Ruby dan Nita sudah sampai di rumah sakit. Di lorong rumah sakit, keduanya sempat berpapasan dengan bapak Ain yang sepertinya akan pergi.
"Kemana pak?", sapa Nita pada bapaknya Ain.
"Bapak mau pulang kampung dulu Nit. Titip ibu sama Ain ya."
"Lho, kok pulang? Ada masalah di kampung pak?", tanya Nita cemas.
Bapak Aini hanya tersenyum tipis.
"Ngga sih. Hanya saja, ada kabar kalau tanah yang dekat stasiun sudah laku Nit. Rencananya buat bayar biaya rumah sakit Ain. Kemarin sempat pinjam sama pamannya yang di kota sebelah. Bapak ngga enak pinjam lama-lama. Mana banyak lagi."
"Ya Allah pak...!", wajah Nita langsung memelas. Dia kasian dengan bapak Aini. Meskipun mereka bukan keluarga yang sangat miskin, tapi untuk biaya rumah sakit Aini yang tidak sedikit pasti ada yang harus mereka korbankan. Dan...Nita pun tahu, sebenarnya tanah itu nanti akan di serahkan untuk Ain setelah menikah agar membuat rumah di sana. Tapi ternyata... takdir berkata lain.
"Sabar ya pak!", kata Nita. Ruby sendiri hanya jadi pendengar yang baik.
"Iya. Insyaallah memang ini jalan terbaik. Dari pada hutang banyak kan Nit? Meskipun dengan saudara sendiri." Nita pun mengangguk.
"Kebetulan, yang beli orang baik. Ngasih harganya lumayan tinggi. Insyaallah nanti sisanya bisa di pakai buat modal sawah lagi sama warung sembako ibu!"
"Alhamdulillah ya pak. Orang baik kaya bapak dan ibu insyaallah akan selalu dapat pertolongan dari yang kuasa. Bahkan dari arah yang tidak pernah di sangka-sangka!'', Ruby kali ini ikut bicara.
"Alhamdulillah nak Ruby." Beliau menepuk lengan Ruby.
"Oh iya Nit, selama Ain di rawat kenapa bapak ngga pernah liat Ibas ke sini ya? Apa mereka sudah putus?", tanya bapak. Ruby dan Nita saling berpandangan.
"Eum, kurang tahu sih pak mereka masih ada hubungan apa nggak nya!", jawab Nita.
"Tapi...kok bisa ya Ain kecelakaan tengah malam begitu? Apa dia memang suka keluar malam begitu?", tanya Bapak curiga. Nita menggeleng cepat.
"Ngga kok Pak. Ain jarang bahkan hampir tak pernah keluar malam."
"Terus, kenapa dia bisa kecelakaan di tempat sepi seperti itu?", tanya bapak heran tanpa meminta jawaban pada Nita. Nita memilih untuk menggeleng.
"Bapak sudah tanya sama Ain?", tanya Nita.
"Ain ngga mau jawab Nit. Coba kamu yang tanya. Padahal udah lebih dari dua Minggu lho ain di rawat."
"Coba nanti Nita tanya pak!"
"Ya udah bapak mau langsung ke stasiun. Nak Ruby, minta tolong titip Nita sama ain juga ibunya ain ya?", kata bapak.
"Insyaallah pak!", jawab Ruby. Setelah itu, pria setengah baya itu pun berpamitan meninggalkan sepasang kekasih itu. Keduanya langsung menuju ke kamar rawat Aini.
"Assalamualaikum!", Nita dan Ruby menyapa Ain dan ibunya.
"Walaikumsalam! Tuh kan Bu, ada Nita sama mas Ruby. Ibu mandi sama solat aja dulu gih. Ain ngga apa-apa kok!", kata Ain.
Ibu nya hanya menggeleng heran. Putrinya seolah tak mau di temani sang ibu. Padahal sebenarnya......
Ada sosok yang dari tadi mengganggu pemandangan mata Aini. Karena apa? Sosok itu mengendus-endus ibunya. Menjijikan! Itu hal yang membuat Ain ingin ibunya pergi dari sana dan segera sholat ashar. Dia tak rela ibunya di 'gituin'.
Aini nampak sudah mulai terbiasa melihat hal aneh seperti itu. Karena percuma saja ia berteriak ketakutan kalau hanya dia yang melihatnya. Memang akan ada yang sama-sama melihat sepertinya dan percaya pada apa yang Ain lihat?
"Ya udah, ibu mandi sama sholat ashar!", kata ibu Ain berdiri.
"Nita, Mas Ruby tolong nitip Ain ya!", pinta si ibu.
"Ya Allah Bu, ngga perlu di titipkan juga!", kata Aini. Ruby dan Nita justru tertawa.
Setelah ibunya keluar dari kamar rawat Aini, ketiga orang itu pun ngobrol.
"Gue mau tanya?!", kata Nita.
"Apa? Ibas?", tanya Aini. Ruby dan Nita berpandangan lalu mengangguk.
"Gue...gue mau udahan aja sama Ibas!", kata Ain.
"Alhamdulillah?!", sahut Ruby dan Nita. Otomatis Aini menoleh pada keduanya.
"Kenapa? Kok kayaknya girang banget gue mau udahan sama Ibas?", tanya Aini bingung.
"Iya lah, akhirnya Lo nyadar kalo Ibas bukan cowok yang baik buat Lo!", kata Nita berapi-api.
"Heum...ya...ya...sorry, selama ini gue ga mau dengerin Lo. Dan...coba aja waktu itu gue nurut apa kata Lo, ngga usah nemuin Ibas. Mungkin gue ngga ada di sini. Mana....gue yakin kalo gue bakal di pecat!"
"Lo ga usah mikirin itu dulu. Yang penting Lo sehat seperti sedia kala dan Lo harus jawab jujur, apa Ibas ada kaitannya dengan kecelakaan Lo?",tanya Nita.
Kali ini Aini mengangguk karena Nita pasti akan mencari tahu sendiri dan pada akhirnya Nita pun tahu kalo Ibas salah satu penyebabnya ia di sini.
"Udah gue duga!", kata Ruby.
"Coba Lo ceritain!", pinta Nita. Akhirnya Aini pun menceritakan kronologisnya dari awal hingga kecelakaan itu terjadi. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Tapi ia tak berkata apapun karena sedang memeriksa pasiennya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Nenk Manieez
apakah dokter ikbal yg beli?
2024-03-19
0
Sekar Sekar
dr Ikbal
2023-09-18
0
Yuli Eka Puji R
klo di jakarta di dlm kamar rawat pasti ada kamar mandinya, beda klo di rumah sakit kampung kamar mandinya di luar kamar
2023-07-03
0