Part 6

"Diam di sini, jangan kemana-mana!" Seru dingin Erlan seraya menekan bahu Lilly agar gadis itu duduk di sofa panjang yang ada di ruangan nya.

"Kamu apa-apaan sih! Sudah aku bilang, aku mau nonton bersama dengan sahabatku!"

"Tidak ada kata menonton, bermain, ataupun bersenang-senang bersama sahabatmu hari ini!"

"Kok kamu jadi ngatur-ngatur gini sih! Suka-suka aku dong mau ke manapun itu!" Pekik Lilly tak terima.

Bahkan kini gadis itu sudah kembali berdiri, berniat menyamakan tinggi nya dengan Erlan. Namun semua hanya lah mimpi karena gadis itu sangat mungil.

Alhasil hanya tatapan nyalang dan tak bersahabat nya lah yang Lilly layangkan pada Erlan.

"Jangan lupakan perjanjian kita Mr.Erlan!"

Erlan yang awal nya terlihat biasa saja dengan tatapan dingin seperti biasa, kini langsung menyentak pinggang Lilly dengan sebelah tangan nya hingga tubuh kedua nya saling menempel.

"Persetanan dengan perjanjian! Semakin dibiarkan kamu semakin menjadi, nyonya muda!"

Memang saat pertama mereka sah menjadi sepasang suami-istri. Kedua nya saling membuat perjanjian dan itu semua sebagai syarat dari Lilly.

Mau atau pun tidak mau, Erlan hanya bisa menuruti agar gadis itu tidak mencoba kabur. Dan ini juga tantangan bagi nya.

"Jadi pria itu harus konsisten dan tempat janji, jangan seperti banci!" Cemooh Lilly dengan tatapan remeh nya.

Meremat pelan pinggang Lilly, lantas Erlan mendekatkan wajah nya di tempat di samping telinga gadis itu.

"Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan konsekuensi karena kamu melanggar perjanjian kita?" Tanya berbisik Erlan.

Seketika tubuh Lilly menegang. Bisikan pria itu terdengar begitu berat dengan nada penuh ancaman, belum lagi tangan Erlan mulai merambat mengusap sens*al pinggang Lilly.

Lilly jelas ingat konsekuensi apa yang ia dapatkan karena tak kunjung merubah perilaku nya.

"Sebelum nya aku masih bisa bersabar, sweety" Bisik nya lagi. "Tapi kamu semakin menjadi dan karena kelakuan kamu ini, aku harus kehilangan seorang klien besar!"

"Lagipula aku tidak meminta mu untuk datang! Seharusnya kamu tidak usah datang dan urusi saja pekerjaan mu!"

Bukan nya merasa bersalah Lilly malah menyahut seperti itu. Tidak tau saja gadis itu bagaimana kacau nya Erlan begitu melihat foto Lilly.

Dada Lilly terekspos karena baju putih yang ia gunakan basah, otomatis mata para pria di kantin dan sepanjang jalan menuju ruang BK melihat aset milik nya. Milik Erlan Dallin Harrison!

Niat hati Erlan akan mengurusi masalah gagal nya bisnis besar itu, namun ucapan Lilly berhasil membangkitkan iblis dalam diri nya yang sejak awal berusaha Erlan tahan.

Dengan kasar nya Erlan menghempaskan tubuh Lilly ke sofa panjang itu, lalu menindih gadis yang tidak sempat bergerak itu.

"Hei!!" Pekik kaget Lilly berniat menahan tubuh Erlan.

Namun sayang seribu sayang, tiba-tiba saja pergerakan tangan gadis itu terbaca oleh Erlan dan langsung di tahan di atas kepala nya.

Menarik kasar baju putih yang sudah terkena noda jus itu hingga sobek, sedetik kemudian Erlan mencumbu kasar dada Lilly.

"Aahhk!!" Desah kaget Lilly. "Brengsek, lepaskan!!" Teriak nya meronta.

Tapi lagi-lagi rontaan itu tidak berefek apapun bagi Erlan, karena saat ini Erlan sudah berhasil menguasai tubuh Lilly.

Lilly tidak bisa bergerak sedikit pun, hanya mulut nya yang terus mengeluarkan umpatan menyakitkan yang memasuki Indra pendengaran Erlan.

"Ini milik ku, milik Erlan Dallin Harrison!" Desis marah Erlan di depan dada Lilly begitu ia berhasil membuat satu tanda.

"Tidak ada yang boleh melihat ini kecuali diri ku, hanya aku!" Tajam nya menatap manik penuh kekesalan milik Lilly.

"Baj*ngan..!!"

Mendengar umpatan itu, sebelah tangan Erlan pun mer*mas kuat pyd yang masih terbungkus braa tersebut.

"Arrghh! Sakit!!" Erang kesakitan Lilly.

"Aku suami mu, Lilly. Aku berhak melakukan ini bahkan kamu berhak menyerahkan segala yang ada di tubuh mu untuk ku!"

"Bermimpi saja, brengsek arghh..!!"

Tak lagi meladeni mulut pedas Lilly, lantas Erlan pun kembali meny*sap, mengh*sap dan menj*lati kasar dada dan leher Lilly.

Tangan yang sebelum nya aktif mer*mas gunung itu, kini mulai menyentak kasar penutup gunung berwarna hitam tersebut hingga sobek.

Tubuh bagian atas Lilly sudah tak tertutup apapun, dan kegilaan Erlan semakin menjadi. Pria itu lupa akan dimana mereka berada sekarang.

"Milik ku, hanya milik ku" Desis berat Erlan sebelum akhirnya berpindah mengigit ujung gunung mencuat sang istri.

"Aarrghh..!!" Teriak kesakitan Lilly. Tanpa sadar air mata gadis itu langsung menetes.

Merasakan sakit dan nyeri akibat kebruntalan mulut dan tangan Erlan.

"Sa-sakit hikss.." Rintih Lilly menggelengkan cepat kepala nya.

Mendengar isakan itu, Erlan hanya melepaskan cekalan nya pada kedua tangan Lilly. Dan kebebasan itu langsung Lilly sambut dengan jambakan pada rambut Erlan.

Hanya suara decapan yang menjadi pengiring Isak tangis Lilly. Tanda merah keunguan sudah tersebar di leher hingga dada nya.

"Ma-maaf hikss.. Maaf Erlan hikss.."

Seketika kegilaan mulut Erlan langsung terhenti begitu mendengar kata maaf terucap dari mulut sang istri.

Tak langsung mengangkat kepala nya, wajah Erlan masih berhadapan tepat di atas kedua gunung berlemak itu dengan hembusan nafas yang begitu panas dan berat.

Isakan Lilly masih terdengar bahkan tangan nya masih menggenggam begitu erat rambut Erlan.

Hingga akhirnya sebelah tangan Erlan menarik turun tangan Lilly hingga melingkar di leher nya, dan setelah itu Erlan mengangkat kepala nya.

"Masih kenal kata maaf?"

Lilly langsung menoleh, tak ingin menatap wajah Erlan yang saat ini menatap wajah nya.

"Jawab, sweety" Erlan menahan kedua pipi Lilly agar tetap menatap nya.

"Breng--emhhh..!!"

Umpatan Lilly tertahan begitu Erlan mel*mat lembut bibir nya, tetapi tak lama setelah itu Erlan kembali mengangkat kepala nya.

"Mau aku ulangi lagi?"

Kepala Lilly langsung menggeleng, sebisa mungkin gadis itu menahan isak tangis nya.

Erlan menyeka lembut air mata Lilly. "Baru kali ini aku melihat mu menangis lagi setelah pernikahan kita"

"Dan baru kali ini hikss.. Aku bertemu pria brengsek dan pemaksa seperti mu hikss.." Sahut Lilly dengan isakan pelan nya.

Mendengar itu Erlan langsung terkekeh pelan, ekspresi menyeramkan seperti sebelum nya telah hilang.

"Ini kesempatan terakhir kamu, jika kamu berulah lagi jangan salahkan aku jika kamu benar-benar di keluarkan dari kampus dan hari itu juga.." Erlan menjeda sesaat ucapan nya.

Mengusap lembut ujung gunung mencuat itu dengan ibu jari nya, lalu Erlan kembali melanjutkan perkataan nya. "Aku akan melakukan lebih jauh"

Mata Lilly memanas, tangan nya yang berniat menarik tangan Erlan terhenti saat tiba-tiba pria itu bangun.

"Masuk lah ke kamar, di sana ada pakaian ganti dan tunggu lah di sana nanti sore baru kita pulang ke rumah mu"

Setelah mengucapkan kalimat itu tanpa menatap wajah Lilly, Erlan pun berjalan menuju meja kerja nya.

...****************...

Terpopuler

Comments

MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•

MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•

ganas juga ya pak dosen😁

2023-05-12

4

azzalea

azzalea

ko aku malah kasian sama Lily yah....yah tertekan pada pernikahannya?

2023-05-02

1

Jeon Melly💫

Jeon Melly💫

Si Erlan Ganas Kalo Udah Marah.. Hati"Lily🤭

2023-04-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!