Part 16

Meringis pelan dalam keadaan setengah sadar nya, merasakan perih dan tiupan di saat yang bersamaan seketika Lilly pun tersadar dan membuka mata nya.

"Sstthh.." Ringis Lilly menahan pergerakan tangan pria yang saat ini tengah mengobati nya.

"Sakit?" Tanya pria itu.

Lilly yang sempat terdiam, kini langsung sadar dan menjauhkan tubuh nya dari tubuh sang suami.

"Me-menjauh.." Teriak terbata Lilly yang sudah berada di tepi kasur.

"Sweety.." Pria itu bergeser mencoba meraih lengan Lilly yang membiru itu.

"Tidak hikss.. Tidak, maafkan aku Arlan hikss.." Teriak Lilly histeris yang kembali menangis.

Gadis itu turun dari kasur, namun karena tubuh nya masih lemas alhasil Lilly tersungkur di lantai.

Pria yang di sebut nama nya pun langsung lompat mendekati tubuh Lilly dan memeluk nya begitu erat.

"Tidak..!!" Teriak ketakutan Lilly. "Lepas hikss lepas..!!" Berontak nya memukul punggung sang suami.

"Ini aku, Erlan. Sweety.." Ucap lirih Erlan di samping telinga Lilly.

"Tidak hikss,, lepaskan..!!"

Pukulan bertubi-tubi dari tangan mungil yang terasa seperti usapan itu berhasil membuat air mata yang sedari awal Erlan tahan langsung membasahi pipi nya.

Diri nya memeluk begitu erat tubuh bergetar Lilly. Keadaan Lilly benar-benar kacau.

"Maaf.. Maafkan aku, sweety"

"Lepaskan aku hikss.. Aku mohon.."

Erlan yang awal nya menenggelamkan wajah Lilly pada dada nya, kini menuntun untuk menatap wajah nya.

"Maaf aku tidak bisa mengontrol diri ku, maaf aku melukai mu dan maaf karena aku kamu terluka" Ucap lirih Erlan seraya menyeka air mata Lilly.

Dapat Lilly lihat tatapan pria di depan nya telah berubah, tidak seperti sebelum nya dan pria itu pun menangis!

"Se-sebenarnya ada apa dengan mu, dan--"

"Aku obati luka kamu dulu 'ya? Setelah itu aku akan menjelaskan semua nya" Potong Erlan dengan senyuman sendu.

Setelah nya Erlan pun mengangkat tubuh lemah Lilly ke atas kasur sana, tidak membaringkan nya melainkan Erlan membuat posisi tubuh Lilly bersandar pada kepala kasur.

Membawa es batu yang susah di lapisi oleh handuk kecil, secara perlahan Erlan pun mengompres pipi Lilly yang ikut membiru.

"Shhh.." Rintih pelan Lilly dengan mata terpejam dan tangan yang meremat lengan Erlan.

Erlan terus mengompres dan mengobati segala luka Lilly dengan perlahan di iringi tiupan nya agar rasa perih itu tidak terlalu menyiksa Lilly.

"Nanti malam jangan mandi dulu ya" Ujar Erlan yang baru saja menutupi luka Lilly.

"Jelaskan.."

Gerakan Erlan yang sedang membereskan kotak obat itu terhenti, mata nya sedari tadi menunjukkan kegelisahan bahkan menghindari tatapan Lilly saat mengobati gadis itu.

Selama beberapa saat kedua nya saling diam, masih di tempat nya tak bergerak sedikit pun.

"Jika tidak mau menjelaskan, tolong antarkan aku pulang ke rumah orang tua--"

"Tidak!" Sentak galak Erlan yang langsung menatap Lilly.

"Jika tidak mau, setidak nya pinjamkan aku handphone untuk meminta jemput pada mereka" Lanjut Lilly mengabaikan tatapan marah Erlan.

Tatapan marah itu tidak seperti sebelum nya membuat Lilly berani melanjutkan perkataan nya di iringi dengan tangan nya yang menyeka kasar air mata nya.

.

Lilly Pov.

Kenapa akhir-akhir ini aku jadi cengeng? Kemana pergi nya keberanian ku selama ini saat menentang pria brengsek yang menjadi suami ku ini?

Sejak saat kemarahan nya terakhir kali, rasa takut ku mulai muncul terlebih saat melihat dia lebih membela dengan adik ku sendiri.

Dan hari ini, sejujurnya aku menangis bukan karena tertangkap basah oleh Nico, pria yang menjadi kekasih ku selama empat tahun ini.

Yang aku tangisi adalah ketika mengingat tatapan orang-orang yang biasa nya takut dan tunduk pada ku, tetapi hari ini mereka berani menatap ku dengan tatapan penuh cemoohan.

Aku kesamping kan itu semua setelah kejadian yang baru saja terjadi pada ku beberapa jam lalu.

Erlan? Kenapa pria itu ingin di panggil Arlan? Kenapa dia begitu kejam pada ku? Sebelum nya walaupun marah, Erlan tidak akan melukai fisik ku. Lalu ada apa sebenarnya dengan suami ku ini?

"Jika tidak mau menjelaskan, tolong antarkan aku pulang ke rumah orang tua--" Ucap ku dengan sisa keberanian.

Namun tiba-tiba dia menyentak dengan nada sedikit tinggi. "Tidak!" sentak nya membuat aku kaget selama beberapa saat.

Tapi aku memilih untuk mengabaikan sentakan itu dan kembali melanjutkan perkataan ku. "Jika tidak mau, setidak nya pinjamkan aku handphone untuk meminta jemput pada mereka"

Jika saja handphone ku tidak di banting oleh nya, mungkin aku tidak berbicara seperti ini.

Tetapi yang aku lihat saat ini, Erlan malah mengacak-acak rambut nya dengan helaan napas yang terdengar berat.

"Aku menderita DID" Ucap nya tiba-tiba membuat aku shock. Dia menarik kedua tangan ku untuk di genggam, lalu mata nya terlihat sedang menahan air mata nya.

"Aku ga tau sejak kapan, tapi Mommy bilang sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Saat aku mengerti semua nya aku selalu merasa ada jiwa lain di dalam diri ku yang ingin menguasai diri ku" Ucap nya lagi membuat napas ku seketika sesak.

"Aku tau ini terdengar tidak masuk akal. Tapi dia sudah melukai banyak orang, termasuk kamu. Dia iblis dalam diri ku hikss.."

Erlan menangis, pria di hadapan ku terlihat sangat rapuh saat ini. Aku hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun, aku masih mencerna semua ini.

Sampai akhirnya Erlan memeluk tubuh ku, dan menenggelamkan wajah nya pada ceruk leher ku yang sebenarnya terasa cukup sakit akibat gigitan nya, namun aku hanya diam menahan nya.

"Aku mohon jangan tinggalkan aku hikss,, tetap di samping ku hikss.." Tangis nya yang terdengar semakin kuat.

"Aku masih belum mengerti, dan kenapa kamu tidak berobat sejak saat itu?" Tanya ku sepelan mungkin.

"Sudah, aku sudah berobat bahkan Daddy dan Mommy membawa ku ke luar negeri untuk berobat. Tapi ini semua karena trauma ku di masa lalu"

Aku semakin bingung mendengar penjelasan nya. Trauma? Jadi dia punya trauma? Apa trauma nya sangat berat hingga dia menderita DID?

Pada akhirnya aku memilih untuk membalas pelukan nya dan memendam segala keingintahuan aku untuk saat ini.

"Jangan tinggalkan aku hikss,, aku mohon" Ujar nya lagi.

Aku mengangguk pelan walaupun sebenarnya sangat ragu. "Tenang lah.." Kata ku yang bingung ingin berkata seperti apa lagi.

Lilly Pov End.

.

...****************...

FYI:-

Kepribadian ganda atau dissociative identity disorder (DID) sering kali disamakan dengan skizofrenia, padahal sebenarnya kedua kondisi ini berbeda. Skizofrenia tidak memiliki banyak kepribadian seperti pada penderita DID.

Kepribadian ganda adalah kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kepribadian ganda disebut juga gangguan identitas disosiatif. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh pengalaman traumatis yang terjadi berulang di masa kanak-kanak.

Terpopuler

Comments

Afifa Rafanda

Afifa Rafanda

tetep semangat ya kak author.... 💪💪💪🥰

2023-04-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!