Rosa meminta Richard untuk pergi sebelum pagi menjelang. Sayangnya, Richard menolak dan mengatakan akan memastikan keselamatan dari penyelamatnya sebelum dia bisa kembali ke kediamannya sendiri. Rosa kekeuh pada pendiriannya, dia merasa akan baik-baik saja meski ditinggal sendiri. Namun, Richard malah bersikap acuh dan tetap pada pendiriannya juga. Dia akan pergi setelah memastikan semuanya aman dan tak akan ada gangguan yang menimpa Rosa.
Rosa yang keberadaannya selalu dimanfaatkan dan tak pernah menerima kebaikan yang tulus pun, mau tak mau menjadi curiga. Gadis itu menatap tajam Richard dan menuduh kalau pria itu sedang melakukan trik baru untuk menipu korbannya. Richard yang mendengar itu malah tersenyum mengejek, dia selalu merasa terhibur dengan pemikiran Rosa yang di luar nalar dan tak seperti manusia lainnya.
"Jangan tertawa!" tukas Rosa kesal ditertawakan.
"Kenapa? Kamu terpesona, ya?" tukas Richard yang sangat tahu kalau tampangnya sangat-sangat rupawan.
"Tidak! Aku kesal!" dengus Rosa memalingkan wajah.
"Cobalah berbohong dengan lebih yakin, nona!" kata Richard percaya diri.
"Buat apa aku berbohong, bodoh!" umpat Rosa kesal sekaligus malu. "Katakan saja kalau kamu sedang menjalankan tugas untuk menipu, kan? Ayo, ngaku!" desak gadis itu berani.
Richard menopang dagunya sambil menatap lekat Rosa. "Lalu? Apa yang bisa kudapatkan dari itu?" tanyanya tak tertarik sama sekali.
Rosa sedikit ragu, tapi dia tak ingin mundur bahkan setelah dia tak bisa membuat pria itu mengaku. "Mungkin penjualan organ dalam? Perbudakan? Atau korban yang dibutuhkan untuk digunakan sebagai kelinci percobaan?" tebak Rosa aneh-aneh.
"Kamu kebanyakan nonton film, nona!" kata Richard mendengus.
"Aku tak peduli, aku mau tidur! Jadi berhenti mengawasiku!" ucap Rosa segera berdiri meninggalkan pria menyebalkan di depannya ini.
"Biarkan aku ikut!" kata Richard dengan wajah datar.
"Kau bercanda, kan?" mata Rosa melotot tak percaya. Apa pria ini benar-benar ada masalah di otaknya. Mengapa pria ini selalu membuat dirinya kesal setiap dia membuka mulutnya.
"Hanya memastikan kalau penyelamat ku aman," ucapnya enteng dengan wajah datar.
"Aku aman! Sangat-sangat aman tanpa perlu ada yang dikhawatirkan, mengerti!!!" tukas Rosa kepalang emosi. Dia sangat lelah dan butuh istirahat, tapi kini yang ada dia malah harus menanggapi mulut busuk tak tertata dari pria gila di depannya ini.
"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, nona," katanya menimpali.
"Tolong biarkan aku istirahat, oke?" tukas Rosa lelah. "Aku akan teriak kalau ada masalah atau bahaya!" lanjutnya mencari jalan tengah. Kalau terus berdebat yang ada dia tak akan bisa tidur malam ini.
Pria di depannya mengangguk kaku. "Lalu aku akan berada di depan pintu kamarmu!" katanya setuju.
"Lakukan! Asal jangan mengawasi diriku, aku tak peduli dengan apa yang kamu mau lakukan!" ucap gadis itu kemudian pergi ke kamarnya. Tak lupa pintu kamar yang tak berdosa dibanting dengan keras untuk melampiaskan kekesalan yang dia rasakan. Baru kali ini dia menyesal menolong orang dalam hidupnya. Apa nasib buruknya akan tercipta dari kejadian ini. Semoga saja tidak seperti yang dia bayangkan sekarang. Tak berapa lama, Rosa pun telah jatuh tertidur dengan lelapnya. Lampu di kamarnya berkedip beberapa kali. Setelah beberapa waktu tak ada cahaya sama sekali, sesosok bayangan terlihat tepat saat lampu kembali menyala. Dia adalah Richard, pria itu menatap sekitar kamar Rosa sebelum kembali menghilang.
Rupanya Richard melakukan itu karena tak tenang membiarkan gadis yang menolongnya tanpa penjagaan. Makanya dia memindai keamanan kamar gadis itu sebelum kembali ke posisinya semula, yaitu menunggu di depan kamar Rosa.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Pagi menjelang, Rosa sudah selesai mandi dan merapikan tempat tidurnya. Dia tertidur dengan sangat nyenyak semalam.
"Mari sarapan lalu berangkat kerja!" kata Rosa penuh semangat memulai harinya.
Baru saja membuka pintu kamarnya, Rosa sudah disambut oleh wajah tampan yang menjengkelkan. Ekspresi sombong itu sungguh ingin Rosa hilangkan kalau dia bisa. "Saya kira anda sudah pergi?" tukas Rosa mendengus pelan.
"Saya merasa perlu untuk memastikan anda baik-baik saja," balas Richard mengekori langkah Rosa.
"Aku baik! Bahkan akan lebih baik kalau kamu menghilang!!!" dengus gadis itu mengejek.
"Seperti yang saya katakan tadi malam, tak ada yang tahu kejadian buruk apa yang akan menimpa anda nantinya," balas Richard tak peka kalau Rosa sangat tidak suka akan kehadirannya.
"Apa kamu memiliki banyak musuh?" mata Rosa memicing menunggu jawaban dari pria di depannya ini. "Makanya aku akan terlibat masalah atau mengalami hal yang tak diinginkan hanya karena menolong kamu?!" lanjut gadis itu.
Richard diam dengan wajah poker andalannya, pria itu menatap lurus Rosa, seolah tatapannya memberi tahukan kalau apa yang gadis itu katakan merupakan suatu kebenaran. "Jangan bilang ...?" Rosa terkesiap begitu menyadari kalau yang dia katakan benar adanya. "Bagaimana ini? Bagaimana?" katanya panik.
"Te–"
"Oke, tenang Rosa,. tenang!" kata gadis itu menarik napas lalu membuang napasnya secara beraturan. "Tapi apa ini waktunya untuk tenang?" sedetik kemudian Rosa kembali panik.
"Makanya kan aku ada di sin–"
"Semua masalah pasti ada solusinya! Aku hanya harus berpikir lebih keras untuk keluar dari masalah kali ini!" lagi-lagi Rosa memotong ucapan Richard. Sepertinya gadis itu tak mendengarkan apa yang ingin pria itu sampaikan saking paniknya dirinya.
"Hei! Dengarkan kalau orang bicara! Jangan panik sendiri dan bergumam seperti orang bodoh!" tukas Richard tajam sambil menepuk pelan bahu Rosa.
Rosa menepis tangan Richard dengan kesal. "Ini semua gara-gara kamu!" hardik gadis itu emosi. "Kenapa kamu harus terluka dan aku melihatnya?" lanjut gadis itu terus menyalahkan Richard tentang apa saja yang dia alami semalam. Kenapa dari banyaknya tempat, pria ini malah tak sadarkan diri di jalan yang Rosa lewati saat pulang.
"Aku tak ingat pernah meminta tolong," ujar Richard malah menambah bensin ke dalam api kemarahan Rosa.
"Oh, maaf karena sudah menolong anda yang tak tahu terima kasih!!!" dengus Rosa memalingkan wajah, malas menatap wajah menjengkelkan yang minta ditonjok itu.
"Tak perlu meminta maaf, aku tak mengharapkan itu," tukas Richard membalas dengan santai dan tak berperasaan.
Malas berdebat lebih lanjut, Rosa pun menggoreng dua telur dan mengambil empat lembar roti. Sarapan sederhana yang cukup ramah untuk kantongnya yang selalu tiris tiap bulannya. "Tak perlu berterimakasih! Aku membuat sekalian tadi," tukas Rosa menyodorkan dua lembar roti dan satu telur goreng kepada Richard.
"Buat apa?" tanya pria itu seolah tak tahu kalau makanan di depannya itu ya untuk dimakan.
"Sarapan," balas Rosa singkat.
"Aku tak makan," aku pria itu dengan mimik muka yang tak berubah.
"Jangan malu, meski tak enak, isi saja perut anda dulu," kata Rosa lagi. Dia tahu kalau pria ini tak mengisi perutnya sejak semalam, masa iya pagi ini dia juga akan melewatkan sarapan.
"Tapi aku benar-benar tak pernah makan," tukas Richard jujur.
Rosa memutar bola matanya kesal, dasar orang kaya pemilih yang tak bisa makan makanan seperti ini. Ingin marah, tapi gadis itu malas buang tenaga. Akhirnya dia menghabiskan semuanya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
will
nice
2023-11-21
1
will
lanjut
2023-11-21
1
will
go
2023-11-21
1