Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Nita sudah terlelap sejak selesai mandi. Kasur Ain dan Nita bersebelahan. Hanya terjeda nakas kecil. Laci atas milik Nita, laci bawah milik Ain.
Mendadak Aini ingin buang hajat, mau tak mau ia harus bangun dan menuju ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya. Kamar mandi yang hanya berukuran satu kali satu meter. Huffft...ya gitu lah pokoknya namanya juga kost murah.
Usai membuang hajat, tiba-tiba ia di kejutkan oleh sosok Ilma yang duduk bersandar di atas kasurnya.
Gadis cantik berwajah pucat dengan mata panda dan bibir sedikit kebiruan menatap Aini dengan senyuman tipis.
Jika awalnya Aini merasa takut, tidak sekarang. Dia yakin jika 'hantu' Ilma itu tak punya niat buruk padanya.
"Ka-kamu ke sini lagi?",tanya Aini tergagap. Ilma sendiri hanya mengangguk.
"Mau apa?", lanjut Aini lagi.
"Kakak ku!", jawab Ilma.
"Kakak mu? Maksudnya mas Ikbal? Dia kenapa?"
"Dia dalam bahaya Ai. Tapi aku tak bisa membantu apa-apa. Cukup aku saja yang seperti ini."
"Apa maksud mu?"
"Mas Ikbal selalu di pantau orang yang ingin mencelakakan dirinya. Dia ingin mas Ikbal seperti aku sekarang ini."
Aini paham apa yang Ilma maksud. Gadis itu menahan mulut nya yang ternganga.
"Si-siapa?", tanya Aini penasaran. Belum sempat Ilma menjawabnya, Nita bangun dan mengejutkan Aini.
"Ai, Lo ngomong Ama siapa?", tanya Nita dengan mengucek matanya.
"Hah? Ngga kok. Lo salah denger kali? Udah tidur lagi!", pinta Aini. Dan hebatnya, Nita kembali tidur. Tapi Ilma tak kunjung kembali, dan akhirnya Aini pun tertidur di kasurnya lagi.
.
.
Aini dan Nita sarapan pagi dengan nasi uduk.
"Lo masih minum obat kan Ain?"
"Heum, masih banyak Nit. Ngga usah cemas!"
"Diminum yang teratur. Cepet sehat Lo. Biar bisa cari kerja lagi!"
"Iya, gue juga tahu Nit. Tapi....kerja apa ya gue?", tanya Aini sambil memainkan sendoknya.
"Cari loker lah! Atau...kalo ngga, minta tolong sama mas dokter ganteng itu. Koneksinya pasti banyak tuh!"
"Ishhh...ga enak gue, masa ngerepotin dia Mulu?"
"Aini yang cantik jelita, dengar ya! Kalo orang suka mah, malah makin seneng kalo di repotin. Percaya sama gue!", kata Nita.
Aini menatap wajah sahabatnya. Tapi....dia sama sekali tak mendengar suara hati Nita. Aneh!
"Lo shift siang kan?"
"Huum. Tapi gue mau ke bengkel mas Ruby. Lo mau ikut?"
"Ngga nit. Sementara gue istirahat dulu. Minimal, sampe Lo tekor ngasih gue tumpangan kostan sama makan. Hehehe....!"
"Habis koma Lo makin resek Ain!", kata Nita ketus. Bukannya marah di ketusin, Aini justru tertawa melihat tingkah sahabatnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Nita sudah rapi dengan pakaiannya.
"Gue jalan dulu Ain! Kalo ada apa-apa hubungan gue?!"
"Iya bos!", kata Aini. Nita yang di panggil bos hanya memutar bola matanya malas.
Aini memilih untuk kembali rebahan karena ia sudah mandi sebelum membeli sarapan tadi.
Ponsel nya berdenting. Ada chat dari bapaknya. Mereka sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Dan hal ini membuat Aini merasa lega. Setidaknya, mereka tak lagi sibuk mengurus dirinya yang hanya bisa merepotkan saja.
Di saat matanya hampir terpejam, Ilma menampakkan diri di sebelah Aini. Tentu saja hal itu membuat Aini terkejut.
"Astaghfirullah?!", kata Aini kaget. Ilma seperti biasa, ekspresi nya datar. Hanya semalam sedikit tersenyum pada Aini.
"Lo bikin gue kaget Il!", kata Aini.
"Jangan Il doang Ai, Ilma!", protes Ilma.
"Udah jadi hantu aja Lo masih protes. Gimana masa hidup Lo?", tanya Aini.
"Lo nyadar ngga sih, kalo kita punya kemiripan?", tanya Ilma pada Aini. Tentu saja Aini menggeleng.
"Wajah kamu mirip dengan ku, meski hanya enam puluh persen. Sikap kamu, gaya kamu tak beda jauh dengan ku."
"Benarkah?", Aini mengambil cermin lalu sesekali melihat wajah pucat Ilma.
"Sedikit. Dan gue rasa, mas Ikbal pun merasa hal yang sama."
"Ngeliat Lo dalam diri gue?"
Ilma mengangguk pelan.
"Lo bilang, mas ikbal dalam bahaya? Siapa yang mau membahayakan mas Ikbal?", tanya Aini. Dia penasaran, orang sebaik Ikbal di musuhi? Sedang Aini sendiri merasa hutang Budi pada sosok ikbal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments