Rosa menatap langit sore, dia tersenyum teduh sambil memejamkan matanya sebentar. Setelah beberapa saat, gadis itu segera meninggalkan tempatnya bekerja paruh waktu. Masih ada pekerjaan lain yang harus dia lakukan setelah ini, jadi dia harus bergegas agar tak terlambat.
Sesekali Rosa menoleh ke belakang. Dia merasa kalau ada tatapan mata yang terus menatap ke arahnya. Namun, dia tak tahu siapa pemilik mata yang sedang menatapnya tersebut. Tak menemukan satu pun bukti kalau dia sedang diawasi setelah melihat ke sekitar beberapa saat, gadis itu pun kembali melanjutkan perjalanannya. Yang tak gadis itu ketahui, kalau ada dua vampir kembar yang sedang mengawasinya atas perintah dari Richard, sang penguasa kegelapan, atau bisa dibilang raja dari ras penghisap darah tersebut.
"Tak ada yang istimewa darinya," tukas Gwen mengomentari penampilan Rosa. "Cantik tidak, tinggi juga tidak, wajahnya biasa saja, tak memiliki kekuasaan, tidak kaya, dan yang jelas hanya orang bisa. Tapi kenapa yang mulia sampai segitunya menyuruh kita mengawasi manusia itu, ya?" katanya lagi. Padahal tadi dia sendiri yang menyimpulkan dan menebak kalau Rosa mungkin akan dijadikan sapi perah oleh tuannya. Namun, sekarang pemuda itu sudah memikirkan kembali kenapa tuannya bisa kenal dengan gadis manusia yang tak ada apa-apanya ini.
"Semalam tuan tak kembali ke kastil," kata Glen menimpali dengan datar.
Gwen terkesiap kaget karena baru sadar akan fakta tersebut. "Apa manusia itu yang sudah menculik tuan kita?" tanyanya tanpa berpikir.
"Kamu pikir manusia biasa seperti dia bisa menangkap yang mulia dengan mudahnya?" ujar Glen sambil melirik tajam ke arah Gwen yang terlalu sembarangan bicara.
"Seharusnya tak mungkin," gumam pemuda itu pelan. "Tapi ada pepatah di dunia manusia kalau tak ada yang tak mungkin selama terus berusaha!" katanya melanjutkan.
"Dan tuan akan dengan mudahnya menghancurkan manusia lemah seperti itu hingga menjadi debu dan menghilang tanpa bekas," timpal Glen datar.
Benar juga. Tuan mereka terkenal tak akan mau berkompromi. Bahkan dengan sesama kaum mereka saja, tuannya itu tak mau memberi keringanan sama sekali meski hanya sedikit.
"Lalu buat apa kita disuruh mengawasi manusia itu, ya?" keduanya saling menatap, lalu beberapa saat kemudian mengangkat bahu acuh. Hanya tuan mereka yang tahu alasan di balik semua ini.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Sementara itu, di kastil besar yang penuh dengan kegelapan yang mencekam. Richard duduk di singgasananya dengan malas. Meski sedang diadakan pesta yang megah, raja muda itu masih saja tampak bosan.
"Yang mulia, para nona sedang menatap anda. Menunggu anda untuk mengajak salah satu dari mereka berdansa," tukas tangan kanan sekaligus sahabat Richard memberanikan diri untuk bicara.
"Tak tertarik!" satu balasan dengan nada datar dituai. Raut wajah bosan semakin jelas tergambar.
"Tapi pesta tak akan bisa dimulai jika anda tak berdansa, wahai raja yang agung!"
Richard berdecih pelan, semakin bosan dengan peraturan yang terlalu kaku dari generasi terdahulu. "Siapa pun tak masalah, kan?"
Kawan Richard mengangguk ragu, nada yang digunakan kawan sekaligus atasannya itu terlalu mencurigakan. "Jadi?" jelas sang raja muda tak sabar menanti jawaban yang akan diberikan.
"Tidak masalah," ucapnya meski masih meragu.
Richard menyeringai usil, menatap lurus pada ajudannya. Tangan pria itu melambai pelan, menyuruh pemain orkestra untuk memulai bermain musik. "Akan kuberikan kehormatan untukmu menjadi pasangan dansa pertamaku malam ini!" Richard merasa puas melihat wajah bodoh kawannya itu. Bisik-bisik terdengar, tapi siapa yang berani protes dengan apa yang raja mereka lakukan.
"Ingin rasanya aku membunuhmu! Sungguh?!" delik Lucas dengan tatapan penuh permusuhan.
"Aku persilakan jika kamu bisa!" seringai mengejek kembali tercetak di bibir raja muda itu.
"Kamu harus bertanggung jawab kalau aku tak bisa menikah di masa depan!"
"Tentu, akan aku temani agar kita berdua bisa terus berdansa setiap tahunnya seperti ini!"
Keduanya bergerak dengan lincah, menyelesaikan dansa tanpa kendala meski saling melempar ucapan sarkas pada pihak lain.
Selesai berdansa, Richard kembali ke singgasananya. Dia cukup puas telah mempermainkan temannya, Lucas.
"Pesta yang sangat indah, yang mulia!" salah satu lady dari kaumnya menyapa dengan berani. Mungkin karena merasa pangkatnya paling tinggi di antara keluarga yang lain, jadi dia bisa bebas berbicara kepada Richard.
"Berbicara pada Theo jika ingin mengetahui detail pesta kali ini!" balas Richard acuh tanpa melihat nona yang menghampirinya.
Perempatan imajiner muncul di pelipis gadis itu. Baru kali ini ada yang tak menghiraukan kehadirannya. Biasanya dia berdiri diam saja sudah bisa membuat para pria terpesona padanya. Apa lagi kalau diajak berbicara seperti ini, sudah pasti mereka akan rela melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa perlu diminta.
"Saya merasa beruntung bisa hidup di generasi yang sama dengan yang mulia. Hingga saya bisa menghadiri acara seperti ini," ucap nona itu tak mau menyerah. Dia harus mendapatkan kesempatan untuk berdansa agar kesempatannya untuk menjadi ratu semakin terbuka lebar.
Lucas yang sangat mengetahui perangai majikannya dengan cepat menghampiri keduanya. "Selamat malam, Nona Bianca!"
Nona yang dipanggil Bianca tadi membuka kipasnya anggun, lalu melirik sinis ke arah Lucas. "Selamat malam, tuan,"
"Bagaimana kalau anda berdansa bersama saya saja?" Lucas bukan menanyakan kesediaan Bianca, tapi dia malah seperti memberi saran pada gadis itu agar menyerah pada keinginannya yang akan berakhir sia-sia.
"Maaf, kaki saya sakit karena terlalu lama berdiri sepertinya," jelas Bianca menolak. Yang dia inginkan posisi ratu. Bukannya istri dari bangsawan biasa yang bahkan wajahnya tak jelas.
"Kalau begitu anda bisa pulang dan beristirahat. Aku tak ingin rakyatku terpaksa menghadiri perhelatan padahal sedang sakit," suara Richard menyela.
Wajah Bianca berkedut kesal, tapi dia tetap menjaga mimiknya agar tak terlihat marah. "Saya menghargai perhatian anda, yang mulia. Tapi saya sungguh tak apa-apa. Adalah keinginan terbesar saya untuk melihat pesta ini sampai selesai," gadis itu tak ingin terusir. Posisi yang dia incar akan semakin jauh kalau itu sampai terjadi.
Richard tak peduli, dia bangkit dari duduknya lalu berjalan maju. Bianca mengira kalau raja muda itu akan menghampiri dirinya, dia pun mengulurkan tangannya. Senyum lebar di wajah Bianca hilang begitu Richard melewati dirinya tanpa melihat satu kali pun sama sekali.
"Gantikan tempatku!" katanya sambil memegang bahu Lucas. Richard segera menghilang setelah mengatakan hal yang dia inginkan pada kawannya itu.
Lucas terkekeh pelan, terdengar mengerikan seperti orang yang marah dan penuh dendam. "Tunggu saja balasan dariku, brengs*k!" makinya melampiaskan kekesalan. Tak peduli kalau ada yang mendengar, dia terlanjur kesal.
"Berpestalah semau kalian!" ujar Lucas lalu hanya mengamati jalannya pesta. Di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana untuk membalas kawannya itu. Tentu saja dengan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya adalah salah satu cara yang paling mudah dia lakukan untuk pembalasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
will
go
2023-11-21
1
will
mntp
2023-11-21
1