Richard yang bosan meninggalkan tempat pesta yang digelar di dunianya. Dia menitipkan semua hal pada kawannya, Lucas. Marah, tentu saja. Lucas bahkan menyusun banyak rencana untuk membalas perbuatan kawan ter-bangs*t-nya itu.
Di sinilah Richard berada. Dia bermain ke dunia manusia. "Tak ada masalah?" tanyanya mendekati Gwen dan Glen yang sedang melakukan perintahnya.
Vampir kembar itu terkejut dengan kedatangan tuannya yang tiba-tiba. Mereka bahkan tak menyadari kehadiran Richard, andai saja raja muda itu tak bersuara tadi.
"Tak ada masalah, tuanku! Manusia lemah itu hanya bekerja dan langsung pulang,"
Richard mengangguk menerima laporan dari Glen.
"Apa saya boleh bertanya, tuanku?" Gwen meminta izin untuk bertanya pada rajanya.
"Katakan!"
"Mengapa kami sampai harus mengawasi manusia lemah sepertinya, tuanku?" Glen sebenarnya juga sangat ingin tahu, tapi dia tak berani bertanya karena menurutnya kalau tuannya tak memberitahu, artinya mereka tak perlu tahu.
"Manusia lemah itu penyelamat raja kalian ini,"
Ucapan Richard jelas membuat pandangan mereka pada manusia itu berubah. Kalau memang yang raja mereka katakan adalah kebenaran, maka sudah seharusnya manusia itu dihormati dengan sangat.
"Manusia yang bijak! Aku akan memperlakukannya dengan sangat baik mulai sekarang!" Gwen menatap Rosa dengan tatapan penuh rasa hormat karena gadis manusia itu telah berbaik hati menolong rajanya.
"Itu hanya karena dia tak tahu siapa kita sebenarnya, tuan!" Glen yang selalu waspada terus mencurigai setiap orang yang berada di sisi rajanya, bahkan kalau itu saudara kembarnya sendiri. "Dia akan lari ketakutan setelah tahu kalau anda adalah raja kegelapan yang membutuhkan darah sepanjang hidup anda," katanya melanjutkan.
Richard mengangkat bahu acuh, tak peduli dengan masa depan apa yang akan terjadi nantinya. Yang jelas dia ingin menikmati masa kini. "Kalian bisa kembali, biar aku yang mengawasinya saat ini,"
Glen jelas tak setuju. Masalah kecil seperti ini tak perlu sampai rajanya yang turun tangan. "Pergilah berpesta dan bersenang-senang di sana," tukas Richard tak menerima bantahan.
"Baik, yang mulia!" jawab mereka serempak. Bedanya Glen setengah terpaksa mengikuti perintah tuannya.
Begitu kedua anak buahnya pergi, Richard menjentikkan jarinya pelan. Baju mewah dan jubah yang dia kenakan, langsung berubah menjadi baju dengan style biasa berlengan panjang dilengkapi jaket luaran dan juga topi. Pemuda itu pun bergegas menghampiri Rosa.
"Hai," sapanya seraya mengumbar senyum penuh pesona.
"Astaga, jangan muncul tiba-tiba seperti itu?!" jelas Rosa terkejut karena Richard menyapanya begitu tiba-tiba.
"Kamu lucu, tahu,"
"Dikira aku badut?" dengus gadis itu kesal.
"Sudah makan?" Richard sengaja menanyakan hal lain.
"Belum,"
"Ayo, kita makan di sana." Richard menunjuk resto yang ada di depan jalan.
Rosa menggeleng cepat. "Mending makan di rumah uangnya bisa disimpan buat keperluan lain," ucap Rosa menolak. Bukannya pelit, dia harus berhemat untuk keperluan dadakan yang mungkin saja akan muncul di masa depan.
"Aku yang traktir sebagai ucapan terima kasih." Richard yang tak menerima penolakan, menggeret pelan lengan Rosa agar gadis itu mengikuti langkahnya. Jadilah mereka memesan makanan di sana, uang bukan masalah bagi vampir yang hidup lebih dari ratusan tahun itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di dunia vampir, begitu Gwen dan Glen muncul. Kedua bersaudara itu segera ditarik paksa oleh Theo. Ajudan Richard itu memasang tampang kesal layaknya seseorang yang bisa menghancurkan satu kota saat itu juga. "Di mana yang mulia kita saat ini?" desisnya menahan amarah agar tak meledak di saat pesta sedang berlangsung.
"Di dunia manusia," balas Gwen cepat tanpa tahu situasi.
"Dunia manusia?" kekesalan terlihat makin bertambah di wajah pria itu. "Pantas saja aku mencium bau aneh dari pakaian yang mulia kemarin, rupanya beliau sedang bermain dengan para manusia bodoh itu!"
"Jangan berkata kasar! Menurut yang mulia, manusia kali ini adalah penyelamat beliau," potong Gwen tak suka.
"Huh, penyelamat? Jangan buat aku tertawa!" jelas Theo tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Memang apa yang bisa dilakukan manusia lemah untuk menolong tuannya.
"Anda mencurigai kalau tuan kita berbohong?" Glen maju angkat bicara. Meski dia juga waspada, tapi dia selalu percaya dengan apa yang tuannya katakan.
"Tentu saja tidak, tapi apa yang manusia punya hingga bisa menolong tuan kita yang begitu agung?" pertanyaan itu jelas membuat kedua saudara kembar yang tadinya begitu yakin, menjadi sedikit goyah. Tapi keduanya tetap memilih untuk mempercayai tuan mereka dengan kepercayaan yang buta.
"Aku ke sini karena tuan menyuruh untuk menikmati pesta, jadi aku permisi!" Glen pamit undur diri dari pada membuang banyak waktu hanya untuk berdebat.
"Aku bahkan belum sempat menyapa para wanita cantik yang sejak tadi menatapku," timpal Gwen menyusul Glen yang pergi terlebih dahulu.
Theo yang ditinggal sendirian semakin kesal. Auranya jelas semakin hitam pekat, tak ada yang berani mendekati pemuda itu dari jarak sepuluh meter.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Selesai makan, Richard mengantar Rosa pulang. Keduanya berjalan pelan untuk mencerna makanan, hal ini khusus untuk Rosa karena Richard tak makan sama sekali dengan alasan sudah kenyang.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Rosa begitu sampai di area rumahnya.
"Biarkan aku menginap, aku memiliki firasat buruk!" tukas Richard saat Rosa hendak pergi.
"Tak akan! Jangan harap aku membiarkan seorang pria tidur di rumahku," tolak gadis itu cepat.
"Bukankah kamu bisa menganggap ini seperti yang sebelumnya?"
Mendengar hal itu Rosa kehabisan kata-kata, mulutnya terbuka tertutup, tapi tak ada kata yang bisa dia ucapkan sebagai bantahan. Dia tahu kalau yang pemuda itu katakan memang benar, tapi situasinya kemarin dan sekarang jelas dua hal yang berbeda.
"Sekali tidak, tetap tidak!" kekeuh Rosa keras kepala.
"Percaya padaku, aku hanya ingin melindungi kamu,"
"Memangnya apa yang bisa terjadi di rumahku sendiri?" dengus Rosa yang merasa kalau ini hanya akal-akalan Richard biar diizinkan menginap.
Richard mengangkat tangannya mengalah. "Tapi panggil aku jika ada hal yang salah, aku akan berusaha datang sesegera mungkin!"
Baru saja Rosa ingin membalas, Richard sudah menghilang dari pandangannya. Rosa terbelalak kaget, merasa kalau dia melihat sesuatu yang seharusnya tak boleh dia lihat. Apa Richard itu hantu, tapi orang lain juga bisa melihat pria itu kok. Buktinya selama mereka berjalan bersama, ada saja wanita yang melirik tak hanya sekali pada Richard. Itu membuktikan kalau Richard bukan hantu. Lalu apa yang bisa menghilang begitu saja kalau bukan hantu di dunia ini.
"Ah, mungkin dia pesulap, ha-ha," tukas Rosa tertawa canggung, menepis pemikiran negatif dari otaknya. Gadis itu cepat-cepat naik ke lantai tempatnya tinggal, dia harus mengurung diri di rumahnya agar merasa aman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments