Richard berikan padanya. Gadis itu memutar otaknya untuk bisa keluar dari situasi yang sangat canggung baginya ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Tini 123
suka ceritanya
2023-05-23
0
Binti Rofikoh
bagus tor, terus nyimak
2023-05-08
1