Ikbal memasuki kediaman orangtuanya. Di dalam sana, ia tak mendapati orang tuanya satu pun. Hingga suara cekikikan seorang laki-laki terdengar dari kamar sebelahnya.
Ikbal memang sudah lama tidak tinggal di rumah ini, tapi dia tentu saja sesekali pulang ke rumah orang tuanya.
Ikbal hendak melangkah menuju ke kamarnya, tapi sebelumnya ia melewati kamar sang adik yang sedang ia pakai bersama teman-temannya.
Ikbal lupa, ada beberapa kendaraan roda dua yang terparkir di halaman samping. Sepertinya motor-motor itu selesai di cuci. Karena Ikbal sempat melihat nya tadi.
"Jadi, gagal dong taruhan kita Bas?", tanya temannya pada Ibas.
"Ckkk, gila emang! Sialan si Ain tuh! Mana gue ngga tahu sekarang gimana kondisinya."
Ibas meminum alkoholnya langsung dari botol.
"Harapan Lo apa? Dia mati atau hidup?", tanya teman yang lain.
"Ga peduli sih gue dia mau mati ata hidup. Asal habis ini dia ga libatin gue aja."
"Kalo ternyata dia masih hidup terus cerita ke orang kalo Lo ada sangkut pautnya sama kecelakaan tunggalnya, gimana?"
"Mau ga mau gue habisin sekalian. Gimana juga, nantinya kita yang bakal repot!", sahut Ibas.
"Kalian pacaran dua tahun lho, yakin ngga ada perasaan sedikit pun Lo ke dia?", tanya temannya yang sedikit waras di antara mereka.
"Kenapa lo? Naksir sama cewek gue?", tanya Ibas balik.
"Gue ga munafik. Ain cantik! Ga cuma muka, pribadi nya juga oke. Ngga neko-neko jadi cewek. Sayangnya...dia malah bucin sama Lo?!"
"Wkwkwkwk gila Lo, jadi selama ini Lo mendem rasa sama cewek gue?", tanya Ibas.
"Gimana ngga Bas!? Di mata gue, dia sempurna jadi cewek."
"Yakin Lo? Bukan san** liat fisiknya doang?", tanya teman Ibas lagi pada teman yang lain.
"Sialan Lo pada, emang gue kaya Lo pada yang cuma mau mikirin selang**** doang! Gila??!"
"Udah-udah?Gue yang cowoknya aja belum pernah nyentuh tuh cewek. Lo semua jangan berkhayal buat cobain dia!"
"Kalo nih, ini kalo...Ain sadar terus dia minta putus dari Lo, gimana?"
"Ga lah. Enak aja! Rugi gue! Gue yang ga mau dia mutusin gue."
"Gue bilang, kalau Bas.... kalau?!!!"
"Heum, ya juga sih. Tapi gue tetep bikin dia jadi cewek gue terus sebelum gue bisa nikmatin dia. Gila aja dua tahun gue ga pernah ngapa-ngapain dia!"
Ikbal yang berada tak jauh dari pintu kamar Ibas pun merasa geram. Ibas hanya 'hama' dalam keluarganya.
Sejak kehadirannya dan juga papanya yang di mata Ikbal, mereka hanya lah parasit yang merongrong harta peninggalan almarhum papanya.
Beruntung, semua warisan almarhum papanya jatuh atas nama Ikbal. Saat Ikbal sedang tidak praktek di rumah sakit, ia ikut mengurus perusahaan papanya.
Lalu apa pekerjaan papa tirinya?
Dia memang bekerja di kantor, hanya saja menjadi staf biasa di salah satu divisi yang tidak terlalu berurusan dengan keuangan.
Sekarang kebencian Ikbal semakin menjadi saat ia mendengar sendiri jika adik tiri nya tersebut yang membuat Aini kecelakaan. Apalagi niat menjijikkan Ibas pada Aini sungguh sangat membuat siapapun geram. Ikbal pikir, itu hanya kebetulan. Aini kekasih Ibas yang lain, bukan Ibas adik tirinya. Tapi kenyataannya, dia sendiri yang mendengar pengakuan Ibas.
Dari sana Ikbal merasa sangat bersalah pada Aini. Apalagi, Aini mengingatkan pada sosok almarhumah adiknya yang meninggal sebelum papanya juga meninggal dunia.
Ikbal melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya untuk segera beristirahat menghilangkan rasa penat dalam tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
ibas adik ikhbal ternyata
2023-07-03
0
Irma Tjondroharto
lho tyt ikbal dan ibas sodaraan... wow...
2023-05-25
1