18

Dan di sinilah Rosa berada, di ruang kerja Richard. Mereka duduk bersisian dengan dua meja yang hanya diberi jarak beberapa jengkal saja. Seperti yang diputuskan kemarin, Rosa mulai bekerja di bawah bimbingan langsung dari Richard. Gadis itu kaan mengurus beberapa urusan kastil yang kalau tak dikerjakan pun tak akan menimbulkan masalah. Meski begitu, Rosa juga tak hanya main-main. Dia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan dan memperhatikan apa yang Richard jelaskan padanya.

"Apa ini tak salah tulis?" tanya gadis itu menunjuk deretan angka yang tersusun rapi di dokumen yang dia pegang.

"Itu jumlah yang tepat," balas Richard mengangguk.

"Berapa banyak nol yang ada di sini?" gumamnya tak percaya dan menghitung berulang-ulang deretan angkat yang dilihat saja sudah pusing gimana cara penyebutannya.

"Jangan hiraukan jumlahnya, itu hanya beberapa pengeluaran yang diperlukan untuk seminggu," ucap Richard santai. Dia bahkan bisa tersenyum karena merasa kalau reaksi Rosa lucu di matanya.

"Seminggu? Bukannya untuk satu tahun?" tukas Rosa melongo kaget. Berapa banyak kekayaan yang dimiliki Richard sampai-sampai bisa dengan entengnya mengeluarkan banyak uang seperti ini hanya untuk kurun waktu seminggu.

"Jangan terlalu dipikirkan, uang bukan segalanya. Jadi aku bisa menggunakan uang semauku karena aku memiliki cukup banyak uang yang berlebih," tukas Richard seraya tersenyum tipis.

Ha, kalau yang begini sedikit berlebih, lalu bagaimana lagi nominal yang bisa dikatakan sangat berlebihan. Rosa sendiri tak tahu. Tak mau pusing dengan hal menyangkut keuangan, Rosa mengambil dokumen lain. Kali ini tentang pemugaran kastil dan beberapa barang yang harus diganti. Hmm, Rosa cukup senang mengerjakan ini karena tak ada satu pun nominal yang tertulis di barang-barang yang harus dibeli atas persetujuan Richard.

Pintu ruang kerja Richard diketuk pelan. Seorang pria yang memiliki rambut putih tapi masih terlihat gagah dan berdiri dengan tegak, masuk setelah dipersilakan oleh Richard. Pria itu melirik singkat ke arah Rosa sebelum dia memberi salam pada sang raja.

"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya pemuda itu tanpa membalas salam dari pria tadi.

"Saya ingin menanyakan sesuatu, yang mulia," katanya membalas.

"Katakan!" Richard berhenti mengerjakan pekerjaannya, dia menunggu pria di depannya ini untuk bicara.

"Saya mewakili tetua yang lain. Dengan rendah hati meminta maaf setulusnya kalau anda keberatan dengan apa yang akan saya tanyakan. Tapi, tolong dengarkan pertanyaan kami, para tetua yang selalu berada di sisi anda, yang mulia!"

Richard mengangkat sebelah alisnya. "Jangan berputar-putar. Langsung ke intinya aaja!" titahnya kemudian.

"Kami berharap anda segera memilih ratu dalam waktu dekat ini, yang mulia." pria itu melirik ke arah Rosa sekali lagi. "Kami hanya tak ingin ada hal-hal buruk yang membawa kemalangan bagi anda," lanjutnya seraya membungkuk sopan.

"Ratu? Apa aku sudah setua itu hingga perlu bergegas untuk mencari pasangan?" dengus Richard yang sejak dulu tak suka dipaksa.

"Kami hanya memikirkan tentang gadis keturunan suci yang harus dijaga, yang mulia. Makanya kami terus mendesak anda seperti ini, meski kami tak anda tak suka. Maafkan kami,"

Richard tertawa kecil, Rosa yang mendengar pun bergidik karena tawa Richard terdengar aneh di telinganya. "Pergi dan katakan, aku tak menemukan pasangan yang bisa menarik perhatianku sama sekali!" tukas pria itu setelah selesai tertawa.

"Tolong pikirkan sekali lagi, yang mulia. Banyak sekali nona yang tertarik pada anda. Terlebih Nona Joanne yang sangat sopan dan terus menanti anda mengulurkan tangan untuk menyambut beliau sebagai ratu," tetua tadi sampai memohon agar Richard mengubah keputusannya.

Rosa menyemburkan tawa yang dia tahan, sungguh lucu mendengar wanita kasar yang baru pertama dia temui saat itu dipuji di depannya. "Maaf, saya keselek lalat ijo," kata gadis itu berdehem. "Silakan lanjutkan," ucapnya sembari tersenyum.

Tetua menatap kesal Rosa yang berani menyela pembicaraan mereka. Tapi dia tak protes, dia merasa lebih penting untuk membujuk rajanya dari pada berurusan dengan gadis manusia yang sama sekali tak penting.

"Tolong pertimbangkan Nona Joanne untuk mengisi posisi di samping anda, yang mulia. Berikan setidaknya beliau kesempatan sekali saja untuk menunjukkan nilai yang beliau miliki," pintanya dengan sangat.

Richard tersenyum sinis, otak gilanya kembali meluncurkan ide yang tak waras dan sembarangan. "Kalau dia benar ingin menjadi ratu ...," ucapnya menjeda ucapannya.

"Iya!" si tetua mulai merasa kalau akan ada kabar gembira yang bisa dia bawa. Mungkin saja rajanya merasa tersentuh karena dia tak putus asa dalam membujuk sang raja.

"Maka dia bisa ...," lagi-lagi Richard menggantung ucapannya.

"Bisa?" tukas si tetua tak sabar.

"Pergi dari sini, bermigrasi ke mana pun, dan membuat kerajaan sendiri! Dia bisa jadi ratu dengan cara itu?!" ucap Richard masa bodoh.

Wajah tetua merah padam, merasa murka karena sudah dipermainkan oleh anak kecil yang bahkan tak sampai setengah dari usianya. Padahal dia sudah membungkuk hormat, meminta dan membujuk dengan sangat. Tapi yang dia dapatkan malah jawaban yang membuat kesal seperti barusan.

"Bagiamana anda bisa mengatakan hal menakutkan seperti itu, yang mulia?" tanyanya meninggikan suara.

"Dengan mulutku!" balas Richard mulai bosan. "Pergi kalau keperluan kamu sudah tak ada! tukas pria itu mengusir tetua yang hanya menyita waktunya saja menurut Richard.

"Anda akan menyesal melakukan ini!" ancam tetua tadi karena kesal.

"Ya, ya, ya! Pergilah segera!" tukas Richard tak peduli sama sekali.

"Akan kami pastikan anda memilih ratu dalam waktu dekat ini! Bagaimana pun caranya?!" ucap tetua tadi sebelum menghilang tanpa permisi.

Rosa bertepuk tangan setelah hanya tinggal mereka berdua di sana. "Wah, tontonan yang lebih seru dari drama mana pun yang pernah aku tonton!" komentar gadis itu sambil terus bertepuk tangan.

"Kalau kamu menyukainya, kamu harus ikut denganku saat ada pertemuan. Di sana akan lebih banyak drama seperti yang barusan," balas Richard mengangkat bahu ringan. Sudah terbiasa dihadapkan dengan hal serupa sepanjang hidupnya.

"Biasanya para raja harus menuruti perintah tetua. Rupanya di sini berbeda, ya?" Rosa mengangguk-angguk seolah baru mengetahui fakta yang penting.

"Sama saja, di sini juga harusnya begitu," balas Richard.

"Tapi kamu tadi?" Rosa menunjuk Richard dan menatap lurus pria di depannya dengan tatapan ingin tahu.

"Itu karena aku hebat!" jelas ada kebanggaan yang terdengar dari ucapan tadi. Rosa memasang tampang kesal, kenapa dia harus bertanya pada hal yang sudah pasti akan dijawab seperti itu oleh vampir narsis di depannya ini. Dia kadang melupakan fakta kalau Richard juga bisa bersikap narsis sekali-kali.

...°°°°°...

...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!