Rosa dan Richard adu mulut, tak ada yang mau mengalah. Mereka berdua teguh pada pendirian mereka masing-masing. Richard yang berpikir kalau Rosa akan aman di tempatnya, sedangkan Rosa malah ingin kembali dan hidup seperti sebelumnya.
Capek berdebat, Rosa mengajak Richard untuk bernegosiasi ulang. Gadis itu hanya bisa berharap kalau pria keras kepala ini bakal setuju dengan apa yang dia katakan.
"Katakan!"
"Biarkan aku balik, aku bisa bertanggung jawab pada hidupku sendiri seperti sebelumnya. Kamu gak perlu ikut campur, kamu juga gak perlu balas budi. Aku nolong cuma karena kebetulan aja aku lewat sana dan liat kamu luka. Aku yakin kalau ada orang lain di posisi kayak aku, pasti dia bakalan nolongin kamu juga. Jadi kamu gak perlu ngerasa berterima kasih sampai segininya. Lepasin aku, ya! Aku suka bekerja meski kesulitan, aku juga menikmati hidup aku yang pas-pasan dan harus banyak mikir apa yang bakalan aku makan nantinya agar uang aku cukup. Tapi aku bebas, aku gak dikekang apa lagi diculik kayak gini," Rosa mencoba menjelaskan kalau dirinya tak masalah menolong Richard, dia juga gak ngarapin Richard ngasih balasan sama dia. Tapi dia cuma minta dibalikin ke tempatnya dan dibiarkan bekerja seperti biasanya aja. Richard gak perlu peduli sama dia kalau cuma karena rasa terima kasih atau empati yang lainnya.
"Kamu bisa mati kalau aku lepas tangan!"
Rosa tersenyum tipis. "Yah, itu artinya umur aku udah habis, kan?" tukas gadis itu santai.
"Kamu kehilangan nyawa gara-gara nolongin aku, bodoh?!" maki Richard dengan wajah kesal.
"Terus apa? Aku harus bergantung gitu sama kamu biar selamat?"
"Iya, kalau perlu!" kata Richard datar.
"Aku gak suka manfaatin orang lain demi kepentingan aku!" kata Rosa membalas.
"Aku bukan orang, aku vampir," ucap pria itu enteng.
"Iya, termasuk vam– apa? Vampir?" baru saja Rosa ingin mengiyakan ucapan Richard, tapi tak jadi karena dia sadar akan arti yang Richard katakan tentang identitas dirinya.
"Penguasa kegelapan! Raja vampir! Itulah aku yang udah kamu tolong,"
Wajah Rosa pias, dia terdiam dengan mulut terbuka saking terkejutnya dirinya. Dia memang tadi sudah menduga, tapi ditepisnya karena berpikir kalau tak mungkin. Tapi saat mendengar pengakuan Richard dari mulutnya sendiri, Rosa tak bisa untuk tidak kaget karenanya.
"Kamu menculik manusia untuk persediaan makanan, kan?" tuduh gadis itu dengan mata memicing. Wajahnya masih pucat, tapi permusuhan jelas menguar dari dirinya.
"Aku gak kekurangan uang untuk membeli kantong darah dari rumah sakit, bodoh!" dengus Richard pelan.
"Kalau gitu biarin aku pulang!" pinta Rosa keras kepala.
"Tidak!" tolak Richard yang juga sama keras kepalanya.
"Gak ada gunanya juga aku di sini?!"
"Tapi aku bisa dengan mudah melindungi kamu kalau kamu ada di sini!"
"Aku gak butuh perlindungan kamu!"
"Aku juga gak butuh izin untuk ngelakuin apa yang aku lakuin!"
Keduanya saling adu mulut tanpa ada yang mau mengalah. Hingga mereka tak sadar kalau jarak di antara mereka hampir tak ada karena setiap berbicara mereka terus mengambil langkah maju mendekati lawan bicaranya. Rosa berdehem memalingkan muka. "Aku ingin bekerja," kata gadis itu tak terbiasa diam saja.
"Kamu bisa bermain di rumah kaca, hancurkan, menanam kembali, atau lakukan apa pun yang kamu inginkan di sana. Tapi jangan jauh-jauh dari keempat pelayan yang aku tempatkan di sisimu," tukas Richard memberikan sedikit keleluasaan pada Rosa.
"Aku tak suka ditempatkan di sangkar, meski sangkar itu sangat mewah,"
"Terima saja dan jangan membantah, atau aku akan mengunci dirimu di menara tertinggi yang tak memiliki pintu atau pun jendela!" ancam Richard agar Rosa mau bekerja sama.
Rosa cemberut, tapi tak lagi melayangkan perlawanan yang begitu kentara seperti tadi. "Ini hanya sementara sampai anj*ng kampung itu tak lagi mengincar kamu," tukas Richard sedikit melunak.
"Sungguh?" tanya Rosa curiga.
Richard mengangguk sebagai balasan. "Gak bohong, kan?" tanya gadis itu kembali memastikan karena masih kurang percaya pada Richard yang sudah menculik dirinya secara sepihak.
"Setidak percaya itukah kamu sama aku?" ketus Richard dengan tatapan mata yang menusuk tajam.
"Memang kapan aku bilang kalau aku percaya sama kamu?" tukas Rosa balik bertanya.
Sekali lagi keduanya beradu mulut untuk masalah yang tak berarti. Hanya Rosa yang bisa diajak berdebat seperti itu oleh Richard, kalau yang lain pasti akan menuruti semua yang dia katakan tanpa membantah sama sekali.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di dunia manusia, Jack kembali ke kafe tempat Rosa bekerja. Dia ingin mendekati gadis itu secara alami dan memanfaatkan keberadaannya untuk memancing Richard. Kalau pria itu datang sendirian untuk menyerang, pasti mereka bisa menghabisinya dengan sangat mudah. Belum lagi emosi tentu akan membutakan akal dan mengacaukan semua strategi yang dimiliki oleh pria itu.
Lama dia menunggu, tapi batang hidung gadis yang dia incar belum terlihat. "Permisi, di mana nona yang kemarin bekerja di sini? Yang saya tolong karena hampir terjatuh itu?"
Pelayan yang ditanyai oleh Jack mengernyit bingung, melihat ke arah Jack dengan tatapan curiga. "Siapa yang anda maksud, tuan?" tanyanya mencoba tetap bersikap ramah.
"Gadis pelayan yang kemarin hampir terjatuh itu? Saya sudah mencari dari tadi tapi dia tak terlihat, apa dia izin tak masuk hari ini? Atau hari ini dia tak bekerja di sini?" tanya Jack lebih menjelaskan siapa yang dia cari.
"Tak ada karyawan di sini yang izin hari ini dan tak ada juga pelayan seperti yang anda jelaskan. Saya permisi, tuan. Masih banyak yang harus saya kerjakan,"
Jack berdecih pelan, dia yakin kalau ini pasti kerjaan mayat pucat yang menjadi musuh abadinya itu. Apa tak bisa dia dibiarkan bersenang-senang meski hanya sebentar. Kenapa harus berakhir padahal rencananya saja belum dimulai sama sekali.
"Brengs*k! Awas kamu, mayat pucat!" desis pemuda itu segera pergi dengan membawa kekesalan yang dia rasakan. Dia kira hari ini akan menyenangkan seperti kemarin, tapi rupanya dia malah merasa jengkel karena rencananya tak jadi dia jalankan. Mangsa yang harusnya dia jadikan umpan malah menghilang tanpa jejak. Sudah pasti si kulit pucat itu yang menyembunyikannya. Sial*n memang, tapi permainan ini semakin menyerukan kalau tantangan yang diberikan semakin meningkat. Lihat saja, dia pasti akan bisa memenangkan permainan kali ini dan memberikan kekalahan telak pada raja vampir yang angkuh itu.
Begitulah hari-hari Rosa dimulai di kastil vampir yang selalu berada dalam kegelapan. Yah, bukan dalam artian gelap yang sebenarnya juga sih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments