12

Rosa merasa canggung menerima begitu banyak kelembutan dari Richard, pria itu menghujaninya dengan tatapan hangat yang selama ini tak pernah dia dapatkan.

"Ekhem, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya gadis itu seraya menggaruk pipinya canggung.

"Tanyakan apa pun yang kamu inginkan!" balas Richard menopang wajahnya dengan sebelah tangan. "Tanyakan apa saja yang membuat kamu penasaran hingga rasa penasaran kamu berkurang," lanjut pria itu memberi izin Rosa untuk bertanya sebanyak yang gadis itu inginkan.

"Kenapa kamu begitu baik?" pertanyaan pertama telah Rosa layangkan.

"Karena kamu sudah menyelamatkan diriku," tukas Richard membalas.

"Terus buat apa kamu repot-repot membawa aku sampai ke kastil kamu?"

"Sudah kubilang, ada anj*ng kampung yang mendekati kamu dan itu berbahaya karena kami berdua bermusuhan," ucap Richard jujur tanpa menyembunyikan apa pun.

"Aku bisa sembunyi di tempat lain kalau memang dia berbahaya. Kamu gak harus bawa aku ke sini, kan?"

Richard mengangkat bahu tak peduli. "Aku tak berpikir panjang dan hanya memutuskan dengan cepat. Tempat paling aman buatmu adalah dengan berada di sisiku dan itu jelas bukan keputusan yang salah,"

Ah, itu juga benar. Tak mungkin orang yang sedang terjebak dalam bahaya bisa memikirkan dirinya harus bersembunyi di mana. Pasti mereka akan langsung berlari menghindari tempat yang berbahaya bagi mereka tanpa pikir panjang.

"Sudah selesai?" tanya Richard yang melihat tangan Rosa sudah berhenti bergerak. Rosa mengangguk sebagai jawaban.

"Ayo, aku antar ke kamu kembali ke kamar." Richard berjalan di sisi Rosa, membawakan makanan yang sudah gadis itu kemas di sebelah tangannya.

"Biar kami yang membawa, yang mulia," tukas anak buah Richard begitu melihat raja mereka turun tangan sendiri membawa barang remeh seperti itu di tangannya yang sangat berharga.

Richard melirik sinis, memberi tatapan yang mengancam kematian pada kedua bawahannya yang seenaknya menginterupsi waktunya bersama dengan Rosa. "Pergi!" satu kata bernada dingin membuat keduanya segera pergi tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya.

"Jangan terlalu jahat sama bawahan. Kalau mereka lari atau berkhianat karena kesal,. gimana?" tukas Rosa memberi sedikit masukan

"Tinggal aku kirim ke dunia lain saja," ucap penguasa kegelapan itu dengan entengnya.

"Kalau semua kamu kirim ke sana, lalu dengan siapa kamu di sini?" tanya gadis itu lagi.

"Masih banyak bawahan lain yang lebih berguna dan tak menjengkelkan seperti mereka," balas Richard acuh.

"Terserah kamu sajalah," ucap Rosa mengakhiri pembicaraan.

"Makasih udah diantar, aku gak akan tahu jalanan kalau harus balik sendiri tadi," tukas Rosa beberapa saat kemudian, begitu mereka sudah sampai di depan kamarnya.

"Bermainlah sepuasnya hari ini, aku akan mampir lagi nanti malam," ucap Richard berjanji akan kembali untuk melihat Rosa nanti.

"Eng, kamu mau bawa satu, gak?" tanya gadis itu menggaruk pipinya canggung.

"Kalau diberikan pasti akan aku bawa," tukas Richard menjawab dengan cepat.

"Buatmu, selamat menikmati walau mungkin rasanya tak ada," kekeh gadis itu.

Sebenarnya Rosa suka tinggal di sini, tapi dia hanya merasa bosan karena terus terkurung dan ruang geraknya terbatas. Makanya gadis itu terkadang uring-uringan lalu mengajak Richard adu mulut ketika rasa bosannya sudah menumpuk banyak. Untuk masalah mereka dari ras yang berbeda, awalnya Rosa memang terkejut. Dia Takut kalau dirinya harus menjadi stok makanan cadangan bagi Richard. Tapi pria itu sudah mengatakan tidak dengan mulutnya sendiri, dan dia tak memiliki pilihan lain selain percaya pada apa yang pria itu katakan.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

"Yang mulia, anda dari mana saja?" seorang bawahan Richard bergegas menanyai rajanya begitu sang raja kembali. "Putri Joanne telah menunggu anda sejak tadi," katanya melirik seorang wanita cantik yang sedang duduk dengan anggun di sofa, tepat di depan meja kerja Richard.

"Kamu bisa pergi," tukas Richard tak peduli.

"Oh, kamu sudah di sini?" kata wanita cantik bernama Joanne tadi.

"Ya," balas Richard singkat tanpa melirik sedikit pun ke arah lawan bicaranya. Dia malah sibuk menata kue kering yang dibuat Rosa.

"Apa itu?" tanyanya sedikit tertarik. "Makanan? Sejak kapan sang raja yang kuat tertarik pada hal remeh seperti itu?" katanya kembali membuka mulut untuk melayangkan sindiran.

"Bukan urusanmu!" tukas Richard tegas.

"Apa rumor itu benar?" senyum sinis terpatri di bibir wanita tadi, dia menatap angkuh ke arah Richard. "Bahwa ada manusia lemah yang bersembunyi seperti tikus di sini?!" Joanne mengangkat sebelah alisnya, memperhatikan perubahan ekspresi wajah pria yang menjadi raja di sini.

"Jangan berpikir untuk menyentuhnya jika kamu masih ingin hidup!!!" ancam Richard dengan tatapan sengit.

"Aku bukan anak kecil yang akan menggangu makhluk lemah yang membosankan dan hanya bisa mengeluh. Belum lagi umurnya yang singkat, bahkan mereka akan mati sebelum aku sempat bersenang-senang sepuasnya mempermainkan mereka,"

"Tak akan ada yang mati tanpa izin dariku!" tukas Richard dingin.

"Kamu mungkin raja, penguasa kegelapan, tapi kamu bukan Tuhan atau pun dewa yang bisa mengatur semuanya, yang mulia!" tukas wanita itu terkekeh kecil.

Joanne, seorang anak bangsawan yang merupakan satu-satunya kandidat yang berkesempatan besar untuk menduduki posisi sebagai pendamping Richard. Dengan kata lain, dia merupakan kandidat ratu di masa depan. Makanya dia bisa bersikap seenaknya di depan Richard, dia berpikir kalau kedudukan mereka berdua setara di masa depan.

"Jangan menguji batas kesabaran yang aku miliki! Aku tak pernah peduli siapa yang ada di belakangmu atau apa pengaruh yang akan terjadi kalau kamu menghilang. Kamu tahu kan, aku selalu melakukan apa yang aku inginkan tanpa berpikir apa konsekuensi yang akan aku hadapi di masa depan!"

Joanne tersentak kecil mendengar itu, dia lupa kalau Richard yang marah tak akan peduli pada apa pun atau siapa pun. Dia hanya akan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang menurutnya membuat dirinya kesal tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Pergi! Dan simpan cakar-cakar-mu sebelum aku memotong tangan yang mungkin masih ingin kamu gunakan dalam waktu lama!"

Joanne pergi tanpa permisi. Waktunya berdua dengan Richard malah dia habiskan dengan bertengkar. Ini lebih buruk dari pada yang biasanya dia lalui. Lebih baik mereka diam-diaman dan tak membicarakan apa pun dari pada Richard menandainya sebagai orang yang harus disingkirkan seperti sekarang. Kalau sampai ayahnya tahu, bisa-bisa dia dikurung dan tak diperbolehkan ke luar selama sisa hidupnya atau sampai dia bisa menikah dengan Richard. Itu pun kalau dirinya masih bisa memenuhi syarat sebagai kandidat ratu.

"Ini semua karena manusia hina itu!" desis Joanne dengan tatapan penuh permusuhan. Dia bahkan belum pernah bertemu dengan Rosa, tapi dia sudah sebenci itu dengan gadis yang bahkan tak dia tahu bagaimana wajahnya ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!