Aini menghela nafas perlahan. Apakah Ikbal akan percaya pada ucapan nya?
"Tapi...apa mas Ikbal akan percaya sama yang aku katakan?", tanya Aini.
"Iya! aku sudah berjanji akan percaya apa pun yang kamu katakan!", kata Ikbal tegas.
"Jadi...eum...apa sebutannya ya mas? Pokoknya...Ilma menemui ku. Dia minta tolong sama aku buat... jagain kamu mas!"
"Jagain aku? Memang aku kenapa?", Ikbal memasang raut wajah bingungnya.
"Ilma bilang, ada yang berniat jahat sama mas Ikbal. Huftttt...ada yang menginginkan mas Ikbal menyusul Ilma mas."
"Astaghfirullah! Siapa? Dan kenapa?", Ikbal makin di buat bingung. Kemudian Aini pun menceritakan kembali apa yang Ilma ceritakan sampai hal di mana Ilma di bunuh secara keji hingga pembunuhan itu menghilangkan jejak.
"Jadi...om Romi pelakunya?", tanya Ikbal. Wajahnya kini sudah memerah. Menahan emosi yang entah seperti apa ledakannya nanti jika ia bertemu dengan papa tirinya itu.
"Tapi mas Ikbal tidak bisa menuduhnya tanpa bukti kan mas? Apalagi hanya mendengar cerita dari ku. Memangnya polisi akan percaya dengan hal semacam ini?"
"Dulu aku pernah berusaha untuk mencari buktinya Ai, tapi aku dan polisi tak menemukan apapun!"
"Iya, itu karena om Romi memang menghilangkan jejaknya. Tapi....Ilma bilang ada sesuatu di bawah lemari hias yang besar di rumah kalian. Dia bilang, buktinya ada di sana!"
"Lemari hias?", Ikbal membeo. Aini pun mengangguk cepat.
"Ilma tidak bilang apa yang ada di bawah lemari itu, hanya mengatakan itu bukti bahwa ia di bunuh oleh orang itu!"
"Ai?!", panggil Ikbal.
"Heum?"
"Apa Ilma sering mendatangi mu?"
"Tidak sering, hanya beberapa kali. Bahkan tadi saat....kita makan!"
"Hah???!"
"Awalnya aku juga tidak percaya hal semacam ini mas. Tapi... ternyata aku sendiri yang mengalaminya. 'Mereka' memang ada."
"Tapi... bukankah setiap yang sudah meninggal, maka dia akan berada di alam yang berbeda dengan kita?", tanya Ikbal.
"Dari yang aku pelajari dan ku yakini selama ini juga seperti itu mas. Tapi...Ilma bilang, dia belum bisa tenang dan pergi ke tempatnya selama pembunuhnya masih tenang-tenang saja!"
Ikbal memejamkan matanya. Hatinya begitu sakit jika teringat penyebab meninggalnya mendiang papa dan juga adiknya. Papanya di temukan meninggal dalam kecelakaan mobil. Sedang adiknya di temukan di tempat sampah dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Ilma muncul di belakang kakaknya. Gadis yang sudah berbeda alam dengan Aini pun menitikkan airmatanya. Jika Ikbal merasa sangat sedih karena teringat dirinya kehilangan papa dan adiknya, Ilma sedih karena ia sangat merindukan kakaknya. Ilma menyesal tak mendengar ucapan kakaknya dan menjalani hubungan yang salah dengan saudara tirinya sendiri.
"Ai, bilang sama kak Ikbal. Aku sangat merindukannya. Tolong segera tuntaskan kasus yang membuat ku begini, barulah aku akan merasa tenang!", Ilma mengatakan pada Aini.
Aini menepuk pundak Ikbal. Lelaki tampan itu tampak melamun. Tapi... entah kenapa Aini tak bisa mendengar suara hati Ikbal. Apakah dia memang tak mengatakan apa pun?
"Mas...mas Ikbal?!", panggil Aini. Akhirnya Ikbal pun sadar dari lamunannya.
"Eh, maaf Ai!"
Aini tersenyum dan menggeleng tipis.
"Ngga apa-apa mas. Aku cuma mau sampein kalo.... katanya...Ilma kangen sama mas Ikbal. Dia minta maaf tidak menuruti ucapan mas Ikbal karena tetap berpacaran dengan Ibas!"
Ikbal menoleh ke belakangnya. Berharap adiknya benar-benar ada di belakangnya. Nyatanya, Ilma berada di samping Aini.
"Dia di sini Ai? di mana?", tanya Ikbal.
"Dia di sini mas. Dia menyesal tak pernah mendengarkan mas Ikbal!"
Ikbal menundukkan kepalanya, terlihat ia memejamkan matanya lagi. Ilma sendiri sudah pergi dari samping Aini. Dia tak tahan melihat kakaknya yang menahan rasa sesak di dadanya.
Perlahan, bahu Ikbal bergetar. Aini spontan menghampiri lelaki itu. Ia sadar jika dokter itu sedang tidak baik-baik saja.
"Mas Ikbal....!", ucap Aini lirih.
"Sebagai seorang kakak, aku sudah gagal menjaga adikku Ai! Aku tidak becus!", kata Ikbal memukul dadanya sendiri.
"Eh...jangan di pukulin begitu dong! Udah ...udah ..!", Aini menahan tangan Ikbal yang memukul dadanya terus.
"Aku tidak berguna Ai!"
"Astaghfirullah, istighfar mas. Jangan bicara seperti itu!"
Perlahan, Ikbal bisa menenangkan dirinya. Setelah ia benar-benar merasa tenang, baru lah ia kembali berbicara.
"Apa perlu aku temani sampai Nita datang?", tanya Ikbal.
"Tidak apa-apa mas. Mas Ikbal kan juga capek! Lebih baik mas pulang dan istirahat."
Aku harus secepatnya mencari buktinya bahwa Romi adalah pelakunya yang sudah membuat ku kehilangan papa dan Ilma.
Aini mendengar suara hati Ikbal lagi.
"Jangan ceroboh mas. Pikirkan caranya lebih dulu. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Aku harap, mas Ikbal mau mendengarkan ku."
Ikbal menatap mata lentik Aini. Ia seperti terhipnotis dengan wajah cantik alami Aini.
"Iya, aku pulang. Mungkin...lusa aku baru ke rumah mama."
Aini tersenyum simpul.
"Ya sudah aku pulang, kamu harus hati-hati. Jangan lupa kunci pintu nya!", pinta Ikbal.
"Iya mas!"
"Aku pamit ya, assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Ikbal pun meninggalkan kost Aini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments