Bab 3

Sudah seminggu Aini tak sadarkan diri. Bapaknya terpaksa menjual sawah dan sebagian tanahnya di kampung halaman untuk membiayai Aini. Meskipun Aini memiliki kartu jaminan kesehatan dari tempat nya bekerja, tetap saja tak di cover semua.

Aini hanya mampu memandangi tubuhnya dan juga kedua orang tuanya yang menunggunya. Mereka berharap Aini segera sadar dari komanya.

Seorang laki-laki memasuki ruang rawat Aini. Aini menatap laki-laki itu.

"Dokter Ikbal!", sapa bapak Aini.

"Pak, ibu apa kabar?", tanya Ikbal ramah. Aini mengernyitkan keningnya.

"Alhamdulillah baik dokter Ikbal. Dokter sedang tidak praktek?", tanya bapak. Ikbal mengangguk.

"Iya pak. Hari ini saya off."

"Terimakasih sudah menyempatkan menjenguk Aini!", kata Ibu. Aini semakin menautkan kedua alisnya.

"Iya Bu, saya hanya ingin melihat perkembangan kesehatan Aini", jawab Ikbal. Di tengah kebingungan Aini, Miss Kun tiba-tiba kembali muncul di samping Aini.

"Astaghfirullah!", Aini terkejut tiba-tiba sosok itu datang dan terkikik.

"Kamu ngga tahu dia siapa?", tanya Miss Kun pada Aini. Aini menggeleng.

"Diiihhh! Dia yang udah nolong kamu, bawa kamu ke sini!", kata Miss Kun berdiri melayang mengitari Ikbal.

Aini ber'oh' ringan.

"Dia ganteng ya !", kata Miss Kun terkikik lagi. Mungkin sudah jadi ciri khasnya begitu.

"Iya", jawab Ain singkat.

Miss Kun mencoba mengendus lengan Ikbal, tapi entah kenapa tiba-tiba dokter itu seperti merasakan sesuatu hingga ia menyingkirkan diri dan mendekati brankar Aini.

"Jangan iseng!", pinta Aini. Miss Kun tiba-tiba menghilang begitu saja. Seperti biasa, datang dan pergi sesuka hatinya.

"Bapak sama ibu kalo mau istirahat dulu ngga apa-apa. Biar saya yang menjaga Aini."

Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Merasa tak enak hati pada dokter yang sudah menolong putri mereka.

"Bapak sama ibu ngga usah khawatir, saya tidak akan apa-apakan Aini", kata Ikbal tersenyum.

"Bukan begitu Dokter. Tapi...kami justru tidak enak sama nak dokter", ujar bapak.

"Ngga usah ngga enak begitu pak. Anggap saja saya dokter yang sedang berjaga merawat Aini. Bapak dan ibu bisa sekedar keluar untuk refreshing. Karena saya tahu, bapak dan ibu tak pernah kemana-mana selama Aini di sini."

Sepasang suami istri itu pun mengangguk.

"Baiklah dok, titip Ain. Kalo ada perkembangan atau apapun itu, tolong hubungi kami. Kami...mau mencari tempat laundry yang bisa di tunggu."

"Iya pak, saya sudah menyimpan kontak bapak!", kata Ikbal.

"Terimakasih nak Ikbal, kalo begitu kami permisi dulu." Ikbal pun mengangguk.

Sepeninggal bapak dan ibu Aini....

"Kamu lihat kan, orang tua kamu sangat menyayangi mu. Bangun! Kamu harus berjuang untuk mereka!", kata Ikbal lirih. Aini sampai terharu mendengarnya.

"Aku memang tidak mengenal mu, tapi...entah kenapa aku merasa kita begitu dekat. Entah kenapa?!", kata Ikbal mengusap kepala Ain.

Aini yang berdiri di samping tubuh Aini yang di atas brankarnya pun tak bisa berkata apapun.

'Kamu cantik! Apa yang terjadi sama kamu sampai kecelakaan itu terjadi ', kata Ikbal dalam hati. Tapi entah kenapa Aini yang berdiri bisa mendengarnya.

Tiba-tiba Ikbal menatap ke arah Aini. Aini sempat terkejut, apa Ikbal bisa melihatnya????

Tapi ternyata dugaannya salah, Ikbal kembali fokus dengan Aini yang lemah di ranjang rumah sakit.

Ikbal mengusap kepala Aini lagi. Lalu berbisik lirih.

''Bangun Aini, harta ibu dan bapak mu habis untuk membiayai perawatan kamu! Kamu ngga kasian sama mereka? Berusahalah untuk bangun, mereka membutuhkan mu! Jangan menyerah!", bisiknya pelan di samping telinga Aini.

"Wajah mu seperti adikku Ain, dan aku tidak ingin kehilangannya lagi. Karena aku melihat adikku di wajah mu", bisik Ikbal lagi.

"Aku janji, setelah kamu bangun nanti, kita akan cari tahu penyebab kamu kecelakaan. Jika memang ada yang harus bertanggung jawab, maka dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Tiba-tiba Aini yang berdiri merasakan tubuhnya melayang cepat. Dan Aini yang ada di ranjang, menggerakkan jemarinya.

Ikbal terkesiap beberapa detik. Dia tak menyangka jika Aini mulai memberi reaksi. Perlahan, Aini mengerjapkan matanya.

Ia melenguh beberapa saat. Matanya terasa buram, tapi dia menangkap wajah asing di depannya.

"Alhamdulillah, kamu sudah siuman Aini?", tanya Ikbal.

"Minum!", kata Aini dengan suara parau. Ikbal pun segera membuka botol air minum mineral lalu menyodorkan sedotan di bibir pucat Aini.

Ikbal tersenyum lalu menghubungi orang tua Aini, di sebrang sana, kedua orang tua Aini pun sangat bahagia. Niat hati ingin ke laundry, mereka batalkan. Mereka kembali ke rumah sakit. Tak lupa Ikbal menghubungi Ruby. Kenapa bukan Nita?

Sepertinya Ruby terlalu posesif pada kekasihnya hingga ia yang justru memberikan nomor ponselnya pada dokter Ikbal. Dan dokter tampan itu pun memahaminya. Meskipun sebenarnya, Ikbal juga tak ada niat untuk tertarik pada Nita.

Episodes
Episodes

Updated 107 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!