Dari pagi saat bertatap muka, tiada waktu tanpa ribut antara Rosa dan Richard. Ada saja yang tak kena di antara keduanya. Dan Richard selalu jadi pihak yang menyulut emosi gadis manusia itu.
Mulai dari hal remeh hingga masalah sarapan pun semua jadi masalah bagi keduanya. Rosa yang sudah menyiapkan dua porsi sarapan sederhana, harus kembali kesal karena pria sombong ini tak mau menyentuh makanan yang dia buat. Sebegitu pemilihnya kah orang kaya pada makanan, hingga mereka tak mau mencicipi meski hanya sedikit saja. Dasar sombong dan tak menghargai orang.
Kesal yang menumpuk membuat Rosa kalap, dia menghabiskan semua sarapan yang dia buat. Dari pada protes pada wajah batu yang sayangnya tampan itu, mending dia makan dalam diam dengan wajah bertekuk masam.
"Apa semua manusia makan secepat kamu?" tanya Richard menaikkan sebelah alisnya, seolah dia tertarik akan hal yang baru saja dia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang para manusia.
"Pertanyaan aneh macam apa itu?" timpal Rosa terkekeh kecil, dia merasa kalau pria di depannya ini sedikit mengalami gangguan di otaknya karena mengalami benturan keras, mungkin. "Kamu juga manusia, buat apa bertanya padaku!" lanjut gadis itu mendengus mengejek.
"Aku tak pernah bilang kalau aku manusia," timpal Richard dengan wajah flat andalannya.
Rosa terdiam, mengamati Richard dengan seksama. Detik kemudian, gadis itu tertawa kecil. "Kamu mau bilang kalau kamu malaikat dengan wajah itu, kan?" katanya menunjuk ke arah Richard.
"Apa bagusnya menjadi malaikat?!" tukas pria itu membantah dengan cepat.
Rosa mengernyit aneh. Biasanya orang-orang akan suka kalau dibilang berwajah malaikat, tapi mengapa pria ini tidak. Ada yang aneh memang dengan pria yang dia tolong ini. "Sepertinya kamu harus ke dokter untuk diperiksa!" kata gadis itu memberi saran. "Otak kamu sepertinya mengalami guncangan, makanya kamu sangat aneh," lanjut gadis itu blak-blakan.
"Aku tak butuh orang bodoh yang disebut dokter, manusia!" dengus Richard meremehkan. "Aku bisa sembuh setelah kembali ke kastil ku!" katanya lagi. Tentu saja dia akan segera sembuh kalau ke kastil, d sana sudah ada kepala pelayan yang akan mengurus segala kebutuhannya dan membuatnya pulih dengan cepat dalam waktu singkat. Dia hanya perlu beberapa kantong darah yang segar yang dibeli dari rumah sakit.
"Dari tadi manggilnya manusia, manusia, manusia terus! Seperti dia bukan manusia saja!" gumam Rosa mendengus kesal. "Aku pergi, jangan ikuti aku!" kata gadis itu lagi. "Ah, aku harap kamu sudah tak ada saat aku pulang kerja!" tambahnya disertai senyum yang dipaksakan.
"Aku tak bisa janji dan aku memang bukan manusia," tukas Richard setelah Rosa pergi. Pemuda itu menghilang dalam sekejap, dia mengikuti Rosa dalam diam dari kejauhan agar tak ketahuan.
Hingga matahari terbenam, tak ada yang terjadi pada gadis penolongnya itu. Akhirnya Richard memutuskan untuk kembali ke kastilnya guna memulihkan diri. Dia bisa mengutus dua bawahannya yang paling dia percaya untuk melindungi gadis itu dari jauh saat dia kembali nanti.
Dan di sinilah Richard berada, di depan kastil mewah yang terlihat kuno dan megah. Bangunan tinggi yang hanya bisa dilihat di televisi atau lukisan-lukisan, kini berdiri dengan kokoh di tengah hutan yang tak tersentuh oleh manusia.
"Yang mulia, anda dari mana saja?" kata kepala pelayan yang tiba-tiba muncul di depan Richard. "Astaga! Ada apa dengan pakaian anda, yang mulia?!" pekiknya begitu sadar penampilan tuannya berubah drastis.
Belum sempat Richard membalas, dia sudah dibawa berpindah ke kamarnya dalam sekejap. "Saya akan menyiapkan air mandi anda secepatnya, mohon tunggu sebentar!" ucap pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.
"Theo masih saja tak bisa mendengarkan jawaban dulu sebelum bertindak," kata Richard bergumam.
"Anda bisa mandi sekarang yang mulia!" ucap kepala pelayan yang dipanggil Theo tadi kembali dalam waktu singkat.
"Aku akan mandi nanti. Sekarang panggilkan si kembar dan siapkan aku makanan," tukas Richard sebenarnya ingin meminta hal ini terlebih dahulu begitu dia sampai tadi.
"Saya akan segera membawa Gwen dan Glen bersaudara secepatnya, yang mulia!" tukas Theo menghilang sekali lagi.
Begitu pria itu kembali, dia membawa si kembar yang dimaksudkan dan makanan yang diminta oleh tuannya. "Selamat makan, yang mulia!" katanya mundur ke belakang beberapa langkah.
"Kami datang menghadap anda, yang mulia!" kata Gwen dan Glen bertekuk lutut.
"Berdirilah!" titah sang tuan sambil menikmati santapannya. Gelas yang berisi cairan berwarna merah pekat direguk seperti meneguk anggur berkualitas tinggi.
Keduanya bergegas berdiri, menunggu titah dari tuannya. "Datanglah ke dunia manusia dan awasi seseorang untukku!" katanya dengan tampang datar.
"Akan kami lakukan!" tukas keduanya menerima perintah. Setelah diberi tahu siapa yang harus mereka lindungi, keduanya pun bergegas pergi.
"Apa orang ini seseorang yang penting?" tukas Gwen yang banyak bicara.
"Jangan banyak bicara! Tugas kita hanya melakukan apa yang tuan perintahkan tanpa banyak bertanya?!" balas Glen yah lebih serius dalam mengemban tugas.
"Cih, aku benci harus dipasangkan dengan orang seperti mu meski kita kembar!" decih Gwen tak suka.
"Aku lebih tak suka dilahirkan di waktu yang sama denganmu!" tukas Glen dingin tak berperasaan.
"Protes saja pada ini kalau berani!" tantang Gwen. Seringai mengejek terkembang di wajah pemuda itu.
"Aku lebih suka membuat kamu menghilang dari pada berbicara pada ibu!" balas Glen tak acuh.
"Dasar tak berperasaan!" gerutu Gwen cemberut.
"Terima kasih," balas Glen datar.
"Itu bukan pujian!" dengus Gwen kesal.
"Oh, benarkah?" timpal Glen terus menatap ke depan.
Mata Glen memicing, menatap seseorang yang baru saja ke luar dari sebuah bangunan yang tinggi. Wajahnya penuh senyum, seolah dirinya merupakan sosok yang paling berbahagia atas segalanya. "Dia, kan yang harus kita awasi untuk yang mulia?" tunjuk Glen melalui isyarat mata.
"Sepetinya!" tukas Gwen. "Bau yang diberikan tuan sama dengan bau orang itu!" lanjutnya mengeluarkan secarik sapu tangan yang tuannya berikan untuk menemukan orang yang harus mereka jaga ke depannya.
"Sepertinya dia hanya manusia biasa?" gumam Glen mengerutkan kening berpikir.
"Aha, apa tuan menargetkan manusia itu sebagai sapi perah?" ucap Gwen menjentikkan jari. Dia memasang tampang bangga karena bisa menebak dengan mudah apa yang tuannya pikirkan.
Sapi perah, itu bukan hal yang mustahil. Tapi buat apa tuannya sampai mengawasi kalau hanya ingin meminum darah manusia biasa itu. Tentu dengan mudahnya tuannya pasti bisa mendapatkan apa yang dia mau dan memanipulasi ingatan orang-orang di sekitar manusia itu tentang dirinya. Terlebih, tuannya sudah sangat lama tak meminum darah manusia. Sudah sejak ratusan tahun yang lalu mereka berhenti meminum langsung dengan cara yang kuno. Mereka membeli dan menuangkan darah itu ke dalam gelas, menikmatinya perlahan seperti menikmati anggur berkelas. Atau terkadang mereka akan berburu binatang di saat sedang ingin saja.
"Biar tuan yang mengurus itu. Tugas kita hanya mengawasi!" kata Glen kemudian. "Ayo ikuti manusia itu dari kejauhan!" lanjut pemuda itu begitu melihat Rosa mulai meninggalkan gedung tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
will
.
2023-11-21
1
will
m
2023-11-21
1
will
lanjut
2023-11-21
1