Aini meneguk minumannya beberapa detik sebelum Ilma melanjutkan ceritanya. Setelah itu, ia kembali fokus dengan apa yang Ilma katakan.
Flashback on
"Pagi ma...!"
"Pagi sayang!", jawab Rini.
"Mama udah rapi aja, ke mana?", tanya Ilma.
"Eum....??", mata Rini melihat ke sekeliling takut ada yang mendengar obrolannya dengan si bungsu.
"Mama mau ziarah ke makam papa kamu. Tapi...jangan bilang sama om Romi ya."
Ilma mengangguk cepat. Dia paham kenapa mamanya harus sembunyi-sembunyi seperti itu. Karena sejak menikah dengan Romi, mamanya di batasi untuk sekedar keluar rumah.
Apalagi dengan alasan yang tidak jelas menurut Romi. Ziarah makam mantan suami Rini, itu alasan yang amat sangat tak penting bagi Romi.
"Mama mau langsung pergi, ngga pamit om Romi dulu?'', bisik Ilma. Rini menggeleng pelan.
"Kalo mama bilang, pasti ngga bakal di ijinin. Lebih baik mama di omelin nanti pas pulangnya aja. Yang penting mama udah ke makam papa mu dulu!"
Ilma membenarkan ucapan mamanya. Dia pun akan melakukan hal yang sama seperti mamanya jika dilarang ke makam papa kandungnya.
"Ya udah, mama tingga dulu ya?", pamit Ribi.
"Iya ,ma! Hati-hati!", kata Ilma sambil mengacungkan jempolnya.
Ilma memilih menikmati sarapannya seorang diri. Ikbal??? Dia sudah stay di apartemen nya. Ibas??? Kelakuan anak itu sudah seperti tak punya rumah, jarang pulang.
Meskipun begitu, Ilma seperti terbuai dan terpesona pada sosok Ibas yang tampan dengan tampang badboynya. Mungkin untuk anak seusia mereka, badboy begitu terlihat lebih menarik di mata mereka.
Mungkin....tapi lho???!!!
"Ilma? Mama kamu di mana?", tanya Romi.
"Eum, ke luar. Mungkin ke pasar!", jawab Ilma. Romi menatap anak tirinya dengan pandangan yang tak terdefinisi.
Saat sedang menghabiskan sarapan, kakak nya menghubungi Ilma. Ikbal mengirimkan chat agar adiknya lebih mendengarkan dirinya.
Ilma dan Ibas bersaudara, tak sepantasnya mereka menjalin hubungan. Ikbal tahu, mereka masih sama-sama remaja. Jadi di mata Ikbal, kisah mereka hanyalah cinta monyet yang akan mudah terlupakan.
Tapi dasar Ilma keras kepala, dia mengabaikan apa yang kakaknya perintahkan. Ibas dan Ilma diam-diam tetap berhubungan tanpa sepengetahuan Rini dan Romi tentunya.
Ponsel Romi berdering. Ia meraihnya lalu berjalan keluar dari ruang makan. Ilma menyelesaikan sarapannya. Tapi samar-samar ia mendengar percakapan papa tirinya dengan seseorang lewat telepon.
[Saya tidak mau tahu! Habisi bocah itu, seperti kamu menghabisi Fauzan!]
Ilma menutup mulutnya tak percaya. Dia tak berkata-kata, fokus mendengar obrolan papa tirinya dengan seseorang di sana.
[Makanya kamu pakai cara lain?! Kecelakaan Fauzan sudah mencurigakan meski kasus itu tak terpecahkan. Jadi...jangan menggunakan metode yang sama. Cari cara lain!]
[....]
[Heum! Awas kalo sampai gagal!]
Romi meletakkan ponsel ke saku. Lalu ia meraih kunci ruang kerja Fauzan. Dengan mengendap-endap, Ilma mengikuti langkah Romi.
Ilma mengintip Romi yang ternyata sedang mengeluarkan senjata tajam dari sebuah laci yang terkunci. Ilma menggeleng tanpa bersuara. Pikiran nya mendadak berpikir cepat. Ilma yakin jika 'bocah' yang di maksud adalah Ikbal, kakaknya sendiri. Karena beberapa kali kakaknya hampir mengalami kecelakaan meski hanya level kecil. Itu pasti ulah papa tirinya.
"Selanjutnya kamu yang harus mati, Ikbal! Satu persatu kalian akan habis!", monolog Romi.
Ilma membungkam mulut dengan tangannya. Dia menangis sekaligus ketakutan. Tapi karena kecerobohannya, justru guci yang ada di belakangnya terjatuh dan pecah begitu saja.
Sontak Romi menoleh dan segera berlari menuju pintu. Dia pikir art nya yang memecahkan guci, ternyata anak tirinya.
"Hei? Gadis kecil? Apa yang kamu lihat? Apa yang kamu dengar, heum?", tanya Romi penuh intimidasi.
