7

Sebenarnya Richard tak pergi jauh. Pemuda itu hanya menghilang dan berubah menjadi kelelawar yang mengikuti Rosa dari belakang. Firasatnya tak pernah salah dan dia tak ingin menurunkan kewaspadaannya meski dia sedang bermain sekarang. Tapi menurut Richard, mengikuti Rosa sangat menyenangkan. Pikiran gadis itu begitu tercetak di wajahnya. Kalau dia senang dia akan tertawa, kalau dia sedih dia menangis, dan ekspresi lainnya yang sangat menghibur untuk dilihat.

Terlebih saat Rosa mengira kalau Richard seorang pesulap dan akan bertanya saat mereka bertemu lagi. Gadis itu mencoba berbicara dengan santai pada dirinya sendiri, tapi wajahnya tak bisa berbohong kalau dia sedang memikirkan hal yang bukan-bukan dan aneh. "Dasar pria tak waras!" gerutu gadis itu memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. "Dana ku yang lebih gila karena menanggapi ucapannya!" ketusnya kesal pada dirinya sendiri.

Selesai mandi, Rosa beranjak ke dapur. Gadis itu memilih membuat cemilan untuk menemani waktu santainya sambil menonton televisi. Karena kelelahan setelah bekerja seharian, Rosa tertidur begitu saja di depan televisinya yang masih menyala. Richard muncul dari ketiadaan dalam waktu singkat, berdiri tak jauh dari Rosa yang tengah terlelap. Satu jentikan jari membawa Rosa berpindah ke tempat tidur, Richard bahkan membereskan area ruang santai yang sangat kecil itu dengan kekuatannya setelahnya.

"Dasar ceroboh," gumam pemuda itu menatap gadis yang tertidur nyenyak tanpa sadar akan kehadiran Richard sama sekali.

"Dan aku lebih bodoh karena terus datang ke mari." senyum tipis terbit kala pemuda berbeda ras itu mengakui kebodohan dirinya sendiri. Tapi siapa yang peduli, dia hanya ingin melakukan apa yang menurut kata hatinya menarik untuk dilakukan. Yah, mungkin karena sudah lama hidup di dunia yang penuh dengan orang-orang membosankan. Membuat pria itu merasa tertarik dengan Rosa yang terlihat rapuh tapi juga sangat berani di saat yang bersamaan.

Sebelum pagi menjelang, Richard sudah pergi dari sini Rosa. Dia tak ingin merusak paginya yang indah dengan omelan sayang dari gadis itu. Meski dia tak keberatan kalau memang itu terjadi, mungkin harinya bisa menjadi lebih ramai karena hal tersebut.

Rosa menggeliat kecil, berbalik menatap ke arah jendela. Dahinya berkerut tipis seakan menyadari ada yang salah tapi dia tak tahu pasti itu apa. Rosa menampik pemikirannya, dia pun segera bangkit dan memulai paginya yang baru. Pekerjaan telah banyak menanti.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Kafe tempat Rosa bekerja paruh waktu begitu ramai, padahal jam makan siang masih lama baru tiba. Entah apa yang membuat mereka kebanjiran pelanggan, tapi pekerjaan mereka semua menjadi dua kali lebih banyak dari biasanya.

Karena terlalu terburu-buru, Rosa hampir saja terjatuh saat mengantarkan pesanan pelanggan. Dia sudah pasrah, mau dimarahi atau dipecat pun tak masalah. Kesalahan memang ada di pihaknya. Namun, Dewi Fortuna sepertinya masih melindungi Rosa di bawah sayapnya. Seorang pelanggan yang kebetulan duduk di dekat tempat Rosa akan jatuh berbaik hati menangkap gadis itu. "Anda tak apa?" katanya bertanya dengan suara berat.

"Huh?" Rosa linglung sejenak. "Oh, saya tak apa. Terima kasih!" katanya sedikit risih karena tangan pria yang menolongnya masih melingkar di pinggang Rosa.

Pria itu membantu Rosa berdiri dengan benar, dia tersenyum tipis setelahnya. "Maaf, saya reflek bertindak begitu melihat anda akan terjatuh,"

Rosa menatap lurus mata berwarna merah pekat yang seakan bisa menghisap segala yang ditatapnya. "Tak apa, saya berterima kasih sekali lagi atas pertolongan anda." senyum tipis terukir, Rosa harus bersikap baik pada penolongnya meski dia merasa risih.

"Aku Jack, lain kali lebih berhati-hati, nona!" pria tadi mengulurkan tangannya, ingin mengajak Rosa berkenalan.

"Rosa," balas gadis itu berjabat tangan dengan singkat. "Saya permisi bekerja lagi, tuan,"

"Panggil saja Jack, nona," tukas Jack mengulum senyum aneh. Rosa hanya mengangguk dan segera kembali bekerja. Dia bersyukur tak jadi mendapat masalah, tapi entah mengapa dia memiliki firasat yang tak enak saat ini.

"Mungkin ini efek dari kejadian barusan," gumam Rosa berpikir kalau dia memiliki firasat buruk karena dia hampir kena masalah tadi dan bukan karena hal lainnya.

Yang tak Rosa tahu, sepasang mata berwarna merah pekat itu terus menatap ke arahnya. Semua gerak-gerik Rosa diikuti oleh pemilik mata tersebut. Bahkan senyum aneh yang sejak tadi tercipta di bibirnya, masih terus bertahan sampai sekarang. "Ada bau vampir busuk itu padanya," gumam Jack menyeringai keji, seolah mendapatkan mainan baru yang bisa membuatnya tak bosan mencari masalah pada penguasa kegelapan yang merupakan musuh bebuyutan bangsanya.

"Kita akan bertemu lagi secepatnya, manusia!" Jack pergi begitu saja meninggalkan beberapa lembar uang. Dia menempatkan beberapa anak buahnya untuk terus mengintai Rosa. Jadilah gadis itu diikuti oleh dua penguasa dari ras yang berbeda tanpa dia ketahui.

Richard yang sudah menyelesaikan urusannya di dunianya, kembali bermain ke dunia manusia. Pemuda itu menunggu di depan kafe tempat Rosa bekerja hari ini. Dia tak perlu mendengar laporan dari anak buahnya untuk mengetahui di mana keberadaan gadis yang menarik perhatiannya itu.

Richard menggiling giginya begitu melihat Rosa mendekat. Baru saja gadis itu ingin protes dan bertanya mengapa pria menyebalkan itu datang ke tempat kerjanya, dia sudah dibawa pergi dengan cepat dan berpindah tempat dalam hitungan detik.

"Apa itu tadi? Apa jenis sulap juga?" kata Rosa menatap takjub kepada Richard.

Bukannya menjawab, Richard malah mencengkram erat lengan gadis itu. "Siapa yang kamu temui hari ini?" mata keemasan milik Richard menyala dalam gelap, amarah menguasai jiwanya dalam sekejap.

"Aku tak bertemu siapa pun! Dan kalau memang ada yang aku temui, apa hak-mu untuk menanyai aku seperti sekarang ini?!" Rosa melawan, berniat melepaskan diri dari cengkraman Richard yang lumayan menyakitinya. "Lepas! Ini sakit, tahu?!"

Richard tak juga berniat melepas cengkraman tangannya. Dia bahkan menatap Rosa dengan tatapan menuntut. "Baj*ngan mana yang meninggalkan bau an*ing kampung seperti ini?"

"Aku tak paham dengan yang kamu katakan. Aku hanya bertemu dengan pelanggan hari ini, sumpah," tukas Rosa jujur.

Tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi, Richard pun memutuskan untuk membawa Rosa ke kastilnya sebagai tamu.

"Ini di mana lagi?" tanya Rosa mengelus lengannya yang memerah akibat cengkraman Richard. "Aku ingin pulang, tolong antarkan aku," tukas gadis itu memelas.

"Mulai saat ini, ini menjadi rumahmu! Tak ada pekerjaan, tak ada dunia luar yang berbahaya. Kamu bisa bermain dan melakukan apa saja di sini sesuka hatimu, tapi jangan pernah ke luar dari kamar ini tanpa diriku!" setelah mengatakan itu Richard berlalu pergi. Rosa melongo tak percaya, apa dia diculik oleh orang yang sudah dia tolong. Sungguh takdir yang gila kalau memang benar itu yang terjadi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!