16

Begitu bangun, Rosa menarik langkahnya untuk segera mandi. Monika sudah siap dengan satu setel baju di tangannya. Rita pun bersiap dengan riasan sedang yang akan diaplikasikan ke wajah Rosa. Tak seperti di awal, Rosa menolak semuanya. Kini dia sudah terbiasa dirias dan dibantu berpakaian, meski tak semuanya mereka yang mengerjakan.

"Apa anda ingin mengubah riasan wajah anda, nona?" tanya Rita ingin tahu.

"Tidak, aku suka ini. Sangat cantik, terima kasih," tukas Rosa tersenyum ceria. Dia selalu berterima kasih untuk apa pun yang diberikan pada dirinya bahkan kalau itu memang sudah menjadi tugas yang harus pelayanannya lakukan, tetap saja Rosa mengucapkan kata itu sebagai bentuk menghargai kerja keras mereka.

"Sudah tugas saya, nona," katanya membalas sambil tersenyum senang. Yah, mau itu vampir atau manusia, mungkin semua ras sama saja. Tetap ingin dihargai dan diberi pujian saat mereka melakukan sesuatu dengan baik.

"Kami harap anda bersenang-senang bersama tuan," ucap mereka berempat melepas kepergian Rosa dengan senyum bahagia.

"Sudah siap?" tanya Richard yang berdiri di ambang pintu.

"Tak bisakah kamu mengetuk pintu dulu? Aku kaget, tahu!" omel gadis itu berkacak pinggang.

Richard mengangkat bahu santai. "Sudah kulakukan, bukan salahku kalau kamu gak dengar," katanya membalas.

"Tetap saja aku kaget,"

"Biasakan saja!" tukas Richard kemudian. "Ayo, kita pergi sekarang,"

Keduanya menghilang dari sana. Tak sampai sedetik, Rosa bisa merasakan sensasi hangat yang menyentuh kulitnya. Ah, ini dia perasaan segar saat mendapatkan sinar matahari yang cukup. Rosa menghirup rakus udara di sekitarnya.

"Mau ke mana dulu?" bisik Richard yang setia berdiri di sisi Rosa, tak peduli kalau mereka ditatap oleh beberapa pasang mata yang penasaran dengan apa yang mereka tengah lakukan.

"Makan," balas Rosa membuka matanya. Sadar akan sekitar, gadis itu langsung menarik Richard meninggalkan tempat mereka barusan berdiri.

"Kenapa gak bilang kalau banyak yang ngeliatin kita?" bisik Rosa pelan.

"Mereka baru juga lewat barusan, lagian itu bukan urusan kita kalau mereka menatap ke arah sini!"

"Memalukan, aku udah hampir sama dengan orang udik yang baru datang ke kota," gerutu Rosa mengumpat pada dirinya sendiri.

"Lupakan, mari pergi mencari tempat makan yang enak," tukas Richard ikut berbisik pelan.

Yang mereka tidak tahu, sepasang mata berwarna merah menatap keduanya dari kejauhan. Seringai terkembang begitu saja saat melihat keduanya, seakan hal itu memang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. "Aku menemukan mu, gadis manusia!" kekehnya langsung melompat dari atas gedung tempatnya tadi berada. Pemilik mata itu pun mengikuti Richard dan Rosa kemana pun mereka pergi. Menunggu kesempatan untuk bertemu dengan gadis yang sudah dicarinya sejak lama.

"Ada apa?" tanya Rosa saat melihat Richard yang nampak gelisah meski tertutup oleh wajahnya yang datar. Mata pria itu selalu melirik ke kiri dan kanan,seolah sedang mencari sesuatu yang menggangu di sekitar mereka.

"Aku mencium bau yang sangat menyengat dan memuakkan!"

Rosa menelengkan kepalanya tak paham, dia ikut mengendus udara di sekitar beberapa kali. "Aku tak mencium apa pun kecuali bau makanan," bisik Rosa berkata jujur.

Richard menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang teramat tipis. "Makan saja, jangan pedulikan aku. Aku akan mencari dengan lebih teliti nanti,"

Rosa mengangguk, lalu lanjut menikmati makanan yang dibelikan Richard untuk dirinya.

Di sisi lain, pemilik mata merah tadi menyeringai melihat kepekaan musuhnya yang tak berkurang. Permainan kali ini pasti akan lebih menyenangkan karena dia bisa membuat musuhnya kesal dan mungkin saja tak berdaya nantinya.

Seperti terakhir kali mereka bertemu, si muka pucat itu berakhir mengenaskan dan nyaris mati kalau seandainya dia tak menemukan celah untuk kabur. Katakan saja mereka pengecut yang mengeroyok satu orang dengan jumlah yang banyak. Tak peduli berapa yang dia butuhkan, yang terpenting itu adalah kemenangan mutlak.

"Harusnya aku membawa lebih banyak pasukan agar dia tak bisa lari," gumam pria itu terus mengintai Richard dengan tatapan licik.

"Sepertinya kita harus berjalan sedikit agar bisa menemukan pemilik bau ini, Rosa," tukas Richard saat Rosa telah selesai menghabiskan makanannya.

"Belum ketemu juga?" tanya Rosa ikut menengok ke kiri dan kanan. Richard menggeleng sekali sebagai jawaban. "Mari kita melihat pemandangan saja, jam segini jarang ada orang yang piknik karena pada sibuk kerja," usul gadis itu, berharap kalau Richard bisa mengetahui siapa yang mengikuti mereka.

Richard dan Rosa meninggalkan rumah makan tadi dan segera pergi ke taman yang luas. Di sana mereka mencari spot yang sepi, keduanya berhenti di tengah-tengah pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Sinar matahari bahkan sampai tertutup saking tingginya pohon-pohon yang tumbuh di sini.

"Keluarlah! Aku tahu kamu masih mengikuti kami!" bisik Richard mengedarkan pandangannya.

"Suara kamu terlalu kecil, bodoh!" tukas Rosa menyela.

"Hoi, yang katanya bau menyengat dan tak enak bikin muak! Bisa tolong tunjukkan dirimu, tidak? Kami ingin bersantai tanpa dimata-matai, tolong?!" seru Rosa dengan suara lebih nyaring. "Harusnya kamu ngomong sekeras itu!" katanya menatap Richard dengan tatapan bangga.

Richard tahu di sini sepi, tapi mungkin saja ada satu atau dua manusia yang datang dan mendengar teriakan barusan. Makanya dia memilih tak berteriak. Tapi, ya sudahlah karena Rosa sudah terlanjut berbicara keras seperti tadi. Tak masalah kalau ada yang mendengar, dia hanya perlu menyuruh salah satu anak buahnya untuk ke sini dan memanipulasi ingatan mereka.

Sebuah tawa keras menggema, pria bertubuh besar dan kekar ke luar dari persembunyiannya. "Sungguh menghibur melihat kalian berdua," katanya sambil tertawa keras.

"Anj*ng kampung!!!" desis Richard menatap penuh permusuhan. "Rupanya kamu masih berkeliaran dan mengibaskan ekormu ke mana-mana, ya?!" ejek pria itu dengan wajah datar.

"Aku suka alam, tak seperti dirimu yang selalu bersembunyi di tempat lusuh dan membosankan sepanjang waktu!" balas orang yang mengikuti mereka.

"Jadi dia yang kamu maksud?" tanya Rosa menatap Richard. Richard mengangguk sebagai tanggapan. "Oi, em ..., Jack, kan kalau tak salah?" panggil Rosa sambil mengingat orang yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Senang mengetahui anda mengingat nama saya, nona cantik," balas Jack sambil mengedipkan sebelah matanya sekaligus menebar senyum penuh pesona agar Rosa luluh padanya.

"Dih, siapa yang inget dia," gerutu Rosa merasa pria itu terlalu aneh.

Richard berdiri di depan Rosa, berniat menutupi gadis di belakangnya agar tak terlihat oleh musuhnya itu. "Apa yang kamu inginkan? Apa kita akan berkelahi seperti yang terakhir kali?"

Ucapan Richard membuat Rosa paham kalau luka-luka yang dulu Richard dapatkan mungkin karena pria di depannya ini.

Jack mengangkat kedua tangannya tinggi. "Aku datang dengan damai hanya untuk melihat gadisku!" katanya melemparkan cium jauh untuk Rosa. Richard menggeram kesal melihat tingkah musuhnya itu. Lebih baik mereka langsung adu jotos dari pada pihak sana melakukan hal menjengkelkan yang tak perlu di lakukan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!