"Ak...aku....!", Ilma tak sanggup menjawabnya, yang ia pikirkan sekarang adalah lari dari hadapan papa tirinya yang sangat menakutkan.
Kematian papanya ada hubungannya dengan Romi, tapi ia tak punya bukti. Dan ...kakaknya lag korban berikutnya. Ilma tak ingin terjadi sesuatu pada kakak juga mamanya.
Ilma memilih lari tapi langkah nya yang kecil tentu kalah dengan kaki jenjang Romi yang melangkah.
Rambut yang di kuncir kuda itu di tarik paksa.
"Awssshhh!", Ilma kesakitan.
"Apa yang kamu lihat dan kamu dengar heum? Kematian Fauzan? Rencana pembunuhan Ikbal? Heum? Jawab!!!!"
"Om jahat?!", hanya itu yang keluar dari mulut Ilma. Romi menyeringai seram.
"Aku jahat? Betul sekali!", lanjutnya. Dan setelah itu dia pun tertawa lepas.
"Apa salah papa?! Apa???", bentak Ilma memberanikan diri.
"Dia memiliki segalanya, tapi aku tidak!", jawab Romi. Ia mengulurkan sebuah pisau lipat ke pipi Ilma. Ilma ketakutan luar biasa.
"Bagaimana kalo korban berikutnya itu, kamu saja. Kamu sudah terlanjur tahu rahasia ku!", bisik Romi sambil menekan pisau ke kulit pipi Ilma. Jantung Ilma berdegup kencang.
Tanpa ba-bi-bu, pisau itu melukai Ilma tanpa belas kasihan. Hanya ada tersisa sebagian kecil yang menunjukkan jika Ilma cantik.
Tubuh mungil itu sudah terkapar tidak berdaya dengan banyaknya luka.
Menjerit dan meminta pertolongan???? Pada siapa? Tidak ada siapa pun di rumah itu. Kepulangan bibik menjadi alasan Rini untuk keluar rumah.
Romi memastikan bahwa anak tirinya sudah tak bernyawa lebih dulu. Sayangnya, gadis itu masih berusaha membuka matanya.
Karena kalap, Romi memukul mata gadis itu dengan sangat keras. Dan detik itu juga, Ilma menghembuskan nafasnya.
Romi kebingungan akan membuang kemana jasad Ilma. Dengan segala usahanya, ia berhasil membungkus tubuh Ilma dengan kardus bekas yang banyak tertumpuk di gudang. Untuk menghilangkan jejak, Romi merapikan kembali kardus-kardus yang ada di gudang.
Setelah membersihkan kekacauan di rumah itu, Romi memeriksa cctv yang kebetulan sedang rusak beberapa hari terakhir. Keberuntungan ada di pihak Romi.
Pakaikan kotor dan penuh darah langsung di bakar oleh Romi. Dia tak ingin ada barang bukti satu pun.
Setelah berganti pakaian, ia menyeret jasad Ilma ke bagasi mobilnya. Setelah dirasa aman, Romi kembali membersihkan bekas darah yang tercecer.
Tapi tanpa ia ketahui, ada sesuatu yang tertinggal di kolong lemari hias bernuansa gold itu. Sesuatu yang akan menunjukkan kebenaran pada waktunya.
Romi memikirkan bagaimana cara membuang jasad Ilma. Jam sibuk sudah merangkak di segala aspek. Tapi...saat ia melintasi sekolah Ibas, muncul ide. Dia beberapa kali berlalu lalang untuk memastikan apakah ada cctv di sekitar situ. Nyatanya aman dan rumah penduduk pun cukup jauh.
Dengan mudahnya, Romi melempar tubuh gadis kecil yang tak bersalah tersebut. Takut ada yang memergokinya, Romi pun buru-buru meninggalkan lokasi. Dia lantas menuju ke kantornya. Tak lupa, ia membuang sarung tangan nya ke dalam selokan yang penuh air dan sampah.
Siang harinya, SMA Ibas di hebohkan dengan penemuan jasad seorang gadis berseragam SMA Xxx. Dari name tag nya tertulis nama Ilma Fauziana.
Ibas yang awalnya tak mau ambil pusing, spontan menghalau orang-orang yang menghalanginya saat ada yang menyebut nama Ilma dan dari sekolah yang sama dengan adik tirinya tersebut.
"Ilma!!!!?", pekik Ibas yang langsung mendekat ke arah kekasih sekaligus adik tirinya.
"Ibas!", teman-temannya menahan Ibas, si badboy yang histeris melihat jasad yang di temukan di tempat sampah. Hilang sudah aura badboynya saat melihat kekasih hatinya sudah meregang nyawa dalam kondisi mengenaskan.
Flashback off
✌️😌
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Nenk Manieez
apa y?
2024-03-19
0