Richard lagi dan lagi selalu datang di waktu yang tepat. Pria itu sudah menolong Rosa saat kejadian dengan Luis. Ditambah sekarang, saat Rosa hampir saja dipukul oleh Joanne dengan sekuat tenaga, Richard juga datang dan menghalangi hal buruk itu terjadi. Pria itu bahkan mendesak Joanne untuk meminta maaf. Malas memperpanjang masalah, Rosa malah minta diantarkan kembali ke kamarnya agar Joanne tak perlu meminta maaf padanya. Dia berharap dengan melakukan itu Joanne bisa melupakan masalah ini dan tak lagi menggangu dirinya.
Sayangnya yang Rosa tak ketahui, kemarahan Joanne semakin menumpuk. Wanita itu merasa kalau Rosa sedang memamerkan bahwa Richard selalu mengutamakan apa yang dia inginkan dari pada hal lainnya. Bahkan saat mereka sedang berbicara seperti barusan, Richard langsung pergi saat Rosa yang memintanya. Bukankah itu artinya Rosa sedang pamer kalau dia bisa meminta Richard melakukan apa pun dan Richard akan melakukannya dengan suka rela.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Kamu gak balik?" tanya Rosa saat dia melihat Richard malah duduk santai di kamarnya.
"Ke mana?" tanya Richard. "Kerjaan aku udah kelar, gak ada dapat, gak ada juga pertemuan apa pun," lanjut pria itu tenang.
"Ke wanita tadi?" gumam Rosa menatap ke lain arah. Takut kalau dia salah bicara.
"Buat apa?
Rosa memutar bola matanya, lelah melihat sikap masa bodoh pria penguasa itu. "Yang aku tahu dia itu anak bangsawan terpandang dan katanya sangat penting, ya kan. Calon ratu juga, itu poin ke duanya. Jadi harusnya kamu balik ke sana dan bicara lagi sama dia," jelas Rosa dengan singkat.
"Dia bukan calon ratu dan belum ada calon sama sekali untuk posisi tersebut. Hanya orang-orang bodoh itu saja yang seenaknya menyimpulkan sesuka hati mereka," decih Richard. Dia tahu dari dulu apa yang ada di kepala para tetua, tapi dia diam saja karena malas menanggapi. Rupanya kini hal itu semakin menjengkelkan kalau didengar.
Rosa mengangguk paham. "Oke, dia bukan calon ratu. Tapi dia masih memiliki kedudukan yang penting, kan?" tanya gadis itu menatap Richard. "Bagiamana kalau dia mengadu pada ayahnya? Aku gak mau kamu dapat masalah karena udah ikut campur barusan,
"Kamu khawatir?" tanya Richard dengan raut wajah senang entah karena apa.
"Tentu! Sesama teman wajar untuk khawatir, bodoh!" tukas gadis itu berapi-api.
"Kamu yang bodoh!" umpat Richard melirik kesal. "Siapa yang bisa memberi masalah pada Raka, ha?" tanya pemuda itu dengan wajah menjengkelkan yang minta ditonjok.
"Kalau beberapa orang yang kesal membelot, bagaimana?" ucap Rosa yang sebenarnya berharap hal itu tak terjadi.
"Kamu terlalu banyak membaca cerita, nona. Di dunia kami tak ada hal seperti itu. Kalau pun ada, mereka sama saja sudah tak ingin hidup lagi karena berani melakukan tindakan bodoh seperti melawan raja!" kata Richard santai. Kalau pun hal tersebut terjadi, dia pasti bisa mengatasinya Karana hanya dia satu-satunya yang memiliki hak untuk memerintah di sini.
"Oh, sepertinya lebih damai di sini dari pada di duniaku, ya?" gumam Rosa berpikir dalam.
"Tentu! Saat aku dinobatkan sebagai raja, mereka semua telah bersumpah setia. Bagi Siapa yang melanggar sumpah yang mereka buat, kutukan paling menakutkan akan menancap di jantung mereka. Jadi, siapa yang akan berani memulai sebuah pemberontakan kalau begitu?" kata Richard menjelaskan.
Rosa menggaruk pipinya, ragu untuk mengatakan apa yang ingin dia ucapkan. "Apa masih ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Richard seolah paham dengan kelakukan Rosa. "Katakan saja, akan aku dengarkan!" lanjut pemuda itu menaruh seluruh perhatiannya pada Rosa.
"Apa kekuasaan itu mutlak?" tanya Rosa yang dibalas dengan senyum pongah dari Richard. Dari situ saja Rosa bisa tahu apa yang akan Richard katakan.
"Meski ada kandidat lain yang bisa menggantikan posisi itu?" ucap Rosa hati-hati.
"Ah, tentang pria yang waktu itu?" ucap Richard menangkap maksud pembicaraan Rosa. "Jangan khawatir, tak ada yang bisa mengusik kedudukanku. Bahkan jika muncul seribu vampir seperti Luis, itu tak akan membuat perubahan sama sekali.
"Kalau sudah selesai, tidurlah. Kamu terlihat lelah," tukas Richard memperhatikan wajah Rosa yang terlihat lelah.
"Ini karena aku sudah lama tak mandi sinar mentari, tahu!" tukas gadis itu membantah, tapi tetap saja menuruti saran Richard yang menyuruhnya beristirahat.
Richard mengangguk paham. "Kalau begitu, mari main ke duniamu besok!" ucap pemuda itu.
"Sungguh? Kita bisa melakukannya?" tanya Rosa yang terlihat kegirangan.
"Tentu saja, tapi kamu harus selalu di sampingku!" balas Richard memberi syarat.
"Akan aku lakukan!" timpal Rosa dengan cepat. "Belikan aku beberapa kue manis, ya! Permen juga! Pokoknya belikan aku makanan enak selama kita di sana!" ucap Rosa tak sabar.
"Ya," balas Richard secara singkat. Tapi Rosa tahu kalau pria itu tak akan pernah mengingkari apa yang sudah dia janjikan.
"Aku tak sabar menunggu hari esok tiba!" ucap Rosa sebelum dia jatuh tertidur sembari tersenyum senang.
"Laporkan terus apa yang terjadi! Dan segera beri tahu aku kalau ada masalah seperti hari ini. Kapan pun dan secepat yang kalian bisa!" ucap Richard memberi titah sambil terus menatap wajah damai Rosa yang sedang tertidur.
"Baik, yang mulia!" kata keempat pelayan yang ditempatkan di sisi Rosa.
"Kalian berjagalah bergantian, aku yang akan mengurus bocah nakal itu!" Richard kembali menghilang setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Keempat pelayan yang ditempatkan di sisi Rosa saling menatap, kemudian mereka semua mengangguk kompak. Mata mereka tertuju pada Rosa, gadis manusia yang sedang tertidur lelap tanpa kenal takut. Sepertinya angin dari arah yang berlawanan akan terus bertiup mulai dari sekarang. Dan yang membawa perubahan tersebut adalah gadis manusia yang terlihat lemah di depan mereka ini.
"Tak buruk juga memiliki nyonya rumah seorang manusia," tukas Mai tersenyum simpul.
"Selain tak sombong, dia juga baik hati!" tukas Monika menimpali.
"Ceria dan ramah pada semuanya. Walau sifat tak kenal takutnya sedikit mengkhawatirkan, sebenarnya," kata Julien menambahkan.
"Aku suka siapa saja, asalkan bukan penyihir yang tadi kita temui!" bisik Rita merujuk pada Joanne. Belum jadi ratu pun gayanya sudah semena-mena. Kalau sudah jadi ratu, bisa-bisa mereka disuruh ini-itu seenaknya.
"Tolong berjaga duluan, aku harus mencari baju yang cocok untuk nona besok," tukas Monika yang ingat dengan rencana tuannya dan juga Rosa besok.
"Aku juga akan menyiapkan beberapa makanan yang bisa dinikmati nona selama dia berkeliling!" tukas Julien langsung menghilang dan teleport di dapur. Tinggallah dua dari mereka yang mengawasi tidur Rosa. Gadis itu tak tahu kalau para pelayannya sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya dia perlukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments