Ikbal keluar dari kamarnya pagi-pagi sekali. Tapi ternyata, Ibas juga keluar dari kamarnya bersamaan.
"Hai, mas Ikbal? Tumben tidur dengan rumah?",sapa Ibas. Tanpa menyahut, Ikbal lantas meninggalkan adik tirinya tersebut. Sedang Ibas sendiri hanya mengedikkan bahunya. Di abaikan oleh Ikbal adalah hal biasa. Ibas tak perduli, asalkan kehidupannya sudah terjamin. Tidak kekurangan uang sejak ayah menikah dengan ibu Ikbal.
Ikbal menuruni tangga, mamanya baru saja keluar dari dapur.
"Sayang, mama ngga tahu kalau kamu pulang nak?", mama Ikbal mengulas senyum. Perempuan hampir lima puluh tahun itu tersenyum ramah seperti biasa.
"Apa aku harus ijin dulu kalau pulang ke rumah ku sendiri ma?", tanya Ikbal membalas senyuman mamanya.
"Ngga lah sayang!", balas Rini, ibu Ikbal.
Ikbal hanya meneguk teh hangat yang ada di meja.
"Sarapan dulu sayang, kamu jarang kesini. Sudah lama kan ngga sarapan sama nasi goreng buatan mama?"
Belum sempat menyahut, Ibas dan papanya menghampiri mereka ibu dan anak tersebut.
"Ada Ikbal rupanya? Kapan datang?",tanya Romi, papa Ibas alias ayah tiri Ikbal.
"Semalam!", jawab Ikbal singkat. Awalnya ia ingin langsung menolak ajakan sarapan bersama mamanya,tapi melihat mamanya yang sepertinya sangat merindukan momen bersama ikbal, dokter muda itu pun memutuskan untuk duduk di bangkunya.
"Oh iya ikbal, sepertinya akhir-akhir ini kamu jarang ke kantor ya?", tanya Romi.
"Iya, sedang banyak menangani pasien."
"Oh, kalo kamu sibuk banget di rumah sakit, biar papa saja yang menghandle pekerjaan kantor Bal. Kasian kamu!", ujar Romi.
Ikbal tersenyum kecut.
"Aku? Kasian? Heh...ngga lah om. Terimakasih untuk tawarannya. Tapi sejauh ini aku masih bisa mengurusi kewajiban ku di kantor juga pekerjaan ku di rumah sakit."
Romi meremas sendok yang ada di tangannya. Pria dewasa itu selalu seja merasa di di remehkan oleh anak tirinya tersebut.
"Apa yang papa kamu bilang benar lho Bal. Kamu capek di rumah sakit, belum ngurusin perusahaan lagi. Kapan kamu ada istirahat dan memikirkan kehidupan kamu. Misalnya... menikah?", kata Rini.
"Aku bisa membagi waktu ku kok Ma. Mama tenang saja. Kalau sudah waktunya, aku akan memperkenalkan calon menantu mama. Dan... terima kasih banyak untuk tawaran bantuan anda Om Romi. Tapi, aku rasa om Romi lebih tepat berada di divisi sekarang."
Romi menatap tajam pada istrinya. Rini yang di tatap demikian pun cukup takut.
"Bal, apa tidak sebaiknya kamu memberi posisi yang strategis buat papa kamu ini. Kasian lho papa kamu, masa papanya yang punya perut justru menjadi staf biasa."
"Bukankah dari dulu Om Romi juga staf biasa ya Ma?"
Tak ada yang menyahuti ucapan Ikbal. Karena sudah selesai, Ikbal pun pamit pada mamanya.
"Ikbal ke rumah sakit dulu ma!", pamit Ikbal lalu meninggalkan ruang makan. Seperti biasa, sepeninggal Ikbal pasti Rini akan menjadi sasaran kemarahan Romi yang masih tidak terima jika dirinya hanya menjadi staf biasa di perusahaan milik mantan suami dari istrinya tersebut.
.
.
Ikbal menemui Aini yang sedang berkemas di kamarnya. Ada kedua orang tua Aini yang menemani gadis itu di sana.
"Pagi!", sapa Ikbal.
"Pagi dok!", sahut bapak ibu dan juga Aini.
"Sudah diijinkan pulang ya Ai?", tanya Ikbal pada Aini. Jika biasanya ia di panggil Ain, atau Aini justru Ikbal memanggil nya Ai doang???
"Alhamdulillah dok."
Bapak Aini yang menjawab pertanyaan Ikbal.
"Tidak langsung pulang ke kampung kan? Soalnya setahu saya, Ai masih harus kontrol rutin."
Bapak Aini tersenyum ramah.
"Untuk beberapa hari ini, kami menyewa kost yang tidak jauh dari kostan Aini. Setidaknya sampai Aini pulih dan bisa kami ajak pulang."
Aini membelalakkan matanya.
"Bapak, Aini mau di sini saja. Insyaallah kalo Ain udah beneran sehat bakal kerja lagi. Ain ngga mau pulang kampung dulu ah!", rengek Ain. Sedewasa apa pun Aini, dia tetap lah manja dengan kedua orang tuanya.
"Kamu mau kerja apa di sini? Di minimarket kamu udah keluar lho karena kelamaan cuti sakit", ujar bapaknya.
"Apa aja pak, yang penting halal."
Ikbal tersenyum mendengar jawaban dari Aini.
"Ain baik-baik aja pak, Bu. Mending bapak sama ibu aja yang langsung ke kampung. Warung ibu udah lama tutup, sawah dan kebon bapak juga butuh di tangani lho."
"Mana mungkin ibu ninggalin kamu dalam kondisi begini???", tanya ibunya. Tiba-tiba sosok yang sejak kemarin menggerayangi ibunya kembali datang. Ia mengendus-endus tengkuk ibunya. Mata Aini terbelalak di buatnya.
Sepertinya makhluk itu memang menyukai ibunya. Aini merasa tidak rela, dengan gerakan cepat ia menarik ibunya. Lalu memeluk perempuan setengah baya itu.
Makhluk aneh itu menatap Aini begitu tajam. Aini justru memejamkan mata, tak ingin membalas tatapan dari makhluk mengerikan tersebut.
"Bu, ibu tenang aja. Insyaallah Ain bisa jaga diri kok. Ada Nita juga kan Bu!", kata Aini masih memeluk ibunya.
"Tapi Nita kan juga kerja Ain, ngga mungkin dia bisa menemani kamu. Kalo kamu butuh apa-apa gimana?", tanya bapaknya.
"Biar Aini saya yang jagain pak, Bu!", kata Ikbal tiba-tiba. Kedua orang tua Aini menoleh bersama ke arah Ikbal.
Aini sendiri memicingkan matanya mendengarkan ucapan Ikbal.
"Maksud dokter Ikbal apa ya?", tanya bapak.
"Insyaallah saya yang akan menjaga Aini sampai dia bisa kembali pulih. Jadi bapak dan ibu bisa melanjutkan aktivitasnya lagi di kampung."
Kali ini Aini tersenyum lalu mengangguk cepat.
"Tuh kan Bu, pak. Ada dokter Ikbal yang nemenin aku lho!", kata Aini.
"Tapi kan dokter Ikbal juga sibuk Ain!", kata Bapaknya.
"Iya kan aku ngga butuh setiap jam pak. Hanya sesekali aja, wajar kan?"
Bapak Aini menghela nafas. Entah kenapa ia merasa jika dokter Ikbal memang menaruh hati pada putrinya. Apa pantas jika ia menanyakan hal itu pada dokter Ikbal???
Sebagai seorang ayah, bukankah itu wajar? Meninggalkan anak gadisnya dengan lelaki yang belum sah menjadi suaminya merupakan ketakutan terbesar seorang ayah.
Aku akan menjaga Aini ,pak! Batin Ikbal.
Aini yang mendengar suara hati orang lain termasuk dokter Ikbal pun menjadi geer sendiri.
Akhirnya, orang tua Aini pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan menitipkan Aini pada dokter Ikbal. Bahkan dokter Ikbal mengantar mereka ke stasiun.
Tinggallah Aini dan Ikbal yang ada di dalam mobil. Hari sudah mulai gelap. Cuaca juga mendung dan rintik hujan mulai membasahi kaca mobil.
Tak ada obrolan apa pun diantara keduanya. Hingga tiba-tiba Aini di kejutkan dengan sosok perempuan muda yang duduk di bangku penumpang.
"Aaah.... astaghfirullahaladzim!",pekik Aini. Dia terkejut karena gadis itu berwajah menyeramkan dengan bola matanya yang sudah tidak ada.
"Ada apa Ai?", Ikbal merasa cemas, lalu ia pun menoleh ke belakang.
"Ngga...ngga dok!", kata Aini gagap.
"Jangan panggil dokter, panggil aku kak atau mas aja!", ujar Ikbal. Aini menoleh sebentar pada dokter tampan itu. Aini pun mengangguk pelan.
"Apa...kamu bisa melihat sesuatu yang orang lain tak lihat pasca koma Ai?", tanya Ikbal. Aini menoleh cepat pada Ikbal yang menatap nya serius.
"Apa akan ada yang percaya padaku?", tanya Aini. Ikbal tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Aku percaya padamu. Jadi, mulai sekarang katakan apa pun yang kamu lihat, sama aku!", kata Ikbal meyakinkan Aini. Gadis itu mengangguk pelan. Akhirnya ia memiliki teman yang bisa dia beritahu apa yang ia tahu tapi orang lain tak tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
tidur dengan rumah apa tidur di rumah thor mohon lebih teliti lg
2023-07-03
1