Aini menunggu kedatangan Nita. Entah gadis itu tahu atau tidak jika di tempat tinggalnya baru saja terjadi kasus bunuh diri. Nita memang bukan penakut, hanya saja kondisi kost yang mendadak sepi tentu akan membuatnya merasa heran.
Kok sepi?
Sebagian penghuni memang memilih untuk mengungsi ke tempat lain. Pun termasuk tetangga kamarnya. Di lorong itu, hanya Aini yang tinggal di kamarnya.
Mungkin, kebanyakan mereka merasa takut? Sebenarnya Aini pun sama, hanya saja ia memilih untuk mencoba berani. Prinsipnya, manusia di ciptakan lebih mulia dari mereka. Jadi jangan takut! Toh, hantu yang bisa membunuh hanya ada di film-film.
Suasana benar-benar lengang. Bahkan detik jam dinding saja sampai terdengar. Aini sudah melaksanakan empat rakaatnya, dia pun merebahkan diri di kasurnya lagi.
Jemari nya lincah mencari informasi pekerjaan di kolom pencari kerja. Gadis itu sudah tak sabar ingin segera pulih agar bisa kembali bekerja meskipun bukan di tempat yang sama lagi.
Aini akan mencari pekerjaan apapun selama pekerjaan itu halal. Tapi sampai hampir jam sembilan malam, gadis itu masih tetap tak menemukan informasi tentang lowongan pekerjaan.
Nita juga belum ada tanda-tanda pulang di jam segini. Masih dengan ponselnya, tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok perempuan yang duduk di kasur Nita. Aini mencoba mengabaikan tapi sosok itu justru seolah sedang menatapnya.
Aini tidak melirik ke arah sana, tapi ekor matanya bisa melihat sesuatu di sana bergerak. Jantung Aini mulai berpacu cepat. Jika ia sudah terbiasa dengan kehadiran Ilma, tidak dengan makhluk-makhluk barunya yang bahkan mungkin lebih mengerikan.
Perlahan sosok itu mendekat ke arah wajah Aini. Aini yang mulai tegang pun menutup matanya. Ia tak ingin melihat sosok itu.
Nafas Aini mulai memburu, keringatnya mengalir dari celah-celah rambutnya hingga melewati pelipisnya.
Jangan ganggu aku please! Aku tidak ingin melihat mu. Aku tidak akan menggangu mu! Pergilah, jangan ganggu aku! Allahulailahailla huwal khayul Qoyum....
Aini membaca ayat kursi dalam hatinya lalu membuka matanya perlahan.
"Buwhahahhh!", tiba-tiba suara Nita mengejutkan Aini.
Plak!!! Sebuah tepukan kencang mendarat di lengan Nita.
"Aduh! sakit be**! Baru sembuh tapi tenaga Lo kenceng amat sih!", Nita mengusap bekas pukulan Aini.
"Lo tuh yang bikin gue kaget tahu ngga!", kata Aini. Sebenarnya ia merasa tenang karena Nita sudah pulang. Itu artinya sosok yang tadi mencoba berinteraksi dengannya sudah pergi.
"Lagian, gue udah manggil Lo dari tadi. Bukannya jawab, Lo malah baca ayat kursi! Liat setan Lo?", celetuk Nita yang membuka sepatunya sambil duduk di kasur.
"Lo...balik sama mas Ruby?",tanya Aini.
"Iya, di depan noh! Oh iya, betewe...tumben nih kosan sepi banget. Sama itu ...kamar dekat gudang kenapa di pasang garis polisi!?", tanya Nita.
"Penghuni nya di temukan meninggal bunuh diri katanya. Katanya juga sih gantung diri!", jawab Aini.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Yang bener aja Lo? Jadi... tetangga ceritanya pada ngungsi gitu?"
"Ya...kali. Gue ngga tahu, ga keluar soalnya!"
"Yakin Lo Ai, kagak keluar? Itu makanan Lo pesen online? Gila Lo ye, abis dua porsi? Ga nyangka Lo habis sakit makannya banyak amat!", celetuk Nita.
"Gak lah. Gila aja gue makan sebanyak itu! Mas Ikbal yang bawain, tadinya sih mau buat Lo. Tapi berhubung Lo balik malam ya udah kita makan bareng aja."
"Aciyeeee....yang udah move on dari Ibas. Gue sih setuju Lo ma tuh dokter. Udah ganteng, Soleh mana tajir lagi.".
"Ngga usah ngadi-ngasi, gue sadar diri lah Nit. Mana ada kek gitu!", kata Aini.
"Ye...siapa tahu aja kan? Betewe gue mau pergi lagi sama mas Ruby. Lo ngga apa-apa kan gue tinggal lagi?"
"Emang Lo mau ke mana? Udah mau jam sepuluh lho ini Nita?!"
"Cari makan doang. Tadi nya gue mau nawarin Lo, eh ternyata Lo udah makan duluan. Ngabisin jatah gue juga lagi!"
"Heh! Enak aja! Gak ya, itu mas Ikbal yang makan!"
"iya iya... yang udah punya mas. Gue cuma beli makan di depan kok. Liat kan gue cuma pake kaos oblong? Paling ngga sampai sejam gue balik. Lo mo nitip ga?"
"Ga usah. Yang penting Lo berdua hati-hati!", kata Aini.
"Iya bawel!", Nita pun keluar dari kamar mereka.
Aini kembali meraih ponselnya. Dia harus mencari lowongan pekerjaan secepatnya hingga sebuah artikel yang cukup menarik ia baca.
"Hah? Jadi petugas kamar jenazah???", tanya Aini pada diri sendiri.
"Tapi ini rumah sakit yang sama di mana gue dirawat dan dokter Ikbal juga praktek di sana."
Aini bermonolog. Lalu ia kembali membacanya. Tidak ada spesifikasi gender harus laki-laki atau mungkin perempuannya pun boleh melamar di sana. Persyaratannya gampang, mungkin Aini akan memikirkannya nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments