10

Jack kembali ke kafe tempat Rosa bekerja karena ingin mendekati gadis itu secara perlahan lalu memanfaatkan keberadaannya untuk memancing amarah Richard. Permusuhan yang panjang ini harus diakhiri di generasinya, dan kebetulan dia menemukan faktor yang bisa menjadi kunci untuk mengalahkan Richard yang selalu angkuh dan sok tampan itu.

Sayangnya imajinasi dan semua rencana Jack harus dikubur bahkan sebelum mulai dijalankan. Rosa tak ada di sana, tak ada juga yang mengingat keberadaan gadis itu. Siapa lagi yang bisa melakukan itu selain vampir berkulit pucat yang selalu membuat dirinya kesal setiap saat.

Jack yang kesal pun pergi dari sana sambil memaki Richard tanpa ada habisnya. Dia malah semakin bersemangat untuk mendapatkan gadis manusia yang membuat Richard bergerak padahal dirinya hanya menemui gadis itu sekali saja sebelum Rosa menghilang. Dia pasti akan berusaha membuat gadis itu berada di pihaknya dan mematahkan hati Richard lalu membunuh pria itu saat dia jatuh dalam keputusasaan yang mendalam.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Sebulan berlalu, Rosa mulai bosan dengan kegiatan sehari-harinya yang dia lewati dengan monoton. Gadis itu lebih banyak melamun sambil menatap langit yang terus menampakkan kegelapan. Tak ada sinar mentari yang bisa mencapai kastil megah ini. Semua sinar matahari itu seolah terhalang oleh sesuatu dan tak bisa terlihat dari sana.

"Apa yang akan anda lakukan hari ini, nona?" tanya Mai.

"Entahlah," jawab Rosa lemah tanpa semangat. "Apa aku bisa bertemu dengan penculik gila itu?" tanyanya kemudian.

"Tuan sangat sibuk, tapi beliau pasti akan mengunjungi anda saat beliau memiliki waktu luang," balas Monika sopan.

"Aku ingin pulang saja. Aku mau bekerja, mengantarkan pesanan ke pelanggan dan melihat senyum puas mereka,"

"Bukankah bersantai seperti ini lebih menyenangkan, nona?" celetuk Julien menyela. "Anda bisa memakan apa saja yang anda inginkan, anda bisa mendapatkan yang anda mau hanya dengan satu kata, tak perlu bekerja, dan tak harus bersusah payah,"

Rosa mendengus mendengarnya. "Menyenangkan?" gumam gadis itu kesal. "Yang ada membosankan bagiku!" lanjutnya.

"Tolong sedikit bersabar hingga tuan memberi anda izin untuk kembali ke tempat anda, nona," giliran Rita yang membujuk Rosa sekarang.

"Masalahnya raja penculik yang gila itu tak bisa diprediksi jalan pikirannya!" dengus Rosa. Setiap mereka bertemu, selalu saja muncul perdebatan. Memang sedikit menjengkelkan, tapi Rosa mulai terbiasa karena Richard juga tak bersikap kasar kepadanya.

"Beliau memang terbiasa memutuskan semuanya sendiri dan bersikap semaunya sejak dulu," bisik Mai berharap dengan mengatakan itu Rosa bisa sedikit memahami tuan mereka.

"Dasar tiran!" desis Rosa cemberut.

"Tapi tuan tak akan menutup mata kalau ada orang jahat yang mengancam orang-orang yang berada di bawah beliau," sahut Rita memuji tuannya.

"Dia sedikit baik rupanya,"

"Saya senang bisa berlindung di bawah kepemimpinan tuan sebagai raja kami!" ucap Monika kemudian.

"Meski dingin, tapi beliau tak menindas kami yang orang rendahan ini," tambah Julien dengan sungguh-sungguh.

"Aku juga tahu kalau dia baik, hanya saja dia terlalu keras kepala menurutku!"

"Kami merasa nona juga keras kepala," celetuk Rita segera menutup mulutnya yang berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu. "Maaf, nona. Saya sudah bersikap lancang!" katanya dengan wajah menunduk, dia khawatir kalau Rosa akan marah dan dirinya dihukum oleh tuannya.

"Tak apa, kamu bukan orang pertama yang bilang kalau aku tuh keras kepala," timpal Rosa dengan santainya.

Senyum terbit di bibir Rita, dia merasa beruntung bisa lepas dari masalah yang dia gali sendiri. "Maaf sekali lagi, nona. Dan terima kasih sudah berlapang dada memaafkan kesalahan saya kali ini!"

"Bagaimana kalau kita bermain di rumah kaca, nona?" ucap Julien mengalihkan topik.

"Aku bosan ke sana terus," ucap Rosa cemberut. Tak ada lagi tempat yang bisa dia urus, semua baru saja dia tanam jadi tak ada lagi yang bisa dia lakukan sebelum semua bibit yang dia tanam bertunas. "Apa tak ada hal lain yang bisa kulakukan?" tanya gadis itu tanpa menatap keempat pelayan yang ditugaskan untuk selalu berada di sisinya setiap waktu.

"Lakukan apa saja yang anda inginkan, nona," tukas Mai mengingat perkataan tuannya kalau Rosa bisa berbuat apa saja yang gadis itu inginkan.

"Asal anda tak melewati batas yang diberikan oleh tuan," timpal Rita mengingatkan soal larangan tuannya pada Rosa.

"Haruskah saya mendandani anda untuk mengisi kebosanan?" tanya Rita yang bertugas merias Rosa.

"Saya yang akan memilihkan gaun untuk anda!" timpal Monika setelahnya.

"Yang ada aku akan makin kelelahan karena kalian akan menganggap aku seperti boneka," balas Rosa malas.

"Bagaimana kalau kita mengatur ulang taman di rumah kaca saja, nona?" usul Julien.

"Aku ingin ke dapur saja. Bisa, kah?"

Keempatnya menimbang apa mereka harus mengiyakan atau menolak permintaan nona yang menjadi tamu tuannya itu. Beberapa saat kemudian, keempatnya mengangguk kompak. Merasa kalau tak akan ada masalah yang terjadi selama mereka tak melewati lorong utama. Dan kebetulan yang menguntungkan, dapur berada di arah yang berlawanan dengan lorong tersebut.

"Kami akan mengantarkan anda, nona!" kata Monika sopan.

"Silakan ikuti kami," timpal Julien melangkah di depan. Rosa diapit oleh dua pelayan di depan dan dua pelayan sisanya di belakang. Dia dijaga dengan ketat agar tak ada masalah yang tak diinginkan timbul. Gadis manusia itu terlihat sedikit bersemangat setelah permintaannya dipenuhi. Senyum tak lepas dari bibirnya, sungguh menambah kecantikan alami yang dirinya miliki.

"Tolong tunggu sebentar, biar saya memberitahu mereka dulu," kata Julien segera masuk setelahnya. Dia berbicara beberapa saat di dalam sana. Setelahnya dia keluar lagi dan mempersilakan Rosa untuk masuk ke dalam.

"Ini Nona Rosa, tamu tuan kita. Beliau sedikit bosan dan ingin menghabiskan waktu di dapur. Tolong beri ruang untuk beliau!"

ucap Julien yang biasa keluar-masuk dapur untuk mengambilkan makanan Rosa.

"Lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku tak akan mengganggu. Dan biarkan aku membuat sesuatu untuk diriku sendiri," tukas Rosa tak enak hati sudah mengganggu waktu sibuk orang-orang yang berada di dapur. Meski dia tahu kalau ini tempat tinggal vampir, tapi pasti ada alasan kenapa dapur yang biasanya merupakan tempat manusia membuat makanan ada di sini kan.

"Kami akan membantu," ucap dua orang remaja tanggung mendekati Rosa. Gadis itu mengamati gigi mereka, dia tak melihat ada taring panjang di sana.

"Kami manusia sama seperti anda, nona," tukas salah satu dari mereka membuat Rosa terkejut.

"Ya, apa baj*ngan gila itu menculik orang lain selain aku?" bisiknya pada Julien.

"Tuan tak pernah menculik mereka. Anda yang pertama, nona!"

Rosa tertawa canggung mendengar jawaban dari Julien, apa dia harus merasa bangga karena hal itu. Entahlah, tapi sepertinya tak akan ada masalah kalau dia diizinkan bermain seperti ini bersama mereka untuk menghabiskan waktu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!