Rosa yang sudah susah payah menolong seseorang malah dituduh sebagai kaki tangan yang diutus untuk membunuh orang yang ditolongnya. Mana wajah orang itu sangat mengesalkan saat mengatakan semua hal tak masuk akal itu, sungguh menyia-nyiakan rupa tampang itu karena akhlaknya yang minus dalam berbicara.
Bahkan saat orang itu meminta maaf pun, Rosa masih kesal dibuatnya. Wajah tampan itu sungguh ingin Rosa pukul meski hanya sekali saking kesalnya dia saat ini.
"Karena anda sudah sadar, obati saja luka anda sendiri!" tukas Rosa tak bersahabat. Tau sendirilah bagaimana kalau perempuan sedang kesal, akan memakan waktu lama untuk menghilangkan kekesalannya. "Aku mau makan terus tidur! Anda boleh memakai kamar mandi, handuk baru ada di lemari kecil di sana. Anda bisa menginap di sini atau pergi, terserah!" tukasnya lagi.
Rosa melenggang pergi. Begitu sampai di kamar mandi, gadis itu memegangi dadanya. Jantungnya berdetak kencang saking kagetnya dia, tatapan pria itu sungguh berbahaya menurutnya. "Semoga aku tak salah memilih untuk menolong dia!" gumamnya penuh harap. "Atau sebaiknya aku tinggal saja tadi, ya?" katanya bertanya-tanya.
Berpikir terlalu lama bukan lah gaya Rosa, jadi gadis itu berteriak kecil sebelum mulai membasuh tubuhnya. Tak peduli dengan apa yang akan terjadi. Lagi pula semua sudah dia lakukan, dia tak mungkin mengembalikan waktu dan membatalkan niatnya untuk menolong pria tadi.
Tak berapa lama, Rosa pun keluar dari kamar mandi. Dia merasa lebih segar dari sebelumnya. Gadis itu berdehem pelan melirik ke arah pria yang sejak tadi tak mengubah posisi duduknya. "Ekhem, apa anda ingin menggunakan kamar mandi?" tanya gadis itu dengan pipi bersemu merah. Dia takut dikira gadis aneh yang kurang ajar dan ingin melakukan hal yang tidak-tidak. "Selagi anda mandi, saya akan membuat makanan sederhana," katanya lagi memecah keheningan yang menggantung.
"Oke," hanya satu kata itu yang dia dapat sebagai balasan. Pria itu lalu masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Wah, irit kata sekali!" dengus Rosa. "Dasar tak tahu terima kasih?!" ucapnya lagi.
"Maaf, kalau saya tak tahu terima kasih, nona!" tukas suara yang dikenal Rosa menyahut dari dalam kamar mandi.
Rosa terbelalak kaget, bagaimana bisa pria itu mendengar apa yang dia katakan. Padahal dia hanya bergumam pelan saja, apa pria itu mempunyai pendengaran super sonik seperti di novel-novel atau film terkenal.
"Apa pun yang anda pikirkan saat ini, saya bisa mengatakan kalau itu hanya imajinasi anda, nona!" lagi, Rosa hampir menjatuhkan sendok yang dia pegang karena pria itu tahu apa yang dia pikirkan. Apa dia memiliki kekuatan super untuk mengetahui apa yang ada dalam benak seseorang tanpa perlu orang itu mengatakan apa-apa. Wah, pasti pria itu akan menjadi karyawan teladan karena bisa mengetahui dengan pasti apa yang diinginkan atasannya tanpa perlu sang atasan memerintahkan sama sekali. Andai saja kekuatan seperti itu bisa dibagikan pada dirinya yang tidak beruntung ini, Rosa pasti dengan senang hati akan menerimanya dan berterima kasih sebagai gantinya.
Seperempat jam berlalu, pria itu sudah duduk di meja makan sambil menatap lurus ke arah Rosa. "Ada apa? Apa anda ingin mengatakan sesuatu?" tanya gadis itu jengah diawasi.
"Tidak!" balasnya datar dengan nada arogan. Seolah semua orang di dunia ini tak ada yang berharga selain dirinya.
"Lalu? Kenapa anda terus menatap saya seperti itu?" tukas Rosa dengan berani.
"Saya hanya memperhatikan gerak-gerik anda. Tolong dimaklumi, nona!" katanya lagi.
"Bisakah tolong jangan menatap saya seperti itu lagi?" kata Rosa tak nyaman. "Saya tak suka!" katanya menekankan kata tak suka.
"Anda tak ingin bertanya apa pun?" ucap pria itu seakan menawarkan untuk mengobrol lebih lama.
"Tidak, terima kasih!" kata Rosa menolak. "Saya tak mau terlibat dengan hal merepotkan!" tukasnya tak mau tahu kenapa atau apa alasan pria ini terluka seperti tadi.
"Saat anda memutuskan untuk menolong saya, anda sudah memasukkan kaki anda dengan sendirinya ke liang masalah, nona!" kata pria itu datar dan acuh.
Rosa memegang dahinya yang berdenyut nyeri gara-gara mendengar ucapan pria ini. Oh, mungkin dia memang salah memilih sepertinya. "Bisakah aku batalkan saja?" kata Rosa mendesah lelah. Dia bahkan berbicara informal pada pria tak dikenalnya ini. "Aku sungguh hanya ingin hidup damai tanpa terlibat masalah apa pun sampai hari kematian menjemputku!" katanya lagi seolah hanya itu satu-satunya harapan hidup yang dia miliki dalam hidupnya.
"Mari kita mulai dengan perkenalan, nona!" kata pria itu malah tersenyum sangat tipis melihat Rosa yang frustasi.
"Bisa lewatkan?" tanggap Rosa malas. "Anggap saja kita tak pernah bertemu dan hanya dua orang asing yang pernah sekali berpapasan di jalan!" katanya lagi.
"Sayangnya tidak bisa," timpal pria itu lagi. "Sepertinya akan banyak mata yang mengamati anda karena anda menolong saya!" lanjutnya memberi tahu kebenaran pada Rosa.
"Oh, si*l! Andai waktu bisa diputar?!" keluh gadis itu memaki kesal.
"Sayangnya itu tak mungkin!" kata pria itu menimpali.
"Aku juga tahu! Jadi tak perlu kamu repot memberitahukan hal seperti itu padaku!!!" dengus Rosa jengkel.
"Namaku Richard Vladimir de Lazarus! Panggil saja senyamanmu!" tukas pria itu tersenyum senang melihat wajah kesal gadis di depannya ini.
"Rosa!" tukasnya membalas. "Sebelum pagi saya harap anda bisa meninggalkan tempat ini!" kata gadis itu lagi berbicara dengan sopan.
"Sepertinya itu mustahil," kata Richard membantah santai.
"Kenapa?" tanya Rosa cepat. "Kamu lupa ingatan? Atau kamu gak mau pulang?" katanya kesal sekaligus khawatir. Hidup sendirian saja dia susah, ini masa dia harus menanggung satu nyawa lagi untuk diberi makan.
"Bukan," balas Richard datar. Bangsawan seperti dia bisa-bisanya dikira tak punya tempat tinggal. Imajinasi wanita ini sungguh luar biasa sekali.
"Lalu?" desak Rosa tak sabar.
"Aku harus memastikan kamu aman sebelum kembali ke kediamanku!" katanya membalas.
"Aku pasti akan baik-baik saja meski kamu pergi sekarang juga!" kekeuh Rosa. Lebih berbahaya kalau dia harus hidup bersama dengan orang lain. Penghasilannya pas-pasan dia tak akan sanggup memberi makan satu orang lagi dalam keadaannya yang seperti sekarang.
"Siapa yang menjamin hal tersebut?" Richard mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab.
"Aku, mungkin?" tukas Rosa tak yakin. Dia bukan peramal yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dia hanya warga biasa yang hidup dengan keras.
"Kalau kamu tak yakin, biarkan aku tetap di sisimu untuk sementara waktu!" tukas Richard jelas tak ingin dibantah.
Mata rosa menyipit tajam, dia tak bisa percaya begitu saja dengan kebaikan yang di berikan oleh orang ini. "Ini bukan taktik penipuan baru, kan?" tanyanya waspada.
Richard menyeringai mengejek mendengar pertanyaan Rosa, sungguh gadis manusia satu ini tak membuatnya bosan barang sedetik pun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
will
go
2023-11-21
1
will
mantap
2023-11-21
1
Binti Rofikoh
mampir tor
2023-05-07
2