Bab 2

Setelah pagi menyapa dan matah ya benar-benar menunjukkan sinarnya, Nita pun memberantas diri menghubungi orang tua Ain yang berada di kampung. Sama seperti orang tua Nita juga, hanya saja berbeda RW dengan Ain.

Gadis itu menghubungi nomor bapak Ain. Ponsel Ain sudah ada di tangannya. Dengan gemetar, Nita menghubungi bapaknya Aini.

[Assalamualaikum, Ain?]

[Walaikumsalam, bapak. Ini Nita pak!]

[Lho? Kok Nita? Ain nya mana?]

[Itu pak, Aini kecelakaan pak. Sekarang di rumah sakit Sehat Selalu. Ain kecelakaan tadi malam]

[Astaghfirullah, lalu bagaimana keadaan Ain , Nit?]

Nita menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia hembuskan dengan perlahan. Dia tak tega menyampaikan kondisi sahabat nya yang mungkin sejak orok sudah di takdirkan bersahabat.

[Ain koma pak hiks...hiks...]

[Astaghfirullah, Ya Allah Gusti. Bapak ke sana sekarang Nita. Titip Ain dulu!]

[Iya pak]

Bahkan tanpa mengucap salam, Nita mematikan sambungan teleponnya.

Gadis itu memandangi jam tangannya. Masih cukup waktu untuk menjaga Ain sebelum ia berangkat bekerja. Cacing di perutnya meronta ingin di isi. Tapi dia tak tega meninggalkan Ain sendirian meski Nita juga hanya menemani Ain dari ruang kaca sebelahnya.

"Sarapan dulu Ay!", seorang laki-laki menyodorkan makanan dan minuman untuk Nita yang sedang melamun.

"Mas Ruby?!", Nita berusaha tersenyum. Laki-laki yang di panggil Ruby pun duduk di samping kekasihnya.

"Ayo makan dulu, menangis juga butuh tenaga kan?", Ruby menyuapi Nita. Nita pun menerima suapan dari kekasihnya.

Nita menikmati sarapan dengan keheningan. Meskipun lapar, sebenarnya dia tak begitu nafsu makan. Karena dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya.

"Mas Ruby belum buka bengkel?",tanya Nita.

"Kamu shift siang kan? Biar mas yang jaga Ain sampai keluarganya datang. Gimana juga, mas sudah menganggap Ain adik mas sendiri."

"Mas ngga apa-apa, ga buka bengkel?", tanya Nita lagi. Ruby tersenyum.

"Nanti kalau keluarga Ain datang , mas bisa langsung buka kok." Nita pun mengangguk.

Mereka kembali mengobrol untuk sekedar mengalihkan rasa cemasnya. Di sela obrolan, ada seorang laki-laki muda seumuran dengan Ruby menghampiri Nita dan Ruby.

"Permisi!'', sapanya. Ruby dan Nita menoleh serentak.

"Iya?", sahut Nita.

"Saya Ikbal! Kebetulan saya yang membawa pasien kemari tadi pagi", Ikbal memperkenankan dirinya.

"Ah, iya. Terimakasih mas sudah mengantar sahabat saya kemari. Terimakasih sudah menolong Aini!", kata Nita dengan sungguh-sungguh.

"Sama-sama. Mungkin kebetulan saja yang saya yang melintas di sana."

"Silahkan duduk mas! Perkenalkan saya Ruby, dan ini kekasih saya Nita!", Ruby mengulurkan tangannya ke Ikbal. Ikbal pun menyambut uluran tangan tersebut.

"Maaf mas Ikbal, apa mas Ikbal tahu kronologi kecelakaan yang menimpa Aini?",tanya Ruby. Ikbal yang menggulung kemejanya sampai ke lengan pun menceritakan kejadian yang ia lihat.

Flashback on

Ikbal baru saja pulang dari rumah sakit dimana ia praktek. Karena terlalu lelah, ia sampai ketiduran di ruangan prakteknya. Hingga lewat tengah malam, baru lah ia bangun dan langsung pulang menuju ke rumahnya. Karena masih mengantuk, Ikbal menjalankan mobilnya pelan lalu menepikan mobilnya.

Jalanan sangat lah sepi di jam itu. Tak ada kendaraan berlalu lalang di jam satu pagi. Tapi dari kejauhan ia melihat beberapa kendaraan roda dua seperti kebut-kebutan. Hal yang wajar terjadi di ibukota jika jalanan lengang begini di gunakan oleh anak-anak berekspresi dengan balap liar. Tapi ada yang aneh menurutnya. Di paling depan ada motor yang sepertinya bukan motor balap. Dan dari belakang helm, seperti kain yang berkibar.

Ikbal mencoba untuk tidak peduli lebih. Ia memejamkan matanya sebentar. Tapi belum sepenuhnya memejamkan mata, suara benturan keras mengejutkannya. Kantuk nya seketika menghilang.

Brakkk....

Seseorang menabrak dinding tembok tol dalam kota. Tubuh dan motor nya terpental hebat. Dan motor yang tadi mengikutinya berbalik arah. Sayangnya, Ikbal tidak ngeuh pada pengendara motor itu.

Dia melajukan mobilnya ke arah korban yang kecelakaan. Jika kemanusiaannya meronta-ronta ingin membantu korban kecelakaan itu.

Dia turun dari mobilnya lalu menghampiri korban. Diperiksanya detak jantung korban.

"Alhamdulillah, masih hidup!", monolog Ikbal. Ia pun membuka helm yang Aini pakai.

"Astaghfirullah, perempuan???"

Ikbal memfoto lokasi kejadian juga korban kecelakaan lalu ia menghubungi polisi terdekat. Tak lupa ia juga menghubungi rumah sakit mengantar ambulans ke lokasi tersebut.

Flashback off

Ruby dan Nita mendengarkan dengan seksama penjelasan Ikbal.

"Sekali lagi terimakasih mas Ikbal, berati anda ... dokter?", tanya Nita. Ikbal mengangguk pelan.

Ruby dan Nita sangat berterima kasih pada Ikbal yang sudah menolong Aini. Beruntung Aini di temukan oleh orang baik seperti Ikbal, dokter pula. Coba kalau dia bertemu dengan orang yang hanya foto-foto lalu memviralkannya. Bukannya buru-buru dibantu korbannya, malah sibuk mendokumentasikan kejadian. Sungguh, suka tak habis pikir kalau ada yang seperti itu!!!

(Mohon maaf dengan sangat, ini benar-benar kehaluan dan ngarang so hard! Jangan di hubung-hubungkan dengan akidah ya, please 🥺🥺🙏🙏🙏)

Di dalam ruang ICU...

Aini terbaring lemah dengan beberapa luka ditubuhnya. Beberapa alat bantu pun terpasang di tubuhnya yang tak seberapa besar. Entah seperti apa rasanya tubuh itu yang beradu dengan tembok beton serta motor. Tapi luar biasanya, Aini masih bisa bertahan dengan kondisi ini.

Seorang perempuan terbangun dari tidurnya. Ia menatap ke sekeliling. Ia merasa berada di tempat asing. Yang dia ingat, dia ada di jalan dari rumah Ibas. Tapi....

Mata gadis itu beralih pada sosok perempuan yang tergeletak di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat yang ada di tubuhnya. Gadis itu memekik hebat, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Ya Allah, apa aku sudah mati???", tanya Aini pada diri sendiri karena ia melihat dirinya yang tertidur di ranjang itu.

"Belum!", sahut seorang perempuan berambut panjang dengan memakai daster berwarna putih.

Sontak, Aini menjerit sekuat tenaganya. Tapi sepertinya tak ada yang mendengarkan kecuali dirinya dan seseorang yang biasa di sebut Miss kuntilanak.

Kuntilanak itu tertawa khas dengan kikikan yang menyeramkan. Aini menangis sejadi-jadinya. Ia belum mau mati. Dosanya banyak. Dia belum menghajikan kedua orangtuanya. Dia belum memberikan kebahagiaan pada orang tuanya.

"Berhenti menangis. Kamu masih hidup!", kata Kunti itu. Aini menghentikan tangisnya. Jika ia melihat Kunti berambut panjang, dirinya memakai jilbab terakhir yang dia pakai saat kerumah Ibas.

"Benarkah?", Aini mencoba untuk tidak takut pada sosok menyeramkan itu. Wajahnya tidak terlalu buruk, hanya sangat pucat.

"Heum, itu! Kamu lihat dirimu masih bertahan!"

Aini menoleh ke arah tubuhnya yang tergeletak. Dia melihat monitor detak jantung nya yang berdetak stabil.

"Tapi bagaimana bisa aku di sini dan berbuat dengan mu?", tanya Aini. Miss Kunti itu hanya mengedikkan bahunya.

"Kamu beruntung, orang-orang banyak yang menyayangi mu." Kata si Kunti menatap ke arah kaca. Aini pun ikut menatap ke arah sana.

Aini melihat Nita dan Ruby serta seorang laki-laki. Dan di saat yang bersamaan, kedua orang tua Aini datang. Menatap tubuhnya dari luar jendela kaca.

"Bapak, ibu! Ain disini!", teriak Ain. Dia menangis tersedu-sedu. Tapi tak ada satupun dari mereka yang mendengarnya. Ia semakin sedih saat Nita memeluk ibunya dengan tangisnya yang pecah.

Bapaknya yang biasa bersikap keras pun tampak menangisi dirinya. Mungkin laki-laki memang pandai menutupi kesedihannya. Tapi untuk kali ini, ia melihat bapaknya menangis sesedih itu.

"Berusaha lah untuk tetap bertahan hidup, demi mereka yang tulus menyayangi mu!", ujar si Kunti. Aini menghapus air matanya.

Ia mengangguk cepat sambil menghapus jejak air matanya.

"Tapi bagaimanapun caranya??", tanya Aini. Miss Kun mengedikan bahunya.

"Mungkin doa dari mereka!", jawab miss Kun yang tiba-tiba menghilang.

Aini hanya mampu memandang orang-orang yang sangat peduli padanya. Tidak seperti kekasihnya yang ternyata hanya menginginkan tubuhnya saja.

******@@@@******

Horor nya belom di mulai ya kikikikik 🤭🤭🤭🤭 semoga mau bersabar.

Terpopuler

Comments

Nenk Manieez

Nenk Manieez

mewek thor

2024-03-19

0

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

jiwa kemanusiaannya thor bukan jika di teliti lg thor

2023-07-02

1

Yuliana Tunru

Yuliana Tunru

lanjut thor

2023-04-13

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 107 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!