Mobil Ikbal sudah sampai di depan kost Aini. Tapi mereka di kejutkan oleh kehadiran Ibas dan teman-temannya yang sedang menginterogasi teman kost Aini. Mungkin kalau ada Nita, mereka akan bertanya banyak padanya. Sayangnya hanya ada tetangga yang bahkan tak terlalu kenal dengan Nita maupun Aini meski mereka berdua adalah penghuni terlama di kostan tersebut.
Ikbal dan Aini turun dari mobil bersamaan dengan Ibas yang menoleh.
"Ain?", Ibas langsung menghampiri gadis itu.
Sedang Aini sendiri memilih bersikap acuh.
"Ain, bagaimana kabar kamu? Aku udah lama cari tahu keberadaan kamu di rawat di mana. Tapi tidak ada satupun yang memberi tahu ku, apalagi sahabat kamu itu!"
"Aku baik!", jawab Aini datar. Jika biasanya ia bucin akut pada Ibas, tidak sekarang. Ingatannya tentang seorang Ibas yang hanya ingin menikmati tubuhnya pun membuat gadis itu semakin jijik pada sosok tampan di depannya. Wajah memang tampan, tapi kelakuan seperti binat***.
"Sayang!", Ibas berusaha mendekati Aini untuk meraih bahunya. Tapi Aini memundurkan langkahnya. Mata Ibas tertahan pada sosok yang ada di samping Aini. Dia tak menyadari kehadiran kakak tirinya dari tadi di sana.
"Mas Ikbal kok bisa bareng Ain?", tanya Ibas. Aini pun menoleh pada sosok dokter yang sudah menolongnya dan ya... katanya akan menjaga Aini, entah dalam porsi sebagai apa.
"Iya. Aini pasien ku. Dan kebetulan, saat terjadi kecelakaan pada Ai, aku yang membawanya ke rumah sakit."
Gila! Ga mungkin banget kan kalo Ikbal tahu gue ada hubungannya sama kecelakaan Aini? Batin Ibas.
Tapi Aini juga mendengar apa yang Ibas ucapkan dalam hatinya. Ia pun tak menyangka jika Ibas mengenal Ikbal.
"Benarkah?", Ibas ingin memastikan kembali jawaban dari rasa penasarannya.
"Iya!", jawab Ikbal singkat.
"Kenapa mas Ikbal ngga bilang sama aku kalo mas Ikbal yang udah nolongin Ain?"
"Memangnya aku tahu kalo kalian saling mengenal?", tanya Ikbal balik.
"Maaf Mas, aku mau istirahat dulu di kamar ya! Udah malam banget! Makasih udah nganterin aku!"
"Iya, jangan lupa kalo ada apa-apa hubungi aku!", kata Ikbal. Aini pun mengangguk dan berjalan mengabaikan Ibas dan teman-temannya yang juga sama kebingungannya dengan Ibas.
"Ain, ain... tunggu! Aku mau ngomong Ain!", panggil Ibas tapi terus di abaikan oleh Aini.
Ibas berusaha mengejar Aini, tapi Ikbal berhasil menahannya.
''Jangan ganggu Aini lagi!", kata Ikbal dengan nada dinginnya. Ibas menoleh cepat pada kakak tirinya.
"Aku pacar Aini! Bagaimana mungkin seorang pacar mau mengganggu kekasih nya sendiri! Itu bukan urusan kamu mas!"
"Oh ya? Tapi mulai sekarang, apa yang berhubungan dengan Aini akan jadi urusan ku."
"Apa maksud mu?", Ibas mulai terpancing emosi.
"Aku sudah berjanji pada kedua orang tua Aini, aku akan menjaganya sebaik dan semampuku. Apalagi...dari laki-laki bejat seperti kamu!", Ikbal mendorong dada Ibas dengan telunjuknya tapi cukup membuat Ibas mundur selangkah.
Tanpa menghiraukan Ibas, Ikbal masuk kembali ke mobilnya lalu melesat menuju ke apartemennya.
Ibas memukul udara di depannya. Ia emosi! Dia benci pada kakak tirinya. Karena ia selalu satu langkah lebih maju darinya.
"Lo cemburu Abang tiri Lo deketin Aini?", tanya temannya.
"Cuih...gue ga cemburu! Gue cuma ga suka kalo milik gue di inginkan orang lain, terlebih itu Ikbal. Kalian tahu kalo gue benci sama tuh orang!"
"Gara-gara dia ngelarang hubungan Lo sama almarhumah Ilma?", tanya temannya lagi.
Ibas tak menjawab, hanya terdengar helaan nafas dari mulut nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments