Rosa menyelinap pergi dari pengawasan keempat dayangnya saat mereka sedang bermain di rumah kaca. Gadis itu hanya ingin berkeliling ke sekitar lalu kembali setelahnya. Memang itu niatnya semula, tapi nyatanya dia malah lupa jalan mana yang harus dia pilih untuk kembali. Rosa memutuskan untuk terus berjalan, hingga dia sampai di depan pohon besar yang sudah tak berdaun lagi.
"Besar sekali," katanya menengadah, menatap seberapa tinggi pohon yang ada di depannya ini. Kalau pohon ini masih hidup dan berdaun, pasti sangat rindang dan nyaman untuk tidur menghabiskan waktu di bawah naungannya.
"Siapa kamu? Bagaimana bisa sampai ke sini?" tanya sebuah suara yang asing di telinga Rosa.
Gadis itu berbalik dengan cepat, melihat pemilik suara yang tadi dia dengar menegur dirinya. "Saya Rosa, emm ... teman Richard," ucap Rosa tak yakin harus memperkenalkan dirinya seperti apa.
Orang itu mendekat, menatap lurus ke arah Rosa dengan tatapan penuh menyelidik. "Teman?" katanya dengan nada dingin. "Sungguh lancang memanggil nama raja dengan mulut rendahan itu!" tukasnya tak suka.
Rosa tahu kalau dia dihina, tapi kenapa dia harus menerima penghinaan dari orang asing seperti ini. "Kenapa kalau aku memanggil namanya?" tantang gadis itu menatap dengan berani. "Richard saja tak marah, buat apa anda repot dan merasa keberatan?!" lanjutnya mendengus kesal.
"Oho, sungguh manusia pemberani," tukasnya yang Rosa yakini tak bisa dianggap sebagai pujian. "Aku ingin memastikan seberapa berani dirimu saat gigi taring kami menancap di leher cantik itu?" seringai keji tercipta, senang bisa menakut-nakuti manusia hina yang lancang di depannya ini.
"Coba saja kalau kamu berani menghadapi Richard!" tantang Rosa mendongak. Menatap lurus tepat ke mata pria di depannya. Wajah tampan yang sungguh sayang tak diikuti dengan sikap yang ramah. Mulutnya malah membuat kesal, pasti semua orang menjauhi pria seperti ini.
"Kamu harus bangga bisa mati di tangan tuan ini," katanya memuji dirinya sendiri.
"Aku bukan pahlawan yang harus mati dengan bangga!" tukas Rosa membalas.
"Adakah kata-kata terakhir yang ingin kamu sampaikan?" tukasnya mendekati Rosa dengan perlahan, berharap itu bisa mengintimidasi gadis di depannya ini.
"Persetan dengan dirimu! Semoga kau membusuk dan mati dengan mengenaskan!!!" Rosa memejamkan matanya erat saat gigi-gigi nan tajam milik pria itu semakin mendekat.
"Jauhkan rahangmu segera atau do'a yang dia ucapkan barusan akan terjadi padamu!" Rosa membuka matanya dengan cepat, dia tersenyum lega melihat Richard yang bergerak cepat ke arahnya. Menyelamatkan dirinya dalam sekelip mata.
"Ada orang gila yang menggangu aku," adu Rosa begitu Richard menyembunyikan dirinya dalam pelukannya. "Dia marah dan akan menghisap habis darahku hanya karena aku memanggil namamu," ucapnya lagi.
"Beraninya! Beraninya kamu mengancam gadis manusia-ku?!" Richard menatap tajam dengan tatapan membunuh.
Pria itu pun mengangkat tangannya, menyerah atas kemarahan sang raja. "Saya hanya ingin membuat manusia rendah ini bersikap sopan dan tahu tempatnya, yang mulia," katanya membela diri.
"Itu bukan urusanmu!" hardik Richard tak peduli.
"Tentu itu urusan saya selama saya masih salah satu dari keluarga anda!" balasnya kemudian. Rosa menatap pria tadi dan Richard bergantian, tak ada kemiripan sama sekali. Richard yang dingin pun bahkan lebih bagus tempramennya dari pada pria tak dikenal ini.
"Sejak kapan kita menjadi keluarga? Jangan meninggikan dirimu sendiri, Luis!" Richard tersenyum pongah, dalam silsilah keluarga hanya dialah satu-satunya penerus sah. Jadi sudah pasti dia tak memiliki saudara sama sekali.
Rosa menebak kalau keduanya memiliki hubungan yang rumit. Apa dunia vampir hampir sama dengan dunia manusia. Mungkin itulah yang terjadi di sini saat ini.
"Hamba hanya khawatir, gadis manusia ini bisa merusak reputasi anda, yang mulia," kata Luis dengan sopan. Dia tak menunjukkan emosinya walau sudah dihina oleh Richard seperti tadi. Sangat berbeda sikap yang Luis tunjukan saat dia bersama dengan Rosa. Pria itu seakan merasa dia lebih hebat dan bisa melakukan apa saja pada Rosa yang tak memiliki kekuatan. Lihat sekarang, pria kasar itu justru menunduk dan bicara dengan sopan meski kehadirannya tak digubris sama sekali.
"Reputasi yang mana? Bahkan aku tak ingat memilikinya," kekeh Richard tak peduli. "Aku tak memerlukan hal remeh seperti itu untuk tetap duduk di singgasana!" katanya lagi.
Senyum Luis tetap bertahan, pria itu tak menunjukan perubahan ekspresi sama sekali. "Kalau begitu, saya permisi dulu, yang mulia," katanya pamit undur diri. Dia melirik Rosa sekali sebelum pergi dari sana.
Baru beberapa langkah Luis meninggalkan tempatnya berdiri barusan, Richard sudah kembali melayangkan peringatan. "Sebaiknya hilangkan apa yang ada di otakmu, Luis. Aku mengatakan ini sebagai raja yang memberikan kesempatan terakhir pada bawahannya untuk sadar diri!"
Seringai terkembang, merasa tertantang dengan apa yang baru saja dia dengar. Pria itu berbalik dan membungkuk sekali dengan sopan. "Akan saya tanamkan dalam ingatan saya apa yang anda katakan barusan,yang mulia," katanya terdengar ramah dan manis.
"Sebaiknya kamu tak bermain-main denganku!" dalam sekejap Richard dan Rosa sudah meninggalkan tempat tersebut.
Luis kembali tersenyum, dia menatap langit yang selalu menampilkan warna yang sama entah kapan pun dia melihatnya. "Haruskah aku merebut gadis manusia itu dari sisimu, kakakku tersayang?" bisiknya sangat lirih. Pria itu melangkah ringan sambil bersenandung. Dia merasa seperti menemukan mainan baru. Saudaranya yang acuh pun kini berekspresi berlebihan saat dia menyinggung tentang manusia lemah itu. Sungguh, apa lagi yang lebih baik dari mengganggu kakaknya yang angkuh itu selain merebut apa yang paling dia sukai dalam hidupnya. Dan kebetulan, kesukaan saat ini adalah manusia yang lemah tadi. Dia pasti bisa dengan mudah menjinakkan manusia bodoh seperti itu kapan pun yang dia inginkan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Aku senang kamu datang," tukas Rosa saat mereka berdua sudah sampai di kamar gadis itu. "Tapi, bagaimana kamu bisa menemukan aku?" tanyanya menatap Richard dengan tatapan ingin tahu.
"Ada caranya," kata Richard malas menjelaskan pada Rosa. Pria itu mengingat kembali bagaimana paniknya Monika melapor padanya bahwa Rosa menghilang dari pengawasan mereka. Tentu saja keempatnya langsung dihukum karena telah melalaikan tugas yang diberikan. Setelah memberi hukuman, Richard langsung mencari Rosa dengan mengikuti aroma tubuh gadis itu. Dan seperti yang terjadi sebelumnya, dia menemukan Rosa yang sedang diancam oleh Luis, vampir yang dulu dibawa ayahnya lalu dijadikan anak angkat saat mereka berdua masih sama-sama muda. Entah apa maksud sang ayah dengan melakukan hal itu, Richard sendiri tak terlalu peduli dan tak mau ikut campur. Dia juga tak mau mengakui orang yang identitasnya tak jelas sebagai saudara, jadi tak ada ikatan apa pun di antara mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments