Kamar yang di pakai bundir sudah di pasang garis polisi. Beberapa petugas pun masih ada di sana untuk menyelidiki kasus tersebut.
Ikbal baru saja sampai ke kostan tersebut. Dia melihat suasana kost yang terbilang sangat ramai di banding sebelumnya.
"Mas, ada apa? Kenapa ada polisi segala?", tanya Ikbal pada salah seorang laki-laki yang ada di sana.
"Ada kasus bunuh diri mas!", jawabnya.
"Bunuh diri?",tanya Ikbal membeo.
"Iya, Risma salah satu penghuni kost ini di temukan sudah meninggal gantung diri di kamarnya."
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!", gumam Ikbal. Tiba-tiba pikiran nya beralih pada Aini yang berada di area sama di lokasi kasus tersebut.
Ikbal buru-buru menuju ke kamar Aini tapi adanya garis polisi dan beberapa petugas menghalangi langkahnya untuk menghampiri Aini.
"Maaf mas, yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Apalagi anda bukan penghuni kost ini."
"Tapi teman saya di dalam pak! Dia sedang baru saja sembuh dari sakit. Saya mencemaskan kondisinya!", elak Ikbal.
"Maaf mas, tidak bisa. Tolong kerja samanya!", ujar petugas. Ikbal mengeluarkan id nya lalu ia tunjukkan pada petugas.
"Saya dokter pak, dan teman saya di kamarnya baru saja sembuh sakit. Saya takut jika...."
"Apa rekan anda sejak pagi di tempat ini?", tanya petugas.
"Saya rasa begitu pak, soalnya teman saya benar-benar baru pulih dari sakit bahkan sempat koma lebih dari seminggu pak! Tolong ijinkan saya bertemu dengan teman saya pak."
Petugas tersebut meminta ijin lebih dulu pada atasannya yang lebih berwenang hingga akhirnya Ikbal di ijinkan bertemu dengan Aini.
"Terimakasih pak. Terimakasih banyak."
Ikbal langsung meninggalkan petugas lalu menuju ke kamar Aini.
Aini sendiri sedang di interogasi oleh petugas.
"Anda benar-benar tidak mengenal korban?", tanya petugas, itu yang Ikbal pertama kali dengar. Aini menggeleng.
"Tidak pak, saya hampir satu bulan di rawat di rumah sakit. Saya tidak mengenal almarhumah sama sekali."
Lalu petugas bertanya ke tetangga Aini. Ikbal send menunggu petugas menyelesaikan interogasinya.
"Memang almarhumah sejak kapan tinggal di sini?", petugas siap mencatat jawaban tetangga kamar Aini.
"Sekitar dua atau tiga Minggu yang lalu pak. Kami tidak pernah berinteraksi dengan nya. Kami biasa di rumah sudah sore seperti ini!", jawabnya.
Petugas beralih ke Aini lagi.
"Anda tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan sebelum jenazah di temukan?", tanya petugas.
Aini ingin sekali mengatakan bahwa ia mendengarkan pintunya di ketuk. Tapi...dia tak punya bukti apa pun. Lagi pula, memang ada yang percaya????
"Tidak pak. Soalnya setelah teman saya membelikan sarapan lalu saya makan dan minum obat, setelah itu saya solat Dhuhur dan tidur. Pas bangun... sudah ada keributan seperti tadi."
Aini tak sepenuhnya berbohong tapi juga tak jujur juga. Dia sempat mengobrol dengan Ilma dan mendengar ketukan misterius.
"Baiklah! Kami akan mendalami kasus ini. Kami harap, kalian semua yang menghuni kost ini bisa bekerja sama dengan kami jika kami membutuhkan bantuan kalian."
"Iya pak!", jawab aini dan yang lain. Usai petugas meninggalkan Aini, Ikbal pun mendekati Aini.
"Mas Ikbal!", sapa Aini.
"Bagaimana kondisi kamu Ai? Kamu, tidak apa-apa kan dengan kasus barusan? Maksudnya... tidak.... takut?",tanya Ikbal penuh perhatian. Aini menggeleng.
"Aku ngga apa-apa mas. Tinggal lemesnya aja. Kok mas Ikbal bisa masuk ke sini? Bukankah orang luar di larang masuk?", cerca Aini. Tetangga Aini memilih menyingkir.
"Iya, tadi mas udah ijin sama petugas kok. Ya... gaya-gayaan lah pakai id rumah sakit tempat praktek biar di ijinkan masuk buat liat kondisi kamu."
Aini tersenyum tipis.
"Makasih mas Ikbal udah sempetin ke sini!", kata Aini.
"Aku udah janji kan kemarin Ai. Mau jagain kamu!", kata Ikbal. Ia memberikan satu kantong berisi makanan.
"Apa?"
"Buat makan malam kamu sama Nita!", kata Ikbal.
"Hah? Nita... pulangnya nanti bisa jam sebelasan mas. Keburu melar makanan nya heheheh!"
"Oh... gitu ya? Ya udah, kita makan berdua aja gimana?", tawar Ikbal.
"Di...sini?", tanya Aini ragu.
"Kalo di ijinkan ya...kenapa tidak. Pintu nya di buka aja untuk menghindari fitnah."
Wajah Aini bersemu merah.
"Aku tahu, kost ini sangat bebas. Makanya...aku tidak heran bisa ada kasus seperti ini!", kata Ikbal. Aini menatap sekilas dokter tampan itu.
"Eum... silahkan masuk mas, maaf berantakan!", kata Aini mempersilahkan Ikbal masuk. Tapi...hanya ada karpet bulu yang Aini gelar di depan pintu dengan posisi pintu terbuka.
"Makasih Ai!", jawab Ikbal. Ikbal pun duduk bersila memunggungi pintu. Aini mengambilkan minum lebih dulu untuk Ikbal.
"Silahkan mas. Maaf ya mas, saya ngga punya kulkas. Jadi cuma ada air galon, suhu ruang. Ngga dingin, cenderung hangat."
Ikbal tersenyum mendengar ucapan tak enak dari bibir Aini.
"Tidak masalah. Ya udah di makan, katanya takut melar."
Aini mengangguk dan mulai memakan makanan yang Ikbal bawa. Ada perasaan yang hangat dalam dadanya tapi entah perasaan apa.
Ikbal sesekali mencuri pandang ke arah Aini.
Meskipun tak pakai makeup, kamu tetap cantik ya Ai!
Wajah Aini merona mendengar pujian Ikbal, padahal hanya dalam hati Ikbal. Tapi seolah-olah ia sedang di puji secara langsung.
"Ciye...ada yang salting! Malu-malu kucing!", ledek Ilma yang tiba-tiba nongol di belakang Ikbal.
Mata Aini melebar dan menggeleng cepat. Dia menampik apa yang Ilma tuduhkan. Melihat Aini yang menggeleng cepat seperti itu, Ikbal menoleh.
Andai wujud Ilma nyata, wajahnya hampir saja bertubrukan dengan wajah sang kakak. Aini menahan tawanya.
"Kamu kenapa Ai?",tanya Ikbal.
"Hah? Ngga apa-apa mas!", jawab Aini. Ilma pun mendadak kembali tak menampakkan diri, entah ke mana.
Tapi saat Aini akan melanjutkan lagi makannya, sosok yang tadi ia lihat menampakan wujudnya.
Perempuan muda yang mungkin usianya tak berbeda jauh darinya dengan wajah pucat melambaikan tangannya ke arah Aini. Sosok itu berdiri di belakang Ikbal.
Aini meneguk salivanya dengan kasar, nafasnya memburu. Meskipun ia sudah terbiasa dengan Ilma, dia masih belum bisa menerima penglihatannya pada sosok lain.
"Aini...tolong saya....!", sosok itu mengeluarkan suaranya. Suara Aini tercekat, nyaris tak bisa berkata apapun sampai Ikbal menyadarkannya.
"Istighfar Aini! Istighfar!", Ikbal mengusap punggung Aini. Ikbal sempat menoleh ke belakangnya. Dia tak melihat apapun. Tapi dia sudah berjanji pada Aini, dia akan percaya apa pun yang Aini katakan termasuk sesuatu yang orang lain tak pernah lihat.
"Astaghfirullahaladzim!", kata Aini pada akhirnya.
"Ada apa?", tanya Ikbal sambil mengelap pelipis Aini yang berkeringat. Aini menatap lekat pada sosok tampan di hadapannya.
"Mas Ikbal janji akan percaya sama aku?", tanya Aini menggenggam tangan Ikbal yang masih di area wajah Aini.
"Iya, apapun itu. Aku percaya padamu! Katakan padaku, apa kamu melihat sesuatu?", tanya Ikbal masih dengan menakupkan tangannya di pipi Aini.
"Iya...dia...dia minta tolong mas. Tapi...aku tidak tahu, bagaimana menolongnya."
Ikbal menghela nafas berat. Menjadi seperti Aini bukan hal mudah, banyak hal yang harus ia lalui untuk bisa beradaptasi dengan kemampuan yang tak ia inginkan.
"Jika memang kamu bisa melakukannya, kamu lakukan. Tapi kalau tidak, jangan memaksakan diri!", kata Ikbal. Aini mengangguk. Tapi detik berikutnya ia teringat tentang Ilma.
"Mas!"
"Heum?", Ikbal masih setia di posisi yang tadi.
"Mas Ikbal bisa duduk di sana lagi, aku udah ngga apa-apa kok mas!", kata Aini lirih. Ikbal mendadak merasa malu karena di tegur Aini.
"Ehem...iya!", dehem Ikbal ringan untuk menutupi rasa malunya.
"Mas, kalau aku berbicara tentang...Ilma, apa mas Ikbal percaya?", tanya Aini penuh kehati-hatian. Ikbal menatap lekat wajah gadis cantik di hadapannya.
"Ilma?", tanya Ikbal balik.
"Iya, Ilma punya bukti siapa pelaku yang sudah membuat dirinya dan juga papa mas Ikbal meninggal dunia."
"Innalilahi, benarkah? Tapi... bagaimana bisa?", tanya Ikbal.
****
To be continue
Lanjut penasarannya besok 😌✌️
Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Sekar Sekar
thoor lgi asik" nya sambil nahan nafas niih😁
2023-09-18
0