Aini terpaku saat melihat sosok bermata merah dengan taringnya yang panjang menatap dirinya.
Nafas Aini tercekat, nyaris berhenti saat sosok itu seolah mendekat padanya.
Hingga....
"Aaahhh....!", teriak Aini.
"Aini....Aini....?", seseorang mengguncang bahunya pelan. Tapi Aini masih berteriak.
"Aini, hei...Aini.... astaghfirullah!"
Barulah Aini sadar jika ada seseorang yang memanggil namanya. Dan tiba-tiba makhluk itu hilang dari pandangannya.
"Istighfar Aini!", kata orang itu. Suara teriakan Aini tentu saja mengganggu pasien lain yang ada diruangan itu. Karena memang ada empat pasien di sana. Belum lagi yang menjaga si pasien.
"Astaghfirullahaladzim!", ucap Aini berulang-ulang. Lalu seseorang menyodorkan minuman pada Aini. Aini pun menurut untuk meminumnya.
Setelah sedikit lebih tenang, Aini menatap seseorang yang tadi memberikan minum padanya.
"Dokter Ikbal?"
"Iya. Tadinya saya cuma mau periksa pasien sebelah. Tapi kamu teriak-teriak, ada apa?", tanya Ikbal. Semua mata pasien dan yang menemani nya pun tertuju pada Aini. Aini yang merasakan aura tidak menyenangkan itu pun memilih untuk tidak berbicara jujur. Takut nantinya hanya akan menakut-nakuti yang lain.
"Ng...gggak apa-apa dok!", kata Aini.
Dokter Ikbal menoleh ke arah yang sempat Aini lihat. Tidak ada apa-apa di sana. Tapi feelingnya....
Apa gadis ini bisa melihat sesuatu yang kasat mata pasca koma ya? Seperti.....???
Dan herannya, Aini bisa mendengar apa yang dokter Ikbal katakan dalam hati. Apa ini???? Tanya Aini pada diri sendiri.
Benarkah setelah koma ia bisa melihat hal-hal di luar nalar seperti ini???
"Dok, kapan saya bisa pulang ya?", tanya Aini pada dokter Ikbal.
"Setelah semuanya membaik, pasti pulang kok!", jawab Ikbal sambil tersenyum. Aini mengerucutkan bibirnya.
Kenapa sih nih anak ngegemesin banget. jadi pengen nyubit!
Lagi-lagi Aini mendengar suara hati dokter Ikbal.
Gue ngga salah denger kan? Dia bilang gemes ke gue? Mendadak jantung Aini jedag jedug.
"Saya sudah tidak betah dok. Lagi pula saya sudah sehat kok. Dokter Ikbal liat kan saya baik-baik saja!", kata Aini.
"Tapi kaki kamu belum di coba untuk berjalan-jalan kan? Soalnya ada beberapa tulang yang retak kemarin saat pemeriksaan."
"Heum, iya sih. Masih sakit, belum di coba di pake jalan. Tapi saya yakin kok, saya bisa dok?", kata Aini optimis.
"Heum, boleh di coba. Tapi alangkah baiknya di coba besok pagi. Biar masih fresh. Jadi full tenaganya."
"Siap dok!", sahut Aini tersenyum.
"Ada hal yang ingin saya tanyakan sebenarnya. Tapi dari kemarin-kemarin saya ragu karena ada orang tua kamu."
"Tanya apa dok?"
"Eum, malam itu...saya lihat ada motor yang dikejar empat motor besar. Saat itu saya sedang memarkirkan mobil karena saya memang sedikit masih mengantuk. Ngga lama habis liat itu, tahu-tahu saya dengar suara keras dan ya...itu kamu yang menabrak dinding beton."
Aini menelan salivanya. Jadi, selama ini orang tua dan juga Nita serta Ruby belum tahu penyebabnya?
"Hal apa yang membuat mereka mengejar mu? Kalau memang mereka begal, saya akan membantu kamu melaporkan kejadian itu pada pihak berwajib!"
Aini terdiam.
"Untuk apa tengah malam kamu masih di jalan sepi seperti itu Aini?", tanya Dokter Ikbal lagi.
"Ada hal yang tidak bisa saya ceritakan sama dokter!", kata Aini. Ikbal melihat sesuatu yang sedang Aini tutup-tutupi.
"Baik lah, kalau kamu memang tidak ingin saya bantu. Ya sudah, selamat beristirahat Aini!", kata Ikbal lalu pergi dari brankar Aini.
Selang beberapa saat kemudian, orang tua Aini pun kembali.
"Maaf ya Ain, bapak sama ibu kelamaan di luar!", kata bapak Aini.
"Iya pak!", jawab Aini singkat.
"Oh iya Ai, sejak kamu masuk rumah sakit sepertinya bapak ngga pernah lihat Ibas. Dia... kemana? Kenapa ngga jenguk kamu ya?", tanya bapak Aini.
Dia memang sudah cukup mengenal Ibas. Karena Aini dan Ibas sudah cukup lama menjalin hubungan.
"Eum, mungkin dia sibuk pak!", jawab Aini singkat. Lalu ia mengalihkan pembicaraan agar bapaknya tak berbicara lagi soal lelaki menjijikan itu.
"Bu, mau jeruk!"
"Iya, ibu kupasin!", sahut sang ibu. Lalu ia pun menyuapi putrinya.
Apa yang Aini sembunyikan? Apa dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Ibas? Lalu ,kemana Aini malam-malam kalo bukan habis pergi dengan Ibas? Aku harus bertanya pada Nita. Kalau saja kecelakaan yang Aini alami ada sangkut pautnya dengan Ibas, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada anak itu!!!
Aini mendengar pertanyaan bapaknya yang tidak beliau ucapkan. Entah kenapa ia harus menyembunyikan fakta jika apa yang terjadi memang ada sangkut pautnya dengan Ibas.
Kenapa tidak jujur saja????
Malu! Itu yang Aini rasakan. Karena dia sudah sering di peringatkan oleh Nita agar jangan terlalu percaya pada Ibas. Dan inilah yang terjadi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
goblok ain itu udh tindak kriminal kok malu mau cerita mangkanya ketololannya jangan di abadikan cerdas dikit.jd perempuan
2023-07-02
1
Irma Tjondroharto
kenapa malu mengakui aini.. justru dg jujur.. semua orang tau.. dan bisa melindungi kamu klo sewaktu waktu ibas datang menemuimu
2023-05-25
1