Aini dan Nita menyibak sedikit gorden jendela. Beruntung Nita tak jadi mematikan lampu kamarnya. Jika tadi dia jadi mematikan saklar lampunya, pasti dia akan menarik perhatian seseorang atau sesuatu di lorong kamarnya.
Setelah keduanya mengintip, mereka berdua tak melihat apa pun di lorong tersebut. Aini dan Nita saling berpandangan.
"Ga ada apa-apa!", kata Aini berbisik.
"Iya, tapi tadi Lo denger kan kalo ada suara....!"
Srek....srek....srek....suara itu kembali terdengar. Mata kedua gadis itu membulat.
"Ain, gue takut!", bisik Nita. Dia mendekap lengan Aini.
"Ya sama, gue juga takut Nit. Tapi ...kayanya itu orang deh, masa hantu?"
"Tahu dari mana Lo?", tanya Nita.
"Asal nebak aja sih!", jawab Aini. Mereka berdua kembali mengintip dari celah gorden. Tapi lagi-lagi suara itu menghilang dan tidak ada siapapun di sana.
"Ngalamat ga bisa tidur nyenyak gue Ain!", kata Nita masih berbisik.
"Gimana kalo ternyata itu orang jahat Nit? Perampok gitu misalnya? Ini kost kan kosong, cuma kita berdua. Di depan juga sebagian pasti pada ngungsi karena takut sama kasus bundir tadi siang!"
"Ish, Lo ga usah nakutin deh Ai! Gue harap itu justru hantu, kan ga ada hantu yang membunuh orang. Kecuali di pilem bioskop!"
"Emang Lo kagak takut hantu?", Aini sedikit kepo. Kalo memang Nita tidak takut, setidaknya dia bisa berbagi pengalaman horor nya sejak bangun dari komanya.
"Takut juga sih hehehh!"
"Dasar Lo!"
Mereka berdua memutuskan untuk tidur dalam satu kasur. Tak lupa mereka kembali mengecek kunci pintu dan jendela.
Suara itu sudah tak muncul lagi hingga lewat dini hari. Akhirnya, pelan-pelan dia gadis itu pun tertidur.
.
.
Ikbal sudah menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah mewah peninggalan almarhum papanya. Rumah yang menyimpan banyak kenangan manis.
Satpam yang berjaga di posko membukakan pintu gerbang.
"Selamat malam mas Ikbal!", sapa satpam itu.
"Malam pak!"
Satpam akan menarik gerbang ke samping agar mobil Ikbal bisa masuk, tapi Ikbal mencegahnya.
"Tidak usah pak!"
Satpam itu menautkan alisnya.
"Mas Ikbal ngga mau nginep?", tanya Satpam lagi.
"Ngga mang, cuma lagi kangen saja sama papa dan adek!", kata Ikbal sambil menatap rumah mewah itu.
Pak Satpam yang bernama Uus pun menatap iba pada anak majikannya. Dia paham jika Ikbal pasti sangat merindukan almarhum papa dan adiknya.
"Kenapa tidak masuk saja mas?",tanya Uus.
"Mau masuk, tapi tidak mau menginap pak!", kata Ikbal. Lalu ia turun dari mobilnya.
"Pak Uus istirahat saja. Kunci gerbang selama saya masuk ngga apa-apa, nanti saya buka sendiri gerbangnya kalo mau balik ke apartemen."
"Baik mas!", kata Uus. Ikbal pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah yang sudah terkunci. Beruntung dia punya kunci rumah itu sendiri. Jadi dia bisa pulang sewaktu-waktu.
Pandangan nya menyapu seluruh ruangan yang ada di dalam sana. Suasana gelap dan sangat hening. Hanya terdengar detik jam dari jam klasik berwarna coklat tua berbahan kayu.
Aini bilang, ada sesuatu yang Ilma sembunyikan di bawah salah satu lemari hias. Tapi di rumah itu ada beberapa lemari hias yang besar dan mungkin sama sekali tak pernah tergeser sekalipun posisinya sejak bertahun-tahun. Gumam Ikbal.
Ikbal mencoba menggunakan instingnya. Jika benar papa tirinya menghabisi adiknya karena tak sengaja kepergok mendengar obrolannya di telpon, pasti tidak jauh dari ruang makan karena posisinya pagi hari.
Ikbal mencoba menelusuri ruang makan. Tapi di sana tidak ada lemari hias. Hanya ada meja yang di gunakan untuk meletakkan vas bunga dan meja makan tentunya. Berarti, bukan di ruang makan.
Ikbal pun kembali berjalan menuju ke ruang kerja yang biasa almarhum papanya gunakan. Tak jauh dari pintu ruang kerja, terdapat lemari hias yang berisi koleksi barang-barang pecah belah koleksi mamanya yang berasal dari mancanegara.
Ikbal berjongkok sedikit, besar kemungkinan benda itu jatuh dan masuk di sana. Bisa jadi benda itu ponsel Ilma yang tak di temukan setelah Ilma meninggal. Karena, lubang itu bisa di lewati benda pipih tersebut. Dan art nya hanya bisa membersihkan kolong itu dengan alat sejenis vacum cleaner yang berujung kecil. Jadi...bisa jadi juga, kolong itu tak pernah tersentuh.
Saat Ikbal akan menyalakan senter dari ponselnya, ia terkejut dengan suara mamanya yang memanggil namanya.
"Ikbal?"
"Astaghfirullah!", Ikbal sedikit tersentak. Begitu pula dengan sang mama yang sama terkejutnya.
"Kamu ngapain malam-malam di depan lemari?", tanya Rini.
"Kayanya cincin aku jatuh ma, masuk ke sana. Besok pagi coba aku cari deh!", kata Ikbal mengurungkan niatnya.
"Cincin?", tanya Rini. Baru saja Ikbal akan menjawab, papa tirinya mendekatinya dengan sang mama.
"Kapan datang Ikbal?", sapa Romi. Dada Ikbal naik turun. Ingin rasanya membalas semua perbuatan jahat Romi. Tapi ia belum memegang bukti.
"Tadi. Bukankah ini rumah ku? Aku bebas datang kapan pun aku mau!", jawab Ikbal. Romi menatap kesal pada anak tirinya itu yang seolah memiliki nyawa seribu. Karena sudah berulang kali Romi mencoba menyingkirkan Ikbal, nyatanya dia masih di hadapannya.
"Ssstttt... sudah-sudah, sekarang kamu istirahat saja di kamar Bal! Kamu pasti lelah. Besok kamu praktek kan?", Rini mencoba menengahi.
"Ngga ma. Besok jadwal ku off di rumah sakit, tapi aku akan ke kantor. Ada hal yang harus aku urus!", jawab Ikbal. Romi menggerakkan jemarinya, dia paling benci jika Ikbal berkunjung ke kantornya.
Kenapa??? Romi selalu jadi bahan olokan oleh teman satu divisinya. Dia sudah menikahkan ibunya Ikbal, tapi masih menjadi karyawan rendahan seperti mereka.
"Ya udah, kamu ke kamar saja. Mama sama papa juga mau ke kamar lagi kok!", kata Rini sambil menggandeng lengan suaminya. Sedang tangan kirinya membawa gelas berisi air putih.
Ikbal menatap punggung Romi dan ibunya. Sebenarnya Ikbal takut jika suatu saat Romi akan menyakiti sang mama. Tapi... sepertinya, mamanya begitu patuh terhadap Romi.
Ilma, kamu tenang sayang. Aku akan membuat perhitungan dengan laki-laki biadab itu. Dia harus menerima hukuman atas apa yang dia lakukan terhadap kita!!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments